buat tambahan info: di Sunda Kelapa juga banyak, coba naik perahu kecil dari 
Pelabuhan, lihat perkampungan nelayan.. dan mereka rata-rata nelayan dari 
Sulawesi, kondisi perumahannya persis seperti itu..

 Karina Kusumawardani
15406004
Regional and City Planning
Bandung Institute of Technology
Jalan Ganesha 10,Bandung-INDONESIA
+6281513122900
http://hanyakarin.wordpress.com




________________________________
From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, September 6, 2009 5:22:55 PM
Subject: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian saya  
hari ini

  
Semoga planner kita yang lain tidak ada yang terkejut-kejut ...
....karena sebelumnya belum pernah ketempat-tempat seperti yang disampaikan 
Sulis. 

Mbak Sulis, itu hanya sebagian sangat kecil dari masyarakat kita yang sebagian 
besar memang hidup dalam tantangan serupa itu, .....yang seringkali di"lupa"kan 
sebagai dasar pertimbangan utama pembangunan (peningkatan kualitas hidup) yang 
kita upayakan (termasuk melalui "penataan ruang"...?), ....apalagi di daerah 
yang tidak termasuk ibukota negara ini...
Bahkan kalau anda ke pedalaman, anda akan terkejut lagi...antara lain setelah 
sekian jam perjalanan, sekian kilometer jalan kaki mendaki gunung...istirahat 
dan diharuskan makan atau hingga bermalam dahulu oleh kepala dusun 
setempat...biar kuat ....naik lagi sekian jam...anda menemukan komunitas lokal 
yang hidup bersama alam, sengaja tidak ingin aksesnya diperbaiki agar dapat 
hidup lebih "sejahtera"....dan....
ternyata disana anda menemukan beberapa ahli dari berbagai negara lain...baik 
Barat maupun Timur....yang sudah lama mengenal, atau "hidup" bersama mereka 
....untuk kepentingan penelitian atau dalam rangka mengumpulkan bahan s3 
nya........dan
...pejabat kita di kota terdekat (apalagi terjauh seperti Jakarta) ...tidak 
tahu tentang itu...
bahkan kadang kala info awalnya juga semula didapat dari peneliti asing...

Semoga yang lebih muda mamu menghilangkan kesenjangan dan keterasingan ini.... 

