Dear Eyang ABY yang buaik hati, saya ada pengalaman menarik berkaitan dengan 
cara pandang planner dan arsitek. Teman saya pernah mendongeng melalui bahan 
presentasi yang menarik tentang Trowulan. Dia mengaku dan kayaknya cara 
berpikirnya seorang planner, tesis S2 nya ya tentang planning (entah apa 
judulnya). Tayangannya menarik sebab nggak pakai power point lagi melainkan 
dengan flash, jadi gabungan antara teks, foto dan film menjadi tayangan yang 
sangat menarik - dinamis - interaktif. Pokoknya bahan tayangannya mempesona eh 
memesona.

Pada waktu tanya jawab, saya bertanya, apakah ketika di tengah gerbang Gapuro 
Wringin Lawang (Candi Bentar di Mojokerto) memperhatikan spesi dan susunan bata 
? Teman saya menjawan, nggak perhatikan pak karena sebagai planner saya nggak 
diajari melihat detil seperti itu. Saya lantas menjadi sadar, tanda-tanda fisik 
yang begitu penting bagi seorang arsitek ternyata tidak menjadi bahan penting 
bagi seorang planner (minimal teman saya itu). Dsetik itu saya sadar, arsitek 
dan planner punya fokus berbeda-beda dalam menelusuri tanda-tanda fisik. 
Artinya, skala pengamatannya berbeda.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa puntung rokok, kaleng minuman lunak, tetesan 
lilin sekalipun bagi arsitek bisa menjadi petunjuk untuk menguak fenomena 
kegiatan yang pernah berlangsung di suatu tempat. Kerjanya mirip polisi yang 
sedang olah TKP. Jika kita mampu mengamati dengan kritis, banyak tanda-tanda 
fisik yang bermanfaat bagi identifikasi tentang ruang, skala mikro hingga yang 
meso, atau bahkan makro. Teman dari UII pernah mengamati dan menganalisis 
bagaimana sebaran posko PDI  ternyata  ada kaitan dengan gerakan perlawanan 
rakyat secara skala luas. Apakah hilangnya posko PDI pada pemilu  2009 juga 
menjadi indikasi  nggembosnya semangat  lama itu ????

Eyang ABY, bagaimana dengan batas-batas dosis yang Eyang maksudkan ? Apakah 
kita masih perlu melakukan batas-batas dosis semacam itu, khususnya dalam 
proses validasi pikiran - pikiran kita atau pengamatan kita yang zoom-in dan 
zoom-out agar memperoleh keutuhan dan kedalaman fenomena ? Apakah kita ingin 
membangun kotak-kotak yang tak tertembuskan....menjadi tembok-tembok yang 
membatasi profesionalitas kita ? 

Nyuwun pangapunten Yang, mohon pencerahan cucumu yang mbeling ini.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 8/6/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: [referensi] Re : Perencanaan Ruang dan Budaya
To: [email protected]
Date: Thursday, August 6, 2009, 5:59 PM






 




    
                  Milisters ysh,
 

Sejauh berkait dimensi waktu… perencanaan ruang kiranya dpt dibagi
menjadi perencanaan masa lalu, masa kini dan masa akandatang…….  

Sejauh berkait masa kini atau masalah hari ini……Pada garis besarnya
bolehlah dikatakan oleh masyarakat perencanaan ruang bahwa bicara ttg budaya
adalah bicara ttg ‘melepas lelah’… krn enaknya bicara ttg budaya adlh bhw kita
disitu  bisa santai bicara ttg bukan
ekonomi.. ttg bukan pengangguran. . ttg bukan penanggulangan kemiskinan…..  ttg 
bukan industri, infrastruktur dan
pembangunan kawasan tertinggal  …ttg
bukan sistem integrasi kota secara nasional maupun ttg pertahanan pulau2
terluar dan perbatasan2 negara….. sementara itu kalau bicara ttg perencanaan
ruang  (yg maksudnya ingin dilanjut  dgn konkretisasinya)…. Pada dasarnya kita 
harus
bicara dan berdebat ttg ‘berlelah-lelah tanpa henti’….. krn kita harus bicara 
disitu
ttg apa2 yg tak enak yg tak disukai pada wacana kebudayaan spt diatas tadi 
itu………… 

Khususnya di Indonesia….. kita dpt perhatikan bhw dimasa lalu…. Khususnya
dimasa  sebelum kemerdekaan  bahkan sebelum masuknya penjajahan kolonial
…… yg artinya Indonesia masih berupa banyak kerajaan2 disana sini…….. kita tahu
bahwa perencanaan2 bolehlah dikatakan sbg aristosentris…. Berpusat pada
kerajaan2/ keraton…. Dn jelas bhw ia samasekali tidak berwatak demokratis…
justru krn memang sistem pemerintahan demokratis belumlah lahir…….  

