Salah satu persoalannya adalah krn cbbr dikelola oleh banyak developer/investor, berbeda dg kawasan bintaro, serpong, klp gading, sehingga sangatlah sulit utk mengarahkan pengembangannya (bukan tak bisa), blm lg wilayah Cbbr termsk dalam 4 wil pemerintahan yaitu Jkt Selatan, Depok, Bekasi, Bogor, shg keputusan2 tdk mudah diambil. Apalagi jumlah perumahan dan townhoise pun sdh mencapai 50 (bukan 30 spt diberitakan)trmsk yg 15 perum punya akses langsng dari jln utama trans yogie. Ruko pun jg tumbuh pesat luar biasa di kiri kanan jln tsb. Memang resapan air mkn berkurang terbukti sejak 2007 green belt sdh dikurangi selebar 4 m sepanjang 7 km ditambah pelebaran jalan ke arah properti kiri kanan jln trans yogie. Anehnya, kok masy msh bisa menikmati ya? Harapannya RI 1 yg notabene warga nagrak, cibubur bisa berperan mengatasi hal ini jg ya. Klo tdk kita menjadi terpaksa menikmatinya.... Salam, Oka (Penikmat Cibubur sejak 2006) Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: <[email protected]> Date: Sat, 12 Dec 2009 14:01:51 To: milis referensi<[email protected]> Subject: [referensi] Cibubur Dari Harian Kompas Cibubur, Kota Tanpa Rencana Minggu, 13 Desember 2009 | 02:34 WIB Ilham Khoiri, Yulia Sapthiani, & Lusiana Indriasari Jika ingin mengamati semrawutnya tata kota Jakarta dan sekitarnya, datanglah ke Cibubur. Kawasan yang mekar di wilayah pertemuan antara Jakarta Timur, Bekasi, Depok, dan Bogor itu kini dirundung berbagai soal: macet, sesak, kisruh, juga ancaman banjir. Bagaimana semua itu bermula? Masyarakat Jakarta biasa mengunjungi Cibubur lewat Jalan Tol Jagorawi. Begitu keluar dari pintu tol (dengan tanda nama ”Cibubur, Cikeas, Cileungsi”), kita disergap berbagai bangunan yang seolah ditumplekkan begitu saja. Di kiri Jalan Buperta berdiri patung tunas kelapa sebagai ikon Bumi Perkemahan Pramuka. Patung kusam itu tampak tenggelam disandingkan dengan label mentereng logo ”M” kuning McDonald’s dan logo merah-hitam Pizza Hut. Tak jauh dari situ berdiri stasiun pengisian bahan bakar Pertamina, Telaga Sea Food Restoran, dan toko 24 jam Circle K. Kesemrawutan berlanjut di jalan alternatif Trans Yogie, jalan tembus Cibubur-Cileungsi-Jonggol-Cianjur hingga Bandung. Pada kiri jalan kita temukan Restoran Kabayan dan Hanamasa, Rumah Makan Khas Sunda Cibiuk, Gado-gado Boplo, dan Klinik Prodia. Di kanan jalan tampak bangunan Baby and Child Clinic 24 Hours dan Cibubur Point Automotif Center. Memasuki wilayah Kota Depok lalu Bogor, kita bakal dikejutkan dengan belasan perumahan yang berjejer di kiri-kanan jalan. Sebagian nama menyematkan bermacam nama dalam bahasa asing. Sebut saja Mahogany Residence, Raffles Hills, Taman Laguna, Kranggan Permai, Nusa Dua Citra Gran, Legenda Wisata, Kota Wisata, Cibubur Residence, dan Citra Gran. Puluhan spanduk iklan perumahan riuh rendah melintang di atas jalan. Tentu saja ada pusat perbelanjaan dan ruko di sana-sini. Ada Cibubur Point, Plaza Cibubur, Cibubur Times Square, dan Mal Ciputra Gran. Di seberang jalan tol ada mal Cibubur Junction yang nongkrong dengan gagah di tikungan dekat pertigaan Jalan Taman Bunga. Daftar jejalan bangunan itu bisa diperpanjang. Kita bisa menyertakan rumah sakit, sekolah internasional, sarana olahraga seperti golf dan pusat kebugaran, atau rumah makan. Semuanya berkerumun di