Pak Eko yang saya banggakan, saya tertarik dengan ungkapan ini: "... 
perlu perubahan thd society tsb utk bisa meniru ruang dari society yg
lain... sebaliknya sebuah pembangunan ruang yg baru belum tentu cocok
utk sebuah society..."

Mohon perkenan bapak untuk memberikan pencerahan. Saya sungguh
ketinggalan. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Risfan dan rekan2 ysh.,
> Melanjutkan diskusi ttg perlunya secara kritis melihat kasus Curitiba
dan contoh2 pembangunan kota/wilayah di negara2 lain, Â kebetulan
hari Jumat kemarin salah satu rekan di lab saya mempresentasikan
progress disertasi dia: "Production of residential space in the
cross-border metropolis Luxembourg" (La production de l'espace
résidentiel dans la métropole transfrontalière
luxembourgeoise)... Â sekilas kita akan berpikir apa susahnya melihat
pola ruang residensial di Luxemburg? what's so important about it
anyway?Â
> Tapi ternyata lebih menarik dari yg saya semula bayangkan, karena dia
mampu menunjukan bahwa ruang residential yg diproduksi di Luxemburg
sangat terkait dgn kondisi society Luxemburg yg juga dihuni oleh banyak
warga Perancis, Belgia, Jerman, selain Lux sendiri terkait dgn posisi
Lux diantara negara2 tsb dan bagaimana preference utk tinggal di suatu
tempat, apakah di Lux atau ke tiga negara lainnya terkait dgn regulasi
masing2 negara, jarak, fasilitas, kultur, dsb... singkat kata, sebuah
society memproduksi ruang residensialnya sendiri...
> Presentasi tsb mengingatkan saya akan term production of space yg
diajukan oleh Henri Lefabvre tahun 1974...secara singkat, Lefebvre
berpendapat bahwa sebuah society memproduksi ruangnya sendiri... karena
itu kita tidak dgn serta merta mampu meniru space yg diproduksi oleh
society lain, perlu perubahan thd society tsb utk bisa meniru ruang dari
society yg lain... sebaliknya sebuah pembangunan ruang yg baru belum
tentu cocok utk sebuah society...Tentu saja kita juga perlu kritikal thd
apa yg disampaikan oleh Lefebvre, tetapi kelihatannya kita juga bisa
melihat kebenaran yg terkandung di dalamnya...
> Posisi saya dlm Curitiba dan best practices lainnya, tentu kita perlu
belajar dari cerita2 sukses negara2 lain, bukankah cara belajar selalu
diawali dgn meniru/mencontoh? Tetapi kita juga perlu kritikal thd kasus2
tsb. karena yg perlu kita temukan adalah bagaimana memproduksi ruang yg
cocok bagi society kita dan sebaliknya...
> salam,
> Eko.
>
>
>
>
> --- On Mon, 11/30/09, Eko B K ekobu...@... wrote:
>
> From: Eko B K ekobu...@...
> Subject: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal
Kita Disini
> To: [email protected]
> Date: Monday, November 30, 2009, 11:27 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Risfan ysh.,
> saya kira kita tidak mungkin mencontoh kasus lain tanpa membuat
perbandingan dgn kondisi sendiri pak... perbandingan adanya perbedaan
kultur, kondisi geografik, ekonomi, dll dgn kota/wilayah yg akan
dicontoh... prinsipnya kita kenali kelemahan dan kekuatan diri sendiri
dulu baru kemudian kita lihat kelemahan dan kekuatan orang lain agar
kita bisa belajar dr mereka... best practices yg ditelan bulat2 dan
mentah2 hanya menghasilkan rencana2 yg tidak dapat diaplikasikan karena
situasi yg ada berbeda.. dan ini sudah banyak terjadi bukan? bahkan
kadang memakan korban jiwa... kasus pembangunan kanal2 di batavia utk
mencontoh kota2 belanda dgn tujuan nostalgia kampung asal ternyata
menimbulkan korban jiwa akibat kanal2 yg menjadi sarang nyamuk
malaria...
> dlm konteks Curitiba saya tidak melihat bahwa kita
> tidak perlu belajar, saya hanya menggarisbawahi perlunya kita kenali
perbedaan2 antara kota2 kita dgn Curitiba, dan ini mau tidak mau adalah
proses pembandingan. Agar kita bisa menarik manfaat yg sebesar2nya tanpa
mencontoh membabi buta...soal walikota misalkan, tentunya perlu
dipelajari apakah walikota2 kita memiliki kewenangan yg sama dgn
walikota Curitiba? budget yg proporsional? kultur masyarakat? tingkat
edukasi masyarakat? tingkat kesejahteraan masyarakatnya? dgn mengetahui
perbedaan tentunya kita jadi tahu apa yg harus dilakukan... wise men say
"seringkali inti permasalahan bukan apa yg tampak di permukaan".. .
karenanya kita perlu perdalam apa yg tidak nampak di permukaan tsb...
ini hemat saya, bukan judgement...
>
> saya tidak melihat relevansi bahwa boyolali belajar dari wonogiri atau
sebaliknya.. . tapi silakan saja kalau boyolali hendak belajar dari
wonogiri atau sebaliknya, tapi tentu perlu diperdalam pengetahuan akan
> kondisi spesifik masing2...
>
> salam.
