Pak Koes dan Pak Djarot ysh,

Terima kasih atas informasinya. Kalau saya rumuskan sementara waktu
mengenai tempat keramat ini, dari Pak Koes menyebutkan sebagian besar
merupakan kuburan/makam, sehingga sering menjadi tempat tawassul. Saya
kira tradisi tawassul ini sangat khas NU/Jawa, walau di beberapa tempat
di nusantara ini juga ada yang melakukan terutama dari kalangan
thariqat.

Dari Pak Djarot disebutkan adanya tempat-tempat yang memiliki kekuatan
alam yang digunakan untuk bermunajat, dan saya kira ini sangat khas Jawa
(Mataraman). Saya kurang tahu cara menandai tempat-tempat keramat ini,
mungkin perlu kemampuan metafisik tertentu, termasuk juga kemampuan
untuk menyerap kekuatan-kekuatan alam tersebut.

Saya kira tempat-tempat keramat ini khas nusantara, terdapat di berbagai
tempat. Di depan Istana Maymoon di Medan ada bangunan kecil yang
mencingkupi 'meriam tomong' yang selalu mengeluarkan air (mata), dan
dikeramatkan juga oleh masyarakat Deli. Di Banda Aceh ada makam Syiah
Kuala, yang tidak terganggu sewaktu tsunami kemarin. Di Kedukan Bukit
Palembang juga terdapat petilasan Sriwijaya dan termasuk keramat juga.
Di Pariaman ada kuburan Syech Burhanuddin Ulakan yang diziarahi ribuan
orang setiap tahunnya. Namun masyarakat Sumatera pada umumnya kurang
mempopulerkan tradisi tawassul ini, terkecuali ziarah yang dilakukan
setiap memasuki bulan Ramadhan.

Kalau di Asmat tempat yang dikeramatkan adalah bangunan Jew, yang sering
untuk tempat pertemuan. Di Manado saya melihat kuburan Tuanku Imam
Bonjol di Pineleng sering juga diziarahi, namun yang pasti bukan orang
Minang. Sepertinya kita perlu informasi dari berbagai daerah mengenai
tempat-tempat keramat ini.

Apakah kekuatan-kekuatan alam dari tempat-tempat keramat tersebut
signifikan mempengaruhi peri kehidupan masyarakat setempat? Dan
bagaimana fenomenologi memanfaatkan kekuatan tersebut, serta untuk
kebutuhan apa? Apakah gejala nativisme ini dapat dijelaskan secara
ilmiah, atau hanya sugesti saja? Mohon kesediaan menjelaskan lebih
lanjut.