kawasan sekitar Tol Cibubur, kemudian melebar ke wilayah sekitar. Macet Apa yang dinikmati warga dari pemekaran kota yang menggerombol itu? ”Cibubur jadi ramai. Mencari apa-apa mudah,” kata Jajat Sudrajat (48), warga yang tinggal di Cibubur sejak tahun 1985. Sayang keramaian itu harus dibayar dengan masalah lain. Pertumbuhan kota yang serampangan membuat Cibubur sesak. Situasi makin parah karena kepadatan itu tak diimbangi sarana transportasi. Akses utama ke Jakarta hanya lewat Jalan Tol Jagorawi atau tembusan Tol Jatiasih menuju Jalan Simatupang. Padahal, sebagian besar warga di sana bekerja di Jakarta. Populasinya juga terus membengkak seiring dengan pertambahan perumahan. Menurut Pratomo Putro, pemilik media komunitas cibubur.com, kini ada 25-an kompleks perumahan dengan total penghuni 30.000-an keluarga. Dengan akses utama jalan tol, setiap keluarga didorong punya mobil pribadi. ”Jika setiap rumah punya satu mobil, jumlahnya bisa 30.000-an unit. Itu belum mencakup warga di perkampungan dan perusahaan,” katanya. Akibatnya bisa diduga: kemacetan lalu lintas mendera setiap jam berangkat kerja pagi dan jam pulang sore hari. Titik macet menyebar di sekitar Jalan Buperta, Jalan Trans Yogie, Jalan Taman Bunga, bahkan hingga ke Jalan Raya Bogor. Kemacetan menjadi-jadi pada akhir pekan. Setiap Sabtu dan Minggu jalanan disesaki kendaraan menuju tempat wisata dan mal. Bus-bus besar dari luar kota Jakarta juga sering memperparah situasi. Gembong Arifin (35), pengurus peralatan studio personel God Bless Ian Antono, mengungkapkan, dia kerap terjebak macet pada Sabtu-Minggu. Ruas jalan dari rumahnya di Perumahan Villa Cibubur Indah ke pintu tol yang sepanjang 1,5-an kilometer harus ditempuh sampai satu jam. ”Itu siksaan luar biasa,” ujarnya. Hingga kini para pengembang masih memburu lahan perumahan. Harga tanah melonjak. ”Cibubur masih dilirik pengembang dan konsumen. Muncul citra elite setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan jalan alternatif Cibubur menuju rumahnya di Cikeas,” kata Fuad Zakaria, Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia. Geliat kota ini menggerogoti kawasan hijau. Lahan serapan air dan penghijauan, seperti kebun, sawah, setu, atau empang, digasak demi menancapkan beton- beton mal, ruko, atau perumahan. Citra Cibubur tempo dulu yang asri dan sejuk berangsur menjadi sesak dan mulai panas. ”Dulu kami tidur pakai selimut. Sekarang malah harus pakai AC,” kata Arief Bagus (30), warga Cibubur. Masalah lain, muncul ancaman banjir. Syarif (37), warga yang tinggal sejak kecil di Jalan Lapangan Tembak, Kelurahan Cibubur, bercerita, ”Kalau musim hujan, jalan di sini banjir sampai tidak bisa dilalui kendaraan. Gorong-gorong yang ada di depan pasar terlalu kecil.” Berbagai persoalan itu memaksa sebagian warga berpikir ulang untuk menetap di sana. Andong Begawan dan orangtuanya yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak sejak tahun 1970-an, misalnya, menjual rumah dan pindah ke Sawangan, Depok. ”Kami tak tahan lagi dengan macet, debu, dan hiruk pikuk,” katanya. Tanpa rencana Apa akar dari semua masalah itu? ”Cibubur menggambarkan fenomena urban sprawl (pemekaran kota) tanpa rencana,” papar pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Jakarta, Yayat Supriatna. Rencana Umum Tata Ruang Jakarta