Eyang Aby ysh,

Konsep waktu yang Eyang sampaikan berbeda dengan pandangan saya.
Dalam memahami suatu kondisi, konsep waktu dan ruang menurut saya tidak
dapat dipisahkan. Tidak ada ruang yang eksis tanpa dikaitkan dengan waktu
tertentu. Kondisi ruang satu detik yang lalu berbeda dengan saat ini.
Wakturuang hotel Marriot sepersekiandetik sebelum bom meledak sangat berbeda
dengan saat dan setelahnya.

Sedangkan mengenai pemaknaan, makna hanya dapat difahami melalui dimensi
wakturuang kultural. Tidak ada makna wakturuang yang dapat difahami tanpa
memahami kultur manusia yang memaknainya.
Masa lalu memiliki wakturuang kultural sendiri, masa kini demikian pula,
apalagi masa datang.
Apalagi wakturuang kultural sebuah kota, yang perilaku manusia di dalamnya
selalu berubah setiap saat.
Planer perlu memahami periodifikasi perubahan wakturuang kultural
unsur-unsur di suatu bagian kota yang ingin diintervensinya, baik saat
mengumpulkan informasi, memperkirakan potensi risiko yang dapat ditimbulkan
di setiap bagian proses intervensinya, saat menyusun rencana,
mem-validasi-kannya, hingga periode implementasi intervensi rencananya...
Tanpa memahami perkembangan perubahan dimensi tersebut...yang akan
dihasilkannya adalah "disaster'

Sarkastik ya...

