Dear Sahabats,

Pak RM yang baik, saya kira tidak ada salah faham disini pada saya, sebab saya 
hanya bereaksi terhadap posting Eyang Aby yang menurut saya mengaitkan 
diskursus nasionalisme dengan paham di dalam agama tertentu (bukan agamanya 
yang difokus, melainkan "turunan" yang menjadi faham/ideologi). Mengingat ini 
diskusi, ya kita berbagi dan saling belajar dari berbagai sumber.

Tentang kepedulian anak-anak muda dan berbagai usaha / tindakan emas yang sudah 
dilakukan saya tentu sangat menghargai, dan saya pasti sangat setuju. 
Persoalannya, dalam usaha-usaha semacam itu kita sebagai manusia punya 
kelemahan, kadang egoisme kita menonjol sesaat kemudian bisa mengubah idealisme 
menjadi bencana.

Pak RM saya belum mengerti, dimana kesalahan-paham pada tanggapan saya, mohon 
pencerahan jika masih tampak seperti itu. Posting Eyang Aby begitu gamblang dan 
saya menangkapnya nasionalisme dikaitkan dengan keyakinan/kepercayaan, bahkan 
paham -paham di dalam agama tertentu. Apakah disini masalah saya ?

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 9/7/09, Risfan M <[email protected]> wrote:

From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: (1)  Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai
To: [email protected]
Date: Monday, September 7, 2009, 3:57 AM






 




    
                  Pak Djarot ysh,
Wah bukan begitu, jangan salah faham Pak, itu soal HT Pak, bukan soal orang 
Islam.

Kalau mau coba memahami nasionalisme/ keIndonesiaan saya kira lebih baik mulai 
dari baca referensi para ahlinya. Atau dari dari lapangan, dari liputan media 
cetak (Tempo, Kompas, dst) sekitar 17 Agustus. Baik tentang daerah/pulau 
terluar, daerah 'bintang', juga tentang misalnya kepedulian orang-orang muda 
yang membantu kelompok yang kurang beruntung. Juga inisiatif seperti Rumah 
Zakat, pos peduli umat, Dompet Dhuafa, dan sejenisnya. Yang menunjukkan 
kepedulian pada nasib bangsa dan sifatnya pluralisme. 
Menurut saya itu karya generasi baru yang mencerahkan bagi hari depan Indonesia.

Upaya-upaya orang muda itu akan nyambung dengan bagaimana mencari solusi atas 
kemiskinan di kampung nelayan Jakarta Utara, yg ada di posting satunya.

Salam,
RM





From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Sent: Sunday, September 06, 2009 5:40 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: pl...@yahoogroups. com
Subject: Re: [referensi] Re: (1) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai

  Eyang Aby, terima kasih atas paparan tentang tema nasionalisme yang tampaknya 
menjadi persoalan penting di kalangan saudara-saudara berkeyakinan Islam 
seperti yang Eyang ceriterakan tadi. Saya tidak menduga sejauh itu persoalan 
nasionalisme di kalangan Islam di Indonesia, bahkan sudah terkait dengan memori 
masa lalu yang berada di luar Indonesia. Swer saya nggak melihat sejauh itu 
sampai Eyang berkenan membeberkannya di email barusan. Jika demikian, persoalan 
nasionalisme di Indonesia memang problematik di kalangan Islam di Indonesia.

Sekedar berbagi saja ya Yang. Di kalangan katolik, sudah sejak tahun 1950-an 
persoalan nasionalisme selesai melalui ungkapan Uskup Sugiyapranata yang 
berbunyi: orang katolik adalah 100% katolik dan 100% Indonesia ! Akhir-akhir 
ini ungkapan "keramat" itu tampaknya digemakan kembali dan ditujukan kepada 
generasi muda yang dikuatirkan akag bingung ke arah mana kekatolikan yang 
dihayatinya, sebab godaan di era informasi begitu dahsyatnya. Sejauh saya tahu, 
di kalangan katolik tidak ada perdebatan yang begitu mencekam tentang 
nasionalisme karena sudah ditemukan payung nilai tadi.