Tahun 1985-2005, menurut Yayat, memasukkan Cibubur dalam zona konservasi, pertanian, resapan air, dan sedikit hunian. Namun, ketika meletup booming ekonomi tahun 1990-an, muncul hasrat mengubah Cibubur menjadi kota baru. Itu selaras dengan pernah munculnya rencana pemindahan sebagian Ibu Kota ke Jonggol yang berbatasan dengan Cibubur. Saat pembangunan menggeliat, tiba-tiba rencana umum tata ruang tahun 2000-2010 mengubah Cibubur menjadi permukiman dengan tingkat kepadatan rendah. Maksudnya, perumahan diizinkan, tetapi dalam sekala kecil dan berhalaman luas. Tujuannya agar tetap ada lahan terbuka hijau. Sayang rencana itu kandas dilibas hasrat para pemilik modal membangun perumahan besar- besaran. Ini memicu munculnya berbagai kegiatan komersial lain. Pasar mengendalikan semuanya. Parahnya, tidak ada antisipasi transportasi massal ke Jakarta. ”Cibubur jadi acak-acakan. Mari kita nikmati bermacam masalahnya,” kata Yayat. Adakah jalan keluar? ”Ada. Lakukan moratorium alias penghentian sementara, bikin dulu rencana tata kota yang jelas dan rinci, lalu semua perizinan pembangunan mengacu pada rencana itu. Jangan seenaknya pasar saja yang atur,” tandas Yayat. Cibubur Tempo Dulu, Sejuk dan Sepi Minggu, 13 Desember 2009 | 02:37 WIB yulia sapthiani, ilham khoiri & lusiana indriasari Apa yang diingat banyak orang saat ditanya seperti apa Cibubur tempo dulu? Jawabannya hampir serupa: banyak sawah, empang, pepohonan, berudara sejuk, sekaligus sepi dan menyeramkan. Sampai awal tahun 1990-an saja masih ada sawah di kawasan Jalan Raya Alternatif Cibubur yang sekarang didominasi perumahan dan pertokoan. ”Dulu saya masih bisa lihat kerbau di sawah-sawah itu,” kata Tusiran mengenang lingkungan di sekitar Warung Pak Dul pada masa sekitar 15 tahun lalu. Warung Pak Dul di Kampung Kalimanggis, Kelurahan Jati Karya, Bekasi. Kalau bertanya pada Tusiran tentang nama jalan tempat Warung Pak Dul berada, dia akan menjawab Jalan Trans-Yogie, sama seperti kalau kita bertanya kepada orang-orang yang sudah sangat lama tinggal di Cibubur. Orang lama atau yang sepanjang hidupnya tinggal di Cibubur bahkan tak hanya menyebut kata ”Cibubur” untuk kawasan yang berada di sepanjang Jalan Raya Alternatif Cibubur. Sebutan orang untuk wilayah ini lain-lain, seperti Cileungsi-Cibubur atau Cibubur Baru. Bagi mereka yang sudah puluhan tahun tinggal di sana, Cibubur adalah daerah yang dalam peta disebut sebagai Kelurahan Cibubur dengan kode pos 13720. Dari tol Jagorawi arah Jakarta, Kelurahan Cibubur berada di sebelah kanan jalan tol. Sementara Cibubur Baru berada di sebelah kiri jalan tol. Karena belum banyak perumahan seperti sekarang, kondisi lalu lintas di Jalan Raya Alternatif Cibubur masih sepi. Kendaraan umum pun hanya dua jurusan saja. ”Dulu yang banyak di sini anjing liar. Anjing-anjing itu sampai memangsa kambing saya. Waktu saya cari, bekasnya ada di tengah sawah. Suasana di sini cukup seram, apalagi dekat sini ada kuburan,” kata Tusiran. Sepi hiburan Andong Begawan, yang tinggal di Jalan Lapangan Tembak selama 20-an tahun, mengatakan, daerah tempat tinggalnya rawan maling. Padahal, lokasinya berdekatan dengan kompleks perumahan dan lapangan latihan tembak. Dari sinilah jalan tersebut kemudian diberi nama Jalan Lapangan Tembak. Sepinya Cibubur dulu membuat tidak ada