Ini menariknya milist, yang satu bicara spirit altruism, yang satunya bicara 
istilah dan posting akuntansi. Jaka sembung..tapi nambah ilmu. Thanks.

RM




-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Sent: Thursday, September 03, 2009 8:36 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku 
Gebze --> Policy in the making

 
Setuju Pak Djarot.  Kalau pribadi-pribadi konglomerat mau  memikirkan dan 
berbuat untuk orang yang kurang beruntung,  namanya bukan Corporate Social 
Responsibility (CSR). Kalau CSR yang mendanai perusahaan (masuk dalam neraca), 
bukan individu. Biasanya pribadi-pribadi kaya yang peduli itu membentuk badan 
hukum yayasan, di mana yang bersangkutan menjadi anggota Dewan penyantun; atau 
menyumbang langsung berupa zakat (yang muslim). Sayangnya di Indonesia, 
pribadi-pribadi yang peduli dan berbuat dalam social responsibility itu tidak 
mendapatkan pengurangan pajak, kecuali berupa zakat. Kalau Pemerintah mau 
mengurangi pajak mereka, ...mungkin banyak orang kaya yang mau melakukan social 
responsibility kepada masyarakat yang kurang beruntung. (Ah ...  tapi 
Pemerintah tidak bodoh, pajak-pajak yang disetor orang-orang kaya itu umumnya 
lebih kecil dari semestinya...namanya saja self assessment).
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Thu, 9/3/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:

From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku 
Gebze --> Policy in the making
To: [email protected]
Date: Thursday, September 3, 2009, 12:55 AM

  
Pak Samiadji, saya hanya memimpikan ada CSR generasi berikutnya, nggak hanya 
yang sangat matematis melainkan sungguh ada dimensi S dan R yang kuat, Konsep 
yang saya bayangkan ini muncul dari kasus Penambangan Pasir Besia di Kulon 
Progo yang ingin mengembangkan sistem penambangan ramah lingkungan sekaligus 
ramah sosial-budaya. Siapa tahu ada yang terkarik untuk mengembangkannya. 
Berharap dulu Pak, siapa tahu ada gerakan roh yang mampu mendorong para orang 
kaya untuk ikut memikirkan orang-orang yang kurang beruntung sambil berusaha 
menggapai kehidupan surgawi....ini bulan puasa jadi bagus untuk refleksi ya.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 9/2/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku 
Gebze --> Policy in the making
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, September 2, 2009, 10:11 PM

  
Pak Djarot, CSR tidak ada hubungannya dengan nasionalisme konglomerat. Soalnya 
CSR itu didanai dari dana perusahaan, bukan dipotong dari  dividen si 
konglomerat. Selain itu CSR ditetapkan oleh UU 40/2007 tentang PT, terutama 
usaha yang mengolah SDA.
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Wed, 9/2/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku 
Gebze --> Policy in the making
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, September 2, 2009, 1:45 PM

  
Pak Harya, apakah di kalangan konglomerat juga nihil soal nasionalisme ? Saya 
kok nggak yakin mereka hanya sekedar hewan ekonomi tanpa perasaan. Apakah ada 
eksemplar yang bisa dilihat dengan jernih ? Bagaimana dengan CSR ?

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 9/2/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote:

From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com>
Subject: Re: [referensi] Re: FW: [AMAN] Berita Jubi : Arifin Dipanigoro Warku 
Gebze --> Policy in the making
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, September 2, 2009, 11:38 AM

  

Tks Pak Djarot..
Saya tentunya akan lebih optimis megenai nasionalisme yang tumbuh dari orang 
seperti Pak Farouk, daripada dari konglomerat, meskipun pribumi, tetap 
konglomerat, .. fitrah nya ya menyedot duit, dan legitimasi dari seremoni-2 
adat hanya menjadi overhead murah.
apalagi dari Pak Tommy Soeharto.. duuh..

Salam,
-K-



2009/9/2 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Pak Harya, kembali pada diskusi lama soal induksi atau deduksi bisa diterapkan 
dalam kasus nasionalisme ini. Saya cenderung mendekati dengan cara induksi dan 
dari kasus manapun. Dengan pendekatan induksi, misalnya kita kumpulkan 
kasus-kasus di lapangan yang di dalam kejadian itu terkandung nilai luhur cinta 
tanah air, tentu proses memahami dan membangun nasionalisme bisa berjalan. 
Artinya banyak contoh bagaimana nasionalisme diungkapkan dengan cara yang 
sangat sederhana namun dengan cinta yang sangat besar !

Ada contoh dari Jogja. Bagaimana seorang tua renta (Pak Farouk alm) di Kauman 
Yogyakarta mengungkapkan nasionalisme yang dihayatinya dengan ketekunan 
mengelola Mabulir (perpustakaan keliling). Kecintaannya pada tanah air 
diwujudkan kepada upaya meningkatkan kecerdasan generasi muda di sekeliling 
dirinya dan akhirnya beliau mendapat apresiasi dari perpustakaan nasional 
sebagai seorang tokoh yang patut diteladani. Banyak kasus lain yang menarik dan 
kadang membuat hati tercekat dan merinding karena jiwa di dalam tubuh mereka 
sungguh mulia dan kehadirannya bisa dirasakan masyarakat sekelilingnya. 


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

---







Kirim email ke