-ekadj


--- In [email protected], muhammad koeswadi <m_koesw...@...>
wrote:
>
> Pro Sahabats ysh
>
> Asw. Saya sangat setuju usul mas Ekadj ada bahasan jagad Madura.
> Tentunya diharapkan ada juga jagad-jagad lainnya, supaya kita lebih
mengenal
> alam sekitar. Tinjauan ekonomi, lingkungan hidup, NKRI boleh kiranya
disertakan ya mas.
>
> Kata orang Madura, kota Sumenep ini bagai kuburan.. karena,
> kuburan ada di mana2..yang agaknya menjadi elemen perkotaan. Kuburan2
besar
> berdampingan dengan kawasan terbangun. Kuburan, di masyarakat ini
bukan sekedar
> tempat mengubur mayat..tetapi tempat terhormat yang leluhurnya selalu
(biasa)
> dikunjungi, tidak hanya sewaktu mau puasa atau lebaran. Kemudian, yg
ekonominya
> mampu, nisannya dibangun pagar berhias ataupun  cungkup, dst.
Contoh nisan semacam ini banyak
> dijumpai di wilayah Jordan utara arah menuju obyek wisata Bahr Mayyit
(Laut
> Mati). Selain untuk ziarah, juga untuk wisata, misalnya ke makam Zun
Nun al
> Misr, Muaz bin Jabbal dll. Juga ada di kota Palestina (makam syech
perempuan agung
> Rabi’ah al Addawiyyah), atau di kota Hebron (wilayah Palestina)
yang makamnya
> menjadi bagian masjid Hebron. Di beberapa tempat lainnya, saya lihat
model
> cungkup di kuburan Jogja (kalau tidak keliru di sekitar Gajahan, dan
juga di
> komplek makam â€" lupa namanya - yang di dalamnya ada pangeran
agung Alap-alap
> Samber Nyowo). Di luar kota Kandangan â€" Barabai Kalsel jug ada,
bahkan dihiasi
> kain seperti di Jordan Utara.
>
>
> Jika orang Madura berziarah kubur relative lebih lama. Banyak
> peziarah sambil meminta berkah saat punya hajat di kuburan keluarga
atau
> kuburan orang-orang tertentu…(maaf, cara ini sebagian orang
meyakininya tidak
> syirik).  Saya tidak hendak membahas
> perbedaan paham ini di milis ini.Â
>
> Info di bawah ini lebih bersifat hasil pendataan sesaat saja.
> Paham mengunjungi tempat keramat (karomah) masih subur di masyarakat
Madura. Agaknya
> juga di sebagian masyarakat Jawa Barat. Yang saya maksud keramat
adalah:
> kuburan, benda2 alam, benda2 bersejarah/legenda, dan para ulama/ kyai
yang
> masih hidup terutama yg punya pondok pesantren. Â Secara ringkas,
 berikut ini:
>
> 1.  Â
> MMakam para raja/keluarga raja di Asta Tenggi kota
> Sumenep
>
>
> 2.     Â
> Makam para raja dan para ulama agung di pulau
> Talango (1.5km dari pelabuhan Kalianget, 17 Km dari kota Sumenep).
Suasananya
> seperti di makam Syech Caringin (Syech Asnawi, Syech Abdurahman),
Caringin
> Banten, atau seperti di makam Syech Maulana Mansyur, Kadupinang
Pandegelang.
>
>
> 3.     Â
> Makam untuk umum, tersebar dikampung2 hingga
> ujung barat Madura (Kamal Bangkalan), tetapi di antara makam ada yang
> ditengarai sebagai keramat. Bisa ditanya ke orang2 di sekitar makam.
(tidak
> selalu juru kunci).
>
>
> 4.     Â
> Makam pangeran Joko Tole, dan perangkat kuda terbang
> yang dipakai perang (legenda) berlokasi di 40 Km luar kota Sumenep.
>
>
> 5.     Â
> Selain maka, Ulama-ulama keturunan Arab, ataupun
> bukan keturunan Arab, banyak yg dikunjungi untuk keperluan konsultasi
dan minta
> ‘dibantu ini itu’ termasuk yang urusan supranatural.
Salah satunya   keturunan alm. Syech Baha’uddin (di
Kepanjen
> Sumenep). Semasa hidupnya beliau juga pernah menulis buku sangat
popular dan
> menguasai beberapa bahasa asing.
>
>
> 6.     Â
> Atau berkunjung ke pesantren2 Â a.l . di Lenteng (20Km dari kota
Sumenep), di
> Lukguluk (jalan nasional menuju Pamekasan), di Batu Ampar (kab
Bangkalan) ,di
> Batu Poteh (kab Sampang). Para ulamanya punya kelebihan masing-masing
yang
> pantas disimak.
>
>
> 7.     Â
> Yang namanya ‘jimat = barang siji dirumat’,
> banyak masyarakat Madura yang menyimpan ‘tulisan arab’
(wafaq) baik yg disimpan
> di rumah (dekat pintu) ataupun dibawa. Mereka peroleh dari ulama2
tertentu.
> Termasuk menyimpan senjata keris dan tombak beraneka bentuk lebih
dihargai.
> Mereka tidak menyimpan clurit, kecuali para petani ladang. Clurit
seperti yg
> ditulis dalam makalah mhs ITS Â (ibu Retno
> H.) kiriman mas Djarot, adalah barang peralatan bertani (sama dg
sabit/arit). Memang
> benar, yg ini banyak di pasar2, seperti kita biasa melihat orang jual
> sabit/bedog/cangkul di pasar2Â  p. Jawa.
>
> Â
>
> Ada penelaahan penting, selain aspek tata ruang. Makam para
> ulama, tokoh2 agama, dan tokoh nasional, memiliki daya tarik bagi
sesiapa yang
> mencintainya/menghormati jasanya. Mas Djarot menyebutnya sebagai
adanya kesamaan nilai spiritual. Kedatangan peziarah membawa keberkahan
bagi
> sang almarhum (atas kiriman do’anya), juga bagi yang berziarah
(beroleh
> ketenangan bathiniah), juga bagi masyarakat sekitar (beroleh lapangan
> usaha/ekonomi oleh sebab bisa menjual hasil bumi dan kerajinannya),
juga bagi pemda
> (disparda dapat retribusi). Kita bisa hitung, berapa penghasilan dan
kesempatan
> berusaha tercipta oleh satu makam. Jadi, bagaimana kita mengapresiasi
dimensi
> keseluruhan ini? Bisakah kita berbalas budi, seperti beliau2, yang
beliau2
> sudah wafat saja sanggup memberkahi (menghidupi) banyak