Ungkapan Uskup tersebut sebenarnye merupakan reaksi tegas pada waktu revolusi 
fisik pasca-proklamasi, sebab pada waktu itu orang-orang katolik dicurigai 
kalangan pejuang dan dianggap sebagai antek Belanda karena agama katolik dibawa 
oleh minionaris berbangsa Belanda. Kasus Van lith menunjukkan bahwa sikap 
misionaris (khususnya van Lith) tegas sekali, ketika dia menjadi anggota 
volksraad bersikap tegas dengan mengatakan" jika saya diminta memilih maka saya 
akan amemihak kepada pribumi" dan sikap ini sangat kontroversial karena 
ditentang oleh orang-orang sebangsanya. Pada waktu ada latihan baris-berbaris 
di sebuah sekolah, dia berbisik kepada orang Belanda di dekatnya: " anak-anak 
muda ini kelak akan mengusir bangsa Belanda dari tanah ini" dan dia dimusuhi 
oleh kawan-kawan sebangsanya. ...yang tidak tahu bahwa di dalam agama katolik 
semuanya adalah bersaudara dipersatukan dalam Tuhan yang sama.

Saya tidak tahu dari kalangan saudara yang lain, bagaimana wacana nasionalisme 
dikaitkan dengan keyakinan/agama, misalnya dari para pemeluk Hindu, Budha, 
Kristen reformasi dan yang lainnya, termasuk yang dari aliran kepercayaan 
lokal. Apakah mereka sudah sepakat bahwa nasionalisme sudah selesai atau 
sepakat nasionalisme belum selesai ?

Jadi, yang belum selesai sebenarnya dimana ?

Salam,

 Djarot Purbadi

 http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
 http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
 http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sun, 9/6/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:

From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: (1) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai
To: refere...@yahoogrou ps.com
Cc: pl...@yahoogroups. com
Date: Sunday, September 6, 2009, 9:44 AM

