Dear Pak Risfan,

Berikut tanggapan sy terhadap pertanyaannya: apakah Planning masih suka 
dianggap 'produk sosialis' di negara demokrasi? Ini pandangan miring yang suka 
terlontar.

Istilah planning mulai digunakan sekitar tahun 1930s setelah the Great 
Depression. Pada saat itu, istilah ini belum banyak dikenal masyarakat AS dan 
beragam intervensi pemerintah (the New Deal) adalah media yg digunakan dalam 
implementasi kegiatan planning tsb. Dalam sebuah textbook, yg saya acu dalam 
kelas "Introduction to Planning", dikatakan bahwa tradisi planning dalam 
masyarakat AS dimulai pada saat the New Deal ini dalam mengatasi the Great 
Depression.

Spt kita ketahui, di AS terdapat dua partai politik yg sangat kontras 
platform-nya. FDR yg merancang the New Deal berasal dari partai Demokrat yg 
platformnya berbeda dg partai Republik. Sosialis adalah istilah yg terstigmakan 
di AS sini. Kedua partai tidak mau diidentikkan dg stigma sosialis. Partai 
Republik yg platformnya minimal intervensi pemerintah (spt kata Presiden 
Reagan, bhw pemerintah adalah bagian dari masalah, bukannya pemecah masalah) 
selalu mengecam kebijakan partai Demokrat yg banyak melakukan governmental 
interventions sbg kebijakan sosialis. Shg planning, yg lahir dalam era the New 
Deal, bisa diplintirkan oleh Partai Republik sbg kebijakan yg produk sosialis.

Menurut sy, kecaman atau anggapan bhw planning adalah produk sosialis tentunya 
adalah terlalu prematur. Planning kan beragam konteks dan cakupannya. Apa yg 
terjadi di AS saat ini terkait dg planning adalah masih dalam konteks 
masyarakat yg kapitalis. Masih banyak yg bisa dibicarakan disini, tapi saya 
sudahi dulu, semoga ada manfaatnya penjelasan ringkas ini. Terima kasih atas 
pertanyaannya. 

Salam hangat dari Savannah,
Deden. 


 



________________________________
From: Risfan Munir <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, December 13, 2009 4:02:02 PM
Subject: RE: [referensi] Cibubur

Deden ysh,

Beda Orba dengan Reformasi, barangkali demokrasi dan desentralisasi.

Dari segi demokrasi, tampaknya masyarakat sevara umum belum 'sensitif tata 
ruang', kecuali kalau ada kasus saja. Atau ada tapi terbatas, belum kuat. Belum 
jadi wacana. Malah dalam  hal pembebasan lahan untuk prasarana kian sulit.

Tapi dari sisi pemerintah ada kemajuan, misalnya diseminasi dan kampanye via 
media elektronik dan cetak oleh DJPR. Menunjukkan kesadaran bahwa cara 
governance diterapkan, bukan sekedar government.

Otonomi daerah, secara pengembangan wilayah nasional memunculkan harapan 
banyaknya inisiatif daerah dalam daya saing ekonomi, perlahan mempengaruhi 
locus kegiatan ekonomi.
Tapi secara internal kota/daerah belum ada perubahan. Malahan kepala daerah 
otonom banyak yang merubah  stadion, alun-alun (jalur hijau) jadi bangunan 
komersial.

Era KIB-2 dimulai dengan masuknya penataan ruang dalam program 100 hari bisa 
dilihat sebagai angin positip. Orang tersentak dengan banyaknya kasus sengketa 
lahan dan konflik tata ruang.  Mungkin bagi perencana RTRW sudah oke, hanya 
dalam pelaksanaan banyak kepentingan yang berkonflik dan mau 'melanggar'. Tapi 
bahwa penataan ruang jadi agenda politik nasional adalah kemajuan. Dulu kalau  
pelanggarnya kuat, kan semua diam.

Tapi kang Deden, saya juga balik tanya tentang di negara demokrasi seperti 
tempat anda tinggal, apakah Planning masih suka dianggap 'produk sosialis' di 
negara demokrasi? Ini pandangan miring yang suka terlontar.

Salam,
Risfan Munir


      

Kirim email ke