Eyang Aby, terima kasih atas paparan tentang tema nasionalisme yang tampaknya menjadi persoalan penting di kalangan saudara-saudara berkeyakinan Islam seperti yang Eyang ceriterakan tadi. Saya tidak menduga sejauh itu persoalan nasionalisme di kalangan Islam di Indonesia, bahkan sudah terkait dengan memori masa lalu yang berada di luar Indonesia. Swer saya nggak melihat sejauh itu sampai Eyang berkenan membeberkannya di email barusan. Jika demikian, persoalan nasionalisme di Indonesia memang problematik di kalangan Islam di Indonesia.
Sekedar berbagi saja ya Yang. Di kalangan katolik, sudah sejak tahun 1950-an persoalan nasionalisme selesai melalui ungkapan Uskup Sugiyapranata yang berbunyi: orang katolik adalah 100% katolik dan 100% Indonesia ! Akhir-akhir ini ungkapan "keramat" itu tampaknya digemakan kembali dan ditujukan kepada generasi muda yang dikuatirkan akag bingung ke arah mana kekatolikan yang dihayatinya, sebab godaan di era informasi begitu dahsyatnya. Sejauh saya tahu, di kalangan katolik tidak ada perdebatan yang begitu mencekam tentang nasionalisme karena sudah ditemukan payung nilai tadi. Ungkapan Uskup tersebut sebenarnye merupakan reaksi tegas pada waktu revolusi fisik pasca-proklamasi, sebab pada waktu itu orang-orang katolik dicurigai kalangan pejuang dan dianggap sebagai antek Belanda karena agama katolik dibawa oleh minionaris berbangsa Belanda. Kasus Van lith menunjukkan bahwa sikap misionaris (khususnya van Lith) tegas sekali, ketika dia menjadi anggota volksraad bersikap tegas dengan mengatakan" jika saya diminta memilih maka saya akan amemihak kepada pribumi" dan sikap ini sangat kontroversial karena ditentang oleh orang-orang sebangsanya. Pada waktu ada latihan baris-berbaris di sebuah sekolah, dia berbisik kepada orang Belanda di dekatnya: " anak-anak muda ini kelak akan mengusir bangsa Belanda dari tanah ini" dan dia dimusuhi oleh kawan-kawan sebangsanya....yang tidak tahu bahwa di dalam agama katolik semuanya adalah bersaudara dipersatukan dalam Tuhan yang sama. Saya tidak tahu dari kalangan saudara yang lain, bagaimana wacana nasionalisme dikaitkan dengan keyakinan/agama, misalnya dari para pemeluk Hindu, Budha, Kristen reformasi dan yang lainnya, termasuk yang dari aliran kepercayaan lokal. Apakah mereka sudah sepakat bahwa nasionalisme sudah selesai atau sepakat nasionalisme belum selesai ? Jadi, yang belum selesai sebenarnya dimana ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sun, 9/6/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: [referensi] Re: (1) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai To: [email protected] Cc: [email protected] Date: Sunday, September 6, 2009, 9:44 AM Rekan Djarot dan milister semuanya ysh, Sebenarnya bingung mau memulai dari mana bicara ttg nasionalisme Indonesia….. krn terdapat demikian banyak pandangan silang menyilang didalamnya….. ada yg enthusiastik… ada yg hanya ingin membonceng saja…. Ada yg acuh2 saja…. ada yg diistilahkan sbg penumpang gelap….. ada yg penghianat….. Namun ada juga yg bahkan terang2an menentang tak hanya nasionalisme namun bahkan juga demokrasi, ham dsb….. Walau yg belakangan ini mungkin hanyalah berupa pandangan minoritas saja…… tapi dgn solidaritas ummat ditambah kekurang-pahaman ummat ia lalu mudah memperoleh dukungan (perlindungan dsb) ….. dan kalau pandangan minoritas ini menjadi ekstrim lalu larinya kemainan bom….. tentu repot juga urusannya……. Krn itu tak ada buruknya membahas nasionalisme Indonesia