Uda Ekadj dan rekans ysh,

Soal buku terakhir saya yang Eka singgung yl, intinya adalah kiat-kiat supaya 
orang tetap fokus pada tujuan, di tengah banjirnya informasi yang datang tiap 
hari.
Tiap saat kita dihadapkan pada info yang mengandung framing/reframing, 
distorsi, pengalihan perhatian, generalisasi, insinuasi, provokasi dst, baik 
terkait kasus kecil seperti gosip perceraian artis hingga kasus "buaya vs 
cicak" atau "neolib vs kerakyatan" dan lainnya. Yang membuat psikologis dan 
pikiran publik tidak nyaman, kurang optimis, tidak fokus.

Semua tips itu saya rangkum dalam judul "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup 
ala SAMURAI SEJATI" (Gramedia). Dengan ilustrasi kisah dua samurai legendaris 
Miyamoto Musashi dan Hideyoshi Toyotomi.
Di dalamnya ada endorment a.l. Dari Pak Wawo, Pak ATA, Kusmayanto Kadiman, 
Jansen Sinamo, Zaim Uchrowi dll.

Kedua, soal personhood atau perwakilan tingkat daerah. Ya, saat Eka sudah 
bermain dengan antropologi bisa di tingkat individu. Tapi rencana kota/daerah 
umumnya kan di level kota/daerah. Bagaimana merencana kota dengan penduduk 100 
ribu jiwa ke atas dengan pendekatan partisipatif, kan harus bicara 
"stakeholder" dan perwakilan kelompok. Di level ini yang kritikal bagi 
perencana partisipatif memahami bagaimana agar stakeholder dalam proses 
perencanaan betul-betul merepresentasikan suara masyarakat yang diwakilinya.

Salam,
Risfan Munir





-----Original Message-----
From: ffekadj <[email protected]>
Sent: Wednesday, November 18, 2009 6:48 AM
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Ole-ole Bandung

 

 Pak Risfan dan rekan-rekan ysh.

 Maksud memberikan perhatian kepada pelaku yang lebih kecil sebenarnya
 karena telah diatur dalam undang-undang kedudukan berbagai level pelaku,
 mulai dari sebutan perorangan (personhood), korporasi, hingga
 masyarakat. Dengan kata lain secara hukum mereka merupakan subyek hukum,
 dan jelas posisi hukumnya. Namun untuk perwakilan, kurang jelas aspek
 liability-nya, walau secara pranata sosial diakui, namun dalam penegakan
 hukum kurang jelas posisinya. Mungkin bisa efektif dalam tahap awal
 yaitu membangun kesepakatan bersama dan engagement itu. Kita telah
 menemukan banyak kasus bahwa kenyataannya perilaku menyimpang justru
 terjadi pada level household.

 Saya kira ini yang mendasari banyak pendekatan dilakukan dengan metoda
 inkubasi, seperti dilakukan Pak HP dll, dengan kata lain pembenahan pada
 level household dan beberapa household diharapkan dapat memberikan efek
 penularan yang signifikan. Namun covering pada kawasan yang lebih luas
 dapat terkesan 'pemaksaan', dan terlebih lagi tidak tahu bagaimana hukum
 (dan budaya) harus ditegakkan.

 Mungkin sementara demikian dulu pak, untuk mengharapkan pemikiran lebih
 lanjut. Salam.

