Mas Yando ysh,

Mohon maaf yang sebesar-besarnya bila saya agak berbeda dengan thesa yang mas 
Yando sampaikan yaitu :

TENTANG KEMISKINAN INDONESIA.

   2. Apa jawab para entrepreneur pribumi tsb? Kita kurang modal, pak. Kita 
kurang dibantu pemerintah, pak. Dalam hati saya bergumam, inilah entrepreneur 
berjiwa hamba sahaya. Tergantung kepada pihak lain! Tidak punya jiwa 
independent! Tidak memaksa diri untuk berusaha sendiri sekuat tenaga. Kalau 
anda kebetulan seorang entrepreneur keturunan Cina, apakah anda juga akan 
mengeluarkan keluhan yang serupa?


Tanggapan saya :

Saya sebagai bagian dari birokrat meskipun saat ini berada dipinggiran, harus 
mengakui bahwa pemerintah belum membantu masyarakat. Salah satu contoh yang 
menarik adalah pada waktu program anak asuh dan penggunaan dana 2,5% keuntungan 
BUMN ternyata memang benar2 sukar sekali untuk dipahami masyarakat kecil. 
BAHASANYA ADALAH BAHASA DEWA2 YANG MUNGKIN UNTUK REKAN2 MILIST DISINI TIDAK 
KESULITAN TAPI BAGI MASYARAKAT SANGAT SUKAR.

Kalau dikatakan bahwa masyarakat itu tidak berjiwa entrepreneur saya kira tidak 
akan mungkin muncul demikian banyak sektor informal. 14 hari setleah gempa di 
Bantul sudah timbul warung2 kecil jualan es.

Bahkan demikian "tingginya" jiwa entrepreneurship masyarakat dapat dilihat dari 
pemilu terakhir. Bagaimana masyarakat mengambil keuntungan dari kegilaan orang2 
yang mau nyaleg .... ini adalah jiwa kewirausahaan meskipun salah kaporah.

Kalau tergantung pada yang lain saya juga kurang setuju. Mereka saat ini sudah 
tumbuh dan berkembang. Hanya karena tidak adanya akses terhadap fasilitas saja 
yang menyebabkan mereka tertekan seperti sekarang. Dan program yang ndakik2 
dibangun oleh para cerdik pandai sering tidak melihat kenyataan lapangan.

   3. Rakyat pedesaan pribumi yang bermental hamba-sahaya, tidak jujur, santet, 
di depan sangat sopan tapi di belakang main dukun, pengemplang hutang, pinjam 
modal dari bank dipakai untuk kawin lagi-beli motor- atau betulin rumah, dll 
ini saya temukan lagi di daerah penelitian saya Cianjur, Sulawesi Selatan, 
Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dll. Bgm mengajak maju manusia dgn mental 
seperti ini?

Tanggapan saya :

Wuaduh-wuaduh saya kasihan dengan masyarakat pedesaan yang dicap seperti itu 
mas Yando. Dari pengalaman saya melihat Seluas (Kalimantan Barat), Kefamenanu 
(NTT), Sentani (Papua), Gunung Kidul (DIY), Talang Padang, dan Krui (Lampung), 
Bantaeng (Sulsel), Kolonedale (Jatim) justru saya menangkap kejujuran mereka 
dan kepolosan mereka. Yang sudah rusak justru yang saya temui di pinggiran 
kota-kota besar dan metropolitan. Ini saya lihat dibanyak kesempatan dan 
program. Sampai dengan pemilu.

Program saya yang diinisasi untuk membantu masyarakat Bantul dan Gunung Kidul 
dalam kredit sapi ternyata tingkat defaultnya atau kredit bermasalahnya 
(-0,13%) selama 6 th program!!! Hal ini juga saya temui di NTB. Mereka taat 
sekali dalam membayar. Tetapi masyarakat pinggir kota besarlah yang sudah 
diinfiltrasi oleh paham atau nilai2 penduduk urban yang cenderung seperti itu.

   8. Untuk level nasional, menurut saya, kita membutuhkan kebijakan pemerintah 
yang pro rakyat (Robert Bates) dan rakyat modern dan terdidik yang berjiwa 
entrepreneur tinggi ( Rogers, McClelland, Inkeles, Harrison, Huntington, dll). 
Yang pertama adalah pendekatan politiko-institusional, dan yang kedua adalah 
pendekatan psiko-kultural. Kedua-duanya mestinya merupakan tantangan bagi 
antropolog yang sadar.

Tanggapan saya :

Saya agak kurang paham tentang kata masyarakat modern. Sebenarnya masyarakat 
modern itu yang bagaimana? Karena saat ini sudah muncul gejala masyarakat yang 
katanya modern kembali lagi menengok kepada tradisionalitas. Mungkin mas Djarot 
bisa menjelaskan lebih bagus tentang fenomenologi itu sebenarnya muncul dari 
sebuah kegelisahan apa? Weber? Habermass?? atau ... ???

Saya justru mengajak kita menengok lebih dalam pada tradisionalitas karena 
disanalah terdapat kearifan lokal yang sudah terbukti bertahun2 mampu menjawab 
permasalahan. 

Mohon maaf lho mas Yando kalau saya kurang sopan daloam mengulas.

Salam

bambang sp

 

Kirim email ke