Salam,
ATA


2009/8/6 hengky abiyoso <[email protected]>

>
>
> Milisters ysh,
>
> Sejauh berkait dimensi waktu… perencanaan ruang kiranya dpt dibagi menjadi
> perencanaan masa lalu, masa kini dan masa akandatang…….
>
> Sejauh berkait masa kini atau masalah hari ini……Pada garis besarnya
> bolehlah dikatakan oleh masyarakat perencanaan ruang bahwa bicara ttg budaya
> adalah bicara ttg ‘melepas lelah’… krn enaknya bicara ttg budaya adlh bhw
> kita disitu  bisa santai bicara ttg bukan ekonomi.. ttg bukan
> pengangguran.. ttg bukan penanggulangan kemiskinan…..  ttg bukan industri,
> infrastruktur dan pembangunan kawasan tertinggal  …ttg bukan sistem
> integrasi kota secara nasional maupun ttg pertahanan pulau2 terluar dan
> perbatasan2 negara….. sementara itu kalau bicara ttg perencanaan ruang  (yg
> maksudnya ingin dilanjut  dgn konkretisasinya)…. Pada dasarnya kita harus
> bicara dan berdebat ttg ‘berlelah-lelah tanpa henti’….. krn kita harus
> bicara disitu ttg apa2 yg tak enak yg tak disukai pada wacana kebudayaan spt
> diatas tadi itu…………
>
> Khususnya di Indonesia….. kita dpt perhatikan bhw dimasa lalu…. Khususnya
> dimasa  sebelum kemerdekaan  bahkan sebelum masuknya penjajahan kolonial
> …… yg artinya Indonesia masih berupa banyak kerajaan2 disana sini…….. kita
> tahu bahwa perencanaan2 bolehlah dikatakan sbg aristosentris…. Berpusat pada
> kerajaan2/ keraton…. Dn jelas bhw ia samasekali tidak berwatak demokratis…
> justru krn memang sistem pemerintahan demokratis belumlah lahir…….
>
> Bahwa keraton2 dimasa pra kemerdekaan Indonesia sbg pusat2  pemerintahan
> dan pusat2 negeri perlu membangun tak hanya pertahanannya namun bahkan juga
> mengembangkan nafsu invasinya (sendiri2_)….dan juga mahawibawanya atas
> rakyatnya…….   jelas bhw dizaman2 itu justru power, sakralitas dan
> pertahanan keraton menjadi unsur2 paling penting pada masanya …….. jelas bhw
> perencanaan fisik keraton kemudian selalu perlu dibangun diatas unsur2 power
> dan sakralitas  itu… baik yg bersifat kasatmata seperti bentuk2 tembok
> keliling yg tebal dan tinggi serta pintu gerbang kota yg dijaga kuat oleh
> para prajurit…..… maupun juga ia perlu dilandasi pula oleh himpunan
> kekuatan2 supranatural…...
>
> Ditambah  bhw pada masa itu teknologi persenjataan juga belumlah sampai
> pada penemuan sistem mesiu apalagi mesin….. sehingga persenjataan lebih
> banyak berupa senjata2 tajam serta kuda…… wajar bhw berdasar tradisi masa
> lalu dan sikon kala itu…. sistem persenjataan dan pertahanan diri itu perlu
> dilapisi pula oleh kekuatan2 supranatural diatasnya…… spt ttg kekebalan
> tubuh yg dibacok tidak mempan dsb…….
>
> Paradigma perencanaan ruang dimasa kini bukan lagi sekedar menyangkut aspek
> keterbukaan dan demokrasi  saja……dan bukan lagi paradigma ttg perencanaan
> masing2 negeri seperti Pajajaran, Sriwijaya, Majapahit, Demak, Mataram.
> Gowa  atau kesultanan Ternate…. tetapi adalah paradigma perencanaan ruang
>  multi dimensi (termasuk strategi redistribusi populasi, redistribusi
> lokasi2 industri, transformasi profesi2 dari agraris ke industri dsb)  ttg
> integrasi dari sistem perencanaan ruang kerajaan2 atau bukan kerajaan dari
> Sabang hingga Merauke yg kemudian belakangan bernama Indonesia……...
>
> Itu sebabnya berbeda dgn karakter perencanaan ruang masa2 sebelum
> penjajahan kolonial yg semula sifatnya  serba aristosentris…… perencanaan
> ruang pasca kemerdekaan yg membawa negeri ini bercorak republik  mau tak
> mau consequently haruslah berubah bhw ia haruslah kemudian bersifat
> demokratis….yg artinya rakyat (dan bukan raja atau presiden)  adalah
> (diatas) segalanya……
>
> Setelah kemerdekaan bolehlah kemudian dikatakan bhw perencanaan ruang kita
> kemudian sbg ‘meniru barat’ atau namanya menjadi planologi…….. tetapi
> logikanya ini lbh disebabkan krn itu akibat dari sistem negara kita yg
> setelah merdeka lalu berbentuk republik demokrasi…… dimana yg harus
> diutamakan didalamnya adalah kesejahteraan rakyat, saling kesetaraan2 serta
> saling  persamaan2 diantaranya…… dan bukan lagi orientasi2  haruslah
> berpusat pada kepala negara serta istananya…….…
>
> Karena itu pula semenjak orientasi dari corak negeri ini kemudian adalah
> republik dan berdasarkan demokrasi…… dn kita tahu bhw akibat penjajahan yg
> panjang rakyat kita menjadi sangat miskin dan sangat terbelakang……. Wajar
> bhw  prioritas pembangunan keruangan dan  non-keruangan kita kok boro2  masih
> berorientasi keraton2an…….  Tentu saja orientasi pembangunan kita kemudian
> lbh berfokus pada pengutamaam perekonomian rakyat dan kesejahteraan
> rakyat…..
>
> Karena itu kembali lagi……bicara ttg perencanaan ruang dan budaya….  semuanya
> tergantung dan terpulang lagi  kepada siapa yg melihatnya……...kalau
> arsitek yg bicara ttg budaya dan dicoba kaitkan dgn perencanaan ruang…….
> Bagi saya membacanya adalah rekreasi….. karena sejenak bisa melepas lelah
> menikmatinya tanpa harus  mendebatnya (kalau didebat nanti malah  brenti)…….
> Demikian juga bagi saya planners bicara bertele2 ttg budaya.. apalagi ttg
> masa lalu…. adalah sama saja spt sejenak bicara ttg ‘melepas lelah’,
> ‘rekreasi’  dan ‘santai’… dan itu boleh2 saja dan silahkan…. karena bicara
> tentang konkretisasi perencanaan ruang adalah bicara ttg ‘berlelah-lelah’
> tanpa henti…… itu krn pada konkretisasi keruangan tak ada jalannya yg tak
> terjal dan tak mendaki…... sementara itu kalau hanya sebatas ingin
> perencanaan ruang (saja)… jalannya tak harus terjal dan tak harus mendaki……
> cukuplah buatlah sebanyak2 UU, Kepres atau Permen……..
>
> Pertanyaannya adalah…. Kalau planners bicara ttg budaya sampai melebihi
> dosis lalu mengesampingkan  ttg masalah ekonomi dan sosial ruang serta
> enjinering ruang bagi penanggulangan angka pengangguran ditengah kemiskinan
> yg banyak melilit bangsa ini…. bukankah itu namanya escape?............
>
> Salam, aby
>
>
>  
>

Kirim email ke