Pak Djarot,Eyang Aby,

Saya lihat buku yang ditulis Jo Santoso, "Arsitektur-kota Jawa - Kosmos, Kultur 
& Kuasa", terbitan Centropolis Untar, yang merupakan edisi umum dari disertasi 
penulisnya, layak untuk jadi referensi.

Judul-judul Bab nya cukup menjanjikan. 
Bab-1 Memposisikan Tradisi dalam Proses Transformasi Peradaban Urban
Bab-2 Dari Arsitektur Suku-suku Bangsa Primitif sampai Borobudur
Bab-3 Majapahit: Pusat Kekuasaan dan Budaya Jawa ....
Bab-4 Penataan Ruang Kota Kerajaan Mataram: Dominasi Prinsip 
Mikrokosmis-Hierarkhis
Bab-5 Aplikasi Instrumen Religius-sakral pada Arsitektur-kota Jawa
Bab-6 Patahan dan Kontinuitas dalam Transformasi Struktur Ruang dan Arsitektur. 
Dengan sub-bab: Kosmografi dan arsitektur; Kosmografi dan transformasi 
arsitektur-kota, ...., Arsitektur dan transformasi kota.

Beberapa kata kunci seperti "kosmografi" dan "transformasi"  barangkali menarik 
untuk diskusi, karena ada yang mungkin berlaku umum, serta proses 
perkerkembangannya dalam ruang-waktu.

Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Dear Eyang ABY yang buaik hati, saya ada pengalaman menarik berkaitan dengan 
> cara pandang planner dan arsitek. Teman saya pernah mendongeng melalui bahan 
> presentasi yang menarik tentang Trowulan. Dia mengaku dan kayaknya cara 
> berpikirnya seorang planner, tesis S2 nya ya tentang planning (entah apa 
> judulnya). Tayangannya menarik sebab nggak pakai power point lagi melainkan 
> dengan flash, jadi gabungan antara teks, foto dan film menjadi tayangan yang 
> sangat menarik - dinamis - interaktif. Pokoknya bahan tayangannya mempesona 
> eh memesona.
> 
> Pada waktu tanya jawab, saya bertanya, apakah ketika di tengah gerbang Gapuro 
> Wringin Lawang (Candi Bentar di Mojokerto) memperhatikan spesi dan susunan 
> bata ? Teman saya menjawan, nggak perhatikan pak karena sebagai planner saya 
> nggak diajari melihat detil seperti itu. Saya lantas menjadi sadar, 
> tanda-tanda fisik yang begitu penting bagi seorang arsitek ternyata tidak 
> menjadi bahan penting bagi seorang planner (minimal teman saya itu). Dsetik 
> itu saya sadar, arsitek dan planner punya fokus berbeda-beda dalam menelusuri 
> tanda-tanda fisik. Artinya, skala pengamatannya berbeda.
> 
> Pengalaman saya menunjukkan bahwa puntung rokok, kaleng minuman lunak, 
> tetesan lilin sekalipun bagi arsitek bisa menjadi petunjuk untuk menguak 
> fenomena kegiatan yang pernah berlangsung di suatu tempat. Kerjanya mirip 
> polisi yang sedang olah TKP. Jika kita mampu mengamati dengan kritis, banyak 
> tanda-tanda fisik yang bermanfaat bagi identifikasi tentang ruang, skala 
> mikro hingga yang meso, atau bahkan makro. Teman dari UII pernah mengamati 
> dan menganalisis bagaimana sebaran posko PDI  ternyata  ada kaitan dengan 
> gerakan perlawanan rakyat secara skala luas. Apakah hilangnya posko PDI pada 
> pemilu  2009 juga menjadi indikasi  nggembosnya semangat  lama itu ????
> 
> Eyang ABY, bagaimana dengan batas-batas dosis yang Eyang maksudkan ? Apakah 
> kita masih perlu melakukan batas-batas dosis semacam itu, khususnya dalam 
> proses validasi pikiran - pikiran kita atau pengamatan kita yang zoom-in dan 
> zoom-out agar memperoleh keutuhan dan kedalaman fenomena ? Apakah kita ingin 
> membangun kotak-kotak yang tak tertembuskan....menjadi tembok-tembok yang 
> membatasi profesionalitas kita ? 
> 
> Nyuwun pangapunten Yang, mohon pencerahan cucumu yang mbeling ini.
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 
> 
> 
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> 
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> 
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
> 
> --- On Thu, 8/6/09, hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
> 
> From: hengky abiyoso <watashi...@...>
> Subject: [referensi] Re : Perencanaan Ruang dan Budaya
> To: [email protected]
> Date: Thursday, August 6, 2009, 5:59 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> 
>     
>                   Milisters ysh,
>  
> 
> Sejauh berkait dimensi waktu… perencanaan ruang kiranya dpt dibagi
> menjadi perencanaan masa lalu, masa kini dan masa akandatang…….  
> 
> Sejauh berkait masa kini atau masalah hari ini……Pada garis besarnya
> bolehlah dikatakan oleh masyarakat perencanaan ruang bahwa bicara ttg budaya
> adalah bicara ttg ‘melepas lelah’… krn enaknya bicara ttg budaya adlh 
> bhw kita
> disitu  bisa santai bicara ttg bukan
> ekonomi.. ttg bukan pengangguran. . ttg bukan penanggulangan 
> kemiskinan…..  ttg bukan industri, infrastruktur dan
> pembangunan kawasan tertinggal  …ttg
> bukan sistem integrasi kota secara nasional maupun ttg pertahanan pulau2
> terluar dan perbatasan2 negara….. sementara itu kalau bicara ttg perencanaan
> ruang  (yg maksudnya ingin dilanjut  dgn konkretisasinya)…. Pada dasarnya 
> kita harus
> bicara dan berdebat ttg ‘berlelah-lelah tanpa henti’….. krn kita harus 
> bicara disitu
> ttg apa2 yg tak enak yg tak disukai pada wacana kebudayaan spt diatas tadi 
> itu………… 
> 
> Khususnya di Indonesia….. kita dpt perhatikan bhw dimasa lalu…. Khususnya
> dimasa  sebelum kemerdekaan  bahkan sebelum masuknya penjajahan kolonial
> …… yg artinya Indonesia masih berupa banyak kerajaan2 disana sini…….. 
> kita tahu
> bahwa perencanaan2 bolehlah dikatakan sbg aristosentris…. Berpusat pada
> kerajaan2/ keraton…. Dn jelas bhw ia samasekali tidak berwatak demokratis…
> justru krn memang sistem pemerintahan demokratis belumlah lahir…….  
> 