 -ekadj

 --- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
 >
 > Pak Indra, Pak Ekadj, Pak Iman, Pak Aby dan Rekans ysh,
 >
 > Melanjutkan apa yang tercerna dari seminar a.l. ialah soal
 "participation, engagement" yang asalnya dari pendekatan community
 development. Bagaimana kalau ini dierapkan pada level kota yang tentunya
 melibatkan perwakilan. Sejauh ini yang namanya 'perwakilan' baik yang
 formal maupun informal pada prakteknya kok masih jauh dari 'mewakili'
 masyarakat. Jadi pendekatan 'kualitatif' yang diangkat dari community
 development itu juga harus disesuaikan jika diterapkan pada level kota
 apalagi daerah.
 >
 > Hal kedua, otonomi daerah terutama di tingkat kabupaten/kota,
 banyaknya daerah pemekaran, memberikan tantangan terhadap konsep
 'national regional development planning' (perwilayah pembangunan, sistem
 kota-kota). Sekarang dana sudar di transfer dan kewenangan (kecuali 5
 urusan) ada di daerah. Ini membutuhkan kemampuan daerah, terutama
 kabupaten/kota akan: visionary, leadership dan enterpreneurship dari
 pimpinannya; serta dynamic, creative dari seluruh jajarannya; dan
 collaborative, mau kerjasama antar unit, antar daerah. Inilah realitas
 politik saat ini yang mesti dipertimbangkan pula oleh perencana.
 >
 > Ketiga, sesuai dengan tema seminar "Positioning of Planning in Global
 Crises", maka pertanyaannya: bagaimana kita menghadapinya? Sementara
 permasalahan dalam konteks nasional seperti di atas. Dalam konteks
 global ada tantangan climate change, yang dampaknya sudah dirasakan oleh
 kota-kota pantai kita Padahal sebagian besar kota besar kita di dataran
 rendah. Dimana sirkulasi polusinya juga lebih rumit. Karena polusi yang
 'dikirim' dari dataran tinggi mengalir dan berputar di kota muara.
 > Krisis ekonomi, keuangan telah mengurangi kapasitas dan mobilitas dana
 pembangunan. Andalan pada modal swasta dan pinjaman semi komersial
 tentunya membatasi pilihan lokasi/alokasi nya.
 >
 > Dari segi perencanaan, mungkin juga diperlukan strategic planning yang
 bisa lebih antisipatif dan adaptif menghadapi dynamic changes dari
 konteksnya. Akan lebih banyak dibutuhkan pendekatan 'practical planning'
 yang lebih creative memberikan solusi atas perubahan cepat yang polanya
 berbeda pula.
 >
 > Salam,
 > Risfan Munir
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 > -----Original Message-----
 > From: Risfan Munir risf...@...
 > Sent: Monday, November 16, 2009 6:03 AM
 > To: [email protected]
 > Subject: RE: [referensi] Re: Ole-ole Bandung
 >
 >
 > Pak Ekadj, Pak Indra dan rekans ysh,
 >
 > Pada sesi saya (KM-PWK) dan Dr. Dewi Savitri (kuantitatif-
 kualitatif), Pak Wawo (dan Dwiagoes) yang di sesi itu berpesan agar
 dipertimbangkan 4 hal:
 > 1. What is our Scope?
 > 2. What is our Context?
 > 3. How about the Structure?
 > 4. What is our style?
 >
 > Menanggapi Pak Eka dan Pak Indra, soalnya adalah skala. Seperti
 ekistik itu dari rumah, dukuh, desa, kota, metropolitan. Makin kecil
 relatif makin tepat menggunakan yang kualitatif, makin luas relatif
 makin tepat menggunakan yang kuantitatif. Dan tak pernah bisa 100 persen
 murni salah satunya.
 >
 > Pak Hasan Poerbo, Pak Wawo adalah bagian dari sejarah pilihan dalam
 spektrum mikro-makro itu. Dulu Pak HP kan belajar ke USA untuk jurusan
 Planologi, tapi dia milih pulang ke Arsitek. Mungkin pertimbangan
 beliau, "skala dan approach" yang dipilihnya itu lebih kena dimainkan
 pada skala mana? Karena skala kebetulan beliau ada diantara skala ruang
 arsitek dan planologi.
 >
 > Salam,
 > Risfan Munir
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 >
 > From: ffekadj 4ek...@...
 > Sent: Monday, November 16, 2009 12:57 AM
 > To: [email protected]
 > Subject: [referensi] Re: Ole-ole Bandung
 >
 >
 > Pak Indra dan Pak Risfan ysh,
 > Saya ingin kita bisa mendalami sampai neighborhood dan household
 sesuai saran Pak Indra, malah sampai ke personhood (malah sekarang sudah