Bahwa keraton2 dimasa pra kemerdekaan Indonesia sbg pusat2  pemerintahan dan 
pusat2 negeri perlu membangun
tak hanya pertahanannya namun bahkan juga mengembangkan nafsu invasinya
(sendiri2_)….dan juga mahawibawanya atas rakyatnya…….   jelas bhw dizaman2 itu 
justru power, sakralitas
dan pertahanan keraton menjadi unsur2 paling penting pada masanya …….. jelas
bhw perencanaan fisik keraton kemudian selalu perlu dibangun diatas unsur2
power dan sakralitas  itu… baik yg
bersifat kasatmata seperti bentuk2 tembok keliling yg tebal dan tinggi serta
pintu gerbang kota yg dijaga kuat oleh para prajurit…..… maupun juga ia perlu 
dilandasi
pula oleh himpunan kekuatan2 supranatural…...  

Ditambah  bhw pada masa itu
teknologi persenjataan juga belumlah sampai pada penemuan sistem mesiu apalagi
mesin….. sehingga persenjataan lebih banyak berupa senjata2 tajam serta kuda……
wajar bhw berdasar tradisi masa lalu dan sikon kala itu…. sistem persenjataan
dan pertahanan diri itu perlu dilapisi pula oleh kekuatan2 supranatural
diatasnya…… spt ttg kekebalan tubuh yg dibacok tidak mempan dsb…….  

Paradigma perencanaan ruang dimasa kini bukan lagi sekedar menyangkut
aspek keterbukaan dan demokrasi  saja……dan
bukan lagi paradigma ttg perencanaan 
masing2 negeri seperti Pajajaran, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram.
Gowa  atau kesultanan Ternate…. tetapi
adalah paradigma perencanaan ruang  multi
dimensi (termasuk strategi redistribusi populasi, redistribusi lokasi2
industri, transformasi profesi2 dari agraris ke industri dsb)  ttg integrasi 
dari sistem perencanaan ruang
kerajaan2 atau bukan kerajaan dari Sabang hingga Merauke yg kemudian belakangan
bernama Indonesia……... 

Itu sebabnya berbeda dgn karakter perencanaan ruang masa2 sebelum
penjajahan kolonial yg semula sifatnya 
serba aristosentris…… perencanaan ruang pasca kemerdekaan yg membawa
negeri ini bercorak republik  mau tak mau
consequently haruslah berubah bhw ia haruslah kemudian bersifat demokratis….yg
artinya rakyat (dan bukan raja atau presiden)  adalah (diatas) segalanya……   

Setelah kemerdekaan bolehlah kemudian dikatakan bhw perencanaan ruang
kita kemudian sbg ‘meniru barat’ atau namanya menjadi planologi…….. tetapi
logikanya ini lbh disebabkan krn itu akibat dari sistem negara kita yg setelah
merdeka lalu berbentuk republik demokrasi…… dimana yg harus diutamakan 
didalamnya
adalah kesejahteraan rakyat, saling kesetaraan2 serta saling  persamaan2 
diantaranya…… dan bukan lagi orientasi2
 haruslah berpusat pada kepala negara
serta istananya…….… 

Karena itu pula semenjak orientasi dari corak negeri ini kemudian adalah
republik dan berdasarkan demokrasi…… dn kita tahu bhw akibat penjajahan yg
panjang rakyat kita menjadi sangat miskin dan sangat terbelakang……. Wajar bhw  
prioritas pembangunan keruangan dan  non-keruangan kita kok boro2  masih 
berorientasi keraton2an…….  Tentu saja orientasi pembangunan kita kemudian
lbh berfokus pada pengutamaam perekonomian rakyat dan kesejahteraan rakyat…..  

Karena itu kembali lagi……bicara ttg perencanaan ruang dan budaya….  semuanya 
tergantung dan terpulang lagi  kepada siapa yg melihatnya……...kalau arsitek
yg bicara ttg budaya dan dicoba kaitkan dgn perencanaan ruang……. Bagi saya
membacanya adalah rekreasi….. karena sejenak bisa melepas lelah menikmatinya
tanpa harus  mendebatnya (kalau didebat
nanti malah  brenti)……. Demikian juga bagi
saya planners bicara bertele2 ttg budaya.. apalagi ttg masa lalu…. adalah sama
saja spt sejenak bicara ttg ‘melepas lelah’, ‘rekreasi’  dan ‘santai’… dan itu 
boleh2 saja dan silahkan….
karena bicara tentang konkretisasi perencanaan ruang adalah bicara ttg
‘berlelah-lelah’ tanpa henti…… itu krn pada konkretisasi keruangan tak ada
jalannya yg tak terjal dan tak mendaki…... sementara itu kalau hanya sebatas 
ingin
perencanaan ruang (saja)… jalannya tak harus terjal dan tak harus mendaki……
cukuplah buatlah sebanyak2 UU, Kepres atau Permen…….. 

Pertanyaannya adalah…. Kalau planners bicara ttg budaya sampai melebihi
dosis lalu mengesampingkan  ttg masalah
ekonomi dan sosial ruang serta enjinering ruang bagi penanggulangan angka
pengangguran ditengah kemiskinan yg banyak melilit bangsa ini…. bukankah itu
namanya escape?..... ....... 

Salam, aby 







      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke