Pak Djarot, CSR tidak ada hubungannya dengan nasionalisme konglomerat. Soalnya 
CSR itu didanai dari dana perusahaan, bukan dipotong dari  dividen si 
konglomerat. Selain itu CSR ditetapkan oleh UU 40/2007 tentang PT, terutama 
usaha yang mengolah SDA.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Wed, 9/2/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:


From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku 
Gebze --> Policy in the making
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 2, 2009, 1:45 PM


  







Pak Harya, apakah di kalangan konglomerat juga nihil soal nasionalisme ? Saya 
kok nggak yakin mereka hanya sekedar hewan ekonomi tanpa perasaan. Apakah ada 
eksemplar yang bisa dilihat dengan jernih ? Bagaimana dengan CSR ?

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 9/2/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:


From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku 
Gebze --> Policy in the making
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, September 2, 2009, 11:38 AM


  


Tks Pak Djarot..
Saya tentunya akan lebih optimis megenai nasionalisme yang tumbuh dari orang 
seperti Pak Farouk, daripada dari konglomerat, meskipun pribumi, tetap 
konglomerat, .. fitrah nya ya menyedot duit, dan legitimasi dari seremoni-2 
adat hanya menjadi overhead murah.
apalagi dari Pak Tommy Soeharto.. duuh.. 

Salam,
-K-




2009/9/2 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>










Pak Harya, kembali pada diskusi lama soal induksi atau deduksi bisa diterapkan 
dalam kasus nasionalisme ini. Saya cenderung mendekati dengan cara induksi dan 
dari kasus manapun. Dengan pendekatan induksi, misalnya kita kumpulkan 
kasus-kasus di lapangan yang di dalam kejadian itu terkandung nilai luhur cinta 
tanah air, tentu proses memahami dan membangun nasionalisme bisa berjalan. 
Artinya banyak contoh bagaimana nasionalisme diungkapkan dengan cara yang 
sangat sederhana namun dengan cinta yang sangat besar !

Ada contoh dari Jogja. Bagaimana seorang tua renta (Pak Farouk alm) di Kauman 
Yogyakarta mengungkapkan nasionalisme yang dihayatinya dengan ketekunan 
mengelola Mabulir (perpustakaan keliling). Kecintaannya pada tanah air 
diwujudkan kepada upaya meningkatkan kecerdasan generasi muda di sekeliling 
dirinya dan akhirnya beliau mendapat apresiasi dari perpustakaan nasional 
sebagai seorang tokoh yang patut diteladani. Banyak kasus lain yang menarik dan 
kadang membuat hati tercekat dan merinding karena jiwa di dalam tubuh mereka 
sungguh mulia dan kehadirannya bisa dirasakan masyarakat sekelilingnya.


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- 























      

Kirim email ke