Pak Eka dan sahabats, Sebenarnya perdebatan kuantitatif vs kualitatif hanya sebagian saja dari cara para ilmuwan memahami realitas / fenomena. Jika kita kaitkan dengan tawaran Prof Djunaedi soal sistem mikro dan sistem makro (atau teks dan konteks) atau sistem dan supersistemnya, persoalannya terletak pada "peneropongan dari luar" versus "pemahaman dari dalam". Artinya, jika peneropongan dari luar lebih akan menemukan super sistem, sementara pemahaman dari dalam akan lebih menemukan kondisi-kondisi internal suatu realitas / fenomena. Kayaknya begitu.
Jika saya mendalami subyek sangat mendalam dengan pengamatan partisipatif - fenomenologis hanya akan lebih banyak tahu kondisi subyek, sementara kondisi eksternalnya (struktur-struktur di luar subyek), sementara jika perhatian lebih ke seputar kondisi eksternal subyek akan memahami super-sistem yang berperan dalam situasi subyek. Kombinasi keduanya atau keempatnya tentu akan menarik, jika dilihat menjadi matriks kuantitatif-kualitatif dan innerview-externalview. Begitukah ? Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Sun, 10/25/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: Rencana adalah karya Disain Grafis To: [email protected] Date: Sunday, October 25, 2009, 9:06 AM Pak Eko yang saya banggakan. Senang sekali membaca uraiannya, termasuk berkenalan dengan teman-temannya. Mudah-mudahan seiring dengan waktu sebagai satu-satunya orang di Indonesia yang mendalami Ekonomi Geografi dari 'sisi kanan' dapat menularkan kepandaiannya untuk kesejahteraan bangsa Indonesia, dan juga dunia. Sudut pandang saya dan Koko memang berbeda dalam pemaknaan taksonomi. Bila Koko menggunakan 'comparative method', saya menggunakan 'comparison method'. Namun perbedaan ini akan lebih menunjukkan kekayaan diskursus. Mengenai Derrida, saya belum baca pak; namun dari komparasi bapak kelihatannya dia orang baik. Kemudian dari uraian bapak, kelihatannya kita bisa masuk dalam debat kuantitatif vs kualitatif. Selain Ekonomi, sebenarnya ilmu-ilmu Sosiologi juga kental dengan analisis kuantitatif; dan memang Antropologi cukup steril dari metoda seperti itu. Karenanya banyak lembaga-lembaga rating yang dikelola oleh sosiolog. Termasuk juga Ostrom, kalau tidak salah dia dan suaminya mengembangkan standar metropolitan untuk USA. Debat kuantitatif vs kualitatif akan selalu terjadi. Yang satu menggunakan simbolisasi/ representasi angka, dan yang lain menggunakan text. Kritik terbesar terhadap kuantitatif adalah: bila realita/fenomena dapat ditunjukkan dengan sebuah model, maka selesailah segala masalah. Voila! I-am-a-camera. Mohon sudi membabarkan lebih lanjut pak. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@.. .> wrote: > > Rekan2 ysh., > > Uda Eka ini lama2 mirip Derrida karena senang bermain kata2...:) > > Tapi Uda, soal perjalanan suatu disiplin keilmuan, metodologi yg digunakan, memang menarik... Ekonomi Geografi misalkan, yg mirip dgn Regional Economics, Regional Science, sudah lama kurang diperhatikan oleh Ekonom, namun cukup berkembang di lingkungan Geograf (Brian Berry, dkk.)... sejak munculnya NEG, apalagi Krugman menang Nobel, barulah bidang ini diperhatikan kembali, sampai2 WB mengeluarkan topik Reshaping Economic Geography utk WDR 2009... yg juga mulai diperhatikan, selain NEG, adalah pendekatan yg bertolak belakang, yakni Radical Geography atau Marxian Geography, yg kalau di Anglo-American dipelopori oleh David Harvey.. > > Menurut saya sebetulnya ini momentum yg sangat tepat bagi Planners yg tertarik Ekonomi atau Ekonom yg tertarik masalah keruangan di Indonesia utk menarik perhatian publik... > > Kecenderungan lintas batas keilmuan di dunia juga menarik utk dicermati... di dalam Ilmu Sosial, sudah umum terjadi antara Sosiologi, Geografi, Anthropologi dsb... yg sulit dimasuki adalah Ilmu Ekonomi...memang mengherankan bahwa definisi