Uda Ekadj, Pak Aby dan rekans ysh, Eka, saya baca Ruth Benedict karena ingin mengenal budaya samurai lebih jauh dan karena hobi saja. Soal East-West tentunya Pak Wawo lebih fasih karena pernah jadi santri di kepulauan di Pacific yang letaknya di tengah kancah East dan West itu. Tentang proyek nasionalisme (ini karena kadung reply) kalau menurut saya mesti dilihat kondisi obyektif masa kini juga kali ya. Maksud saya situasi Poleksosbudlinktek + Dana nya. Terlepas dari retorika atau teorinya. POLITIK - ada hubungan pusat - daerah; daerah - daerah; regional dan internasional. Hubungan pusat daerah sedang dalam proses tarik menarik desentralisasi berbagai urusan. Hubungan daerah-daerah juga sedang menikmati eforia otonomi baru dan coba-coba dengan identitas daerah (ada yang mencari akar etnik, ada yang agama). Serta situasi regional Asean++, masuknya Indonesia ke G20, "kemesraan" China-USA. Semua ini tentu ada pengaruhnya. EKONOMI. Kenyataan bahwa banyak perusahaan besar di dalam negeri (termasuk perbankan, eksploitasi SDA, pelayanan publik) dimiliki sahamnya oleh asing dan diperjual belikan. Keharusan ekspor, ketergantungan pada impor. Lapangan kerja, angka kemiskinan. Pengaruhnya kepada kegiatan dan corak kehidupan kita tentu besar. SOSIAL. Angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Kesenjangan tingkat kesejahteraan antar kelompok, antar daerah. Pelayanan kesehatan dan pendidikan yang masih jauh dari harapan. BUDAYA. Sebetulnya aspek budaya yang selalu jadi tema "nasionalisme" (menjadi Indonesia). Karena kalau orang tua memberi pesan kepada generasi muda "kembali keakar budaya kita". Lah akar budaya kan berarti Jawa, Sunda, Minang dst. Tapi tak boleh kesukuan. Jadi yang mana? Sementara itu acara TV yang bisa dikatakan ekspresi budaya kan isinya "budaya barat dan pop ibukota". Itu yang ditonton di seluruh tanah air dari metropolitan sampai desa terpencil. Buat kita yang membesarkan anak di Jabodetabek dan kota besar lain, apalagi yang kawin antar suku, soal budaya ini ya "apa yang terjadi"lah. Apalagi budaya kaum marginal di kota besar (urbanisasi) lebih kompleks lagi. LINGKUNGAN. Konon kita hidup di "ring of fire", untaian pulau-pulau, dataran rendah dan pegunungan yang memang berisiko. Karena ekosistem, wilayah "perairan dalam" nyatanya yang lebih layak dijadikan sarana interaksi, karena "perairan luar" menghadapi ombak samudera yang besar, dan belakangan tzunami dan gempa bumi. Soal lingkungan juga soal sulitnya mengendalikan keserakahan orang telah banyak merusak lingkungan di hutan, gunung, dataran, laut dan kota. Perlu jadi agenda nasional yang urgen juga. TEKNOLOGI. Teknologi komunikasi seperti TV menyajikan harapan (janji) besar kepada orang desa terpencil sekalipun, akan indahnya, mewahnya hidup di kota. Orang desa jadi melihat lingkungan hidup, ekonomi, budaya sekitarnya begitu papa.Teknologi transportasi bagus di Jawa, tapi di Kalimantan, Papua, apalagi di kepulauan masih jauh dari harapan. Dan terakhir, menyangkut ANGGARAN. Adakah anggaran yang memadai bagi (utamanya pemerintah tentu) untuk melaksanakan suatu Grand Design apapun? Apakah masih ada keleluasaan memilih-milih model, orientasi, dst tanpa risiko kedodoroan? Tidak berlebihan kalau ada yang mengingatkan akan pentingnya fokus prioritas kepada "PENDIDIKAN, PANGAN, ENERGI' karena boleh jadi kedaulatan (nasionalisme) kita masa kini dan mendatang tergantung pada tiga hal itu. Faktor pengikat lainnya barangkali kesamaan nasib hidup di "ring of fire" yang berisiko ditambah risiko banjir yang terjadi dimana-mana karena gundulnya hutan (hampir semua kita menyukai kayu untuk bangunan). Budaya dan etika yang mendesak diterapkan barangkali ya "hemat energi, kurangi pemakaian kayu", sadar lingkungan, sadar kelangkaan, sadar anti korupsi (kirim bingkisan mungkin adalah contoh budaya korupsi paling nyata dalam budaya kita). Bagaimana pula sikap kita terhadap sumber energi nuklir? Serta kampanye kemandirian energi dengan teknologi tepat guna (appropriate). Salam, Risfan Munir
