Pak Wawo ysh, welcome back, setelah kembali dari sesuatu yang disebut
oleh orang Inggris
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2961>  sebagai impian
indah semusim. Terakhir pandangan bapak mengenai Urbahari ditulis tahun
lalu <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/6531> , walau kini
harus menghadapi realita sebagaimana yang bapak sampaikan di bawah. Dari
dasar pemikiran evolusioner, bapak mengharapkan Urbahari dapat bekerja
dalam tataran konstruktivism
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1737> , sebagaimana
juga pemikiran Pak Nuzul. Saya kira ini antitesis terhadap pemikiran
fungsionalism yang sedang menggejala saat ini, yaitu deliberasi
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1024>  terhadap wilayah
decisive yang memang mudah untuk diukur dan ditimbang. Bila bahan
tentang hal ini akan bapak sampaikan pada Plano50, saya kira itu adalah
refleksi (evaluasi) terhebat terhadap sejarah pendidikan (dan profesi)
perencanaan.

Mengenai metropolis maritime, saya kira masih menunggu beberapa waktu
mendatang untuk populer: kita menunggu sedikit best practices dari
Kepri; memang matahari masih terbit dari barat. Namun cognitive
resources masih harus digali dan seharusnya ada yang menekuni hal ini,
termasuk sedia masuk ke lorong-lorong becek dan bau.

Demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Hannie Waworoentoe
<waworoentoehan...@...> wrote:
>
> Rekan-rekan, terutama yang kini sedang mempelajari perkampungan atau
pemukiman nelayan, barangkali ingin saya ikut dalam diskussi ini karena
beberapa hal, dan mungkin terutama sejak di Manado telah diselenggarakan
World Ocean Conference, yang memang cukup ambisius, tetapi by all odds,
toh ternyata dapat terselenggara dengan baik, scientifically (at least
oceanographic and climate change - it was amazingly even an improvement
on the Kyoto Protocol, kelihatannya USA agak melunak dan mau iukut
sekarang) I only hope that the Manado Ocean Declaration will not get
stuck in the same UN or World bureaucracy, when it will be verified in
Copenhagen by December this year.
>
> Tapi apa yang sebenarnya biusa saya sumbangkan terhadap pemukiman
nelayan, pantai atau entah maritim apa sih. Pertama saya kira bisa kita
sebut bahwa beberapa tahun lampau ada konperensi tentang kaum orang
Bajau (pertemuannya di jakarta,Manado, Brunei dan mungkin juga di
Malaysia dan Pilipina, nah disitu sudah banyak yang telah dibicarakan.
Selanjutnya masih ada bweberapa pertemuan lain.
>
> Kalau bisa saya juga akan menyusun suatu paper utk Plano 50 di
Bandung, tentang
> URBAHARI, yang mengacu ke pemukiman ur tua atau purba, dan bahari atau
maritim, dan sebetulnya juga rtada urban atau kekotaan. Nah ada semacam
studi paralel tentang maritime metropolii, atau metropolis maritim
seperti rekan Eka D. observasi di Ternate , Djailolo dan Tidore, these
are very interesting patterns, jadi ok shall we see the future oif those
perkampungan nelayan, mungkin ada piola yang sejajar juga di Indonesia
bagian Barat seperti di Riau, atau entah yang lain di pacific.
>
> Segitu dulu deh, nanti sampaiu ketemu di Bandung lagi. Pak wawo.
>
>
>
>
> ________________________________
> From: karina kusumawardani the_only_ka...@...
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, September 8, 2009 5:25:02 AM
> Subject: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian
saya hari ini
>
>
> buat tambahan info: di Sunda Kelapa juga banyak, coba naik perahu
kecil dari Pelabuhan, lihat perkampungan nelayan.. dan mereka rata-rata
nelayan dari Sulawesi, kondisi perumahannya persis seperti itu..