  Rekan Djarot dan milister semuanya ysh,Sebenarnya bingung mau memulai dari 
mana bicara ttg nasionalisme Indonesia….. krn terdapat demikian banyak 
pandangan silang menyilang didalamnya….. ada yg enthusiastik… ada yg hanya 
ingin membonceng saja…. Ada yg acuh2 saja…  ada yg diistilahkan sbg penumpang 
gelap…..  ada yg penghianat….. Namun ada juga  yg bahkan terang2an menentang 
tak hanya nasionalisme namun bahkan juga demokrasi, ham dsb….. Walau yg 
belakangan ini mungkin hanyalah berupa pandangan minoritas saja…… tapi dgn 
solidaritas ummat  ditambah kekurang-pahaman ummat ia lalu mudah  memperoleh 
dukungan (perlindungan dsb) ….. dan kalau pandangan minoritas ini menjadi 
ekstrim lalu larinya kemainan bom….. tentu repot juga urusannya……. Krn itu tak 
ada buruknya membahas nasionalisme Indonesia itu pertama dimulai dari menengok 
pandangan2 paling ekstrim itu… ialah pandangan anti nasionalisme itu dulu…… 
lalu sesudah itu
 barulah kita bahas sikap2 yg lainnya…...Yg pertama tadi a.l. merupakan 
pandangan dari organisasi Islam spt Hizbut Tahrir Internasional …….. yg 
berpandangan bhw  “Islam tidak mengenal ikatan apapun yang lebih tinggi, selain 
ikatan iman dan ukhuwah Islamiyah, untuk seluruh kaum muslimin….. Ikatan ini 
berarti hanya menjadikan akidah Islam, ideologi Islam, sebagai satu-satunya 
pengikat antar kaum muslimin. Ikatan-ikatan lainnya seperti ikatan kelompok, 
golongan, suku, keluarga, bangsa/nasionalisme , dan sejenisnya  dianggap sbg 
masuk dalam kategori ikatan-ikatan yang mempropagandakan syiar-syiar 
Jahiliyah……Seruan terhadap ikatan-ikatan tersebut menurut mereka sama artinya 
kita kembali ke jaman Jahiliyah, jaman paganisme, jaman penyembahan terhadap 
berhala…. Ikatan keluarga tidak ada artinya apabila di antara anggota keluarga 
terdapat orang-orang yang bersebarangan akidahnya dengan kaum muslimin…. Bapak 
dan anak, suami dan isteri, begitu
 pula kakak dan adik kandung menurut mereka tidak ada artinya di sisi Allah 
jika salah satu di antara mereka kafir…... Pemikiran tsb berangkat dari 
nostalgia ‘kebesaran kerajaan/ negara Islam’ yg pernah menguasai  wilayah2 
sejak dari Arab Saudi (dimasa Nabi Muhammad, sampai th 632 Masehi), yg dimasa 4 
kalifah sesudahnya antara th 632-661 Masehi meluas sampai ke sekitar  Turki,  
Iraq, Iran, Mesir, Tunisia, ujung selatan Italia, India……lalu  dibawah Bani 
Ummaiyyah sampai th 715 Masehi lebih luas lagi sampai ke Libia bahkan 
Spanyol…... lalu utk selanjutnya  pada sekitar th 750 Masehi kerajaan Bani 
Ummaiyyah dikalahkan oleh Bani Abbasiyyah yg merasa  garis keturunan mereka 
lebih berhak untuk melanjutkan kepemimpinan oleh Nabi Muhammad (nanti didalam 
Bani Abbasiyyah juga terdapat kaum Syiah yg merasa tinggi lagi haknya atas 
kedekatan dgn garis klturuna Nabi Muhammad)……. Yg lalu pada sekitar th 1258  
Masehi  Bani Abassiyyah dikalahkan
 oleh Hulaghu Khan.. seorang panglima tentara Mongol yg menghancurkan Baghdad 
(nah disini saja sudah terlihat bhw antar kaum muslimin sendiri telah terjadi 
perpecahan yg hebat, tapi kok fanatisme itu tetap saja bergeming ya?)….. Mereka 
membayangkan seandainya seluruh dunia dapat disatukan dibawah kepemimpinan 
Islam dan dibawah satu Khalifah (maka pemikiran ini dinamai pemikiran Khilafah 
Islamiyah)…… maka seluruh dunia dibayangkan dpt disatukan dibawah seluruh 
aturan2 kehidupan Islam……...Mereka spt tidak dapat berpikir bhw jangankan kok 
mau menyatukan seluruh dunia……. Sedangkan dikalangan Islam sendiri spt telah 
ditunjukan oleh sejarah spt tsb diatas….. sesama Islam juga telah saling 
berperang sendiri sekedar krn masing2 saling merasa paling berhak mewarisi 
kepemimpinan islam  tertinggi sesudah Nabi Muhammad……….Menentang secara frontal 
pemikiran2 demikian hanya akan lebih membuat mereka semakin  bersemangat 
saja……tapi
 sebaliknya pura2 setuju dan lalu menanyakan  (saya sih belum pernah nyoba) 
bgmn secara teknis pemikiran2 demikian dapat dioperasionalkan walau nampaknya 
tidak rasional…. Lalu ketika mereka tak dapat menjelaskannya secara rasional… . 
