Pak Indra, Pak Ekadj, Pak Iman, Pak Aby dan Rekans ysh,

Melanjutkan apa yang tercerna dari seminar a.l. ialah soal "participation, 
engagement" yang asalnya dari pendekatan community development. Bagaimana kalau 
ini dierapkan pada level kota yang tentunya melibatkan perwakilan. Sejauh ini 
yang namanya 'perwakilan' baik yang formal maupun informal pada prakteknya kok 
masih jauh dari 'mewakili' masyarakat. Jadi pendekatan 'kualitatif' yang 
diangkat dari community development itu juga harus disesuaikan jika diterapkan 
pada level kota apalagi daerah.

Hal kedua, otonomi daerah terutama di tingkat kabupaten/kota, banyaknya daerah 
pemekaran, memberikan tantangan terhadap konsep 'national regional development 
planning' (perwilayah pembangunan, sistem kota-kota). Sekarang dana sudar di 
transfer dan kewenangan (kecuali 5 urusan) ada di daerah. Ini membutuhkan 
kemampuan daerah, terutama kabupaten/kota akan: visionary, leadership dan 
enterpreneurship dari pimpinannya; serta dynamic, creative dari seluruh 
jajarannya; dan collaborative, mau kerjasama antar unit, antar daerah. Inilah 
realitas politik saat ini yang mesti dipertimbangkan pula oleh perencana.

Ketiga, sesuai dengan tema seminar "Positioning of Planning in Global Crises", 
maka pertanyaannya: bagaimana kita menghadapinya? Sementara permasalahan dalam 
konteks nasional seperti di atas. Dalam konteks global ada tantangan climate 
change, yang dampaknya sudah dirasakan oleh kota-kota pantai kita Padahal 
sebagian besar kota besar kita  di dataran rendah. Dimana sirkulasi polusinya 
juga lebih rumit. Karena polusi yang 'dikirim' dari dataran tinggi mengalir dan 
berputar di kota muara.
Krisis ekonomi, keuangan telah mengurangi kapasitas dan mobilitas dana 
pembangunan. Andalan pada modal swasta dan pinjaman semi komersial tentunya 
membatasi pilihan lokasi/alokasi nya.

Dari segi perencanaan, mungkin juga diperlukan strategic planning yang bisa 
lebih antisipatif dan adaptif menghadapi dynamic changes dari konteksnya. Akan 
lebih banyak dibutuhkan pendekatan 'practical planning' yang lebih creative 
memberikan solusi atas perubahan cepat yang polanya berbeda pula.

Salam,
Risfan Munir






-----Original Message-----
From: Risfan Munir <[email protected]>
Sent: Monday, November 16, 2009 6:03 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [referensi] Re: Ole-ole Bandung

 
Pak Ekadj, Pak Indra dan rekans ysh,

Pada sesi saya (KM-PWK) dan Dr. Dewi Savitri (kuantitatif- kualitatif), Pak 
Wawo (dan Dwiagoes) yang di sesi itu berpesan agar dipertimbangkan 4 hal:
1. What is our Scope?
2. What is our Context?
3. How about the Structure?
4. What is our style?

Menanggapi Pak Eka dan Pak Indra, soalnya adalah skala. Seperti ekistik itu 
dari rumah, dukuh, desa, kota, metropolitan. Makin kecil relatif makin tepat 
menggunakan yang kualitatif, makin luas relatif makin tepat menggunakan yang 
kuantitatif. Dan tak pernah bisa 100 persen murni salah satunya.

Pak Hasan Poerbo, Pak Wawo adalah bagian dari sejarah pilihan dalam spektrum 
mikro-makro itu. Dulu Pak HP kan belajar ke USA untuk jurusan Planologi, tapi 
dia milih pulang ke Arsitek. Mungkin pertimbangan beliau, "skala dan approach" 
yang dipilihnya itu lebih kena dimainkan pada skala mana? Karena skala 
kebetulan beliau ada diantara skala ruang arsitek dan planologi.

Salam,
Risfan Munir









From: ffekadj <[email protected]>
Sent: Monday, November 16, 2009 12:57 AM
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Ole-ole Bandung

  
Pak Indra dan Pak Risfan ysh,
Saya ingin kita bisa mendalami sampai neighborhood dan household sesuai saran 
Pak Indra, malah sampai ke personhood (malah sekarang sudah ada yang membuka 
diskusi tentang ini ). Justru household sudah menjadi pilihan utama justru oleh 
ilmuwan senior, karena terbukti secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan 
keabsahannya secara ilmiah; seperti beberapa kasus yang terungkap di media 
belum lama ini menunjukkan peran 'pasangan' dalam konstruksi dan klarifikasi 
kasus nasional.
Hal yang saya tangkap adalah telah ada perkembangan postmodernisme saat ini 
yang dicirikan dari silih-bergantinya para perintis pengetahuan dan praktik di 
Indonesia, sehingga fenomena ini membentuk berbagai genre secara cepat Mungkin 
karena efek globalisasi, sehingga perlu kecermatan menangkap: 'everything 
everywhere, yet everywhere different'. Untuk teks modern perlu mempertimbangkan 
penggunaan 'chronotope', untuk identifikasi waktu-ruang, termasuk bagi 
perencana dalam menuangkannya dalam teks. Beberapa tips dalam hal ini: 
menghentikan momen ruang, momen waktu, dan momen perspektif/struktur untuk 
pemetaan realisme; dan selanjutnya penggunaan metode comparison menjadi 
mengemuka.  Tentunya hal ini hanya bisa dikembangkan dalam analisis kualitatif.
Penawaran 'knowledge management' Pak Risfan saya kira dilahirkan dari 
'methodological anxieties' yang saat ini melanda kaum akademisi dan birokrat, 
karena: ada batas keilmuan dan kebijakan PWK, terjadi pelemahan metode 
fieldwork, dan hilangnya sub-fokus. Hal ini secara ortogenesis dapat mengarah 
pada: munculnya arena interdisipliner, dan ekstrim pada pemunculan prodi baru 
(contoh: realestate) dan 'urusan' baru (contoh: pengendaliannya Pak Indra). 
Sehingga sebenarnya perlu koreksi dan evaluasi bagi kita bersama.
Dari pandangannya Pak Iman dan Pak Ferry, saya menawarkan kembali pemantapan 
pada 'planografi' dan 'planoaksi', sebagai kompetensi dasar, atau istilah Pak 
Risfan sebagai 'core'. Sehingga kita bisa lebih defensif dan sedikit 
akomodatif. Salam.
-ekadj

--- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Rekans ysh,
>
> Sekali lagi, apa yang saya sampaikan adalah sharing apa yang mampu saya cerna 
> dari puluhan pemrasaran yang menyajikan makalahnya, serta kesimpulan pada 
> akhir seminar.
>
> Tantangan dari context yang berubah memang dimensinya luas, karena 
> kota/daerah adalah sistem yang terbuka, multi dimensi, multi aktor. Dengan 
> proses desentralisasi dan demokratisasi maka simpul-simpul pengetahuanpun 
> kian tersebar. Kalau dulu semua dari Pusat, dari lembaga akademis saja, 
> sekarang knowledge yang diterapkan yang menghasilkan knowledge baru ada di 
> daerah, dalam birokrasi, pada LSM, pada komunitas dan masyarakat.
>
> Untuk itu diperlukan KNOWLEDGE MANAGEMENT dari disiplin Perencanaan Wilayah 
> dan Kota. KM yang terdiri dari proses2: knowledge capture, sharing dan 
> utilization. Dengan lancarnya proses ini dalam komunitas PWK (community of 
> interest) maka diharapkan akan terjadi snowballing effect atau proses 
> pengayaan knowledge (ilmu, pengalaman/ best-practices). Tak harus semua 
> menguasai semua knowledge, tapi masing-masing tahu siapa punya apa.
>
> KM-PWK ini nampak sebagai sesuatu yang besar dan rumit. Tapi sesungguhnya 
> potensinya sudah ada tinggal mengefektifkan networking dan kegiatan "capture 
> - share - utilize" yang berulang secara kontinyu.
>
> Inilah yang saya sampaikan dalam makalah saya, "Mengefektifkan KM-PWK dalam 
> Era Desentralisasi dan Demokratisasi".
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: indra budiman syamwil ibsyam...@...
> Sent: Sunday, November 15, 2009 1:06 PM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [referensi] Re: Ole-ole Bandung
>
>
> Rekan-rekan Referencier,
>  
> Kami dari Arsitektur bidang Perumahan dan Permukiman turut bersyukur bahwa 
> rekan-rekan planner telah memulai memikirkan development planning yang sangat 
> dibutuhkan ketimbang mekanisma kontrol yang terlalu mendominasi RTRW. 
> Mudah-mudahan diskursus ini
>  
> Prof. Hasan Poerbo dalam skala kecil di desa Cigaru telah memulai pendekatan 
> development planning ala konsultan pembangunan yang mencoba menggiatkan 
> masyarakat secara utuh, sosio-ekonomi dan kultural agar mempunyai semangat 
> hidup sehingga penghijauan di hulu Citanduy dapat dilakukan melalui daya 
> masyarakat. Dalam bidang pembangunan perumahan bagi low income pendekatan 
> holistik seperti ini diterapkan dalam tingkat keruangan yang kecil 
> (neighborhood), kita kehilangan kepranataan di tingkat ini untuk merespon 
> perubahan yang cepat. Peran RT, RW dan Kelurahan tidak jelas dalam 
> kepranataan pembangunan perkotaan kita, seingga neighborhood menjadi 
> compang-camping.
>  
> Di Jepang kepranataan ini digerakkan oleh cho, machi yang mereka sebut 'machi 
> zukuri', the making of the city, dari sinilah RT, RW di Indonesia itu berasal 
> tetapi diadopsi tidak secara lengkap
>  
> Konsep built environment secara utuh sebagai alternative development yang 
> merujuk kepada konsep 'ekistiks' Doxiadis tahun 1970an sebenarnya secara 
> konsisten dijalankan Pak Hasan Poerbo ketika kita sedang sibuk dengan growth 
> approach dalam pembangunan kita, sehingga ruang budidaya yang disebut 'living 
> space', permukiman lengkap sebagai ruang hidup menjadi termajinalkan Ruang 
> kota dan wilayah hiterlandnya terbagi-bagi menjadi zoning yang akhirnya 
> menjadi large trail of land tanpa konsep mix dengan living space seperti 
> kawasan industri Bekasi.
>  
> Tahun 1994 saya dan tim konsultan membuat Rencana Induk Kawasan Pertambangan 
> (South Sumatran basin Spatial Development) dengan harapan wilayah cebakan 
> batubara bukanlah sekedar zona penambangan melainkan wilayah yang 
> terintegrasi sebagai wilayah ruang hidup (living space) berbasis pembangunan 
> energi berikut seluruh mixed use yang saling mengambil manfaat keberadaan 
> satu sama lain (internal dan external economy of scale). Kami menamakannya 
> sebagai Spatial Development concept dengan pergiliran antara renewable dan 
> non renewable resources serta rencana infrastruktur yang dibangun agar dapat 
> digunakan terus sampai tambang berakhir. Demikian pula ketika bersama World 
> Bank menyusunkan konsep keruangan bagi 'Decentralized Sustainble Natural 
> Resources untuk Bangda saya menyelipkan konsep ruang hidup bersama yang 
> sustainable sebagai bagian dari Perencanaan Pembangunan Daerah.
>  
> Dan saya mengamti perubahan ini adalah puncak hasil diskursus yang cukup lama 
> di planologi. Mudah-mudahan dengan development planning concept sebagai 
> pemicu pembangunan perkotaan dapat memberikan peluang perumahan rakyat tidak 
> kehilangan tempatnya di perkotaan di Indonesia, sebagai bagian dari diskursus 
> perencanaan pembangunan secara utuh dengan ruang sebagai konsekuensinya.
>  
> Bravo dan
