Pak Djarot ysh,
Wah bukan begitu, jangan salah faham Pak, itu soal HT Pak, bukan soal orang 
Islam.

Kalau mau coba memahami nasionalisme/keIndonesiaan saya kira lebih baik mulai 
dari baca referensi para ahlinya. Atau dari dari lapangan, dari liputan media 
cetak (Tempo, Kompas, dst) sekitar 17 Agustus. Baik tentang daerah/pulau 
terluar, daerah 'bintang', juga tentang misalnya kepedulian orang-orang muda 
yang membantu kelompok yang kurang beruntung. Juga inisiatif seperti Rumah 
Zakat, pos peduli umat, Dompet Dhuafa, dan sejenisnya. Yang menunjukkan 
kepedulian pada nasib bangsa dan sifatnya pluralisme. 
Menurut saya itu karya generasi baru yang mencerahkan bagi hari depan Indonesia.

Upaya-upaya orang muda itu akan nyambung dengan bagaimana mencari solusi atas 
kemiskinan di kampung nelayan Jakarta Utara, yg ada di posting satunya.

Salam,
RM





-----Original Message-----
From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Sent: Sunday, September 06, 2009 5:40 PM
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: (1) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai

 
Eyang Aby, terima kasih atas paparan tentang tema nasionalisme yang tampaknya 
menjadi persoalan penting di kalangan saudara-saudara berkeyakinan Islam 
seperti yang Eyang ceriterakan tadi. Saya tidak menduga sejauh itu persoalan 
nasionalisme di kalangan Islam di Indonesia, bahkan sudah terkait dengan memori 
masa lalu yang berada di luar Indonesia. Swer saya nggak melihat sejauh itu 
sampai Eyang berkenan membeberkannya di email barusan. Jika demikian, persoalan 
nasionalisme di Indonesia memang problematik di kalangan Islam di Indonesia.

Sekedar berbagi saja ya Yang. Di kalangan katolik, sudah sejak tahun 1950-an 
persoalan nasionalisme selesai melalui ungkapan Uskup Sugiyapranata yang 
berbunyi: orang katolik adalah 100% katolik dan 100% Indonesia ! Akhir-akhir 
ini ungkapan "keramat" itu tampaknya digemakan kembali dan ditujukan kepada 
generasi muda yang dikuatirkan akag bingung ke arah mana kekatolikan yang 
dihayatinya, sebab godaan di era informasi begitu dahsyatnya. Sejauh saya tahu, 
di kalangan katolik tidak ada perdebatan yang begitu mencekam tentang 
nasionalisme karena sudah ditemukan payung nilai tadi.

Ungkapan Uskup tersebut sebenarnye merupakan reaksi tegas pada waktu revolusi 
fisik pasca-proklamasi, sebab pada waktu itu orang-orang katolik dicurigai 
kalangan pejuang dan dianggap sebagai antek Belanda karena agama katolik dibawa 
oleh minionaris berbangsa Belanda. Kasus Van lith menunjukkan bahwa sikap 
misionaris (khususnya van Lith) tegas sekali, ketika dia menjadi anggota 
volksraad bersikap tegas dengan mengatakan" jika saya diminta memilih maka saya 
akan amemihak kepada pribumi" dan sikap ini sangat kontroversial karena 
ditentang oleh orang-orang sebangsanya. Pada waktu ada latihan baris-berbaris 
di sebuah sekolah, dia berbisik kepada orang Belanda di dekatnya: " anak-anak 
muda ini kelak akan mengusir bangsa Belanda dari tanah ini" dan dia dimusuhi 
oleh kawan-kawan sebangsanya....yang tidak tahu bahwa di dalam agama katolik 
semuanya adalah bersaudara dipersatukan dalam Tuhan yang sama.

Saya tidak tahu dari kalangan saudara yang lain, bagaimana wacana nasionalisme 
dikaitkan dengan keyakinan/agama, misalnya dari para pemeluk Hindu, Budha, 
Kristen reformasi dan yang lainnya, termasuk yang dari aliran kepercayaan 
lokal. Apakah mereka sudah sepakat bahwa nasionalisme sudah selesai atau 
sepakat nasionalisme belum selesai ?

Jadi, yang belum selesai sebenarnya dimana ?