mungkin juga blm tentu membuat mereka menghentikan pemikiran2 irasional 
tsb……Mereka selalu berpikir  bhw dgn Islam seluruh dunia dpt disatukan dan tak 
akan  ada lagi perbedaan2 spt dibanding  kalau negara2 (dlm pandangan mereka) 
dibuat ‘terpecah2’  oleh kafir seperti saat ini…….padahal jangankan kok negara2 
 perlu dikapling2……. Antar tiap rumah tangga saja walau sesama muslim kan  
urusannya juga masing2 dan perlu dikapling2…… tak ada urusan saling pakai atau 
saling meminjam yang kelewat longgar antar rumah tangga yg berbeda…… tetapi 
khan antar rumah tangga juga saling akur.......Yg saya maksud dgn 
ir/rasionalitas  dari operasional  konsep tsb adalah spt misalnya….. kalau 
misalnya saja
 ide demikian itu mau didukung secara luas…… tentu pertama2 mereka harus 
berperang dgn hampir seluruh negara2 didunia…… atau  setidaknya pertama harus 
berhasil menaklukkan sebuah negara saja dululah  untuk  selanjutnya dpt 
dijadikan markas besar komando perjuangan dan peperangan keseluruh dunia….  
padahal sbg organisasi mereka saat ini juga tak memiliki peralatan perang skala 
sebuah negara yg cukup seperti misalnya skadron pesawat tempur, tank, panser… 
apalagi kapal selam, kapal induk dsb…. krn pada saatnya bukankah mereka harus 
selanjutnya berperang melawan negara2 yg lebih kuat lagi peralatan militernya 
seperti Sekutu…Rusia…China…..Kalau saja seandainya negara dgn wilayah seluruh 
dunia dan hanya dgn satu pemimpin itu akhirnya berhasil didirikanpun…. Bgmn 
membayangkan akan menyusun APBN tahunannya…. Kalau APBN defisit lalu mau 
ngutang ke siapa?....Bgmn akan mengorganisir birokrasinya.…. Belum lagi kalau 
harus melakukan
 suksesi/pemilu…. Belum lagi kalau terjadi perebutan kekuasaan, pemberontakan… 
dsb. dsb…. belum2 sudah pusing deh membayangkannya…..…Pemikiran2 demikian ada 
juga tumbuh di Indonesia... .. maka bagaimana kita akan diskusi ttg 
nasionalisme Indonesia  kalau kita samasekali tak pernah membayangkan bhw ada 
juga mereka yg berpandangan demikian itu?........ ..Salam,    Re: (2) Indonesia 
: Negeri Dgn Nasionalisme Compang-CampingTuesday, September 1, 2009 5:45 
PMFrom: "Djarot Purbadi" <dpurb...@... .....>To: refere...@yahoogrou ps.com   
Eyang Aby, saya tertarik menanggapi soal nasionalisme kita belum selesai (?). 
Bagaimana penjelasannya  ?  Pakar  siapa yang menyatakannya, mohon dijelaskan 
supaya  penyingkapan  gagasannya bisa agak jelas dan "tidak misterius". Maaf 
saya benar-benar nggak tahu. Jika Eyang menggunakan pola atau teknik dongeng 
dalam diskusi ini, yang  biasanya mengakhiri suatu episode tayangan dengan 
situasi penuh tanda tanya
 untuk mengundang  rasa ingin tahu dan penasaran  para pendengar saya kira 
bagus juga. 
Bagi saya, meskipun beberapa bagian masih samar-samar, nasionalisme sudah 
selesai dalam rumusan singkat yaitu cinta tanah air. Saya yang lahir di bumi 
Nusantara cinta tanah air bagaikan sesuatu yang given, nggak bisa dihindari. 
Nah, karena tidak bisa mengelak seinchi sekalipun, maka berlaku pepatah Jawa 
"tresno mergo kulino" cinta karena terbiasa bergaul. Peristiwanya mirip dengan 
jaman kuno ketika seorang pria atau wanita dikawinkan secara paksa oleh orang 
tua mereka. Ya itu harus diterima dan selesai ! Proses untuk mencintai itulah 
yang semestinya menjadi penting.
Hal ini tentu berbeda jika kita orang asing, tidak ada kaitan dengan Nusantara 
sama sekali, lalu "terpaksa" hidup di Indonesia. Baginya ada peluang untuk 
terus mencintai atau memutuskan putus hubungan, seperti kata iklan putus 
hubungan dengan nyamuk ! Jika kasusnya seperti ini, barangkali nasionalisme 
belum selesai bagi dirinya. 

Salam,
Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 9/2/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:
From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme 
Compang-Camping
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, September 2, 2009, 4:45 AM      


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke