Pak Djarot dan Onnos ysh, Saya kira soal "wirasa" juga going global, contohnya Subud, pengikutnya kan juga global. Disamping Yoga, Reiki dan sejenisnya juga masuk ke sini.
Soal "escape", itu juga satu solusi manusia. Dunia pariwisata dan hiburan kan menjual fasilitas escape. Itu peluang bagi ekonomi kita. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Djarot Purbadi <[email protected]> Sent: Saturday, September 05, 2009 11:25 AM To: [email protected] Subject: RE: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making Pak Risfan, ada yang bicara pencaksilat juga ya, kan dunianya milis jadi nggak kering, sekering dunia ilmu yang mensimplifikasikan realitas yang amat kaya menjadi sebuah kalimat dahsyat saja.....meskipun ada bahaya tidak fokus (menjadi multi-multi fokus) dan memang kita jadi takut juga....jika dikatain Eyang Bby: itu kan escape...mending begitu daripada hanya ada di dalam kapsul ! Saya meyakini bahwa kreativitas itu bisa berkembang jika kita sering-sering dolan ke tempat lain membawa pengalaman baru yang bisa memperkaya ilmu kita.....ada lateralitas di dalam vertikalitas keilmuan kita, mungkin begitu...semoga para saudara saya di dunia planning bisa mengerti mengapa ada yang bicara macam-macam di milis ini.....nggak ingin merusak melainkan memperkaya, begitu maunya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Thu, 9/3/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: [email protected] Date: Thursday, September 3, 2009, 9:30 AM Ini menariknya milist, yang satu bicara spirit altruism, yang satunya bicara istilah dan posting akuntansi. Jaka sembung..tapi nambah ilmu. Thanks. RM From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Sent: Thursday, September 03, 2009 8:36 AM To: refere...@yahoogrou ps.com Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making Setuju Pak Djarot. Kalau pribadi-pribadi konglomerat mau memikirkan dan berbuat untuk orang yang kurang beruntung, namanya bukan Corporate Social Responsibility (CSR). Kalau CSR yang mendanai perusahaan (masuk dalam neraca), bukan individu. Biasanya pribadi-pribadi kaya yang peduli itu membentuk badan hukum yayasan, di mana yang bersangkutan menjadi anggota Dewan penyantun; atau menyumbang langsung berupa zakat (yang muslim). Sayangnya di Indonesia, pribadi-pribadi yang peduli dan berbuat dalam social responsibility itu tidak mendapatkan pengurangan pajak, kecuali berupa zakat. Kalau Pemerintah mau mengurangi pajak mereka, ...mungkin banyak orang kaya yang mau melakukan social responsibility kepada masyarakat yang kurang beruntung. (Ah ... tapi Pemerintah tidak bodoh, pajak-pajak yang disetor orang-orang kaya itu umumnya lebih kecil dari semestinya.. .namanya saja self assessment). Thanks. CU. BTS. --- On Thu, 9/3/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Thursday, September 3, 2009, 12:55 AM Pak Samiadji, saya hanya memimpikan ada CSR generasi berikutnya, nggak hanya yang sangat matematis melainkan sungguh ada dimensi S dan R yang kuat, Konsep yang saya bayangkan ini muncul dari kasus Penambangan Pasir Besia di Kulon Progo yang ingin mengembangkan sistem penambangan ramah lingkungan sekaligus ramah sosial-budaya. Siapa tahu ada yang terkarik untuk mengembangkannya. Berharap dulu Pak, siapa tahu ada gerakan roh yang mampu mendorong para orang kaya untuk ikut memikirkan orang-orang yang kurang beruntung sambil berusaha menggapai kehidupan surgawi....ini bulan puasa jadi bagus untuk refleksi ya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 9/2/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, September 2, 2009, 10:11 PM Pak Djarot, CSR tidak ada hubungannya dengan nasionalisme konglomerat. Soalnya CSR itu didanai dari dana perusahaan, bukan dipotong dari dividen si konglomerat. Selain itu CSR ditetapkan oleh UU 40/2007 tentang PT, terutama usaha yang mengolah SDA. Thanks. CU. BTS. --- On Wed, 9/2/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, September 2, 2009, 1:45 PM Pak Harya, apakah di kalangan konglomerat juga nihil soal nasionalisme ? Saya kok nggak yakin mereka hanya sekedar hewan ekonomi tanpa perasaan. Apakah ada eksemplar yang bisa dilihat dengan jernih ? Bagaimana dengan CSR ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 9/2/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku Gebze --> Policy in the making To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, September 2, 2009, 11:38 AM Tks Pak Djarot.. Saya tentunya akan lebih optimis megenai nasionalisme yang tumbuh dari orang seperti Pak Farouk, daripada dari konglomerat, meskipun pribumi, tetap konglomerat, .. fitrah nya ya menyedot duit, dan legitimasi dari seremoni-2 adat hanya menjadi overhead murah. apalagi dari Pak Tommy Soeharto.. duuh.. Salam, -K- 2009/9/2 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Pak Harya, kembali pada diskusi lama soal induksi atau deduksi bisa diterapkan dalam kasus nasionalisme ini. Saya cenderung mendekati dengan cara induksi dan dari kasus manapun. Dengan pendekatan induksi, misalnya kita kumpulkan kasus-kasus di lapangan yang di dalam kejadian itu terkandung nilai luhur cinta tanah air, tentu proses memahami dan membangun nasionalisme bisa berjalan. Artinya banyak contoh bagaimana nasionalisme diungkapkan dengan cara yang sangat sederhana namun dengan cinta yang sangat besar ! Ada contoh dari Jogja. Bagaimana seorang tua renta (Pak Farouk alm) di Kauman Yogyakarta mengungkapkan nasionalisme yang dihayatinya dengan ketekunan mengelola Mabulir (perpustakaan keliling). Kecintaannya pada tanah air diwujudkan kepada upaya meningkatkan kecerdasan generasi muda di sekeliling dirinya dan akhirnya beliau mendapat apresiasi dari perpustakaan nasional sebagai seorang tokoh yang patut diteladani. Banyak kasus lain yang menarik dan kadang membuat hati tercekat dan merinding karena jiwa di dalam tubuh mereka sungguh mulia dan kehadirannya bisa dirasakan masyarakat sekelilingnya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com ---