 ada yang membuka diskusi tentang ini ). Justru household sudah menjadi
 pilihan utama justru oleh ilmuwan senior, karena terbukti secara
 metodologis dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya secara ilmiah;
 seperti beberapa kasus yang terungkap di media belum lama ini
 menunjukkan peran 'pasangan' dalam konstruksi dan klarifikasi kasus
 nasional.
 > Hal yang saya tangkap adalah telah ada perkembangan postmodernisme
 saat ini yang dicirikan dari silih-bergantinya para perintis pengetahuan
 dan praktik di Indonesia, sehingga fenomena ini membentuk berbagai genre
 secara cepat Mungkin karena efek globalisasi, sehingga perlu kecermatan
 menangkap: 'everything everywhere, yet everywhere different'. Untuk teks
 modern perlu mempertimbangkan penggunaan 'chronotope', untuk
 identifikasi waktu-ruang, termasuk bagi perencana dalam menuangkannya
 dalam teks. Beberapa tips dalam hal ini: menghentikan momen ruang, momen
 waktu, dan momen perspektif/struktur untuk pemetaan realisme; dan
 selanjutnya penggunaan metode comparison menjadi mengemuka. Tentunya
 hal ini hanya bisa dikembangkan dalam analisis kualitatif.
 > Penawaran 'knowledge management' Pak Risfan saya kira dilahirkan dari
 'methodological anxieties' yang saat ini melanda kaum akademisi dan
 birokrat, karena: ada batas keilmuan dan kebijakan PWK, terjadi
 pelemahan metode fieldwork, dan hilangnya sub-fokus. Hal ini secara
 ortogenesis dapat mengarah pada: munculnya arena interdisipliner, dan
 ekstrim pada pemunculan prodi baru (contoh: realestate) dan 'urusan'
 baru (contoh: pengendaliannya Pak Indra). Sehingga sebenarnya perlu
 koreksi dan evaluasi bagi kita bersama.
 > Dari pandangannya Pak Iman dan Pak Ferry, saya menawarkan kembali
 pemantapan pada 'planografi' dan 'planoaksi', sebagai kompetensi dasar,
 atau istilah Pak Risfan sebagai 'core'. Sehingga kita bisa lebih
 defensif dan sedikit akomodatif. Salam.
 > -ekadj
 >
 > --- In [email protected], Risfan Munir risfano@ wrote:
 > >
 > > Rekans ysh,
 > >
 > > Sekali lagi, apa yang saya sampaikan adalah sharing apa yang mampu
 saya cerna dari puluhan pemrasaran yang menyajikan makalahnya, serta
 kesimpulan pada akhir seminar.
 > >
 > > Tantangan dari context yang berubah memang dimensinya luas, karena
 kota/daerah adalah sistem yang terbuka, multi dimensi, multi aktor.
 Dengan proses desentralisasi dan demokratisasi maka simpul-simpul
 pengetahuanpun kian tersebar. Kalau dulu semua dari Pusat, dari lembaga
 akademis saja, sekarang knowledge yang diterapkan yang menghasilkan
 knowledge baru ada di daerah, dalam birokrasi, pada LSM, pada komunitas
 dan masyarakat.
 > >
 > > Untuk itu diperlukan KNOWLEDGE MANAGEMENT dari disiplin Perencanaan
 Wilayah dan Kota. KM yang terdiri dari proses2: knowledge capture,
 sharing dan utilization. Dengan lancarnya proses ini dalam komunitas PWK
 (community of interest) maka diharapkan akan terjadi snowballing effect
 atau proses pengayaan knowledge (ilmu, pengalaman/ best-practices). Tak
 harus semua menguasai semua knowledge, tapi masing-masing tahu siapa
 punya apa.
 > >
 > > KM-PWK ini nampak sebagai sesuatu yang besar dan rumit. Tapi
 sesungguhnya potensinya sudah ada tinggal mengefektifkan networking dan
 kegiatan "capture - share - utilize" yang berulang secara kontinyu.
 > >
 > > Inilah yang saya sampaikan dalam makalah saya, "Mengefektifkan
 KM-PWK dalam Era Desentralisasi dan Demokratisasi".
 > >
 > > Salam,
 > > Risfan Munir
 > >
 > >
 > >
 > >
 > > -----Original Message-----
 > > From: indra budiman syamwil ibsyamwil@
 > > Sent: Sunday, November 15, 2009 1:06 PM
 > > To: [email protected]
 > > Subject: RE: [referensi] Re: Ole-ole Bandung
 > >
 > >
 > > Rekan-rekan Referencier,
 > >
 > > Kami dari Arsitektur bidang Perumahan dan Permukiman turut bersyukur
 bahwa rekan-rekan planner telah memulai memikirkan development planning
 yang sangat dibutuhkan ketimbang mekanisma kontrol yang terlalu
 mendominasi RTRW. Mudah-mudahan diskursus ini
 > >
