Sorry, baru bisa tanggapi sekarang... minggu kemarin sangat padat.
2009/11/9 hengky abiyoso <[email protected]> > > > > >>>>: ..kala itu materi apa sih yg didapat Sukarno sbg kepala negara?.....rumah? mobil? uang? .......bahkan sampai ajalnyapun …kekayaan dan harta apa sih yg dimiliki Sukarno? ......anda terlampau menyederhanakan kesimpulan anda……... > +++ Kita bahas terpisah ya. Ada stream lain yg membahas nasionalisme, mungkin lebih cocok dibahas disana. Kalao boleh sedikit saja: Kalau sudah jadi presiden seumur hidup, tentu tidak perlu terlalu tergesa-gesa mengakumulasi materi. > > ++++: Mulut kotor urakan? coba introspeksi, siapa yg menggunakan kata '$H!T' di sini? > > >>>>: Utk tulisan Geerts itu dan utk konteks kesatuan bangsa dan negara Indonesia yg rawan konflik ini……sekali lagi saya membenarkan apa yg dikatakan pak Wawo : > > On Fri, Nov 6, 2009 at 03:51, Hannie Waworoentoe < > waworoentoehannie@ ... wrote: > Koko, I only have one word this is a lot of londo shit, untuk kita > di Indonesia it is a waste of time to read this all, saya kira malahan bisa sangat berbahaya Pak Wawo > > ++++ Jadi ternyata anda memang sangat selektif dan subjektif ya dalam menertibkan 'mulut kotor urakan' > Spt anda sendiri tlh awali posting anda dgn “…Memang bikin darah mendidih; tapi ini…..” menunjukkan bhw anda tahu itu adlh barang/ perkara yg sensitip…. Setidaknya pak Wawo dan pak Haji Ekadj pun jg tlh menunjukkan perasaan kurang berkenannya pd posting2 tgp beliau kpd anda…..pak Wawo mengumpat dgn londo shit…. Pak H.Ekadj menyebut Geerts dgn primata Geerts….. ++++ betul, memang bikin darah mendidih, tapi bukankah salah satu ciri kedewasaan adalah kemampuan mengelola emosi? > > Mungkin krn anda bukan Islam ataupun Kristen maka anda dgn ringan saja menyampaikan posting itu…. tanpa anda mau mempertimbangkan bgmn perasaan2 kaum Islam dan Kristen tak hanya di Indonesia.. namun bahkan yg dimilis kita ini…. Dan padahal sebuah luka baru saja sembuh…… > > >>>>: Dari ayah anda kpd anda mungkin ada gunanya….. tapi dari anda ke milis referensi dgn lbh 600 orang dari latar belakang amat beragam jelas hal yg berbeda …….selain tak guna ….ia rawan menyinggung perasaan….. > > >>>>: Ayah dan Ibu anda masing2 adalah orang2 sangat terpandang …walau tak kenal namun saya sangat respek kpd ayah anda….. Dari segi kekayaan materi mrk mungkin saja bukan termasuk deretan orang terkaya Indonesia ……tetapi dari segi intelektualitas kedua orangtua anda adalah orang2 kelas atas yg luar biasa ……kedua beliau pasti mengharapkan anda bersaudara dpt menjadi seperti kedua beliau…. > ++++ this is a low-blow. Anda berlebihan menginterogasi latar belakang saya yg personal, anda terlalu lancang mengekstrapolasi pemahaman anda mengenai latar belakang saya yg dangkal. Dan anda salah besar. Anda keliru; posting tersebut sudah sempat singgah ke banyak alamat email orang Indonesia sebelum masuk ke ayah saya lalu saya.. dan juga sudah saya teruskan ke banyak email lain lagi. Kalau anda memang merasa perlu tahu; ayah dan ibu saya memang mengajarkan saya agar tidak sembunyi dari masalah. Saya bisa saja mengganggap komentar si Geert Wilders ini tidak ada dan lari dari kenyataan, ini langkah paling mudah. Tapi saya memilih lain, dan ya.. pilihan saya menunjukkan bagaimana saya dididik di keluarga. saya pun tahu bagaimana distribusi orang Indonesia yg berbahasa Inggris. Minimal saya bisa approksimasi dari oplah surat kabar berbahasa Inggris. Jadi, saya