Pro Sahabats ysh Asw. Saya sangat setuju usul mas Ekadj ada bahasan jagad Madura. Tentunya diharapkan ada juga jagad-jagad lainnya, supaya kita lebih mengenal alam sekitar. Tinjauan ekonomi, lingkungan hidup, NKRI boleh kiranya disertakan ya mas.
Kata orang Madura, kota Sumenep ini bagai kuburan.. karena, kuburan ada di mana2..yang agaknya menjadi elemen perkotaan. Kuburan2 besar berdampingan dengan kawasan terbangun. Kuburan, di masyarakat ini bukan sekedar tempat mengubur mayat..tetapi tempat terhormat yang leluhurnya selalu (biasa) dikunjungi, tidak hanya sewaktu mau puasa atau lebaran. Kemudian, yg ekonominya mampu, nisannya dibangun pagar berhias ataupun cungkup, dst. Contoh nisan semacam ini banyak dijumpai di wilayah Jordan utara arah menuju obyek wisata Bahr Mayyit (Laut Mati). Selain untuk ziarah, juga untuk wisata, misalnya ke makam Zun Nun al Misr, Muaz bin Jabbal dll. Juga ada di kota Palestina (makam syech perempuan agung Rabi’ah al Addawiyyah), atau di kota Hebron (wilayah Palestina) yang makamnya menjadi bagian masjid Hebron. Di beberapa tempat lainnya, saya lihat model cungkup di kuburan Jogja (kalau tidak keliru di sekitar Gajahan, dan juga di komplek makam – lupa namanya - yang di dalamnya ada pangeran agung Alap-alap Samber Nyowo). Di luar kota Kandangan – Barabai Kalsel jug ada, bahkan dihiasi kain seperti di Jordan Utara. Jika orang Madura berziarah kubur relative lebih lama. Banyak peziarah sambil meminta berkah saat punya hajat di kuburan keluarga atau kuburan orang-orang tertentu…(maaf, cara ini sebagian orang meyakininya tidak syirik). Saya tidak hendak membahas perbedaan paham ini di milis ini. Info di bawah ini lebih bersifat hasil pendataan sesaat saja. Paham mengunjungi tempat keramat (karomah) masih subur di masyarakat Madura. Agaknya juga di sebagian masyarakat Jawa Barat. Yang saya maksud keramat adalah: kuburan, benda2 alam, benda2 bersejarah/legenda, dan para ulama/ kyai yang masih hidup terutama yg punya pondok pesantren. Secara ringkas, berikut ini: 1. MMakam para raja/keluarga raja di Asta Tenggi kota Sumenep 2. Makam para raja dan para ulama agung di pulau Talango (1.5km dari pelabuhan Kalianget, 17 Km dari kota Sumenep). Suasananya seperti di makam Syech Caringin (Syech Asnawi, Syech Abdurahman), Caringin Banten, atau seperti di makam Syech Maulana Mansyur, Kadupinang Pandegelang. 3. Makam untuk umum, tersebar dikampung2 hingga ujung barat Madura (Kamal Bangkalan), tetapi di antara makam ada yang ditengarai sebagai keramat. Bisa ditanya ke orang2 di sekitar makam. (tidak selalu juru kunci). 4. Makam pangeran Joko Tole, dan perangkat kuda terbang yang dipakai perang (legenda) berlokasi di 40 Km luar kota Sumenep. 5. Selain maka, Ulama-ulama keturunan Arab, ataupun bukan keturunan Arab, banyak yg dikunjungi untuk keperluan konsultasi dan minta ‘dibantu ini itu’ termasuk yang urusan supranatural. Salah satunya keturunan alm. Syech Baha’uddin (di Kepanjen Sumenep). Semasa hidupnya beliau juga pernah menulis buku sangat popular dan menguasai beberapa bahasa asing. 6. Atau berkunjung ke pesantren2 a.l . di Lenteng (20Km dari kota Sumenep), di Lukguluk (jalan nasional menuju Pamekasan), di Batu Ampar (kab Bangkalan) ,di Batu Poteh (kab Sampang). Para ulamanya punya kelebihan masing-masing yang pantas disimak. 7. Yang namanya ‘jimat = barang siji dirumat’, banyak masyarakat Madura yang menyimpan ‘tulisan arab’ (wafaq) baik yg disimpan di rumah (dekat pintu) ataupun dibawa. Mereka peroleh dari ulama2 tertentu. Termasuk menyimpan senjata keris dan tombak beraneka bentuk lebih dihargai. Mereka tidak menyimpan clurit, kecuali para petani ladang. Clurit seperti yg ditulis dalam makalah mhs ITS (ibu Retno H.) kiriman mas Djarot, adalah barang peralatan bertani (sama dg sabit/arit). Memang benar, yg ini banyak di pasar2, seperti kita biasa melihat orang jual sabit/bedog/cangkul di pasar2 p. Jawa. Ada penelaahan penting, selain aspek tata ruang. Makam para ulama, tokoh2 agama, dan tokoh nasional, memiliki daya tarik bagi sesiapa yang mencintainya/menghormati jasanya. Mas Djarot menyebutnya sebagai adanya kesamaan nilai spiritual. Kedatangan peziarah membawa keberkahan bagi sang almarhum (atas kiriman do’anya), juga bagi yang berziarah (beroleh ketenangan bathiniah), juga bagi masyarakat sekitar (beroleh lapangan usaha/ekonomi oleh sebab bisa menjual hasil bumi dan kerajinannya), juga bagi pemda (disparda dapat retribusi). Kita bisa hitung, berapa penghasilan dan kesempatan berusaha tercipta oleh satu makam. Jadi, bagaimana kita mengapresiasi dimensi keseluruhan ini? Bisakah kita berbalas budi, seperti beliau2, yang beliau2 sudah wafat saja sanggup memberkahi (menghidupi) banyak orang…apalagi