 > > Prof. Hasan Poerbo dalam skala kecil di desa Cigaru telah memulai
 pendekatan development planning ala konsultan pembangunan yang mencoba
 menggiatkan masyarakat secara utuh, sosio-ekonomi dan kultural agar
 mempunyai semangat hidup sehingga penghijauan di hulu Citanduy dapat
 dilakukan melalui daya masyarakat. Dalam bidang pembangunan perumahan
 bagi low income pendekatan holistik seperti ini diterapkan dalam tingkat
 keruangan yang kecil (neighborhood), kita kehilangan kepranataan di
 tingkat ini untuk merespon perubahan yang cepat. Peran RT, RW dan
 Kelurahan tidak jelas dalam kepranataan pembangunan perkotaan kita,
 seingga neighborhood menjadi compang-camping.
 > >
 > > Di Jepang kepranataan ini digerakkan oleh cho, machi yang mereka
 sebut 'machi zukuri', the making of the city, dari sinilah RT, RW di
 Indonesia itu berasal tetapi diadopsi tidak secara lengkap
 > >
 > > Konsep built environment secara utuh sebagai alternative development
 yang merujuk kepada konsep 'ekistiks' Doxiadis tahun 1970an sebenarnya
 secara konsisten dijalankan Pak Hasan Poerbo ketika kita sedang sibuk
 dengan growth approach dalam pembangunan kita, sehingga ruang budidaya
 yang disebut 'living space', permukiman lengkap sebagai ruang hidup
 menjadi termajinalkan Ruang kota dan wilayah hiterlandnya terbagi-bagi
 menjadi zoning yang akhirnya menjadi large trail of land tanpa konsep
 mix dengan living space seperti kawasan industri Bekasi.
 > >
 > > Tahun 1994 saya dan tim konsultan membuat Rencana Induk Kawasan
 Pertambangan (South Sumatran basin Spatial Development) dengan harapan
 wilayah cebakan batubara bukanlah sekedar zona penambangan melainkan
 wilayah yang terintegrasi sebagai wilayah ruang hidup (living space)
 berbasis pembangunan energi berikut seluruh mixed use yang saling
 mengambil manfaat keberadaan satu sama lain (internal dan external
 economy of scale). Kami menamakannya sebagai Spatial Development concept
 dengan pergiliran antara renewable dan non renewable resources serta
 rencana infrastruktur yang dibangun agar dapat digunakan terus sampai
 tambang berakhir. Demikian pula ketika bersama World Bank menyusunkan
 konsep keruangan bagi 'Decentralized Sustainble Natural Resources untuk
 Bangda saya menyelipkan konsep ruang hidup bersama yang sustainable
 sebagai bagian dari Perencanaan Pembangunan Daerah.
 > >
 > > Dan saya mengamti perubahan ini adalah puncak hasil diskursus yang
 cukup lama di planologi. Mudah-mudahan dengan development planning
 concept sebagai pemicu pembangunan perkotaan dapat memberikan peluang
 perumahan rakyat tidak kehilangan tempatnya di perkotaan di Indonesia,
 sebagai bagian dari diskursus perencanaan pembangunan secara utuh dengan
 ruang sebagai konsekuensinya.
 > >
 > > Bravo dan
 > > Wassalam
 > >
 > > Indra Budiman Syamwil
 > >
 > >
 > > > To: [email protected]
 > > > From: 4ekadj@
 > > > Date: Sun, 15 Nov 2009 01:56:03 +0000
 > > > Subject: [referensi] Re: Ole-ole Bandung
 > > >
 > > >
 > > > Pak Risfan dan rekan-rekan ysh.
 > > >
 > > > Walau belum sempat dapat tanda-tangan, barusan saya pelajari
 sekilas
 > > > buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati".
 > > > Sepertinya bapak sudah membabarkan sedikit demi sedikit di milis
 ini
 > > > beberapa jurus, dan mohon pak keberlanjutan pelajarannya.
 > > >
 > > > Saya hanya mengikuti ujung acara, dan tidak sempat mengikuti
 pergulatan
 > > > pemikiran yang berlangsung sebelumnya, dan kelihatannya cukup
 seru.
 > > > Namun sebenarnya sudah bisa saya perhitungkan temuan dan
 kesimpulannya
 > > > berdasarkan kertas karya dan penulisnya.
 > > >
 > > > Mungkin ini sedikit menyesak di dalam hati saya dari sedikit
 observasi
 > > > tadi malam pada beberapa rekan dosen, mahasiswa, dan alumni
 terkait
 > > > kesimpulan bapak; bahwa memang benar sudah ada pergeseran yang
 luar
 > > > biasa dalam sudut pandang esensi sains keruangan (istilah Pak Aby,
 yang
