Ini dr mailing list tetangga:

Di Berlin, 1987, saya berbincang dg sopir taxi dan teman2 mhsiswa. Menurut 
mereka, pendapatan sopir taxi memang lebih besar dari dosen dg gelar PhD. Saya 
tidak tahu gaji pencuci piring.
Saya juga tdk tahu keadaan sekarang. Saya tidak tanya pendapatan sopir taxi di 
New York, tapi pada tahun 1999, sekali narik dari Manhattan ke JFK $47, kurang 
dari 1 jam.
Waktu itu gaji redaktur di NYT $250,000 setahun, sedangkan di Alabama $40,000 
setahun. Di Indonesia, gaji wartawan di koran2 besar lebih besar dari Prof Dr,  
tapi sekarang setelah ada kenaikan gaji Prof Dr yg mencapi Rp20juta/bulan, gaji 
wartawan jadi kalah jauh sekali(Ridlo)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Risfan M <[email protected]>

Date: Sun, 23 Aug 2009 14:46:16 
To: <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi


Dear All,

Kalau di Indonesia kan musiman, kalau lagi gini ini sebaiknya PhD jangan nyopir 
taksi....tapi jual timun suri atau blewah...atau kurma. 

Tapi sindiran Pak BTS itu benar, kawan saya dosen ITB, jurusan Cume Laude (dr 
S1 sd PhD) saya amati santai saja, gak ngejar proyek. Suatu hari di perjalanan 
ke bioskop saya berpapasan dengan dia yang lagi nyetir pick-up penuh telor. 
Rupanya dia bisa tenang ndosen karena usaha telor ayamnya jalan. Kayaknya 
oke-oke saja buat dia antara mendosen dan menelor. 

Saya kira polanya jelas. Kalau 'mereka' itu ada tantangan langsung action, tak 
bisa lain. Tapi kenapa ya kalau 'kita' ada tantangan apapun langsung ingat 
'pemerintah', ngomeli, atau usul perubahan UU, PP, Perda...pdhl kita tahu ini = 
nunggu godot.

Salam,
Risfan Munir




-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Sent: Sunday, August 23, 2009 1:48 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi

 

Dear all
 
Soalnya Phd yang jadi sopir taxi itu namanya Cai Ming Jai (Chinese) sih,  atau 
mungkin ada Phd yang jadi sopir taxi namanya Shappor Khan (India). Coba  
Sugiono, Phd atau  Bambang Tata S, Phd, pasti gengsi deh, nggak mau. 
Mending jadi reseacher walaupun gajinya lebih rendah, atau balik ke Indonesia 
jadi konsultan. Sorry Mas Onno, he-he-he
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 

--- On Sun, 8/23/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote:

From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi
To: "[email protected]" <[email protected]>
Date: Sunday, August 23, 2009, 4:22 AM

  
Rekan-2 ysh,
Kita sedang mendiskusikan supir yang Phd. tetapi sebenarnya yang bersangkutan 
(Dr. Cai Ming Jei) sendiri kalau ditanya mungkin akan ketawa ha ha ha ..., 
karena siapa tahu memang dia lebih senang nyopir taxi yang ternyata gajinya 
lebih beasr dari pada jadi 'reseacher' ? Kalau tidak salah pada tahun 90-an di 
Australia gaji Taxi Driver nomor 3 setelah Lawyer dan Dentist lho...mungkin 
sama dengan di Singapore ? Hanya di NKRI tercinta saja yang sistim 
penggajiannya tidak jelas, walaupun sudah 'merdeka 64 tahun' ? 
Wassalam,
Onnos
To: refere...@yahoogrou ps.com
From: risf...@yahoo. com
Date: Sat, 22 Aug 2009 13:12:12 +0700
Subject: RE: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi

  
Masalahnya nampaknya pada sistem negara yang serba formal.
Si PhD kan ditolak sbg researcher dari lembaga riset formal, kayaknya jadi 
dosen juga sama prosedurnya.
Pelajaran buat negara yang sedang berkembang (maju-mundur) ini jangan sok serba 
formal. Itu memperbesar entry barrier.
Ada titik optimal antara yang harus formal, dan informal yang tetap dalam 
koridor.

Contoh sederhana, kalau semua usaha harus di ruko, dan perumahan dilarang 
dipakai usaha sedikitpun. Apakah wirausahawan pemula, ex kena PHK, usaha mikro 
yang jutaan itu semua bisa sewa ruko di luar rumah. Bill Bates, Steve Job pun 
mulai usahanya dari bengkel di rumah. 
Tapi kalau dibiarkan tanpa kontrol juga kacau. Ada optimalisasinya.
Sekarang ini di daerah juga banyak yang menggalakkan pengembangan usaha mikro 
dan kecil, caranya .... dengan menertibkan, menutup yang tak berijin, mengusir 
PKL, meningkatkan perolehan retribusi. Seperti juga sektor pariwisata yang 
berniat promosi dengan menerapkan retribusi promosi, yang tentu membebani 
wisatawan.