--- On Sun, 11/8/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: (7) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai To: [email protected] Date: Sunday, November 8, 2009, 12:00 PM Atau mungkin Ruth Benedict-nya Pak Risfan? Saya coba kutipkan dari "The Chrysanthemum and the Sword" (1946): "That all the differences between East and West, black and white, Christian and Mohammedan, are superficial and that all mankind is really like-minded. To demand such uniformity as a condition of respecting another nation is as neurotic as demanding it of one's wife or one's children. The goal ... was a world made safe for differences. If people in other societies differed from us, the cause was not their inferiority or their backwardness; rather, it was their adherence to a different way of life, oriented toward different values and embodied in different customs and institutions. If some people found it hard to measure up, it might result from of an unfortunate mismatch between their proclivities and the arbitrary standards of the society in which they happened to find themselves." --- In refere...@yahoogrou ps.com, "ffekadj" <4ek...@...> wrote: > > Geertzian? Kelihatannya Pak Aby sudah mulai menyandarkan sebagian > keyakinan ilmiahnya pada Geertz. > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, hengky abiyoso watashiaby@ wrote: > > > > Milisters ysh, > > Kemunculan negara-negara baru yang homogen di Eropa kerap dimotori > oleh state-seeking nationalism………suatu klaim dari perwakilan > politik yg tdk mendapat akses kontrol atas suatu > ’state’….lalu mengklaim otonomi politik….atau > bahkan memisahkan diri….atas dasar perbedaan identitas > budaya…….. > > Menurut Tilly, sebelum tahun 1800, rata-rata corak nasionalisme adalah > state-led, tetapi setelah tahun itu, state-seeking nationalism menjadi > motor dari revolusi di Eropa…….. > > Belajar pada kenyataan sejarah itu,  konon katanya seyogyanya > format nasionalisme kita harus memberi tempat kepada > kebaruan……dlm hal ini mendemokratisasikan hubungan pusat dan > daerah ….termasuk menurut Nezar Patria (jg pernah oleh Amien Rais) > “keberanian menguji bentuk federalisme�….tapi > disini saya kira Nezar (jg Amien) telah bermain api tak mau menghitung > bgmn resikonya kalau federalisasi di Indonesia nanti menjadi > balkanisasi spt Soviet dan Yugoslavia……lalu NKRI ini tercabik2 > menjadi bbrp negara yg terpisah2 (pdhal memang ada analisis > intelijen ttg skenario balkanisasi NKRI itu oleh > AS)…..….. > > Kedua, dengan munculnya kekerasan komunal yang dipicu oleh konflik > agama atau etnis di berbagai wilayah nusantara…..atau dlm derajat > lebih kualitatif adalah mengerasnya ethno-nationalism……maka > nasionalisme Indonesia harus dikembalikan menjadi ’proyek > bersama’ yg urgent………. > > Pemberian otonomi yang luas atau bahkan > ’self-government’ kepada wilayah bergolak adalah cara > untuk tetap membuat warga daerah tetap ambil bagian dari ’proyek > bersama’ Indonesia ……selain itu, arah pembangunan > ekonomi yang berkeadilan menjadi prioritas……krn federalisme > atau otonomi yang miskin, sama saja dengan perubahan yang > nihil………. > > Ketiga, nasionalisme baru Indonesia konon katanya harus pula  > mampu menghadapi kecenderungan global…….krn itu �civic > nationalism� atau nasionalisme kewargaan konon harus menjadi > agenda dari ’proyek bersama’……... > > Nasionalisme ini disebut ’civic’ karena dia adalah > antitesa dari nasionalisme berbasiskan etnik ……nasionalisme > yang ’civic’ mampu menempatkan segenap elemen bangsa > melampaui agama, ras dan suku sebagai komunitas setara, dan mendapatkan > hak-hak penuh ……dgn demikian nasionalisme ini secara inheren > berciri demokratik karena ia dibangun beralaskan prinsip kedaulatan > rakyat……… > > Nasionalisme yang ’civic’ juga menjadi semacam > �etik� dalam menjaga martabat bangsa …dimana > perilaku buruk seperti korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia adalah > cacat politik yg mempermalukan bangsa secara keseluruhan…….. > > Nasionalisme Indonesia menghadapi problem yang tak mudah dalam > mengawinkan ’nation-state’ sebagai sebuah institusi > politik solid ……nasionalisme adalah fenomena psikologis yang > membutuhkan perasaan keterlibatan, dan disposisi yang berbeda dengan > ’nation-state’ sebagai institusi ……rMealitas > sosial politik menunjukkan hadirnya ’sentimen > nasionalisme’ pada bangsa-bangsa yang tidak mempunyai > ’State’…… > > Krn itu kembali ke Indonesia sebagai ’proyek bersama’ > yang belum selesai……Suatu ’nation’ yang > melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, dan mencoba menyatukan > ’old nations’ yang ada di nusantara……krn itulah, > pengalaman �menjadi� bangsa adalah juga meningkatkan > kesadaran fenomena kesukuan agar lebih menasional dan > universal……... > > Lalu, bagaimana membuat ’State’ yang bisa mengakomodasi > variasi spektrum agama dan suku, dan bahkan menampung revivalisme > ’old nationalities’ di sejumlah daerah saat > ini…….. > > Mungkin ’civic nationalism’ yang dipraktekkan di Inggris > sejak pertengahan abad 18 bisa menjadi inspirasi……..bagaimana > Great Britain bisa berhasil menjadi satu > ’negara-bangsa’, yang sebenarnya terdiri dari empat > bangsa berbeda: Irish, Scots, Welsh dan English……… > > Salam, >

