Atau mungkin Ruth Benedict-nya Pak Risfan? Saya coba kutipkan dari "The
Chrysanthemum and the Sword" (1946):

"That all the differences between East and West, black and white,
Christian and Mohammedan, are superficial and that all mankind is really
like-minded.

To demand such uniformity as a condition of respecting another nation is
as neurotic as demanding it of one's wife or one's children.

The goal ... was a world made safe for differences.

If people in other societies differed from us, the cause was not their
inferiority or their backwardness; rather, it was their adherence to a
different way of life, oriented toward different values and embodied in
different customs and institutions. If some people found it hard to
measure up, it might result from of an unfortunate mismatch between
their proclivities and the arbitrary standards of the society in which
they happened to find themselves."


--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> Geertzian? Kelihatannya Pak Aby sudah mulai menyandarkan sebagian
> keyakinan ilmiahnya pada Geertz.
>
>
> --- In [email protected], hengky abiyoso watashiaby@ wrote:
> >
> > Milisters ysh,
> > Kemunculan negara-negara baru yang homogen di Eropa kerap dimotori
> oleh state-seeking nationalism………suatu klaim dari
perwakilan
> politik yg tdk mendapat akses kontrol atas suatu
> ’state’….lalu mengklaim otonomi politik….atau
> bahkan memisahkan diri….atas dasar perbedaan identitas
> budaya……..
> > Menurut Tilly, sebelum tahun 1800, rata-rata corak nasionalisme
adalah
> state-led, tetapi setelah tahun itu, state-seeking nationalism menjadi
> motor dari revolusi di Eropa……..
> > Belajar pada kenyataan sejarah itu, Â konon katanya seyogyanya
> format nasionalisme kita harus memberi tempat kepada
> kebaruan……dlm hal ini mendemokratisasikan hubungan pusat dan
> daerah ….termasuk menurut Nezar Patria (jg pernah oleh Amien
Rais)
> “keberanian menguji bentuk federalisme”….tapiÂ
> disini saya kira Nezar (jg Amien) telah bermain api tak mau menghitung
> bgmn resikonya kalau federalisasi di Indonesia nanti menjadi
> balkanisasi spt Soviet dan Yugoslavia……lalu NKRI ini
tercabik2
> menjadi bbrp negara yg terpisah2 (pdhal memang ada analisis
> intelijen ttg skenario balkanisasi NKRI itu oleh
> AS)…..…..
> > Kedua, dengan munculnya kekerasan komunal yang dipicu oleh konflik
> agama atau etnis di berbagai wilayah nusantara…..atau dlm
derajat
> lebih kualitatif adalah mengerasnya ethno-nationalism……maka
> nasionalisme Indonesia harus dikembalikan menjadi ’proyek
> bersama’ yg urgent……….
> > Pemberian otonomi yang luas atau bahkan
> ’self-government’ kepada wilayah bergolak adalah cara
> untuk tetap membuat warga daerah tetap ambil bagian dari
’proyek
> bersama’ Indonesia ……selain itu, arah pembangunan
> ekonomi yang berkeadilan menjadi prioritas……krn federalisme
> atau otonomi yang miskin, sama saja dengan perubahan yang
> nihil……….
> > Ketiga, nasionalisme baru Indonesia konon katanya harus pula Â
> mampu menghadapi kecenderungan global…….krn itu ”civic
> nationalism” atau nasionalisme kewargaan konon harus menjadi
> agenda dari ’proyek bersama’……...
> > Nasionalisme ini disebut ’civic’ karena dia adalah
> antitesa dari nasionalisme berbasiskan etnik ……nasionalisme
> yang ’civic’ mampu menempatkan segenap elemen bangsa
> melampaui agama, ras dan suku sebagai komunitas setara, dan
mendapatkan
> hak-hak penuh ……dgn demikian nasionalisme ini secara inheren
> berciri demokratik karena ia dibangun beralaskan prinsip kedaulatan
> rakyat………
> > Nasionalisme yang ’civic’ juga menjadi semacam
> ”etik” dalam menjaga martabat bangsa …dimana
> perilaku buruk seperti korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia
adalah
> cacat politik yg mempermalukan bangsa secara keseluruhan……..
> > Nasionalisme Indonesia menghadapi problem yang tak mudah dalam
> mengawinkan ’nation-state’ sebagai sebuah institusi
> politik solid ……nasionalisme adalah fenomena psikologis yang
> membutuhkan perasaan keterlibatan, dan disposisi yang berbeda dengan
> ’nation-state’ sebagai institusi ……rMealitas
> sosial politik menunjukkan hadirnya ’sentimen
> nasionalisme’ pada bangsa-bangsa yang tidak mempunyai
> ’State’……
> > Krn itu kembali ke Indonesia sebagai ’proyek bersama’
> yang belum selesai……Suatu ’nation’ yang
> melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, dan mencoba menyatukan
> ’old nations’ yang ada di nusantara……krn
itulah,
> pengalaman ”menjadi” bangsa adalah juga meningkatkan
> kesadaran fenomena kesukuan agar lebih menasional dan
> universal……...
> > Lalu, bagaimana membuat ’State’ yang bisa
mengakomodasi
> variasi spektrum agama dan suku, dan bahkan menampung revivalisme
> ’old nationalities’ di sejumlah daerah saat
> ini……..
> > Mungkin ’civic nationalism’ yang dipraktekkan di
Inggris
> sejak pertengahan abad 18 bisa menjadi inspirasi……..bagaimana
> Great Britain bisa berhasil menjadi satu
> ’negara-bangsa’, yang sebenarnya terdiri dari empat
> bangsa berbeda: Irish, Scots, Welsh dan English………
> > Salam,
>



Kirim email ke