Kembali ke kasus PhD jadi sopir taxi, mungkin juga karena spesialisasinya 
sangat khusus ya, sehingga peluang kerja risetnya terbatas. Saya kenal seorang 
PhD geografi di satu universitas di USA yang mata kuliahnya dihapus. Dia 
akhirnya ikut training jadi perawat. Eh, dia bilang gajinya lebih tinggi drpd 
saat ngajar.
Suatu saat industri penerbangan di AS merosot, dan DepHan nya beralih dari F-16 
ke Stealth maka banyak PhD, MSc bidang penerbangan nganggur, untuk beberapa 
waktu mereka kerja sebagai guru les fotografi, komputer, bahkan guru renang, 
dst. Mungkin teman-teman kita di DI (IPTN) lebih fleksibel malahan, bisa ke 
Malaysia, dst.

Terkait posting yang mengutip MI:
Perencanaan pendidikan, perencanaan lapangan kerja adalah persoalan ekonomi 
Tapi kebanyakan ahli pendidikan, ahli teknologi sejak kuliah terbentuk fobi 
ekonomi. Sehingga ada gap antara ekonom (makro) yang bicara indikator moneter 
terus, dengan para ahli teknik, pertanian di sektor riil. Seharusnya ada ahli 
ekonomi mikro (pertanian, industri, perdagangan) yang bekerja sama dengan ahli 
teknik, pertanian, perdagangan, para manajer/ bisnis lapangan sehingga tidak 
indikator makro saja yang diurusi. 

Bunga bank diturunkan misalnya, tidak otomatis menggerakkan sektor riil sesuai 
harapan, kalau peraturan yang jadi kendala dipelihara terus, kemampuan 
marketing keluar tidak dikembangkan, dipermudah.

Soal link pendiddikan dan lapangan kerja bukan urusan Diknas dan Depnaker saja, 
Deptan, Deperin, DPU, Bappenas, Pemda, Deplu dst.

Salam,
Risfan Munir




From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Sent: Saturday, August 22, 2009 10:29 AM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi

  

Mengapa tidak mengajar saja ya?? Kalau PhD setidaknya bisa jadi researcher tho..
-K-



Sent from my BikeBerry®
powered by GowasGowes INDOGENJOT

From: "Mohammad Andri Budiman"
Date: Wed, 19 Aug 2009 09:37:47 +0000
Subject: [referensi] PhD Jadi Supir Taksi
  
Menurut berita The Straits Times di bawah, PhD-nya dari Stanford, bukan "Doktor 
HC", lho.

Salam,
MAB

Source: http://tinyurl. com/phd-drives- taxi

--begins--
PhD holder now a cabby

Online buzz over former researcher's blog on his exit from A*Star unit




Dr Cai Ming Jie worked as a researcher for 16 years before becoming a cabby 
last November. -- PHOTO: WWW.IMCB.A-STAR. EDU.SG

COULD this be Singapore's most well qualified taxi driver?

Dr Cai Ming Jie became an SMRT cabby last November after spending 16 years as a 
researcher at the Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB) of the Agency 
for Science, Technology and Research (A*Star).

His career switch has become a talking point online after he started a blog 
earlier this year. Alongside his experiences as a cabby, he takes issue with 
the circumstances of his departure from IMCB last May.

An SMRT spokesman confirmed that the former researcher is a driver with SMRT 
Taxis, but Dr Cai declined to add more beyond this: 'All that needs to be said 
is on the blog online...It should be IMCB that needs to be asked questions, if 
any.'

The China-born Dr Cai, who became a Singapore citizen, obtained a PhD in 
molecular biology from Stanford University in 1990. The Straits Times learnt 
that he did a two-year postdoctoral fellowship after leaving Stanford at the 
University of Washington, under famed genetist Professor Lee Hartwell, who won 
a 2001 Nobel Prize in physiology.

He joined IMCB two years later and worked as a principal investigator in the 
field of cell genetics up till his departure.

A spokesman for A*Star, meanwhile, said renewal of all its researchers' 
contracts is based on a number of factors, including the time taken to train 
PhD students, their performance and their contributions to the research 
institutes and the agency in general.

Dr Cai's work, like that of all A*Star researchers, was assessed by an external 
Scientific Advisory Board (SAB), which recommended his contract be terminated.

Still, in spite of the submission of countless curriculum vitaes and 
applications to universities, government agencies and companies since he was 
told he would be let go in 2007, Dr Cai failed to get a successful response.

The former researcher now drives a four-year -old Toyota Crown. 'At a time like 
this, the taxi business is probably the only business in Singapore that still 
actively recruits people,' he said.

Read the full story in Wednesday's edition of The Straits Times.
--ends--

Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss... !


Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here

Kirim email ke