> Wassalam 
>  
> Indra Budiman Syamwil
>
>  
> > To: [email protected]
> > From: 4ek...@..
> > Date: Sun, 15 Nov 2009 01:56:03 +0000
> > Subject: [referensi] Re: Ole-ole Bandung
> >
> >
> > Pak Risfan dan rekan-rekan ysh.
> >
> > Walau belum sempat dapat tanda-tangan, barusan saya pelajari sekilas
> > buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati".
> > Sepertinya bapak sudah membabarkan sedikit demi sedikit di milis ini
> > beberapa jurus, dan mohon pak keberlanjutan pelajarannya.
> >
> > Saya hanya mengikuti ujung acara, dan tidak sempat mengikuti pergulatan
> > pemikiran yang berlangsung sebelumnya, dan kelihatannya cukup seru.
> > Namun sebenarnya sudah bisa saya perhitungkan temuan dan kesimpulannya
> > berdasarkan kertas karya dan penulisnya.
> >
> > Mungkin ini sedikit menyesak di dalam hati saya dari sedikit observasi
> > tadi malam pada beberapa rekan dosen, mahasiswa, dan alumni terkait
> > kesimpulan bapak; bahwa memang benar sudah ada pergeseran yang luar
> > biasa dalam sudut pandang esensi sains keruangan (istilah Pak Aby, yang
> > saya akui), walaupun ini diakui masih debatable di dalam kampus, dan
> > mengarah kepada seperti yang bapak simpulkan. Boleh dikatakan 'semua'
> > thesis dan disertasi sudah tidak lagi berbicara esensi ruang, dalam
> > batasan kongkrit; dan sebenarnya ini sungguh membuat saya takjub. Jadi
> > memang ada pergeseran 'qualitative mode' ala Waworoentoe, Watts, dkk
> > kepada 'quantitave mode' seperti yang berlangsung saat ini. Dengan kata
> > lain kalau boleh saya katakan, sudah tidak ada lagi 'saintis keruangan'
> > di dunia akademis. Bila sudah demikian, mungkin saya akan kembali ke
> > pertanyaan Pak Djarot tentang ontologi, epistemologi, dan 'aksiologi';
> > atau mungkin ini sekarang sudah bergeser ke UGM dll?
> >
> > Padahal dalam diskursus akademis yang hingga saat ini terus berkembang,
> > telah diakui bila 'ruang' adalah entitas kongkrit dan dijadikan dasar
> > dalam melihat berbagai kemungkinan perubahan. Tidak kurang Einstein
> > sendiri sudah memulai pendefinisian ruang, diikuti oleh ilmuwan-ilmuwan
> > besar lainnya seperti Bourdieu (habitus), Giddens, Bakhtin (chronotope),
> > Djoko Sujarto (dimensi fisik), hingga ATA. Dengan kata lain telah
> > tersedia 'alasan metodologis' untuk memulai ortogenesis.
> >
> > Bila demikian, maka sains keruangan akan menjadi pekerjaan 'the art of
> > government', yang tentu tidak berkompeten mengembangkan pendekatan
> > metodologis. Atau malah menjadi tugas Referensiers untuk memikirkannya
> > dalam 'the University of Referensi' ini. Alamak, mending kalau dapat
> > jatah 'otonomi pendidikan'.
> >
> > Saat ini sudah bergabung juga Pak Tatag, yang tadi malam mendiskusikan
> > 'ekonomi kerakyatan' kita dulu, dan bagaimana menancapkannya ke dunia
> > perdesaan; jadi memang masih mencari platform metodologis.
> >
> > Terlebih dari itu saya mengucapkan selamat dan sukses kepada
> > penyelenggara Plano50 yang telah berlangsung secara 'seronok' dan meriah
> > nian. Sementara demikian dulu. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], Risfan Munir risfano@ wrote:
> > >
> > > Rekans ysh,
> > >
> > > Banyak yang bisa diperoleh dari 2.5 hari di Plano-50 kemarin. Terutama
> > dari seminar internasional dan nasional. Saya tak bisa melaporkan
> > semuanya hanya yang cepat tercerna masuk ke pikiran saja.
> > >
> > > Yang jelas, dua pertanyaan yang sering telontar di "referensi" cukup
> > terjawab, yaitu:
> > > 1. Relasi Spatial and Development planning. Terutama akademisi Prof
> > Tommy Firman atau petinggi Max Pohan menegaskan dalam paparannya, bahwa
> > PWK pronsipnya adalah development planning, dan spatial adalah salah
> > satu manifestasinya, disamping aspek ekonomi, sosial, kelembagaan dan
> > aspek lainnya.
> > > 2. Soal keseimbangan pendekatan "kuantitatif vs kualitatif" - Dr. Dewi
> > Savitri dalam presentasinya menggambarkan peta tools yang diajarkan di
> > PWK-ITB saat ini, dimana tepat untuk menggunakan kuantitatif, dimana
> > kualitatif terkait dengan skala dan jenis rencana atau persoalan yang
> > mau ditangani.
> > >
> > > Hal lain yang relevan adalah terungkap pentingnya penguasaan
> > "communication tools" disamping "analytical tools" mengingat dalam era
> > demokratisasi saat ini diperlukan persuasi, meyakinkan, mengatasi
> > konflik, memahami persepsi dst dalam proses merencana ataupun
> > melaksanakan dan mengendalikannya.
> > >
> > > Saya sendiri menyampaikan makalah "Mengefektifkan Knowledge Management
> > PWK" yang di dalamnya saya angkat a.l. "referensi@" sebagai satu contoh
> > upaya knowledge sharing dan "community of practice". Alhamdulillah
> > sukses jadi satu kesimpulan atau agenda perhatian kedepan.
> > >
> > > Salam,
> > > Risfan Munir
> > > www.samuraisejati.blogspot.com

Kirim email ke