Pak BTS,

memecahkan masalah pembangunan wilayah bukan masalah riset, tapi masalah 
kebijakan (walau bisa jg masalah riset terbatas pd applied science)... 
mengetahui bagaimana wilayah bisa terbangun/tumbuh, dan penyebabnya lah yg 
menjadi masalah riset...

analisis kesenjangan wilayah jg tdk terbatas pd pattern dan level, dianalisis 
juga relationship antara faktor2 pnyebabnya dan causality... menjawab 
pertanyaan: mengapa ada wilayah yg tumbuh cepat dan ada yg tidak... kalau kita 
mengetahui jawabannya, akan jadi masukan yg bermanfaat utk pengambilan 
kebijakan...

Bapak kurang tepat menyimpulkan tulisan saya... saya tidak mengatakan bahwa HDI 
yg rendah disebabkan oleh kesenjangan wilayah... tapi kesenjangan wilayah 
adalah perwujudan dari adanya wilayah2 yg rata2 HDI penduduknya rendah dan 
tinggi... nah manfaat dari studi kesenjangan wilayah antara lain 
mengidentifikasi di mana saja wilayah yg HDI nya rendah, dan mengapa bisa 
rendah... bukankah ini juga masukan utk kebijakan?

Jadi mohon kalimat "kesenjangan wilayah terkait dgn masalah kemiskinan" tidak 
sekedar diterjemahkan sebagai "kesenjangan wilayah menyebabkan kemiskinan"...  
tapi bahwa kemiskinan di beberapa wilayah yg lebih tinggi dr wil lain adalah 
bentuk kesenjangan wilayah...

tapi mari kita bahas juga apakah "kesenjangan wilayah menyebabkan kemiskinan"? 
Bisa jadi ya. Ini masalah dominasi, masalah hubungan antara wil maju dan wil 
miskin... hubungan tdk hanya dlm konteks hub dagang atau input-output, tapi 
juga power struggle...dominasi power yg bermain... Jakarta bukan wilayah kaya 
SDA, tapi kaya, karena di sanalah berlokasi kelas pemegang power tertinggi di 
republik ini.. ketika pemegang power mengatakan tidak ada desentralisasi maka 
daerah miskin akan tetap miskin walaupun kaya minyak sekalipun...

kesenjangan wilayah bisa juga berarti perbedaan antara kawasan urban yg makmur 
dan kawasan perdesaan... ini sebentuk dominasi juga, dominasi kapital... sudah 
diketahui sejak lama bahwa urban menghisap desa, menjadikan desa bisa tetap 
miskin...

salam..






--- On Thu, 12/17/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism
To: [email protected]
Date: Thursday, December 17, 2009, 9:17 AM







 



  


    
      
      
      Terima kasih Pak Eko,....cuma sepertinya analisis kesenjangan antar 
wilayah hanya sekedar tahu, sekedar pembandingan, sekedar gambaran,... tapi 
tidak effect ke sasaran pengembangan wilayah.
 
HDI yang rendah, tingginya kematian ibu dan anak, kurang gizi, rendahnya 
pelayanan umum dsb,.... apakah itu disebabkan oleh kesenjangan wilayah? 
Bukankah itu disebabkan oleh keterbelakangan. .. bukan kesenjangannya .... 
kecuali bila interdependensi antar wilayah di Indonesia itu sangat tinggi... 
Tapi Indonesia yang kepualauan ini...interdependen si antar wilayah itu tidak 
tinggi.
 
Mungkin Pak Eko punya data bahwa interdependensi antar wilayah di In doensia 
itu sangat tinggi.
 
Thanks Pak atas pencerahannyta.
 
CU. BTS
 
 
 
 
 


--- On Thu, 12/17/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:


From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, December 17, 2009, 7:53 AM


  





Pak BTS,

Terimakasih pak. Kesenjangan wilayah dpt diukur dgn beberapa variabel, tentu yg 
menunjukan tingkat kesejahteraan bisa menggunakan HDI, bukan hanya 
income/capita. .. kesenjangan wilayah juga tdk sekedar dilihat levelnya dgn 
Gini misalkan, tapi juga dilihat pattern nya, mana saja kawasan2 yg memiliki 
HDI rendah...dari sini analisis kesenjangan wilayah bisa menjadi petunjuk awal 
di lokasi mana sajakah yg memiliki HDI rendah...

Sekali lagi, hanya petunjuk awal, karena di setiap tempat yg dihuni sekelompok 
masyarakat selalu ada kelas sosial, di NTT yg HDI nya rendah pasti ada kelas 
sosial atas yg HDI nya tinggi...