 > > > saya akui), walaupun ini diakui masih debatable di dalam kampus,
 dan
 > > > mengarah kepada seperti yang bapak simpulkan. Boleh dikatakan
 'semua'
 > > > thesis dan disertasi sudah tidak lagi berbicara esensi ruang,
 dalam
 > > > batasan kongkrit; dan sebenarnya ini sungguh membuat saya takjub.
 Jadi
 > > > memang ada pergeseran 'qualitative mode' ala Waworoentoe, Watts,
 dkk
 > > > kepada 'quantitave mode' seperti yang berlangsung saat ini. Dengan
 kata
 > > > lain kalau boleh saya katakan, sudah tidak ada lagi 'saintis
 keruangan'
 > > > di dunia akademis. Bila sudah demikian, mungkin saya akan kembali
 ke
 > > > pertanyaan Pak Djarot tentang ontologi, epistemologi, dan
 'aksiologi';
 > > > atau mungkin ini sekarang sudah bergeser ke UGM dll?
 > > >
 > > > Padahal dalam diskursus akademis yang hingga saat ini terus
 berkembang,
 > > > telah diakui bila 'ruang' adalah entitas kongkrit dan dijadikan
 dasar
 > > > dalam melihat berbagai kemungkinan perubahan. Tidak kurang
 Einstein
 > > > sendiri sudah memulai pendefinisian ruang, diikuti oleh
 ilmuwan-ilmuwan
 > > > besar lainnya seperti Bourdieu (habitus), Giddens, Bakhtin
 (chronotope),
 > > > Djoko Sujarto (dimensi fisik), hingga ATA. Dengan kata lain telah
 > > > tersedia 'alasan metodologis' untuk memulai ortogenesis.
 > > >
 > > > Bila demikian, maka sains keruangan akan menjadi pekerjaan 'the
 art of
 > > > government', yang tentu tidak berkompeten mengembangkan pendekatan
 > > > metodologis. Atau malah menjadi tugas Referensiers untuk
 memikirkannya
 > > > dalam 'the University of Referensi' ini. Alamak, mending kalau
 dapat
 > > > jatah 'otonomi pendidikan'.
 > > >
 > > > Saat ini sudah bergabung juga Pak Tatag, yang tadi malam
 mendiskusikan
 > > > 'ekonomi kerakyatan' kita dulu, dan bagaimana menancapkannya ke
 dunia
 > > > perdesaan; jadi memang masih mencari platform metodologis.
 > > >
 > > > Terlebih dari itu saya mengucapkan selamat dan sukses kepada
 > > > penyelenggara Plano50 yang telah berlangsung secara 'seronok' dan
 meriah
 > > > nian. Sementara demikian dulu. Salam.
 > > >
 > > > -ekadj
 > > >
 > > >
 > > >
 > > > --- In [email protected], Risfan Munir risfano@ wrote:
 > > > >
 > > > > Rekans ysh,
 > > > >
 > > > > Banyak yang bisa diperoleh dari 2.5 hari di Plano-50 kemarin.
 Terutama
 > > > dari seminar internasional dan nasional. Saya tak bisa melaporkan
 > > > semuanya hanya yang cepat tercerna masuk ke pikiran saja.
 > > > >
 > > > > Yang jelas, dua pertanyaan yang sering telontar di "referensi"
 cukup
 > > > terjawab, yaitu:
 > > > > 1. Relasi Spatial and Development planning. Terutama akademisi
 Prof
 > > > Tommy Firman atau petinggi Max Pohan menegaskan dalam paparannya,
 bahwa
 > > > PWK pronsipnya adalah development planning, dan spatial adalah
 salah
 > > > satu manifestasinya, disamping aspek ekonomi, sosial, kelembagaan
 dan
 > > > aspek lainnya.
 > > > > 2. Soal keseimbangan pendekatan "kuantitatif vs kualitatif" -
 Dr. Dewi
 > > > Savitri dalam presentasinya menggambarkan peta tools yang
 diajarkan di
 > > > PWK-ITB saat ini, dimana tepat untuk menggunakan kuantitatif,
 dimana
 > > > kualitatif terkait dengan skala dan jenis rencana atau persoalan
 yang
 > > > mau ditangani.
 > > > >
 > > > > Hal lain yang relevan adalah terungkap pentingnya penguasaan
 > > > "communication tools" disamping "analytical tools" mengingat dalam
 era
 > > > demokratisasi saat ini diperlukan persuasi, meyakinkan, mengatasi
 > > > konflik, memahami persepsi dst dalam proses merencana ataupun
 > > > melaksanakan dan mengendalikannya.
 > > > >
 > > > > Saya sendiri menyampaikan makalah "Mengefektifkan Knowledge
 Management
 > > > PWK" yang di dalamnya saya angkat a.l. "referensi@" sebagai satu
 contoh
 > > > upaya knowledge sharing dan "community of practice". Alhamdulillah
 > > > sukses jadi satu kesimpulan atau agenda perhatian kedepan.
 > > > >
 > > > > Salam,
 > > > > Risfan Munir
 > > > > www.samuraisejati.blogspot.com
 >

Kirim email ke