sadar mengenai materi yg saya teruskan (fwd),... dan coba bandingkan dengan majalah Sabili misalnya. Masalah bangsa kita ini memang konkrit dan riil. Butuh solusi -pemecahan, yg tidak akan dicapai dengan bersembunyi.. atau malah menyembunyikan. Coba tengok bbrpa pranala berikut: http://www.thejakartapost.com/news/2009/11/10/berlin-wall-and-separatist-movement-ri.html http://www.thejakartapost.com/news/2009/09/26/comments-mobpressured-church-permit-revocation-sets-bad-precedent.html Kalau anda tahu betul latar belakang kedua orang tua saya, maka sangat mudah anda simpulkan bahwa ada bibit-2 non-konformis dalam diri saya. Expect just that. > Nasionalisme adalah sesuatu yg sakral….. utk kata itu ribuan jiwa telah melayang…. Ribuan orang telah masuk penjara, dibuang ditempat terpencil atau disiksa……… >Kata shit disandingkan dgn manusia spt Geerts tidaklah sama dgn kata nasionalisme disandingkan dgn kata2 ‘menghamili’ dan ‘mengaborsi’……. ++++ dalam tradisi keluarga besar ibu saya, yg saya ikuti (sekaligus untuk referensi bila anda merasa perlu tahu aliran apa yg saya ikuti), kehamilan adalah peristiwa yg sakral. Dalam tradisi Jawa, peristiwa kehamilan diawali dengan upacara (kawin), lalu ditengah-2 kehamilan ada upacara lagi, dan diakhir kehamilan ada lagi upacara. Jadi, kalau anda betul-betul paham mengenai latar belakang saya, anda akan tahu bahwa saya memang mengganggap nasionalisme sebagai suatu yg "harusnya" sakral. Namun yg dipraktekkan 'Bapak-bapak' yg 'membuahi' Nasionalisme, ternyata mengaborsinya sebelum sempat lahir. Itu pendapat saya mengenai apa yg saya pelajari dari sejarah. Anda perlu memperluas pemaknaan sastrawi. Dan, anda pun tidak perlu menganggap rendah saya megnenai minat saya membaca sejarah. Justru kehausan saya akan literatur sejarah tidak cukup dipuaskan dengan narasi PSPB yang sepertinya anda tulis ulang disini. Saya apresiasi upaya keras anda mengingatkan kita kembali mengenai 'sejarah as told by the victor' .. tapi bagi saya itu kurang dan dalam beberapa hal, cacat metodologis. Kita bahas sejarah periode 1940-1960 dalam thread terpisah. > > >>>>: posting anda spt telah anda awali dgn kata2 ““…Memang bikin darah mendidih; tapi ini…..”… yg ini anda tahu itu menunjukkan potensi menyinggung perasaan… dan bhw dinegeri kita itu dpt memicu konflik antar agama yg tak perlu ….itu menunjukkan bhw dlm kadar tertentu anda belum dewasa ….. kemudian ttg nasionalisme kita yg itu memiliki nilai sakral krn telah ribuan orang mati untuk dan karena itu….. dan karena ia belum kunjung beres maka negeri kit ajadi begini …..pengaitan nasionalisme dan kata2 ‘menghamili’ dan ‘mengaborsi’ adalah sikap kurang ajar atau bahkan maaf… nyaris a-nasionalis…. dan kenapa saya mengaitkan itu dgn latar blkg pendidikan dan keluarga…. Krn saya terkejut kenapa lingkungan yg sangat baik yg telah membesarkan anda namun jadinya begitu…… dimana-mana diseluruh dunia …bgmnpun nama keluarga sulit utk tak terkait dgn seseorang……. ++++ see above. Anda sepertinya tidak keberatan ketika ada 'Guru besar dari institusi pendidikan ternama' menuliskan kata kotor.. Malah anda membeo saja; anda tulis ulang kata kotor itu. Anda malah ber'lindung' dibalik punggung orang lain. namun ketika anda keliru memahami saya, anda merasa berkewajiban 'menertibkan' saya. Anda memang sangat selektif terhadap saya. tapi kalau memang anda yakin ada motif SARA dari saya, maka silahkan tempuh jalur hukum formal, saya siap. Sebagai orang dewasa, saya siap untuk menghadapi konseksuensi dari perbuatan saya, tapi saya menolak perilaku main tuduh dan main hakim sendiri terhadap saya, apalagi kalau subjektif. I assume full responsibility. Satu lagi yg saya pelajari dari ortu saya. Kalau anda mau mencap saya a-nasionalis, saya pun tidak keberatan, no need to apologize. Saya tidak mengakui otoritas anda untuk menilai apapun mengenai saya, kecuali validitas argumen saya dalam diskusi-2 ini. > > Masalah sosial 'sara' dan masalah keruangan memang amat sangat berkait...namun alangkah baiknya kalau anda dpt membahas pemecahannya... dan bukannya secara vulgar dan lepas menyodorkan masalah sara itu sendiri.. dan sekedar mengatakan "itu ada kaitannya dgn perencanaan ruang".....semua orang jg tahu itu...... Salam, ++++ really? Bagaimana cara memecahkan masalah dengan menyembunyikan masalah, atau meng-korting 'problem statement'nya. Saya sodorkan 'masalah' itu dengan niat supaya bisa dipelajari bersama. Mulai dari merumuskan problem statement, lalu masuk ke metodologi dan seterusnya.. Milis ini adalah ruang diskusi.. dan kita yg membawa suatu masalah kedalam milis ini tentunya berkeyakinan bahwa masalah tersebut membutuhkan suatu diskusi untuk pemecahannya. Dalam milis, dan ruang diskusi manapun, saya berkeyakinan bahwa masalah sosial dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya diskusi. Dan ciri diskusi yg sehat adalah fokus pada masalah secara objektif, bukan malah terobsesi dengan alam bawah sadar lawan-diskusi (discussant). Saya tentunya punya beberapa hipotesis mengenai alternatif pemecahan masalah ini., tapi itu kan hanya akan valid kalao perumusan problem statement saya juga benar dan utuh dari awal. Itu reserve saya; bahwa problem statement yg saya rumuskan belum tentu cukup lengkap. Oleh karena itu saya mohonkan pendapat dari milis. Simple sebenarnya. But, glad you asked.. akhirnya anda kembali fokus pada inti masalah dan tidak terlalu terobsesi ke latar belakang saya. (Btw, saya juga tahu apa yg anda tambahkan dalam kutipan email saya sebelumnya_). Beberapa petunjuk mengenai solusi ini adalah sbb: http://web.mit.edu/cis/jerusalem2050/supporters.html http://www.socsci.uci.edu/~cpb/OLIVE%20TREE%20INITIATIVE.html Kalau ditanya apa manfaatnya bagi Indonesia (sebelum terburu-buru mentasbihkan diri menjadi hakim); jawab saya; Orang bijak adalah orang yg mau belajar dari kesalahan orang pintar. Salam, -K- > aby > > --- On Sun, 11/8/09, Harya Setyaka <harya.sety...@.....> wrote: > > From: Harya Setyaka <harya.sety...@.....> > Subject: Re: [referensi] Fwd: Re.: Geert Wilders - Americas the last man standing > To: [email protected] > Date: Sunday, November 8, 2009, 11:07 PM > > > > Dalam bisnis bunuh-membunuh, apa bedanya Westerling dengan Soeharto, kecuali warna kulit? > Soeharto lantas mencetuskan Wawasan Nusantara, penataran P4, dlsb.. > > Salah satu yang dijanjikan Soekarno kepada Belanda tahun1949, agar kedudukannya sebagai Presiden tidak diganggu-gugat, adalah membayar kembali seluruh biaya perang (baca: biaya untuk membunuh orang Indonesia yg melawan Belanda) dalam bentuk hutang; yang diwariskan kepada generasi muda bangsa.. > Lalu Soekarno mengangkat diri menjadi Presiden seumur hidup, menggebuk penuntut-keadilan di Sumatera, dlsb.. > Apakah tangan Soekarno bebas darah rakyat Indonesia? > bagaimana dengan PRRI/Permesta, antara lain.. > > > Mulut kotor urakan? coba introspeksi, siapa yg menggunakan