Masalahnya nampaknya pada sistem negara yang serba formal.
Si PhD kan ditolak sbg researcher dari lembaga riset formal, kayaknya jadi 
dosen juga sama prosedurnya.
Pelajaran buat negara yang sedang berkembang (maju-mundur) ini jangan sok serba 
 formal. Itu memperbesar entry barrier.
Ada titik optimal antara yang harus formal, dan informal yang tetap dalam 
koridor.

Contoh sederhana, kalau semua usaha harus di ruko, dan perumahan dilarang 
dipakai usaha sedikitpun. Apakah wirausahawan pemula, ex kena PHK, usaha mikro 
yang jutaan itu semua bisa sewa ruko di luar rumah. Bill Bates, Steve Job pun 
mulai usahanya dari bengkel di rumah. 
Tapi kalau dibiarkan tanpa kontrol juga kacau. Ada optimalisasinya.
Sekarang ini di daerah juga banyak yang menggalakkan pengembangan usaha mikro 
dan kecil, caranya .... dengan menertibkan, menutup yang tak berijin, mengusir 
PKL, meningkatkan perolehan retribusi. Seperti juga sektor pariwisata yang 
berniat promosi dengan menerapkan retribusi promosi, yang tentu membebani 
wisatawan.

Kembali ke kasus PhD jadi sopir taxi, mungkin juga karena spesialisasinya 
sangat khusus ya, sehingga peluang kerja risetnya terbatas. Saya kenal seorang 
PhD geografi di satu universitas di USA yang mata kuliahnya dihapus. Dia 
akhirnya ikut training jadi perawat. Eh, dia bilang gajinya lebih tinggi drpd 
saat ngajar.
Suatu saat industri penerbangan di AS merosot, dan DepHan nya beralih dari F-16 
ke Stealth maka banyak PhD, MSc bidang penerbangan nganggur, untuk beberapa 
waktu mereka kerja sebagai guru les fotografi, komputer, bahkan guru renang, 
dst. Mungkin teman-teman kita di DI (IPTN) lebih fleksibel malahan, bisa ke 
Malaysia, dst.

Terkait posting yang mengutip MI:
Perencanaan pendidikan, perencanaan lapangan kerja adalah persoalan ekonomi 
Tapi kebanyakan ahli pendidikan, ahli teknologi sejak kuliah terbentuk fobi 
ekonomi. Sehingga ada gap antara ekonom (makro) yang bicara indikator moneter 
terus, dengan para ahli teknik, pertanian di sektor riil. Seharusnya ada ahli 
ekonomi mikro (pertanian, industri, perdagangan) yang bekerja sama dengan ahli 
teknik, pertanian, perdagangan, para manajer/ bisnis lapangan sehingga tidak 
indikator makro saja yang diurusi. 

Bunga bank diturunkan misalnya, tidak otomatis menggerakkan sektor riil sesuai 
harapan, kalau peraturan yang jadi kendala dipelihara terus, kemampuan 
marketing keluar tidak dikembangkan, dipermudah.

Soal link pendiddikan dan lapangan kerja bukan urusan Diknas dan Depnaker saja, 
Deptan, Deperin, DPU, Bappenas, Pemda, Deplu dst.

Salam,
Risfan Munir




-----Original Message-----
From: Harya Setyaka <[email protected]>
Sent: Saturday, August 22, 2009 10:29 AM
To: [email protected]
Subject: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi

 

Mengapa tidak mengajar saja ya?? Kalau PhD setidaknya bisa jadi researcher tho..
-K-


Sent from my BikeBerry®
powered by GowasGowes INDOGENJOT
From: "Mohammad Andri Budiman" 
Date: Wed, 19 Aug 2009 09:37:47 +0000
Subject: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi
 
Menurut berita The Straits Times di bawah, PhD-nya dari Stanford, bukan "Doktor 
HC", lho.

 Salam,
 MAB

 Source: http://tinyurl.com/phd-drives-taxi

 --begins--
 PhD holder now a cabby

 Online buzz over former researcher's blog on his exit from A*Star unit
 
 
 

 Dr Cai Ming Jie worked as a researcher for 16 years before becoming a cabby 
last November. -- PHOTO: WWW.IMCB.A-STAR.EDU.SG

 COULD this be Singapore's most well qualified taxi driver?

 Dr Cai Ming Jie became an SMRT cabby last November after spending 16 years as 
a researcher at the Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB) of the 
Agency for Science, Technology and Research (A*Star).

 His career switch has become a talking point online after he started a blog 
earlier this year. Alongside his experiences as a cabby, he takes issue with 
the circumstances of his departure from IMCB last May.

 An SMRT spokesman confirmed that the former researcher is a driver with SMRT 
Taxis, but Dr Cai declined to add more beyond this: 'All that needs to be said 
is on the blog online...It should be IMCB that needs to be asked questions, if 
any.'

 The China-born Dr Cai, who became a Singapore citizen, obtained a PhD in 
molecular biology from Stanford University in 1990. The Straits Times learnt 
that he did a two-year postdoctoral fellowship after leaving Stanford at the 
University of Washington, under famed genetist Professor Lee Hartwell, who won 
a 2001 Nobel Prize in physiology.

 He joined IMCB two years later and worked as a principal investigator in the 
field of cell genetics up till his departure.

 A spokesman for A*Star, meanwhile, said renewal of all its researchers' 
contracts is based on a number of factors, including the time taken to train 
PhD students, their performance and their contributions to the research 
institutes and the agency in general.

 Dr Cai's work, like that of all A*Star researchers, was assessed by an 
external Scientific Advisory Board (SAB), which recommended his contract be 
terminated.

 Still, in spite of the submission of countless curriculum vitaes and 
applications to universities, government agencies and companies since he was 
told he would be let go in 2007, Dr Cai failed to get a successful response.

 The former researcher now drives a four-year -old Toyota Crown. 'At a time 
like this, the taxi business is probably the only business in Singapore that 
still actively recruits people,' he said.

 Read the full story in Wednesday's edition of The Straits Times.
 --ends--

 Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss...!

Kirim email ke