>
> Karina Kusumawardani
> 15406004
> Regional and City Planning
> Bandung Institute of Technology
> Jalan Ganesha 10,Bandung-INDONESI A
> +6281513122900
> http://hanyakarin. wordpress. com
>
>
>
>
> ________________________________
> From: abimanyu takdir alamsyah takdi...@gmail. com>
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Sent: Sunday, September 6, 2009 5:22:55 PM
> Subject: Re: [referensi] Fw: sedikit cerita ttg pengalaman penelitian
saya hari ini
>
>
> Semoga planner kita yang lain tidak ada yang terkejut-kejut ...
> ....karena sebelumnya belum pernah ketempat-tempat seperti yang
disampaikan Sulis.
>
> Mbak Sulis, itu hanya sebagian sangat kecil dari masyarakat kita yang
sebagian besar memang hidup dalam tantangan serupa itu, .....yang
seringkali di"lupa"kan sebagai dasar pertimbangan utama pembangunan
(peningkatan kualitas hidup) yang kita upayakan (termasuk melalui
"penataan ruang"...?), ....apalagi di daerah yang tidak termasuk ibukota
negara ini...
> Bahkan kalau anda ke pedalaman, anda akan terkejut lagi...antara lain
setelah sekian jam perjalanan, sekian kilometer jalan kaki mendaki
gunung...istirahat dan diharuskan makan atau hingga bermalam dahulu oleh
kepala dusun setempat...biar kuat ....naik lagi sekian jam...anda
menemukan komunitas lokal yang hidup bersama alam, sengaja tidak ingin
aksesnya diperbaiki agar dapat hidup lebih "sejahtera". ...dan... .
> ternyata disana anda menemukan beberapa ahli dari berbagai negara
lain...baik Barat maupun Timur....yang sudah lama mengenal, atau "hidup"
bersama mereka ....untuk kepentingan penelitian atau dalam rangka
mengumpulkan bahan s3 nya........dan
> ...pejabat kita di kota terdekat (apalagi terjauh seperti Jakarta)
...tidak tahu tentang itu...
> bahkan kadang kala info awalnya juga semula didapat dari peneliti
asing...
>
> Semoga yang lebih muda mamu menghilangkan kesenjangan dan keterasingan
ini....
>
> Salam,
> ATA
>
>
> 2009/9/4 ffekadj 4ek...@gmail. com>
>
> >
> >FYI
> >--- On Tue, 6/2/09, sulistyowati sulis@ wrote:
> >
> >All,
> >>Aduh, saya masih ter-bengong2 mengingat betapa tadi siang kami pergi
ke daerah kumuh, perkampungan nelayan di Kali Adem, Muara Angke. Hanya
20 menit dari Pluit Mega Mall, yang benar2 megah dan tak terkatakan
mewahnya, dan lokasi perkampungan elit yang benar2 super megah !
> >>
> >>Rumah mereka berada di bantaran kali, tidak ada RT dan RW (karena
illegal). Sudah 4 kali mengalami penggusuran. Keluarga yang tinggal
(kembali lagi) sekitar 149 keluarga, inilah yang menjadi fokus
penelitian saya. Para lelaki adalah nelayan, sehingga tempat ini disukai
untuk tinggal, dekat dengan laut, dan dekat dengan Tempat Pelelangan
Ikan.
> >>
> >>Rumah mereka (lebih tepat bedeng, terbuat dari papan2 bekas), tidak
permanen, didirikan di atas tumpukan sampah, dan hampir setiap hari
banjir dari air laut (rob). Karena terdiri dari papan2 bekas, bisa2
tiba2 ada yang kejeblos, dan kalau kejeblos masuk ke air kotor, yang ada
di bawah rumah. Rumah mereka dikelilingi air kotor dari banjir rob (air
laut pasang). Warna air hitam dan kotor bercampur sampah. Daan..tentulah
termasuk sampah pembuangan kotoran manusia...
> >>
> >>Dan di air yang tergenang itulah kami berjalan menyusuri rumah demi
rumah, untuk sampai ke "balai pertemuan" lebih tepatnya, tempat
pertemuan publik, tempat mereka berkumpul, dan sering juga berfungsi
sebagai mushola. Terbuat dari papan2 bekas juga. Sangat sempit, (4 x 2,5
meter ?) utk disebut sebagai balai pertemuan.