>
>
>
> --- On Mon, 11/30/09, Risfan M risf...@yahoo. com> wrote:
>
> From: Risfan M risf...@yahoo. com>
> Subject: RE: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi
Sebal Kita Disini
> To: "ekobu...@yahoo. com" ekobu...@yahoo. com>
> Cc: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com>
> Date: Monday, November 30, 2009, 10:59 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Â
>
>
>
>
>
>
> Apa kita membandingkan? Kayaknya Bu Francisca hanya memberi contoh.
Dari dulu kita belajar Medival cities, Chandigar, North American Cities,
semua juga melihat kota2 Eropa.
>
> Yang penting apa yang kita pelajari. What&#39;s the point. kan
Francisca juga menggaris bawahi peran Walikota. Kita bisa cari unsur
lainnya sbg &quot;key success factors&quot; nya. Itu yang kita ambil
pelajaran.
>
>
>
> Kalau kita cari bedanya, ya selalu ada beda besarnya. Wonogiri dan
Boyolali saja banyak bedanya. Apalagi kalau global dilihat benuanya, ya
nggak ada yang sama.
>
>
>
> Saya tidak melihat Curitibanya saja. Tapi pendekatan BEST PRACTICE dan
REPLICATION ini perlu kita pelajari metodenya. Karena di era otonomi
daerah ini Panduan dari pusat ala &quot;fit for all&quot; sudah sulit
diterapkan, jadi kalau ada inovasi bagaimana bisa di sebar, supaya bisa
jadi sumber inspirasi.
>
> Cari key success factornya, cari common factors, apa beda konteksnya.
Sejauh mana bisa diadopsi/replikasi.
>
> Intinya, jangan terlalu pagi di-judge &quot;oh negara kita
beda...&quot; Ya kapan belajarnya.
>
>
>
> Mudah2an kita bisa diskusi tentang BEST PRACTICE & REPLICATION ini,
karena di era otonomi kita perlu mendorong inovasi dan sharing
pengalaman.
>
>
>
> Salam,
>
> Risfan Munir
>
>
>
> Eko B K wrote:
>
> > Â
>
> > Pak Aby, Pak Risfan, Mbak Franciska, dan rekan2 ysh., Dalam hal ini
saya sepakat dengan Pak Aby... Tentu kita senang belajar dr contoh yg
baik, tetapi membandingkan antara 2 kota atau wilayah perlulah sedikit
lebih bijak sehingga solusi thd masalah bisa tepat dan otokritik juga
bisa lebih proporsional. .. Dlm konteks Curitiba, saya kira kita perlu
juga melihat dr sisi perekonomian negara tsb., budaya, dst... Brazil
memang bukan negara kaya, tetapi GDP per kapita (PPP) nya jauh di atas
kita Pak Risfan ($12,105 dibandingkan Indonesia yg $3,980)... Tapi saya
juga melihat ini bukan faktor utama... Mari kita lihat komposisi
penduduk Curitiba yg sebagian besar dihuni oleh keturunan Eropa
(White)... Konteks Amerika Latin memang sulit dibandingkan dgn konteks
negara berkembang lainnya karena sebagian penduduk Amerika Latin adalah
keturunan Eropa
>
> > (seperti juga Afrika Selatan)... ini bukan berarti mereka secara
genetik superior, tetapi bahwa keturunan Eropa membawa kultur asalnya,
network dgn negara2 leluhurnya, dsb.. ini yg membedakan.. . di bidang
ilmu pengetahuan, misalkan tradisi berpikir rasional mereka tidak jauh
berbeda dgn saudara2nya di Eropa dan Amerika Utara... Kita tahu bahwa
perekonomian modern di Amerika Latin didominasi oleh kulit putih...
terjadi kesenjangan yg umumnya sangat tinggi antara kelompok white yg
mendominasi ekonomi dan politik dgn ras lain, khususnya native Indian
dan keturunan Afrika..tentu sebuah kota dgn dominasi kulit putih dapat
dikatakan cukup makmur dibandingkan bagian lain dari negara tsb... ini
saja sudah cukup menjawab mengapa Curitiba dapat cukup tertata dgn
baik... Tetapi tentu saja kita tetap perlu untuk belajar sesuatu yg baik
dr negara lain, terutama yg perekonomiannya tidak terlalu jauh dibanding
negara
>
> > kita... Salam, Eko. --- On Mon, 11/30/09, Risfan Munir
risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan Munir risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] Re: Kota2 Ideal Mereka Disana dan Kondisi Sebal
Kita Disini To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, November 30,
2009, 1:16 AM Pak Aby, Pak Eko BK, Francisca dan rekans ysh, Seperti dua
pada Tabel yang saya posting dalam judul "Strategi Pengembangan
Wilayah". Kita tak perlu menunggu satu "grand strategi for all". Di era
otonomi ini semua jalur, model bisa dilakukan, baik: pembangunan kota,
desa, sistem wilayah, dst. Kalau ada yang dikerjakan swasta, ya
pemerintah ngurusi yang publik. Curitiba juga bukan di negara kaya,
Brazil kan cuma sepakbolanya yang maju. Selebihnya ya satelit nyaÂ
>
> > kapitalis dunia lah sama seperti.... Saya bayangkan itu  seperti
BSD, Kota Wisata, KL Baru dst. Tapi tak mustahil komponen-komponenny a
jadi inspirasi bagi kota menengah di baberapa daerah
>
> >
>



Kirim email ke