Tapi petunjuk awal ini bisa berguna utk pengambilan kebijakan, misalnya bila 
HDI nya rendah akibat tingkat kematian yg tinggi, perlu diselidiki kenapa. 
Apabila penyebabnya kematian ibu dan bayi akibat fasilitas kesehatan dan 
transportasi desa yg kurang (seperti cerita mas Dwiagus utk NTB/NTT) tentu perlu
 dicarikan jalan keluarnya... tentu definisi kemiskinan yg saya gunakan adalah 
definisi yg luas, bukan sekedar berpenghasilan di bawah 1 atau 2 USD per 
hari...:)

mekanisme transfer antar wilayah juga memerlukan studi kesenjangan wilayah, 
bagaimana kita bisa tau mana wilayah yg maju dan tidak maju, seberapa besar 
perbedaannya, dan apa saja yg berbeda, kalau kita tidak melakukan studi 
kesenjangan wilayah? :)

semoga bisa menjawab pertanyaan bapak..

salam..



--- On Thu, 12/17/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, December 17, 2009, 8:29 AM


  






Pak Eko wrote :
"...utk dunia ketiga, saya kira problem kesenjangan wilayah ini sgt terkait dgn 
pengentasan kemiskinan, karena umumnya penduduk di wilayah miskin mendapatkan 
public services yg kurang... "
............ ......... .
Pak Eko mengatakan adanya keterkaitan antara kesenjangan dan pengentasan 
kemiskinan, dalam hal ini adalah public services. Menurut saya, statement ini 
hanya perbandingan bahwa wilayah terbelakang itu public service-nya kurang 
sementara wilayah maju public service-nya lebih baik. Tapi keterkaitannya tidak 
ada... kecuali kalau memang ada mekanisme transfer  kesejahteraan dari wilayah 
maju ke wilayah terbelakang sehingga kesenjangan itu berkurang. Padahal 
mekanisme ini tak pernah ada kecuali melalui mekanisme fiskal. Jadi apa manfaat 
analisis  kesenjangan kalau hanya sekedar pembandingan .... nggak terkait 
dengan sasaran kesejahteraan?
 
Mohon pencerahan.. ...
 
Thanks. CU. BTS
 


--- On Thu, 12/17/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:


From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur sepeda, 
leisure time & kapitalisme)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, December 17, 2009, 6:33 AM


  





Betul pak Risfan, sebetulnya dependency theory tsb yg saya kaitkan dgn kelompok 
Marxist (Paul Baran, Wallerstein, Andre Gunder Frank) yg propose social 
revolution atau menutup/memutus diri dr dunia kapitalis...

Bapak juga betul, bahwa konteks poverty reduction sudah lama berkembang.. . yg 
saya maksud, ketika kita mengatakan bahwa poverty reduction itu "lebih penting" 
dari regional inequality maka kita memasuki wilayah ethics... karena utk 
problem riset ya keduanya sama2 penting utk diinvestigasi. .. utk dunia ketiga, 
saya kira problem kesenjangan wilayah ini sgt terkait dgn pengentasan 
kemiskinan, karena umumnya penduduk di wilayah miskin mendapatkan public 
services yg kurang... ini berbeda dgn konteks negara maju di mana standar 
minimum public services sudah cukup maju bahkan di wilayah paling miskin...

salam..

--- On Wed, 12/16/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote:


From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com>
Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur sepeda, 
leisure time & kapitalisme)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, December 16, 2009, 11:34 PM


  

Pak Eko, BTS, rekans ysh,

Terima kasih diingatkan beda tentang ketidak merataan penyebaran kegiatan 
ekonomi (secara geografis) vs ketidak-merataan income distribution.

Diakitkan degan latar ideologi, barangkali dependency theory yang populer awal 
70an juga menguatkan dugaan bahwa distribusi (lokasi) kegiatan ekonomi, selaras 
dengan ketimpangan income, di negara 'kapitalis pinggiran' yang selalu jadi 
sapi perah bagi induknya di pusat kapital sana.

Namun yang disebut 'murtadin' dalam debat/peta teori pembangunan era 70an kan 
sudah berkembang juga. Poverty alleviation, juga "Basic Need". Dan keduanya 
banyak digunakan sebagai dasar kebijakan hingga saat ini. Sehingga walau ada 
policy desentralisasi yang memberikan keleluasaan pada tiap daerah, tapi soal 
Kemiskinan, Pelayanan Pendidikan, Kesehatan masih dijaga terus oleh Pemerintah. 
Penyebaran kegiatan,
 pemerataan pendapatan boleh gagal, tapi kemiskinan harus diatasi, pelayanan 
minimal kesehatan, pendidikan harus terpenuhi. Ini yang dipegang penganut jalus 
ini. Yang saat ini juga sering berhadapan dengan penganut desentralisasi penuh. 
Begitukah?