kata '$H!T' di sini? > > If you must know, orang Indonesia yg menyampaikan email awal ini kepada saya, yang anda anggap tidak ada gunanya dan '$H!T' adalah ayah saya. > Lagipula, apa istimewa nya kalau saya adalah anak ayah saya? Itu kan hanya keniscayaan biologi. > > Sebaiknya, sebagaimana suatu diskusi yg dewasa, tidak relevan mengungkit latar belakang, apalagi latar belakang pendidkan dan keluarga. Karena semua opini yg dituangkan disini adalah opini pribadi yang menjadi tanggung jawab pribadi secara dewasa dan tidak mewakili institusi apapun apalagi atas nama keluarga. > > Salam, > -K- > > > > > 2009/11/7 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> >> >> >> >> Haryasetyaka Dillon wrote: >> >> “….Proyek nasionalisme Indonesia yg belum selesai? Proyek siapa itu? Siapa yg memulai? >> Jadi ingat lagu dangdut.. >> Kau yg memulai, kau yg mengakhiri.. >> kau yg menghamili, kau yg mengaborsi ….’ >> >> >> >> Kalau mereka yg telah pada wafat demi dan karena Indonesia dan kemerdekaannya… ..baik karena ngelawan penjajah atau krn dibunuh (macam ribuan rakyat SulSel krn Westerling dsb) oleh penjajah, disiksa, diperas, ditekan, mati karena pengkhianatan bangsa sendiri dsb lalu mendapatkan anak muda Indonesia kini ngomong seperti itu ttg nasionalisme Indonesia….. saya pikir mereka akan mengatakan : “Astaghfirullah… . Anak muda Indonesia kok mulutnya kotor urakan seperti itu ya?.....padahal sekolahannya tinggi… mana dari sekolah terkemuka pula……padahal bapaknya amat santun sekali dan simpatik dan nampak amat nasionalis sekali lho……. >> >> Salam, >> >> --- On Fri, 11/6/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ ....> wrote: >> >> From: Harya Setyaka <harya.sety...@.....> >> Subject: Re: [referensi] Fwd: Re.: Geert Wilders - Americas the last man standing >> To: refere...@yahoogrou ps.com >> Date: Friday, November 6, 2009, 9:21 PM >> >> >> >> >> Memang gak ada yg istimewa kalao yg ngirim orang Indonesia, tapi artinya, kalaopun milist ini menganggap tidak ada gunanya orang Indonesia membaca ini; tokh buanyak orang Indonesia yg tergabung dalam milist lain sudah membacanya.. . >> >> Kecam, tanggap, kritik, memang disini tempatnya.. >> >> Lagipula, kalao sudah dewasa kan tahu apa yg perlu dibaca, apa yg tidak perlu dibaca.. >> apa yg perlu ditanggapi apa yg tidak perlu ditanggapi.. >> Mana yg ada gunanya, mana yg tidak ada gunanya.. >> >> >> Mengenai Chicago, sebelum berkesimpulan, coba teliti kembali sensus penduduk dari tahun ke tahun selama periode tsb.. Boleh saja beropini, tapi ya kalao bisa didukung oleh data empirik lah.. >> >> Planning untuk perdamaian? Coba cek yg satu ini: http://www.socsci. uci.edu/~ cpb/ScottBollens ResearchBio. htm >> >> Mau konsen pada topik tertentu, yo sumonggo kerso.. tidak ada yg melarang .. >> >> Proyek nasionalisme Indonesia yg belum selesai? Proyek siapa itu? Siapa yg memulai? >> Jadi ingat lagu dangdut.. >> Kau yg memulai, kau yg mengakhiri.. >> kau yg menghamili, kau yg mengaborsi .. >> >> salam, >> -K- >> >> >> >> >> >> On Fri, Nov 6, 2009 at 16:52, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: >>> >>> >>> >>> ++++: Oops.. semoga kita semua bisa membaca ini secara dewasa.. >>> saya juga dapat kiriman ini dari oarang Indonesia juga.. >>> >>>>: Benar bhw everyone boleh dan bebas utk ngirim posting apa saja…. Orng bebas utk mau baca atau gak…namun tentu postings tak bebas dari tgp, kritik bahkan kecaman…….Saya kira Prof. Wawo benar…. Itu