> >>
> >>(Catatan: Dan ketika jalan di air rob menyusuri rumah2 itu, isi
perut rasanya ingin keluar, karena kotor dan mencium bau tidak enak...
Yang aku lakukan bersama teman2 adalah jangan lihat airnya, jangan lihat
kakimu yang terendam di air kotor...mendongak ke atas...jalan
terus...jalan terus..)
> >>
> >>Saya dua kali pergi ke tempat ini. Sementnara teman2 saya sudah
melakukan penelitian tahun yang lalu. Dan ada teman2 saya yang
mendampingi mereka, yaitu LBH Masyarakat, terutama Sdr Dhoho Sastro.
Oleh karena ada Dhoho dkk, maka kami bisa masuk ke tempat ini dengan
mudah. Artinya, diterima. Dhoho lah yang mengajari mereka membuat
pemerintahan sendiri (karena tidak ada RT dan RW), memiliki koperasi
simpan pinjam di antara mereka, mengajari pembukuan sang bendahara,
mengajari punya tabungan kolektif untuk menghadapi penggusuran. Gila,
anak muda itu hebat sekali !
> >>
> >>Tadi siang di "balai pertemuan" bekrumpul lebih dari 20 perempuan,
di
> >>antaranya ada yang bersma bayi dan anak2nya...
> >>Gambaran umum perempuan di situ:
> >> * Perempuan pada umunya kawin muda, umur 13, 15 atau 17 tahun
> >> * Punya anak dua atau lebih
> >> * Umur 40 an sudah punya cucu
> >> * Bekerja di sektor informal, jualan kecil atau menjadi PRT,
menjadi penopang besar bagi penghasilan suami yang tidak jelas hasilnya
dari laut
> >>Teori2 Access to Justice runtuh ! Mereka punya surat lahir anak2nya,
yang dikeluarkan oleh puskesma (bukan Akte Lahir, karena mahal), KTP
(bahkan banyak yang punya dua, dari desa asal dan dari Jakarta..dengan
cara
> >>>>"menembak", yang cukup mahal 200 ribu sampai 400 ribu). Mereka
juga bisa menyekolahkan anak dan kalau sakit ke puskesman (Sekoah dan
Puskesman) sangat dekat dari tempat tinggal mereka.
> >>
> >>Di sinilah runtuhnya teori2 Acces to justice ! yang antara lain
dipromosikan oleh Hernando de Soto
> >>Mereka punya hampir semua legal identity itu... tetapi mengapa
mereka miskin ?
> >>Mencari ikan hari ini untuk makan hari ini
> >>Tidak punya apa2, kecuali sedikit baju, perabotan alat masak
> >>Perahu untuk mencari ikan, disewa dari taoke
> >>Dan mereka hidup di tempat yang tidak bisa dibayangkan. ..mungkin
itulah neraka dunia !
> >>Dan mereka tidak pernah didengar, tidak pernah ditanggapi, tidak
pernah
> >>diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai
tingkat kebijakan... .
> >>(Ini juga meruntuhkan konsep2 ttg kemiskinan.. .yang terlalu berat
ke soal ekonomi, 2 dolar sehari, dll)
> >>
> >>Penelitian (Post Doc) saya sebenarnya adalah ttg waris. Hancur lebur
! Tidak bisa bicara soal waris, karena mereka tidak punya apa2. Konsep
waris yagn digagas oleh para ahli hukum, dan hukum adat, juga hancur
lebur dalam konteks kemiskinan ! .Mereka tidak
> >>>>punya apa2 untuk warisan... ! Mungkin waris dalam pengertian
non-material: daya tahan hidup, semangat2, harapan2 ! PAra perempuan itu
ingin punya anak2 yang tidak mengalami nasib seperti mereka. Itukah
warisan nya ?
> >>
> >>Wah, maaf, cerita ini cuma catatan2 yang tidak karuan...nanti kalau
sudah jadi dalam bentuk tulisan, boleh baca.
> >>
> >>Salam,
> >>SI
> >>
>


Kirim email ke