Rekans, menarik sekali diskusi yang berkembang ini: 1. diskusi mengenai de Soto 2. diskusi mengenai meng-angka-kan aspek formalitas properti 3. diskusi mengenai kritik antropologis non kuantitatif yang dapat juga dikaji selanjutnya dalam: 4. diskusi mengenai kesesuaian atau kegayutan tesis de Soto dalam waktu-ruang kultural di lingkungan yang memang berbeda...
mungkin memang tidak semua aspek layak di kaitkan dengan tesis seseorang dalam kasus berbeda... mungkin juga tidak mudah melakukan diskusi berdasarkan pendekatan multi, inter atau trans disiplin... dalam dunia akademis yang sering sangat sektoral lebih mudah kalau sekadar mengkaitkan dengan satu konsep tertentu (mono disiplin) saja, ceteris paribus... Salam, ATA 2009/8/18 R. Yando Zakaria <[email protected]> > > > Pak BSP ysh., > > Biar lebih maknyus respons baliknya, saya cc-kan respons Bapak ini kepada > yang bersangkutan ya. Monggo Pak Amri... > > > > Salam, > > ryz > > > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On > Behalf Of *[email protected] > *Sent:* 17 Agustus 2009 23:53 > *To:* [email protected] > *Subject:* Re: [referensi] Fw: [IKA-UI] Menguji Tesis de Soto: Mau? > > > > > > Mas Yando ysh, > > Mohon maaf yang sebesar-besarnya bila saya agak berbeda dengan thesa yang > mas Yando sampaikan yaitu : > > TENTANG KEMISKINAN INDONESIA. > > 2. Apa jawab para entrepreneur pribumi tsb? Kita kurang modal, pak. Kita > kurang dibantu pemerintah, pak. Dalam hati saya bergumam, inilah > entrepreneur berjiwa hamba sahaya. Tergantung kepada pihak lain! Tidak punya > jiwa independent! Tidak memaksa diri untuk berusaha sendiri sekuat tenaga. > Kalau anda kebetulan seorang entrepreneur keturunan Cina, apakah anda juga > akan mengeluarkan keluhan yang serupa? > > > Tanggapan saya : > > Saya sebagai bagian dari birokrat meskipun saat ini berada dipinggiran, > harus mengakui bahwa pemerintah belum membantu masyarakat. Salah satu contoh > yang menarik adalah pada waktu program anak asuh dan penggunaan dana 2,5% > keuntungan BUMN ternyata memang benar2 sukar sekali untuk dipahami > masyarakat kecil. BAHASANYA ADALAH BAHASA DEWA2 YANG MUNGKIN UNTUK REKAN2 > MILIST DISINI TIDAK KESULITAN TAPI BAGI MASYARAKAT SANGAT SUKAR. > > Kalau dikatakan bahwa masyarakat itu tidak berjiwa entrepreneur saya kira > tidak akan mungkin muncul demikian banyak sektor informal. 14 hari setleah > gempa di Bantul sudah timbul warung2 kecil jualan es. > > Bahkan demikian "tingginya" jiwa entrepreneurship masyarakat dapat dilihat > dari pemilu terakhir. Bagaimana masyarakat mengambil keuntungan dari > kegilaan orang2 yang mau nyaleg .... ini adalah jiwa kewirausahaan meskipun > salah kaporah. > > Kalau tergantung pada yang lain saya juga kurang setuju. Mereka saat ini > sudah tumbuh dan berkembang. Hanya karena tidak adanya akses terhadap > fasilitas saja yang menyebabkan mereka tertekan seperti sekarang. Dan > program yang ndakik2 dibangun oleh para cerdik pandai sering tidak melihat > kenyataan lapangan. > > 3. Rakyat pedesaan pribumi yang bermental hamba-sahaya, tidak jujur, > santet, di depan sangat sopan tapi di belakang main dukun, pengemplang > hutang, pinjam modal dari bank dipakai untuk kawin lagi-beli motor- atau > betulin rumah, dll ini saya temukan lagi di daerah penelitian saya Cianjur, > Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dll. Bgm mengajak maju > manusia dgn mental seperti ini? > > Tanggapan saya : > > Wuaduh-wuaduh saya kasihan dengan masyarakat pedesaan yang dicap seperti > itu mas Yando. Dari pengalaman saya melihat Seluas (Kalimantan Barat), > Kefamenanu (NTT), Sentani (Papua), Gunung Kidul (DIY), Talang Padang, dan > Krui (Lampung), Bantaeng (Sulsel), Kolonedale (Jatim) justru saya menangkap > kejujuran mereka dan kepolosan mereka. Yang sudah rusak justru yang saya > temui di pinggiran kota-kota besar dan metropolitan. Ini saya lihat dibanyak > kesempatan dan program. Sampai dengan pemilu. > > Program saya yang diinisasi untuk membantu masyarakat Bantul dan Gunung > Kidul dalam kredit sapi ternyata tingkat defaultnya atau kredit > bermasalahnya (-0,13%) selama 6 th program!!! Hal ini juga saya temui di > NTB. Mereka taat sekali dalam membayar. Tetapi masyarakat pinggir kota > besarlah yang sudah diinfiltrasi oleh paham atau nilai2 penduduk urban yang > cenderung seperti itu. > > 8. Untuk level nasional, menurut saya, kita membutuhkan kebijakan > pemerintah yang pro rakyat (Robert Bates) dan rakyat modern dan terdidik > yang berjiwa entrepreneur tinggi ( Rogers, McClelland, Inkeles, Harrison, > Huntington, dll). Yang pertama adalah pendekatan politiko-institusional, dan > yang kedua adalah pendekatan psiko-kultural. Kedua-duanya mestinya merupakan > tantangan bagi antropolog yang sadar. > > Tanggapan saya : > > Saya agak kurang paham tentang kata masyarakat modern. Sebenarnya > masyarakat modern itu yang bagaimana? Karena saat ini sudah muncul gejala > masyarakat yang katanya modern kembali lagi menengok kepada tradisionalitas. > Mungkin mas Djarot bisa menjelaskan lebih bagus tentang fenomenologi itu > sebenarnya muncul dari sebuah kegelisahan apa? Weber? Habermass?? atau ... > ??? > > Saya justru mengajak kita menengok lebih dalam pada tradisionalitas karena > disanalah terdapat kearifan lokal yang sudah terbukti bertahun2 mampu > menjawab permasalahan. > > Mohon maaf lho mas Yando kalau saya kurang sopan daloam mengulas. > > Salam > > bambang sp > > >

