Bpk2 AAS, Nuzul, Wawo dan milisters ysh, Maaf ikutan menanggapi juga walau tak banyak mengerti masalah ini……… Saya sangat mengapresiasi pandangan pak AAS….dan asyik jg bhw pak Nuzul dan pak Wawo terus bersama kita….…. Dari masalah visi ‘marine’ dan ‘maritime’ kita ….boleh jadi MenDKP Fadel sbg Ketua DEKINpun punya perasaan kagok juga ……DKP harus mengurusi nelayan, perikanan, pulau2 kecil …sementara itu masalah terkait spt industri jasa maritim spt kepelabuhanan dan angkutan laut serta pelaut ada dibawah DepHub ….industri perkapalan dan nautika ada dibawah DepPerin ….masalah wisata kelautan dan pantai dibawah DepParbud …..offshore engineering dibawah DepESDM ….. masalah keamanan laut dan pencurian ikan ada dibawah TNI-AL/Polair selain jg DKP sendiri……dan last but not least masalah waterfront city dan waterfront town ada ditangan pak AAS dkk/Dep. PU?……. So…. Mungkin tidak terlampau salah bila menteri Fadel lbh akan berkonsentrasi pada peningkatan ekspor ikan dan kesejahteraan nelayan (saja)…dan sengaja membiarkan pak AAS tetap kebingungan mungkin agar terpacu menelurkan konsep terbarunya…… Salam,
--- On Sun, 11/8/09, abdul alim salam <[email protected]> wrote: From: abdul alim salam <[email protected]> Subject: Re: Bls: [referensi] Practical planning... maritim To: [email protected] Date: Sunday, November 8, 2009, 3:45 AM Pak Nuzul ysh, Terima kasih atas tambahan informasinya, utamanya ttg jurnal2 tsb. Pada akhirnya kalau dalam menyusun kebijakan publik pada akhirnya adalah konsensus. Repotnya kadang2 yg dilibatkan kurang representatif, shg jadi salah kaprah. Pada rapat perdana DEKIN, Bung Fadel selaku Ketua Harian menugaskan anggota DEKIN yg berasal dari 4 perguruan tinggi (IPB, UNDIP, UNPAD dan UNSTRAT) utk merumuskan Indonesian Ocean Policy (draft naskahnya sdh ada di DEKIN) dan akan dipaparkan satu bulan yad. Sayang tidak ada yg mewakili aspek teknologi nya (ITB/ITS) dan ekonomi nya (UI/UGM) atau budaya nya (UNRI?). Kita tunggu aja hasilnya. Wassalam, AAS --- Pada Ming, 8/11/09, Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> menulis: Dari: Nuzul Achjar <ach...@gmail. com> Judul: Re: Bls: [referensi] Practical planning... maritim Kepada: refere...@yahoogrou ps.com Cc: "abdul alim salam" <abdulal...@yahoo. com> Tanggal: Minggu, 8 November, 2009, 12:28 AM Pak Wawo, Pak AAS dan sahabat Referensiers Ysm, Diskusi yang cukup menarik tentang pengertian "maritime" dan "marine" beserta penafsirannya oleh Pak Wawo dan Pak AAS. Setidaknya ada 2 jurnal akademis yang bisa kita perhatikan tentang nuansa "maritime" dan "marine". Yang bernuansa "maritime" antara lain adalah "Maritime Policy Management" (Routledge Publisher). Isinya lebih banyak tentang port management, regional port competition, organisasi industri perkapalan, dan yang berkenaan dengan armada dagang (container ship) beserta atributnya. Materi di journal ini banyak mengacu atau mengaitkannya dengan policy yang dikeluarkan oleh International Maritime Organization (IMO). Journal "Marine Policy" (Publisher: Science Direct) lebih banyak membahas aspek sumberdaya laut, seperti akuakultur laut (marine aquaculture) , manajemen penangkapan ikan (fisheries management), tentang keberdayaan masyarakat pesisir, dan atribut lain yang terkait. Artikel teman-teman Perikanan IPB dan DKP misalnya akan lebih banyak masuk di "Marine Journal", Journal ini menyebut istilah Marine Policy Maker, bukan Maritime policy Maker. Teman teman Perkapalan ITS misalnya akan lebih cocok dan banyak menulis di Maritime Policy Management. Yang menarik, di Marine Journal juga banyak diisi dengan artikel tentang maritim, misalnya tentang "klaster industri maritime" di Kanada. Bukan hanya bikin kapal, klaster maritime ini juga membuat alat navigasi dan teknologi kendaaraan bawah laut. Juga ada artikel tentang stereo type pelaut. Mengapa misalnya pelaut Indonesia dan Filipina lebih disukai, dan mengapa pelaut dari Eropa berkurang. Walaupun nuansa "maritime" dan "marine" berbeda, namun seringkali istilahnya digunakan membingungkan. Teknologi kapal seringkali disebut marine technology, bukan maritime technology. Dari nuansa yang dapat ditangkap, pengertian dan ruang lingkup "maritine" dan "marine" harusnya berbeda. Yang repot adalah apakah tepat mengganti 'marine" dengan kelautan. Apakah kita gunakan saja istilah bahari untuk menggabungkan pengertian maritime dan marine. Wassalam, Nuzul Achjar Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang!