Ilmu Ekonomi direduksi menjadi sebatas metodologi sehingga Ostrom yg tidak menggunakan Ekonometrik dan deduktif bahkan tidak dimasukan sebagai staff pengajar di jurusan Ekonomi Univ Indiana, tapi di Dept Political Science..tapi ini mungkin akan berubah sehingga Dept Ekonomi dapat menerima rekan2nya di Ilmu Sosial.. > > Terkait dengan apa yg disampaikan Pak BSP ttg planner yg lebih berfungsi dan bermakna di kehidupan nyata, saya pun merasakan demikian Pak. Planner jelas memerlukan masukan dari berbagai disiplin di lingkungan ilmu sosial di atas utk dapat memahami dunia (wilayah perencanaan) dengan baik... masalahnya sering kali waktu utk melakukan field work sangat terbatas, alhasil data sebagian besar lebih berupa data statistik yg didapat dari buku Kabupaten Dalam Angka dan sejenisnya, yg bisa saja mengakibatkan pemahaman ttg wilayah perencanaan tidak bisa utuh, dan ujung2nya rencana nya tdk dapat diaplikasikan. .. menurut hemat saya utk itu, antara lain, berbagai metodologi perlu diadopsi oleh planner dlm rangka memahami wilayah perencanaan, apapun istilahnya: ethnography, fenomenography, spatial statistics, dsb. tentunya dgn biaya dan waktu observasi yg memadai... > > Uda Eka, saya pribadi tertarik dgn ethnography, karena kebetulan co-pembimbing saya PhD nya geography dan ethnography, tapi karena nature dari thesis saya mengharuskan saya menggunakan spatial statistics sehingga saya tdk bisa memanfaatkan kesempatan tsb dgn maksimal... semoga Pak Djarot tidak berkeberatan membagi ilmunya, termasuk ttg fenomenography. .. > > salam dan selamat berakhir pekan... > > > > > > > --- On Sat, 10/24/09, Harya Setyaka harya.setyaka@ ... wrote: > > From: Harya Setyaka harya.setyaka@ ... > Subject: Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Saturday, October 24, 2009, 7:53 PM > > > > > > >  > > > > > > > > > > > > > > > > > > - graf --> graphos: gambaran, berkualitas visual semantik dan simbol. > > - logi, logy, logie --> logos: ilmu tertulis, terucap, narasi, tertuang dalam teks. > > - ika --> ics, as in Mathematics; kuantitatif eksakta.., hitung, ukur, > > - nomi --> nomos: hukum.. > > > Ada geologi, ada geografi dan ada geodetics (geodesi mungkin serapan dari bahasa belanda), lalu ada geomatika / geomatics > > Lalu ada geophysics, geochemistry. . > > Ada ekonomi, ekologi, lalu dari ekonomi --> lahir ekonometri (statistik sih sebenarnya) > > Ada fisika, ada fisiologi.. > > Ada biology.. Ada pula biomedics > > Ada anthropology, ada pula anthropometri .. > > Astronomi, astrology, astrophysics .. > > Mathematics, physics, mechanics, dynamics.. > Chemistry, sebenarnya fisika yg sampai ke struktur atom.. > > Hidrologi, hidraulika.. Mekanika fluida.. > > Linguistics? Dari akhirannya, sifat ilmu nya dekat dengan ilmu alam yg exact.. > > Banyak pula percabangan, atau anak ilmu: > Aritmatika, trigonometri, geometri, calculus.. > > Lalu perkembangab berikutnya adalah ilmu2 hibrida.. > Yg antara lain ekonomi geography.. > > Salam, > -K- > > > > > > > > > > > > Pedal Powered BikeBerry > From: Djarot Purbadi dpurb...@yahoo. com> > Date: Sat, 24 Oct 2009 08:03:11 -0700 (PDT)To: refere...@yahoogrou ps.com>Subject: Re: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis > >  > > > Pak Eka dan semua sahabat, terminologi kunci yang saya gunakan di dalam disertasi saya bukanlah etnografi melainkan "fenomenografi" yang maksudnya adalah menggambarkan atau menjelaskan fenomena yang kita amati secara terfokus bahkan purposif. Hal ini berbeda dengan etnografi buatan para antropolog sejak dari filsafat inquiry-nya. Fenomenolog mengamati secara terfokus dan menggambarkan segamblang - sedalam yang dia temukan, sementara antropolog mirip seperti itu tetapi fokusnya sudah jelas yaitu dari kasus ingin menemukan hal-hal yang tersembunyi dan abstrak di belakangnya, terutama dalam bingkai kultur. Fenomenolog tidak menggunakan terminologi kultur, melainkan yang lain yaitu tema, konsep dan teori (abstraksi). Sementara demikianlah. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Sat, 10/24/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote: > > From: ffekadj 4ek...@gmail. com> > Subject: [referensi] Rencana adalah karya Disain Grafis > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Saturday, October 24, 2009, 7:15 PM > > > > > > >  > > > Rekan-rekan ysh. > Dengan munculnya istilah Economic Geography dari Dr. Eko dan Etnografi dari Prof. ATA dan Dr. Djarot, maka dengan keseringan ini semakin familiarlah kita dengan berbagai â€"grafi. Secara bebas saya maknakan â€"grafi merupakan penyajian deskripsi (how) atau eksplanasi (why) tentang suatu informasi tertentu. â€"grafi berbeda dengan â€"logi, karena yang terakhir ini menunjukkan suatu sistem keilmuan yang terbentuk secara empiris maupun normatif. Jadi pengetahuan kebumian disebut geologi, namun bagaimana itu disajikan sebagai informasi disebut geografi, dan bagaimana bumi diukur-ukur disebut > geodesi. Apa begitu?, sepertinya kita perlu kajian post-professoronal. Memang sulit untuk memaksakan klasifikasi keilmuan ala Mendel (yang menggunakan metode biologi itu). Dan dari dulu saya selalu ragu dengan istilah 'sistem informasi geografi' dan 'ekonomi geografi', bukankah seharusnya 'geografi' saja Boss? >  > Dari pekerjaan rekan-rekan perencana, saya melihat mereka membutuhkan dan menyusun sejumlah informasi, seperti 'geografi' atau yang disebut Pak Djarot dengan istilah karakter ruang. Juga ada muatan informasi penduduk, migrasi, dan proyeksinya, atau yang diistilahkan Pak Aby dengan 'demografi'. Juga dijelaskan dengan peta-peta atau 'kartografi' . Dan supaya kelihatan impresif ditambahkan dengan 'fotografi'. Kemarin kita menambahkan perlunya 'etnografi'. Dan seharusnya kan perlu ada 'ekonografi' dan 'ekolografi' , supaya selaras? Tentunya ada yang tidak boleh walaupun belum ada undang-undangnya, yaitu 'pornografi' . Dengan demikian akan beralasan bila Rencana merupakan karya 'disain â€"grafi[s]'? Kalau boleh saran, karya rekan-rekan perencana saya itu yang beranjak dari multidisiplin dan multi-ilmu itu dapat dihargai sebagai 'planografi' . Terlepas apakah mereka lulusan > universitas, multiversitas, atau sekedar institut. Dan Ka Bappenas pun bisa kita rangkul untuk menjadi planografer. >  > Mudah-mudahan tidak menjadi maintream. Salam. >  > -ekadj >  > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K ekobudik@ wrote: > > > > Pak Risfan, Pak Eka, dan rekan2 ysh. > > > > Sekedar koreksi saja Pak Risfan, Pak Syaf S3 nya Regional Planning, dan Pak Eko Wur Regional Science, bukan Economics... Regional Science jelas bukan Economics, bahkan Development Economics dan Economic Geography sejak dulu dikenal sebagai lahan backwater sebelum munculnya New Economic Geography yg dipelopori Krugman (bukan begitu Pak Nuzul?)... Krugman belajar Economics bareng dgn Stiglitz di MIT, spesialisasinya International Trade... NEG adalah usaha Krugman utk fusi teori2 international trade dgn economic geography... Douglass North PhD nya juga Economics... memang ada juga yg lulusan non Economics, yakni laureate 2002, Daniel Kahneman yg by training psikolog, tapi dia publish banyak artikel di jurnal2 top Economics dgn pendekatan mainstream Economics... Ostrom tdk pernah publish di jurnal Economics, dan > pendekatannya tdk mainstream, inductive... tapi nampaknya justru yg ditulis oleh Ostrom lah yg cocok dgn definisi Economics (definisi seperti yg > > dikutip Koko)... > > > > Seperti Pak Risfan, Pak Nuzul, sy juga melihat pemilihan menteri lebih pd pertimbangan politis... Tapi saya tdk tahu bagaimana dgn kasus Bu Armida, tapi dari segi kapasitas keilmuan nampaknya beliau orang yg tepat dibandingkan pendahulunya. .. > > > > salam.. >