orang…apalagi semasa
> hidupnya. Inikah yang disebut karomah??
>
>
> Memindahkan makam/kuburan adalah sesuatu yang sulit dikerjakan
> di Madura. Apalagi melindas makam menjadi jalan ekonomi  seperti
kota2 lain. Di Madura hal ini dikategori
> tabu. Para pemikir tata ruang boleh mencari solusi, atau memahami apa
adanya.
> Bukankah demikian adalah salah satu produk budaya local yang perlu
diapresiasi.
> Perlu dipahami, sifat orang Madura sangat kuat hubungan /penghormatan
kepada
> keluarga termasuk yang sudah meninggal. Menyanjung kepada yang
dihormati akan
> dianggap keluarga besarnya. Begitu pula sebaliknya, akan menjadi
persoalan
> serius. Kiranya, lokasi kuburan (sebagai fasilitas perkotaan) Â di
masa depan, juga yang dikeramatkan, harus
> di plan secermat mungkin, bukan sekedar ada di lahan kosong di
pinggiran. (Kita
> boleh perhatikan hadits Nabi, yang esensinya agar menyegerakan prosesi
kubur;
> tata cara menjumpai mayat di jalan â€" termasuk yg ada dalam
ambulan kota; tata laku
> memasuki kuburan, termasuk waktu ikut mengiringi ke liang lahat; dan
masih
> banyak lagi..semua berkait site plan, distribusi lokasi, dan RTH).
Nah, sedikit
> soal building code nya bangunan rumah tinggal di kota Madura, mungkin
perlu
> banyak modifikasi di sini. Misalnya, soal GSB sebagaimana yg kita
kenal, sulit
> diterapkan. Wong dinding dapur/kamar tidurnya adalah pagar jalan raya
(lihat di
> jl Pendekar kota Sumenep, atau di Kec Labang kab Bangkalan). Salam,
Koes, JKT.
>
>
> --- On Sat, 25/7/09, Djarot Purbadi dpurb...@... wrote:
>
> From: Djarot Purbadi dpurb...@...
> Subject: Re: [referensi] tempat keramat
> To: [email protected]
> Date: Saturday, 25 July, 2009, 8:03 AM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
> Pak Ekadj, sejauh saya tahu tempat yang keramat biasanya ada kaitan
dengan NILAI SPIRITUAL tertentu, dan didatangi orang karena ada
kebutuhan spiritual yang cocok dengan nilai yang ada di tempat itu.
Kasus yang paling saya tahu ya Parangtritis. Teori yang ditemukan dari
penelitian lapangan dengan paradigma fenomenologi adalah bahwa nilai
spiritual itu menlahirkan (generate) nilai-nilai lain yang akhirnya
menciptakan entitas kehidupan di tempat itu.
>
> Batu Gilang di Parangkusumo, yang menurut legenda adalah "tempat
indehoy" Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul merupakan titik
penting di kawasan Parangtritis. Orang penganut kejawen datang dan
berdoa di tempat itu dengan pemahaman sedang menghadap dua sosok gaib
sedang duduk berdua, maka posisi doa menghadap kedua batu itu. Saudara
kita para keturunan Cina mengadakan Peh Cun dengan titik pusat di
> batu gilang dengan persepsi penguasa laut Kidul adalah Dewi Kwan Im.
Saudara saya penganut Islam berdoa di atas bukit di makam Syeh Maulana
Maghribi dalam kaitan dengan ziarah ke makam tokoh-tokoh Islam...konon
beliau adalah salah satu wali. Penganut Kejawen Hondodento juga
menghadap Kanjeng Ratu Kidul mempersembahkan labuhan setiap bulan Suro
ya di pesisir Parangkusumo. Labuhan Hindu dalam rangka ritual tertentu
juga di Parangkusumo, yang diyakini merupakan "alun-alun utara" dari
Kraton Segoro Kidul. Sementara teman-teman saya kelompok Pak Tembong
berdzikir setiap tengah malam tepat di bibir pantai menghadap selatan ya
di parangkusumo. Saya pernah mengikuti di tengah dzikir itu dari awal
sampai akhir, rasanya seperti naik perahu besar di tengah samudera dan
diayun-ayunkan ombak penuh nikmat.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
>
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Fri, 7/24/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@gmail. com>
> Subject: [referensi] tempat keramat
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Friday, July 24, 2009, 8:04 PM
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
> Pak Koes dan rekan2 ysh,
> Ex ovo omnia (Lt.), mumpung kita sedang bicara, mohon pencerahan
mengenai tempat/lahan keramat sebagaimana telah bapak ungkapkan di
bawah. Kurang lebih apa-apa saja yang dapat disebut sebagai tempat
keramat, aspek pemanfaatan ruangnya bagaimana, dan aspek pengendalian
pemanfaatan ruangnya juga bagaimana? Berhubung banyak 'guru' dan
praktisi di milis ini untuk berkenan berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Terima kasih sebelumnya. Salam.
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi m_koeswadi@ ..>
wrote:
> >
> > Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak
terlihat/supranatur al masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau
mendalami, menseriusi, bisa ke para informal leaders.. Termasuk
pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, di beberapa tempat, diyakini
banyak lahan keramat, makam keramat, juga 'pesantren tua' seperti di
Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak khawatir dengan rencana
expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan baru. Semoga tidak ada
konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. Wassalam Koes,
JKT
>



Kirim email ke