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
 http://arsitekturnusantara.wordpress.com
 http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 9/6/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: (1) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Sunday, September 6, 2009, 9:44 AM

  
Rekan Djarot dan milister semuanya ysh,
Sebenarnya bingung mau memulai dari mana bicara ttg nasionalisme Indonesia….. 
krn terdapat demikian banyak pandangan silang menyilang didalamnya….. ada yg 
enthusiastik… ada yg hanya ingin membonceng saja…. Ada yg acuh2 saja….  ada yg 
diistilahkan sbg penumpang gelap…..  ada yg penghianat….. Namun ada juga  yg 
bahkan terang2an menentang tak hanya nasionalisme namun bahkan juga demokrasi, 
ham dsb….. 
Walau yg belakangan ini mungkin hanyalah berupa pandangan minoritas saja…… tapi 
dgn solidaritas ummat  ditambah kekurang-pahaman ummat ia lalu mudah  
memperoleh dukungan (perlindungan dsb) …. dan kalau pandangan minoritas ini 
menjadi ekstrim lalu larinya kemainan bom….. tentu repot juga urusannya……. 
Krn itu tak ada buruknya membahas nasionalisme Indonesia itu pertama dimulai 
dari menengok pandangan2 paling ekstrim itu… ialah pandangan anti nasionalisme 
itu dulu…… lalu sesudah itu barulah kita bahas sikap2 yg lainnya…...
Yg pertama tadi a.l. merupakan pandangan dari organisasi Islam spt Hizbut 
Tahrir Internasional …….. yg berpandangan bhw  “Islam tidak mengenal ikatan 
apapun yang lebih tinggi, selain ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk 
seluruh kaum muslimin….. Ikatan ini berarti hanya menjadikan akidah Islam, 
ideologi Islam, sebagai satu-satunya pengikat antar kaum muslimin. 
Ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan kelompok, golongan, suku, keluarga, 
bangsa/nasionalisme , dan sejenisnya  dianggap sbg masuk dalam kategori 
ikatan-ikatan yang mempropagandakan syiar-syiar Jahiliyah……
Seruan terhadap ikatan-ikatan tersebut menurut mereka sama artinya kita kembali 
ke jaman Jahiliyah, jaman paganisme, jaman penyembahan terhadap berhala…. 
Ikatan keluarga tidak ada artinya apabila di antara anggota keluarga terdapat 
orang-orang yang bersebarangan akidahnya dengan kaum muslimin…. Bapak dan anak, 
suami dan isteri, begitu pula kakak dan adik kandung menurut mereka tidak ada 
artinya di sisi Allah jika salah satu di antara mereka kafir…... 
Pemikiran tsb berangkat dari nostalgia ‘kebesaran kerajaan/ negara Islam’ yg 
pernah menguasai  wilayah2 sejak dari Arab Saudi (dimasa Nabi Muhammad, sampai 
th 632 Masehi), yg dimasa 4 kalifah sesudahnya antara th 632-661 Masehi meluas 
sampai ke sekitar  Turki,  Iraq, Iran, Mesir, Tunisia, ujung selatan Italia, 
India……lalu  dibawah Bani Ummaiyyah sampai th 715 Masehi lebih luas lagi sampai 
ke Libia bahkan Spanyol…... lalu utk selanjutnya  pada sekitar th 750 Masehi 
kerajaan Bani Ummaiyyah dikalahkan oleh Bani Abbasiyyah yg merasa  garis 
keturunan mereka lebih berhak untuk melanjutkan kepemimpinan oleh Nabi Muhammad 
(nanti didalam Bani Abbasiyyah juga terdapat kaum Syiah yg merasa tinggi lagi 
haknya atas kedekatan dgn garis klturuna Nabi Muhammad)……. Yg lalu pada sekitar 
th 1258  Masehi  Bani Abassiyyah dikalahkan oleh Hulaghu Khan.. seorang 
panglima tentara Mongol yg menghancurkan Baghdad (nah disini saja sudah 
terlihat bhw antar kaum muslimin sendiri telah terjadi perpecahan yg hebat, 
tapi kok fanatisme itu tetap saja bergeming ya?)….. 
Mereka membayangkan seandainya seluruh dunia dapat disatukan dibawah 
kepemimpinan Islam dan dibawah satu Khalifah (maka pemikiran ini dinamai 
pemikiran Khilafah Islamiyah)…… maka seluruh dunia dibayangkan dpt disatukan 
dibawah seluruh aturan2 kehidupan Islam……...
Mereka spt tidak dapat berpikir bhw jangankan kok mau menyatukan seluruh 
dunia……. Sedangkan dikalangan Islam sendiri spt telah ditunjukan oleh sejarah 
spt tsb diatas….. sesama Islam juga telah saling berperang sendiri sekedar krn 
masing2 saling merasa paling berhak mewarisi kepemimpinan islam  tertinggi 
sesudah Nabi Muhammad……….
Menentang secara frontal pemikiran2 demikian hanya akan lebih membuat mereka 
semakin  bersemangat saja……tapi sebaliknya pura2 setuju dan lalu menanyakan  
(saya sih belum pernah nyoba) bgmn secara teknis pemikiran2 demikian dapat 
dioperasionalkan walau nampaknya tidak rasional…. Lalu ketika mereka tak dapat 
menjelaskannya secara rasional… . mungkin juga blm tentu membuat mereka 
menghentikan pemikiran2 irasional tsb……
Mereka selalu berpikir  bhw dgn Islam seluruh dunia dpt disatukan dan tak akan  
ada lagi perbedaan2 spt dibanding  kalau negara2 (dlm pandangan mereka) dibuat 
‘terpecah2’  oleh kafir seperti saat ini…….padahal jangankan kok negara2  perlu 
dikapling2……. Antar tiap rumah tangga saja walau sesama muslim kan  urusannya 
juga masing2 dan perlu dikapling2…… tak ada urusan saling pakai atau saling 
meminjam yang kelewat longgar antar rumah tangga yg berbeda…… tetapi khan 
antar rumah tangga juga saling akur.......
Yg saya maksud dgn ir/rasionalitas  dari operasional  konsep tsb adalah spt 
misalnya….. kalau misalnya saja ide demikian itu mau didukung secara luas…… 
tentu pertama2 mereka harus berperang dgn hampir seluruh negara2 didunia…… 
atau  setidaknya pertama harus berhasil menaklukkan sebuah negara saja dululah  
untuk  selanjutnya dpt dijadikan markas besar komando perjuangan dan peperangan 
keseluruh dunia….  padahal sbg organisasi mereka saat ini juga tak memiliki 
peralatan perang skala sebuah negara yg cukup seperti misalnya skadron pesawat 
tempur, tank, panser… apalagi kapal selam, kapal induk dsb…. krn pada saatnya 
bukankah mereka harus selanjutnya berperang melawan negara2 yg lebih kuat lagi 
peralatan militernya seperti Sekutu…Rusia…China…..
Kalau saja seandainya negara dgn wilayah seluruh dunia dan hanya dgn satu 
pemimpin itu akhirnya berhasil didirikanpun…. Bgmn membayangkan akan menyusun 
APBN tahunannya…. Kalau APBN defisit lalu mau ngutang ke siapa?....Bgmn akan 
mengorganisir birokrasinya.…. Belum lagi kalau harus melakukan suksesi/pemilu…. 
Belum lagi kalau terjadi perebutan kekuasaan, pemberontakan… dsb. dsb…. belum2 
sudah pusing deh membayangkannya…..…
Pemikiran2 demikian ada juga tumbuh di Indonesia... .. maka bagaimana kita akan 
diskusi ttg nasionalisme Indonesia  kalau kita samasekali tak pernah 
membayangkan bhw ada juga mereka yg berpandangan demikian itu?....... ..
Salam, 
 
  
Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme Compang-Camping
Tuesday, September 1, 2009 5:45 PM
From: "Djarot Purbadi" <dpurb...@... .....>
To: refere...@yahoogrou ps.com
  
 
Eyang Aby, saya tertarik menanggapi soal nasionalisme kita belum selesai (?). 
Bagaimana penjelasannya  ?  Pakar  siapa yang menyatakannya, mohon dijelaskan 
supaya  penyingkapan  gagasannya bisa agak jelas dan "tidak misterius". Maaf 
saya benar-benar nggak tahu. Jika Eyang menggunakan pola atau teknik dongeng 
dalam diskusi ini, yang  biasanya mengakhiri suatu episode tayangan dengan 
situasi penuh tanda tanya untuk mengundang  rasa ingin tahu dan penasaran  para 
pendengar saya kira bagus juga. 
Bagi saya, meskipun beberapa bagian masih samar-samar, nasionalisme sudah 
selesai dalam rumusan singkat yaitu cinta tanah air. Saya yang lahir di bumi 
Nusantara cinta tanah air bagaikan sesuatu yang given, nggak bisa dihindari. 
Nah, karena tidak bisa mengelak seinchi sekalipun, maka berlaku pepatah Jawa 
"tresno mergo kulino" cinta karena terbiasa bergaul. Peristiwanya mirip dengan 
jaman kuno ketika seorang pria atau wanita dikawinkan secara paksa oleh orang 
tua mereka. Ya itu harus diterima dan selesai ! Proses untuk mencintai itulah 
yang semestinya menjadi penting.
Hal ini tentu berbeda jika kita orang asing, tidak ada kaitan dengan Nusantara 
sama sekali, lalu "terpaksa" hidup di Indonesia. Baginya ada peluang untuk 
terus mencintai atau memutuskan putus hubungan, seperti kata iklan putus 
hubungan dengan nyamuk ! Jika kasusnya seperti ini, barangkali nasionalisme 
belum selesai bagi dirinya. 

Salam,
Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 9/2/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme 
Compang-Camping
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, September 2, 2009, 4:45 AM
  
 
 
 
 

Kirim email ke