semasa hidupnya. Inikah yang disebut karomah?? Memindahkan makam/kuburan adalah sesuatu yang sulit dikerjakan di Madura. Apalagi melindas makam menjadi jalan ekonomi seperti kota2 lain. Di Madura hal ini dikategori tabu. Para pemikir tata ruang boleh mencari solusi, atau memahami apa adanya. Bukankah demikian adalah salah satu produk budaya local yang perlu diapresiasi. Perlu dipahami, sifat orang Madura sangat kuat hubungan /penghormatan kepada keluarga termasuk yang sudah meninggal. Menyanjung kepada yang dihormati akan dianggap keluarga besarnya. Begitu pula sebaliknya, akan menjadi persoalan serius. Kiranya, lokasi kuburan (sebagai fasilitas perkotaan) di masa depan, juga yang dikeramatkan, harus di plan secermat mungkin, bukan sekedar ada di lahan kosong di pinggiran. (Kita boleh perhatikan hadits Nabi, yang esensinya agar menyegerakan prosesi kubur; tata cara menjumpai mayat di jalan – termasuk yg ada dalam ambulan kota; tata laku memasuki kuburan, termasuk waktu ikut mengiringi ke liang lahat; dan masih banyak lagi..semua berkait site plan, distribusi lokasi, dan RTH). Nah, sedikit soal building code nya bangunan rumah tinggal di kota Madura, mungkin perlu banyak modifikasi di sini. Misalnya, soal GSB sebagaimana yg kita kenal, sulit diterapkan. Wong dinding dapur/kamar tidurnya adalah pagar jalan raya (lihat di jl Pendekar kota Sumenep, atau di Kec Labang kab Bangkalan). Salam, Koes, JKT. --- On Sat, 25/7/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote: From: Djarot Purbadi <[email protected]> Subject: Re: [referensi] tempat keramat To: [email protected] Date: Saturday, 25 July, 2009, 8:03 AM Pak Ekadj, sejauh saya tahu tempat yang keramat biasanya ada kaitan dengan NILAI SPIRITUAL tertentu, dan didatangi orang karena ada kebutuhan spiritual yang cocok dengan nilai yang ada di tempat itu. Kasus yang paling saya tahu ya Parangtritis. Teori yang ditemukan dari penelitian lapangan dengan paradigma fenomenologi adalah bahwa nilai spiritual itu menlahirkan (generate) nilai-nilai lain yang akhirnya menciptakan entitas kehidupan di tempat itu. Batu Gilang di Parangkusumo, yang menurut legenda adalah "tempat indehoy" Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul merupakan titik penting di kawasan Parangtritis. Orang penganut kejawen datang dan berdoa di tempat itu dengan pemahaman sedang menghadap dua sosok gaib sedang duduk berdua, maka posisi doa menghadap kedua batu itu. Saudara kita para keturunan Cina mengadakan Peh Cun dengan titik pusat di batu gilang dengan persepsi penguasa laut Kidul adalah Dewi Kwan Im. Saudara saya penganut Islam berdoa di atas bukit di makam Syeh Maulana Maghribi dalam kaitan dengan ziarah ke makam tokoh-tokoh Islam...konon beliau adalah salah satu wali. Penganut Kejawen Hondodento juga menghadap Kanjeng Ratu Kidul mempersembahkan labuhan setiap bulan Suro ya di pesisir Parangkusumo. Labuhan Hindu dalam rangka ritual tertentu juga di Parangkusumo, yang diyakini merupakan "alun-alun utara" dari Kraton Segoro Kidul. Sementara teman-teman saya kelompok Pak Tembong berdzikir setiap tengah malam tepat di bibir pantai menghadap selatan ya di parangkusumo. Saya pernah mengikuti di tengah dzikir itu dari awal sampai akhir, rasanya seperti naik perahu besar di tengah samudera dan diayun-ayunkan ombak penuh nikmat. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Fri, 7/24/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote: From: ffekadj <4ek...@gmail. com> Subject: [referensi] tempat keramat To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Friday, July 24, 2009, 8:04 PM Pak Koes dan rekan2 ysh, Ex ovo omnia (Lt.), mumpung kita sedang bicara, mohon pencerahan mengenai tempat/lahan keramat sebagaimana telah bapak ungkapkan di bawah. Kurang lebih apa-apa saja yang dapat disebut sebagai tempat keramat, aspek pemanfaatan ruangnya bagaimana, dan aspek pengendalian pemanfaatan ruangnya juga bagaimana? Berhubung banyak 'guru' dan praktisi di milis ini untuk berkenan berbagi pengetahuan dan pengalaman. Terima kasih sebelumnya. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, muhammad koeswadi <m_koesw...@. ..> wrote: > > Ini yang terlihat (kasad mata). Yang tersimpan/tidak terlihat/supranatur al > masih banyak yg belum dipublikasi. Bila mau mendalami, menseriusi, bisa ke > para informal leaders.. Termasuk pemahaman soal 'anasir alam'. Sebagai info, > di beberapa tempat, diyakini banyak lahan keramat, makam keramat, juga > 'pesantren tua' seperti di Batu Ampar. Nah, soal 'keramat' ini, saya agak > khawatir dengan rencana expansi pembangunan2 lantaran adanya jembatan baru. > Semoga tidak ada konflik sosial-ekonomi. Semoga semua beroleh berkahNya. > Wassalam Koes, JKT