shit yg gak guna utk kita….lagipula… .Memangnya apa istimewanya kalau yg ngirimi org Indonesia?.. .... >>> >>> > > ++++:Memang bikin darah mendidih; tapi ini fakta, bahwa ada saja politisi yg dipilih oleh rakyat berpandangan seperti ini. in fact, if any, Wilders punya konstituen; yang ingin diwakili dalam parlemen Belanda. > It is a challenge. > >>>>: Darah siapa yg mendidih?... ...diagama apa saja dimana saja….kalau ada komunitas dgn mayoritas agama tertentu…bukankah biasa kalau selalu ada saja sementara orangnya yg bodo kelewat radikal hingga lalu tak lagi mampu berpikir bijak dan luas?....... .. > > > > ++++: Menariknya, saya lihat ini sbagai bukan hal yg terlepas dari tantangan perencanaan kota. > > >>>>: Sbg bagian dari tantangan perenc. Kota itu memang betul…..aplg kita jg pernah mengalam kasus yg relevan spt Tobelo, Galela, Ambon, Morotai, Poso… tetapi saya kira utk kasus semacam itu sosiolog, antropolog, kaum rohaniwan dan budayawan masih akan lbh tepat berada didepan utk menjadi ujung tombak perencanaan more than spatial planner……selain spatial planning masih ada yg namanya perencanaan sosial…. perencanaan ekonomi dsb…dan kalau saja sampai muncul pertanyaan siapa harusnya ngikut siapa dan terpaksa harus ngejawab…… saya berpendapat perencanaan spatial seharusnya mengikuti perencanaan sosial dan ekonomi…..bukan sebaliknya……. > > > > ++++: Planning dirasakan perlu sejak migrasi massal dari Eropa ke USA; > dimana yg magnitude nya paling besar adalah di Chicago.. > Banyak pula intervensi yg dilakukan untuk 'menetralisir' migran dari > Irlandia di Boston.. dan seterusnya.. > >>>>: Akh sepertinya ini pernyataan2 lepas yg terlampau kelewat umum dan saling tak nyambung satu sama lain…… Planning (khususnya perencanaan kota dan kota satelit) sptnya muncul pertama kali di Inggris sbg dampak dari revolusi industri 1769….Inggris lbh dahulu urbanized more than USA….migrasi ke USA awalnya lbh banyak berupa migrasi pertanian dan pedesaan……bukan perkotaan…... chicago hanyalah magnitude terbesar utk North West….bukan seluruh USA….bhw USA adalah negara migran multi rasial….banyak kota besar dan wilayah di AS pernah mengalami huruhara rasialis……..Mengapa kok tdk konsen lbh pd masalah nasional kita saja yg banyak agendanya kedodoran tak tertangani dgn baik?.....apakah ini lagi2 dampak dari proyek ‘nasionalisme Indonesia’ yg blm selesai itu?...... > > Salam, > > --- On Fri, 11/6/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ .....> wrote: > > From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ .....> > Subject: Re: [referensi] Fwd: Re.: Geert Wilders - Americas the last man standing > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Friday, November 6, 2009, 6:38 AM > > > > > > > Oops.. semoga kita semua bisa membaca ini secara dewasa.. > saya juga dapat kiriman ini dari oarang Indonesia juga.. > > Memang bikin darah mendidih; tapi ini fakta, bahwa ada saja politisi yg dipilih oleh rakyat berpandangan seperti ini. in fact, if any, Wilders punya konstituen; yang ingin diwakili dalam > parlemen Belanda. > It is a challenge. > Menariknya, saya lihat ini sbagai bukan hal yg terlepas dari tantangan perencanaan kota. > Planning dirasakan perlu sejak migrasi massal dari Eropa ke USA; dimana yg magnitude nya paling besar adalah di Chicago.. > Banyak pula intervensi yg dilakukan untuk 'menetralisir' migran dari Irlandia di Boston.. > dan seterusnya.. > > Salam, > -K- > > > > > > >