tempat hiburan di situ. Satu-satunya sarana hiburan yang menjadi andalan, menurut pedagang buah di sekitar pasar Cibubur Syarif (37), adalah layar tancap saat ada yang menggelar hajatan. Kalau mau ke bioskop, pilihannya adalah ke Cisalak atau Cijantung. ”Saya ingat, dulu nonton film Superman di Bioskop Peralon di Cijantung. Dikasih nama Peralon karena memang bekas pabrik pipa peralon,” kata Andong. Meski seram, Cibubur tempo dulu adalah lingkungan yang nyaman untuk ditempati. Ini karena masih banyak pepohonan sehingga membuat udara menjadi sejuk. Maklum, sebagian lahan di sana masih dipenuhi kebun karet. ”Udara dingin bisa saya rasakan setiap kali bangun tidur. Sekitar tahun 1980-an hingga awal 1990-an, air tanah di Cibubur masih dingin,” kata Rossy Nahissa, penghuni Jalan Lapangan Tembak. Nindeng (60), warga Kampung Pondok Rangon, yang masuk wilayah Depok, masih ingat betul bagaimana Cibubur tahun 1960-an. Cibubur saat itu sangat hijau royo-royo. Udaranya sejuk dan dingin. Orang dari Jakarta pun suka singgah untuk sekadar berwisata sehari di Cibubur. Nindeng juga suka ngangon kebo (menggembala kerbau) di kawasan rawa dan setu yang sekarang dikenal sebagai Bumi Perkemahan Cibubur. Jumlah kerbau yang digembalakan orang- orang di situ bisa sampai 300 ekor. Saat itu, setu masih lebar dan besar. Masyarakat menyebutnya sebagai Rawa Jemblong atau Rawa Putat karena tepian rawa banyak ditumbuhi pohon putat. Jalanan di sekitar daerah itu masih tanah merah atau tanah yang dilapisi batu brojolan—batu yang ditebarkan tak beraturan. ”Kalau mencari angkutan umum, kami harus jalan kaki beberapa kilometer sampai dekat Pasar Lama di Jalan Raya Bogor. Itu pun busnya mirip truk untuk mengangkut kambing,” papar Nindeng. Berubah Cibubur mulai berubah setelah dibangun jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) tahun 1973-1978. Hampir bersamaan dengan selesainya tol, dibangun kawasan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur. Lahan masyarakat pun dibeli pengembang, termasuk sawah Nindeng seluas 5.000 meter persegi. Sejak itu, Cibubur sangat terkenal sebagai arena berkemah anggota Pramuka. Lewat program Jambore Nasional, para siswa sekolah dari seluruh Tanah Air berbondong-bondong mendirikan tenda, menginap, sambil berlatih disiplin kepramukaan. Saat pulang ke daerah, mereka mengenang Cibubur yang asri. Perubahan radikal terjadi pada tahun 1990-an, terutama ketika muncul pembicaraan Ibu Kota akan dipindahkan ke Jonggol, daerah di sebelah tenggara Cibubur. Isu ini diikuti pembangunan jalan tembus (Trans-Yogie) yang menghubungkan Cibubur, Cileungsi, Jonggol, sampai Cianjur. Warga Kampung Pondok Rangon lainnya, Bonen (36), bercerita, bersamaan dengan ramainya jalan tembus itu, secara perlahan orang-orang Jakarta berduit dari Jakarta berbondong-bondong memborong lahan di Cibubur dan sekitarnya. ”Tanah asli penduduk Cibubur banyak dijual. Sebagian besar lahan di sini punya orang-orang Jakarta,” kata Bonen. Tahun 2000-an, Cibubur makin menggeliat cepat. Kiri-kanan jalan Trans-Yogie ditancapi beton-beton untuk perumahan, mal, ruko, rumah makan, rumah sakit, dan berbagai bangunan komersial lain. Kawasan itu pun sudah semakin sesak. Apa mau dikata, Cibubur tempo dulu yang asri, sejuk, dan tempat istirahat yang nyaman kini tinggal kenangan.