itu pertama dimulai dari menengok pandangan2 paling ekstrim itu… ialah pandangan anti nasionalisme itu dulu…… lalu sesudah itu barulah kita bahas sikap2 yg lainnya…... Yg pertama tadi a.l. merupakan pandangan dari organisasi Islam spt Hizbut Tahrir Internasional …….. yg berpandangan bhw “Islam tidak mengenal ikatan apapun yang lebih tinggi, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum muslimin….. Ikatan ini berarti hanya menjadikan akidah Islam, ideologi Islam, sebagai satu-satunya pengikat antar kaum muslimin. Ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan kelompok, golongan, suku, keluarga, bangsa/nasionalisme , dan sejenisnya dianggap sbg masuk dalam kategori ikatan-ikatan yang mempropagandakan syiar-syiar Jahiliyah…… Seruan terhadap ikatan-ikatan tersebut menurut mereka sama artinya kita kembali ke jaman Jahiliyah, jaman paganisme, jaman penyembahan terhadap berhala…. Ikatan keluarga tidak ada artinya apabila di antara anggota keluarga terdapat orang-orang yang bersebarangan akidahnya dengan kaum muslimin…. Bapak dan anak, suami dan isteri, begitu pula kakak dan adik kandung menurut mereka tidak ada artinya di sisi Allah jika salah satu di antara mereka kafir…... Pemikiran tsb berangkat dari nostalgia ‘kebesaran kerajaan/ negara Islam’ yg pernah menguasai wilayah2 sejak dari Arab Saudi (dimasa Nabi Muhammad, sampai th 632 Masehi), yg dimasa 4 kalifah sesudahnya antara th 632-661 Masehi meluas sampai ke sekitar Turki, Iraq, Iran, Mesir, Tunisia, ujung selatan Italia, India……lalu dibawah Bani Ummaiyyah sampai th 715 Masehi lebih luas lagi sampai ke Libia bahkan Spanyol…... lalu utk selanjutnya pada sekitar th 750 Masehi kerajaan Bani Ummaiyyah dikalahkan oleh Bani Abbasiyyah yg merasa garis keturunan mereka lebih berhak untuk melanjutkan kepemimpinan oleh Nabi Muhammad (nanti didalam Bani Abbasiyyah juga terdapat kaum Syiah yg merasa tinggi lagi haknya atas kedekatan dgn garis klturuna Nabi Muhammad)……. Yg lalu pada sekitar th 1258 Masehi Bani Abassiyyah dikalahkan oleh Hulaghu Khan.. seorang panglima tentara Mongol yg menghancurkan Baghdad (nah disini saja sudah terlihat bhw antar kaum muslimin sendiri telah terjadi perpecahan yg hebat, tapi kok fanatisme itu tetap saja bergeming ya?)….. Mereka membayangkan seandainya seluruh dunia dapat disatukan dibawah kepemimpinan Islam dan dibawah satu Khalifah (maka pemikiran ini dinamai pemikiran Khilafah Islamiyah)…… maka seluruh dunia dibayangkan dpt disatukan dibawah seluruh aturan2 kehidupan Islam……... Mereka spt tidak dapat berpikir bhw jangankan kok mau menyatukan seluruh dunia……. Sedangkan dikalangan Islam sendiri spt telah ditunjukan oleh sejarah spt tsb diatas….. sesama Islam juga telah saling berperang sendiri sekedar krn masing2 saling merasa paling berhak mewarisi kepemimpinan islam tertinggi sesudah Nabi Muhammad………. Menentang secara frontal pemikiran2 demikian hanya akan lebih membuat mereka semakin bersemangat saja……tapi sebaliknya pura2 setuju dan lalu menanyakan (saya sih belum pernah nyoba) bgmn secara teknis pemikiran2 demikian dapat dioperasionalkan walau nampaknya tidak rasional…. Lalu ketika mereka tak dapat menjelaskannya secara rasional… . mungkin juga blm tentu membuat mereka menghentikan pemikiran2 irasional tsb…… Mereka selalu berpikir bhw dgn Islam seluruh dunia dpt disatukan dan tak akan ada lagi perbedaan2 spt dibanding kalau negara2 (dlm pandangan mereka) dibuat ‘terpecah2’ oleh kafir seperti saat ini…….padahal jangankan kok