Betul sekali gan.... abdi teh setuju dgn pandangan agan yg positip optimistik dan bersih hati (maksudnya tidak selalu berpikir ngeres)..... Selalu berburuk sangka dimana saja kapan saja pastilah sangat tidak baik dan malah jadi memuakkan….. seperti menandakan bahwa seseorang itu spt nyaris tak memiliki nasionalisme dan atau malah tak berkeTuhanan…… spt tak percaya bhw masih banyak makhluk Tuhan (bahkan jin sekalipun) dimuka bumi ini yg ingin berbuat kebaikan dan hanya mengharapkan pahala dari Tuhan dan bukan dari manusia……… sikap selalu berburuk sangka spt seolah ada pengalaman telah dibesarkan dilingkungan yg penuh dgn kejahatan dan seolah spt dimuka bumi ini tak ada sejengkalpun ruang yg masih bermuatan kejujuran.. kebaikan… kemuliaan…. Ini mengingatkan spt kehidupan di chinatown…..pagar2 dan pintu2 selalu dikunci…… setiap orang yg tak dikenal pertama2 harus diduga sbg penjahat dulu…. Bahkan yg membuka toko dilos eceran dipasar pagi sekalipun (yg kini sdh jadi jalan layang) dgn barang2 dagangan sekedar bermacam2 benang2 dan sampai melimpah keluar los…. Setiap orang yg mau membeli pertama2 harus dicurigai dulu dan diawasi dari rambut sampai ujung kaki… tak peduli lelaki atau perempuan…. Tak peduli kumal atau rapi….. Harus dipastikan dulu…mau bener2 beli ataukah sekedar mau nyolong……. Padahal Cuma masalah benang….. dan padahal para pembeli benang umumnya adalah para pengusaha yg dibengkel kerjanya pastilah memiliki pekerja2 yg menganggap sang pengusaha sbg bos dan sering jauh dari kehidupan kejahatan…… Mungkin saja manusia2 seperti ini memang benar2 hanya tahu bahwa hidup adalah kejahatan....krn contoh2 nyata bhw tak hanya yg miskin saja yg berbuat kejahatan..... yg sdh sekelas konglomerat sajapun spt Samadikun Hartono...Djoko Tjandra... Liem Soei Liong....Syamsul Nursalim... Eddy Tansil.... Anggoro ....asalkan sudah kenyang makan dan berbuat curang dibumi Ibu Pertiwi ini.... lalu lari entah ke SIngapura atau ke AS....... Salam,
--- On Wed, 9/2/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: [email protected] Date: Wednesday, September 2, 2009, 2:42 PM Karena kasus ini ada nama orangnya kita tidak bisa menjudge. Mungkin Arifin hoby, peduli, dst, kita gak tahu. kan dia juga tidak mengaitkannya dgn sosialisme , dst Soal gelar adat kan tradisi yang ribuan kali kita tonton. Kalau nilainya, kita teliti dari romantisme adat ya pasti besar. Kalau kita lihat orang membagi rejeki, masak sih kita dari jauh terus duga-duga : Oh dia jahat, makanya money laundering. Oh nasionalisme. Oh, cuma mematuhi hukum, persentase CSR (emangnya kita tahu brp kewajiban dia?). Oh harusnya penerima jangan terima kasih. Oh inilah kapitalis serakah .... Ini kan sangka buruk (di bulan puasa). Kalau melihat usianya, kekayaannya, track record nya... Kok ybs tidak serendah itu. Katanya perencanaan pengembangan wilayah perlu mengundang investor. Kalau ada investor kok rame-rame dihujat. Apakah planner memang "anti wirausaha"? Investor itu bukan benda abstrak di konsep, tapi ya orang kaya, setidaknya ada surplus di kantongnya. Sejak awal peradaban kan ada orang kaya dan miskin. Membela kaum miskin harus, tapi membenci semua orang kaya kan aneh. Adalah haknya satu suku memberi penghargaan ke seseorang, mau ngasih gelar, ngasih selendang, menabur beras kuning.... Salam, Risfan Munir From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Sent: Wednesday, September 02, 2009 10:11 PM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making Pak Djarot, CSR tidak ada hubungannya dengan nasionalisme konglomerat. Soalnya CSR itu didanai dari dana perusahaan, bukan dipotong dari dividen si konglomerat. Selain itu CSR ditetapkan oleh UU 40/2007 tentang PT, terutama usaha yang mengolah SDA. Thanks. CU. BTS. --- On Wed, 9/2/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, September 2, 2009, 1:45 PM Pak Harya, apakah di kalangan konglomerat juga nihil soal nasionalisme ? Saya kok nggak yakin mereka hanya sekedar hewan ekonomi tanpa perasaan. Apakah ada eksemplar yang bisa dilihat dengan jernih ? Bagaimana dengan CSR ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 9/2/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, September 2, 2009, 11:38 AM Tks Pak Djarot.. Saya tentunya akan lebih optimis megenai nasionalisme yang tumbuh dari orang seperti Pak Farouk, daripada dari konglomerat, meskipun pribumi, tetap konglomerat, .. fitrah nya ya menyedot duit, dan legitimasi dari seremoni-2 adat hanya menjadi overhead murah. apalagi dari Pak Tommy Soeharto.. duuh.. Salam, -K- 2009/9/2 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Harya, kembali pada diskusi lama soal induksi atau deduksi bisa diterapkan dalam kasus nasionalisme ini Saya cenderung mendekati dengan cara induksi dan dari kasus manapun. Dengan pendekatan induksi, misalnya kita kumpulkan kasus-kasus di lapangan yang di dalam kejadian itu terkandung nilai luhur cinta tanah air, tentu proses memahami dan membangun nasionalisme bisa berjalan. Artinya banyak contoh bagaimana nasionalisme diungkapkan dengan cara yang sangat sederhana namun dengan cinta yang sangat besar ! Ada contoh dari Jogja. Bagaimana seorang tua renta (Pak Farouk alm) di Kauman Yogyakarta mengungkapkan nasionalisme yang dihayatinya dengan ketekunan mengelola Mabulir (perpustakaan keliling). Kecintaannya pada tanah air diwujudkan kepada upaya meningkatkan kecerdasan generasi muda di sekeliling dirinya dan akhirnya beliau mendapat apresiasi dari perpustakaan nasional sebagai seorang tokoh yang patut diteladani. Banyak kasus lain yang menarik dan kadang membuat hati tercekat dan merinding karena jiwa di dalam tubuh mereka sungguh mulia dan kehadirannya bisa dirasakan masyarakat sekelilingnya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com ---