> Bahwa keraton2 dimasa pra kemerdekaan Indonesia sbg pusat2  pemerintahan dan 
> pusat2 negeri perlu membangun
> tak hanya pertahanannya namun bahkan juga mengembangkan nafsu invasinya
> (sendiri2_)….dan juga mahawibawanya atas rakyatnya…….   jelas bhw 
> dizaman2 itu justru power, sakralitas
> dan pertahanan keraton menjadi unsur2 paling penting pada masanya …….. 
> jelas
> bhw perencanaan fisik keraton kemudian selalu perlu dibangun diatas unsur2
> power dan sakralitas  itu… baik yg
> bersifat kasatmata seperti bentuk2 tembok keliling yg tebal dan tinggi serta
> pintu gerbang kota yg dijaga kuat oleh para prajurit…..… maupun juga ia 
> perlu dilandasi
> pula oleh himpunan kekuatan2 supranatural…...  
> 
> Ditambah  bhw pada masa itu
> teknologi persenjataan juga belumlah sampai pada penemuan sistem mesiu apalagi
> mesin….. sehingga persenjataan lebih banyak berupa senjata2 tajam serta 
> kuda……
> wajar bhw berdasar tradisi masa lalu dan sikon kala itu…. sistem 
> persenjataan
> dan pertahanan diri itu perlu dilapisi pula oleh kekuatan2 supranatural
> diatasnya…… spt ttg kekebalan tubuh yg dibacok tidak mempan dsb…….  
> 
> Paradigma perencanaan ruang dimasa kini bukan lagi sekedar menyangkut
> aspek keterbukaan dan demokrasi  saja……dan
> bukan lagi paradigma ttg perencanaan 
> masing2 negeri seperti Pajajaran, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram.
> Gowa  atau kesultanan Ternate…. tetapi
> adalah paradigma perencanaan ruang  multi
> dimensi (termasuk strategi redistribusi populasi, redistribusi lokasi2
> industri, transformasi profesi2 dari agraris ke industri dsb)  ttg integrasi 
> dari sistem perencanaan ruang
> kerajaan2 atau bukan kerajaan dari Sabang hingga Merauke yg kemudian 
> belakangan
> bernama Indonesia……... 
> 
> Itu sebabnya berbeda dgn karakter perencanaan ruang masa2 sebelum
> penjajahan kolonial yg semula sifatnya 
> serba aristosentris…… perencanaan ruang pasca kemerdekaan yg membawa
> negeri ini bercorak republik  mau tak mau
> consequently haruslah berubah bhw ia haruslah kemudian bersifat 
> demokratis….yg
> artinya rakyat (dan bukan raja atau presiden)  adalah (diatas) 
> segalanya……   
> 
> Setelah kemerdekaan bolehlah kemudian dikatakan bhw perencanaan ruang
> kita kemudian sbg ‘meniru barat’ atau namanya menjadi planologi…….. 
> tetapi
> logikanya ini lbh disebabkan krn itu akibat dari sistem negara kita yg setelah
> merdeka lalu berbentuk republik demokrasi…… dimana yg harus diutamakan 
> didalamnya
> adalah kesejahteraan rakyat, saling kesetaraan2 serta saling  persamaan2 
> diantaranya…… dan bukan lagi orientasi2
>  haruslah berpusat pada kepala negara
> serta istananya…….… 
> 
> Karena itu pula semenjak orientasi dari corak negeri ini kemudian adalah
> republik dan berdasarkan demokrasi…… dn kita tahu bhw akibat penjajahan yg
> panjang rakyat kita menjadi sangat miskin dan sangat terbelakang……. Wajar 
> bhw  prioritas pembangunan keruangan dan  non-keruangan kita kok boro2  
> masih berorientasi keraton2an…….  Tentu saja orientasi pembangunan kita 
> kemudian
> lbh berfokus pada pengutamaam perekonomian rakyat dan kesejahteraan 
> rakyat…..  
> 
> Karena itu kembali lagi……bicara ttg perencanaan ruang dan budaya…. 
>  semuanya tergantung dan terpulang lagi  kepada siapa yg 
> melihatnya……...kalau arsitek
> yg bicara ttg budaya dan dicoba kaitkan dgn perencanaan ruang……. Bagi saya
> membacanya adalah rekreasi….. karena sejenak bisa melepas lelah menikmatinya
> tanpa harus  mendebatnya (kalau didebat
> nanti malah  brenti)……. Demikian juga bagi
> saya planners bicara bertele2 ttg budaya.. apalagi ttg masa lalu…. adalah 
> sama
> saja spt sejenak bicara ttg ‘melepas lelah’, ‘rekreasi’  dan 
> ‘santai’… dan itu boleh2 saja dan silahkan….
> karena bicara tentang konkretisasi perencanaan ruang adalah bicara ttg
> ‘berlelah-lelah’ tanpa henti…… itu krn pada konkretisasi keruangan 
> tak ada
> jalannya yg tak terjal dan tak mendaki…... sementara itu kalau hanya 
> sebatas ingin
> perencanaan ruang (saja)… jalannya tak harus terjal dan tak harus 
> mendaki……
> cukuplah buatlah sebanyak2 UU, Kepres atau Permen…….. 
> 
> Pertanyaannya adalah…. Kalau planners bicara ttg budaya sampai melebihi
> dosis lalu mengesampingkan  ttg masalah
> ekonomi dan sosial ruang serta enjinering ruang bagi penanggulangan angka
> pengangguran ditengah kemiskinan yg banyak melilit bangsa ini…. bukankah itu
> namanya escape?..... ....... 
> 
> Salam, aby
>


Kirim email ke