negara2 perlu dikapling2……. Antar tiap rumah tangga saja walau sesama muslim kan urusannya juga masing2 dan perlu dikapling2…… tak ada urusan saling pakai atau saling meminjam yang kelewat longgar antar rumah tangga yg berbeda…… tetapi khan antar rumah tangga juga saling akur....... Yg saya maksud dgn ir/rasionalitas dari operasional konsep tsb adalah spt misalnya….. kalau misalnya saja ide demikian itu mau didukung secara luas…… tentu pertama2 mereka harus berperang dgn hampir seluruh negara2 didunia…… atau setidaknya pertama harus berhasil menaklukkan sebuah negara saja dululah untuk selanjutnya dpt dijadikan markas besar komando perjuangan dan peperangan keseluruh dunia…. padahal sbg organisasi mereka saat ini juga tak memiliki peralatan perang skala sebuah negara yg cukup seperti misalnya skadron pesawat tempur, tank, panser… apalagi kapal selam, kapal induk dsb…. krn pada saatnya bukankah mereka harus selanjutnya berperang melawan negara2 yg lebih kuat lagi peralatan militernya seperti Sekutu…Rusia…China….. Kalau saja seandainya negara dgn wilayah seluruh dunia dan hanya dgn satu pemimpin itu akhirnya berhasil didirikanpun…. Bgmn membayangkan akan menyusun APBN tahunannya…. Kalau APBN defisit lalu mau ngutang ke siapa?....Bgmn akan mengorganisir birokrasinya.…. Belum lagi kalau harus melakukan suksesi/pemilu…. Belum lagi kalau terjadi perebutan kekuasaan, pemberontakan… dsb. dsb…. belum2 sudah pusing deh membayangkannya…..… Pemikiran2 demikian ada juga tumbuh di Indonesia... .. maka bagaimana kita akan diskusi ttg nasionalisme Indonesia kalau kita samasekali tak pernah membayangkan bhw ada juga mereka yg berpandangan demikian itu?........ .. Salam, Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme Compang-Camping Tuesday, September 1, 2009 5:45 PM From: "Djarot Purbadi" <dpurb...@... .....> To: refere...@yahoogrou ps.com Eyang Aby, saya tertarik menanggapi soal nasionalisme kita belum selesai (?). Bagaimana penjelasannya ? Pakar siapa yang menyatakannya, mohon dijelaskan supaya penyingkapan gagasannya bisa agak jelas dan "tidak misterius". Maaf saya benar-benar nggak tahu. Jika Eyang menggunakan pola atau teknik dongeng dalam diskusi ini, yang biasanya mengakhiri suatu episode tayangan dengan situasi penuh tanda tanya untuk mengundang rasa ingin tahu dan penasaran para pendengar saya kira bagus juga. Bagi saya, meskipun beberapa bagian masih samar-samar, nasionalisme sudah selesai dalam rumusan singkat yaitu cinta tanah air. Saya yang lahir di bumi Nusantara cinta tanah air bagaikan sesuatu yang given, nggak bisa dihindari. Nah, karena tidak bisa mengelak seinchi sekalipun, maka berlaku pepatah Jawa "tresno mergo kulino" cinta karena terbiasa bergaul. Peristiwanya mirip dengan jaman kuno ketika seorang pria atau wanita dikawinkan secara paksa oleh orang tua mereka. Ya itu harus diterima dan selesai ! Proses untuk mencintai itulah yang semestinya menjadi penting. Hal ini tentu berbeda jika kita orang asing, tidak ada kaitan dengan Nusantara sama sekali, lalu "terpaksa" hidup di Indonesia. Baginya ada peluang untuk terus mencintai atau memutuskan putus hubungan, seperti kata iklan putus hubungan dengan nyamuk ! Jika kasusnya seperti ini, barangkali nasionalisme belum selesai bagi dirinya. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Wed, 9/2/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme Compang-Camping To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Wednesday, September 2, 2009, 4:45 AM