Salam,
ATA


2009/9/4 ffekadj <4ek...@gmail. com>

  >
>FYI
>--- On Tue, 6/2/09, sulistyowati <su...@...> wrote:
>
>All,
>>Aduh, saya masih ter-bengong2 mengingat betapa tadi siang kami pergi ke 
>>daerah kumuh, perkampungan nelayan di Kali Adem, Muara Angke. Hanya 20 menit 
>>dari Pluit Mega Mall, yang benar2 megah dan tak terkatakan mewahnya, dan 
>>lokasi perkampungan elit yang benar2 super megah !
>> 
>>Rumah mereka berada di bantaran kali, tidak ada RT dan RW (karena illegal). 
>>Sudah 4 kali mengalami penggusuran. Keluarga yang tinggal (kembali lagi) 
>>sekitar 149 keluarga, inilah yang menjadi fokus penelitian saya. Para lelaki 
>>adalah nelayan, sehingga tempat ini disukai untuk tinggal, dekat dengan laut, 
>>dan dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan.
>>
>>Rumah mereka (lebih tepat bedeng, terbuat dari papan2 bekas), tidak permanen, 
>>didirikan di atas tumpukan sampah, dan hampir setiap hari banjir dari air 
>>laut (rob). Karena terdiri dari papan2 bekas, bisa2 tiba2 ada yang kejeblos, 
>>dan kalau kejeblos masuk ke air kotor, yang ada di bawah rumah. Rumah mereka 
>>dikelilingi air kotor dari banjir rob (air laut pasang). Warna air hitam dan 
>>kotor bercampur sampah. Daan..tentulah termasuk sampah pembuangan kotoran 
>>manusia...
>>
>>Dan di air yang tergenang  itulah kami berjalan menyusuri rumah demi rumah, 
>>untuk sampai ke "balai pertemuan" lebih tepatnya, tempat pertemuan publik,  
>>tempat  mereka berkumpul, dan sering juga berfungsi sebagai mushola. Terbuat 
>>dari papan2 bekas juga. Sangat sempit, (4 x 2,5 meter ?) utk disebut sebagai 
>>balai pertemuan. 
>>
>>(Catatan: Dan ketika jalan di air rob menyusuri rumah2 itu, isi perut rasanya 
>>ingin keluar, karena kotor dan mencium bau tidak enak... Yang aku lakukan 
>>bersama teman2 adalah jangan lihat airnya, jangan lihat kakimu yang  terendam 
>>di air kotor...mendongak ke atas...jalan terus...jalan terus..)
>>
>>Saya dua kali pergi ke tempat ini. Sementnara teman2 saya sudah melakukan 
>>penelitian tahun yang lalu. Dan ada teman2 saya yang mendampingi mereka, 
>>yaitu LBH Masyarakat, terutama Sdr Dhoho Sastro. Oleh karena ada Dhoho dkk, 
>>maka kami bisa masuk ke tempat ini dengan mudah. Artinya, diterima. Dhoho lah 
>>yang mengajari mereka membuat pemerintahan sendiri (karena tidak ada RT dan 
>>RW), memiliki koperasi simpan pinjam di antara mereka, mengajari pembukuan 
>>sang bendahara, mengajari punya tabungan kolektif untuk menghadapi 
>>penggusuran. Gila, anak muda itu hebat sekali !  
>>
>>Tadi siang di "balai pertemuan" bekrumpul lebih dari 20 perempuan, di 
>>antaranya ada yang bersma bayi dan anak2nya...
>>Gambaran umum perempuan di situ:
>>      * Perempuan pada umunya kawin muda, umur 13, 15 atau 17 tahun 
>>      * Punya anak dua atau lebih 
>>      * Umur 40 an sudah punya cucu 
>>      * Bekerja di sektor informal, jualan kecil atau menjadi PRT, menjadi 
>> penopang besar bagi penghasilan suami yang tidak jelas hasilnya dari laut
>>Teori2 Access to Justice  runtuh ! Mereka punya surat lahir anak2nya, yang 
>>dikeluarkan oleh puskesma  (bukan Akte Lahir, karena mahal), KTP (bahkan 
>>banyak yang punya dua, dari desa asal dan dari Jakarta..dengan cara 
>>>>"menembak", yang cukup mahal 200 ribu sampai 400 ribu). Mereka juga bisa 
>>>>menyekolahkan anak dan kalau sakit ke puskesman (Sekoah dan Puskesman) 
>>>>sangat dekat dari tempat tinggal mereka.
>>
>>Di sinilah runtuhnya teori2 Acces to justice ! yang antara lain dipromosikan 
>>oleh Hernando de Soto
>>Mereka punya hampir semua legal identity itu... tetapi mengapa mereka miskin 
>>? 
>>Mencari ikan hari ini untuk makan hari ini
>>Tidak punya apa2, kecuali sedikit baju, perabotan alat masak
>>Perahu untuk mencari ikan, disewa dari taoke
>>Dan mereka hidup di tempat yang tidak bisa dibayangkan. ..mungkin itulah 
>>neraka dunia !
>>Dan mereka tidak pernah didengar, tidak pernah ditanggapi, tidak pernah 
>>diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkat 
>>kebijakan... .
>>(Ini juga meruntuhkan konsep2 ttg kemiskinan.. .yang terlalu berat ke soal 
>>ekonomi, 2 dolar sehari, dll)
>>
>>Penelitian (Post Doc) saya sebenarnya adalah ttg waris. Hancur lebur ! Tidak 
>>bisa bicara soal waris, karena mereka tidak punya apa2. Konsep waris yagn 
>>digagas oleh para ahli hukum, dan hukum adat, juga hancur lebur dalam konteks 
>>kemiskinan ! .Mereka tidak 
>>>>punya apa2 untuk warisan... ! Mungkin waris dalam pengertian non-material: 
>>>>daya tahan hidup, semangat2, harapan2 ! PAra perempuan itu ingin punya 
>>>>anak2 yang tidak mengalami nasib seperti mereka.  Itukah warisan nya ?
>> 
>>Wah, maaf, cerita ini cuma catatan2 yang tidak karuan...nanti kalau sudah 
>>jadi dalam bentuk tulisan,  boleh baca. 
>> 
>>Salam,
>>SI
>>

   


      

Kirim email ke