Pro Sahabat
Asw, Berbagi pengalaman, saya dua tahun lalu juga pernah jadi sopir taxi dadakan di Kuala Lumpur. Pasalnya, waktu saya sendirian mendarat di air port KLIA tengah malam 24.00, lengkap dengan pakaian jas, mau menuju kost saya di daerah Gombak kota Kuala Lumpur (jaraknya 70 Km dari air port), saya pesan taxi resmi. Setelah menumpang dan duduk di kiri depan...dan setelah jalan kira2 sejauh 10 Km, saya perhatikan taxinya berjalan oleng karena sopirnya ngantuk. Wah berabe pikir saya. Jika berhenti, di pinggir jalan tol, sepi begini, tentu sopirnya tidur...saya tidak mau ambil resiko keamanan ...kawatir ada kawan2nya yang menguntit kami.. Sementara saya membawa dokumen disertasi yang harus ditandatangani esok pagi, berikut bawa laptop dan koper. Tidak ada alternatif lain, saya katakan, "boleh saya sopiri...", Padahal saya tidak punya SIM malaysia...Eh bener juga..dia kasih kepada saya. Tetapi saya siap2 menghadapi kemungkinan terburuk,..ketika mau berganti, mesin harus tetap hidup, sopir saya suruh keluar taxi tukar tempat, tetapi saya tidak turun,..saya pindah duduknya hanya menggeser dari kiri ke kanan di tempat duduk sopir di dalam mobil. Mulailah menyetir (menjadi sopir taxi di negara orang)...yang ternyata setirnya juga oleng ..(seperti mau copot). Perjalanan ini beresiko keamanan bagi saya...maka saya suruh sopir tidur..dan saya bangunkan saat memasuki jalan-jalan dalam kota yang banyak cabangnya...pas melalui jalan di kawasan Komplek Idaman menjelang sampai kost (kira-kira pk 02.00), ada razia lalulintas..saya lihat dari jarak 50m saya sempat pelankan taxi..dan saya katakan..kepada sopir...mau ganti sopir..? Karena dia masih mengantuk dan saya katakan di depan ada razia....sopirnya tidak siap menjawab...kalau berhenti malah dicurigai..kawatir dikejar dan malah ditangkap..persoalan jadi ruwet...dan dalam hitungan detik saya ambil keputusan..dengan do'a.kilat...saya harus menyetir terus...Alhamdulillah, melewati rambu razia. ..lolos tanpa cegatan...dan kemudia saya lihat di spion, polisinya memperhatikan kami...sampai di kost selamat...Ma'af ya bapak2 polisi kerajaan...Salam, Koes. JKT. --- On Thu, 20/8/09, Irwan Prasetyo <[email protected]> wrote: From: Irwan Prasetyo <[email protected]> Subject: Re: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi To: [email protected] Date: Thursday, 20 August, 2009, 10:30 AM Ysh Referensier, Saya pernah mendengar dari pejabat Dep Hub, dalam perencanaan transportasi umum itu, perlu selalu dipertimbangkan bahwa angkot itu adalah penyumbang tenaga kerja (supir) terbesar dari sektor ini. Jadi mungkin mesti balancing/trade off dengan pelayanan publik ya?? Juga termasuk pengalaman saya, waktu angkot saya dipertengahan route disuruh berhenti malam-malam oleh preman tukang-tukang ojek, agar penumpangnya naik ojek semua. Ini bentuk apa ya?? Negara Indonesia ini memang memusingkan. Menurut berita The Straits Times di bawah, PhD-nya dari Stanford, bukan "Doktor HC", lho. Salam, MAB Source: http://tinyurl. com/phd-drives- taxi --begins-- PhD holder now a cabby Online buzz over former researcher's blog on his exit from A*Star unit    Dr Cai Ming Jie worked as a researcher for 16 years before becoming a cabby last November. -- PHOTO: WWW.IMCB.A-STAR. EDU.SG COULD this be Singapore's most well qualified taxi driver? Dr Cai Ming Jie became an SMRT cabby last November after spending 16 years as a researcher at the Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB) of the Agency for Science, Technology and Research (A*Star). His career switch has become a talking point online after he started a blog earlier this year. Alongside his experiences as a cabby, he takes issue with the circumstances of his departure from IMCB last May. An SMRT spokesman confirmed that the former researcher is a driver with SMRT Taxis, but Dr Cai declined to add more beyond this: 'All that needs to be said is on the blog online...It should be IMCB that needs to be asked questions, if any.' The China-born Dr Cai, who became a Singapore citizen, obtained a PhD in molecular biology from Stanford University in 1990. The Straits Times learnt that he did a two-year postdoctoral fellowship after leaving Stanford at the University of Washington, under famed genetist Professor Lee Hartwell, who won a 2001 Nobel Prize in physiology. He joined IMCB two years later and worked as a principal investigator in the field of cell genetics up till his departure. A spokesman for A*Star, meanwhile, said renewal of all its researchers' contracts is based on a number of factors, including the time taken to train PhD students, their performance and their contributions to the research institutes and the agency in general. Dr Cai's work, like that of all A*Star researchers, was assessed by an external Scientific Advisory Board (SAB), which recommended his contract be terminated. Still, in spite of the submission of countless curriculum vitaes and applications to universities, government agencies and companies since he was told he would be let go in 2007, Dr Cai failed to get a successful response. The former researcher now drives a four-year -old Toyota Crown. 'At a time like this, the taxi business is probably the only business in Singapore that still actively recruits people,' he said. Read the full story in Wednesday's edition of The Straits Times. --ends-- Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !

