Tks Pak Djarot..
Saya tentunya akan lebih optimis megenai  nasionalisme yang tumbuh dari
orang seperti Pak Farouk, daripada dari konglomerat, meskipun pribumi, tetap
konglomerat,.. fitrah nya ya menyedot duit, dan legitimasi dari seremoni-2
adat hanya menjadi overhead murah.
apalagi dari Pak Tommy Soeharto.. duuh..

Salam,
-K-



2009/9/2 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Pak Harya, kembali pada diskusi lama soal induksi atau deduksi bisa
> diterapkan dalam kasus nasionalisme ini. Saya cenderung mendekati dengan
> cara induksi dan dari kasus manapun. Dengan pendekatan induksi, misalnya
> kita kumpulkan kasus-kasus di lapangan yang di dalam kejadian itu terkandung
> nilai luhur cinta tanah air, tentu proses memahami dan membangun
> nasionalisme bisa berjalan. Artinya banyak contoh bagaimana nasionalisme
> diungkapkan dengan cara yang sangat sederhana namun dengan cinta yang sangat
> besar !
>
> Ada contoh dari Jogja. Bagaimana seorang tua renta (Pak Farouk alm) di
> Kauman Yogyakarta mengungkapkan nasionalisme yang dihayatinya dengan
> ketekunan mengelola Mabulir (perpustakaan keliling). Kecintaannya pada tanah
> air diwujudkan kepada upaya meningkatkan kecerdasan generasi muda di
> sekeliling dirinya dan akhirnya beliau mendapat apresiasi dari perpustakaan
> nasional sebagai seorang tokoh yang patut diteladani. Banyak kasus lain yang
> menarik dan kadang membuat hati tercekat dan merinding karena jiwa di dalam
> tubuh mereka sungguh mulia dan kehadirannya bisa dirasakan masyarakat
> sekelilingnya.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> ---
>
>
>

Kirim email ke