Salam,
Risfan Munir










From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
Sent: Wednesday, December 16, 2009 3:12 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur sepeda, 
leisure time & kapitalisme)

  







Pak BTS,

Basis akan terjadinya konvergensi (setahu saya) dimulai dari Williamson (1965), 
bahwa regional inequality itu meningkat ketika sebuah negara memulai 
pembangunannya dan menurun di titik income per capita tertentu sampai terjadi 
konvergensi. ..tapi hipothesis Williamson banyak yg menyanggah salah satunya 
karena dia menggunakan cross sectional data, bukan panel data.. jadi berbagai 
negara di lihat pd satu waktu... sementara ada unsur institusi, historik, dll 
yg membedakan negara2 tsb...

Saat ini hanya NEG yg percaya konvergensi, salah satu alasannya tentu dgn 
melihat penurunan regional inequality di negara2 maju... Yg tidak percaya sama 
sekali (dlm konteks negara berkembang) adalah Marxist, kecuali negara tsb 
menutup diri...

Memang yg bapak sebutkan terakhir ttg murtadin itu pergeseran dr fokus regional 
inequality menjadi ke poverty
 reduction, yg didasari bahwa masalah kemiskinan lebih penting dr pd 
kesenjangan wilayah... tapi ini problem ethics (bahwa kemiskinan itu buruk, 
kesejahteraan itu baik, dst) bukan problem riset...

salam..






--- On Wed, 12/16/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]. id> wrote:


From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]. id>
Subject: Re: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur sepeda, 
leisure time & kapitalisme)
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, December 16, 2009, 8:57 AM


  

Pak Eko, penjelasan Anda tentang NEG, IEG, dan EEG menarik. Saya dulu juga 
bagian dari pola pikir seperti itu. Tapi belakangan mulai murtad (murtadin), 
yaitu tidak percaya adanya konvergensi daerah. Tentu pola pikir ini tidak 
populer. Habisnya memang kenyataan bahwa konvergensi dari berbagai pendekatan 
di atas toh tidak terjadi. Menurut murtadin ini, pembangunan itu yang penting 
meningkatnya kesejahteraan. Bila daerah yang tertinggal itu kesejahteraannya 
meningkat, itu sasaran utamanya, tak apa-apa daerah lain lebih maju. 

Thanks. CU. BTS.


> economic geography adalah ilmu yg mempelajari ketidaksamaan distribusi
> aktivitas2 ekonomi dlm ruang... jadi sy kira konteks yg pak Risfan
> bicarakan berpijak dr sini..
>
> saat ini ada tiga aliran pemikiran dlm economic geography:
> - new economic geography (NEG), yg pendekatannya berbasis ekonomi
> neoklasik, banyak dilakukan oleh ekonom
 mainstream seperti Krugman,
> dkk..mungkin Pak Nuzul alirannya di sini ya pak?
> - institutional economic geography, yg dekat dgn pendekatan institutional
> economics (ekonom heterodox) dan banyak dilakukan oleh geographers
> - evolutionary economic geography, pendekatannya historik, di sini bisa
> geograf, ekonom, atau historian...
>
> NEG percaya bahwa kesenjangan wilayah akan menurun (terjadi convergence)
>
> IEG percaya bahwa convergence atau divergence itu tergantung institusi di
> setiap negara
>
> EEG, khususnya Marxist geographers mengkaitkan dgn kapitalisme dan
> neokolonialisme, ini terkait dgn pendekatan Braudelian yg akhirnya diadopt
> kelompok Marxist, Wallerstein (world system) dan Andre Gunder
> Frank..hipothesis Marxist adalah bahwa kesenjangan wilayah akan tetap ada
> selama negara2 eks jajahan masih berhubungan erat dlm relasi yg serupa
 dgn
> negara2 eks penjajah... jadi kalau negara2 dunia ketiga mau mengurangi
> kesenjangan wilayah ya negara harus ditutup dan memutuskan hubungan dgn
> negara eks penjajah... tapi EEG tdk sama dgn Marxist, hanya pendekatan EEG
> yg byk diadopsi Marxist...
>
> Friedmann? rasanya dia dekat ke EEG dan IEG, terutama kalau melihat dr
> model yg dia bangun berdasarkan proyek Venezuela nya...
>
> Pilihan yg mana? kalau kita percaya NEG tentu kapitalisme pd akhirnya
> membawa kita pd convergence. .. kalau IEG ya institusinya yg harus kita
> buat agar convergence bisa terjadi... kalau IEG ya ada 2 cara: putus
> hubungan dgn capitalist world, atau merubah pola hubungan seperti yg
> dilakukan Korea ke eks penjajahnya (Jepang)...
>
> Thesis yg saya tulis menggunakan pendekatan IEG dan EEG utk Indonesia,
> walaupun sebagian analisis saya pakai spatial statistics, tapi
 dlm konteks
> induktif, bukan hypothesis testing...tapi maaf, belum selesai2 haha..
>
> salam..
>
>
>
> --- On Wed, 12/16/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:
>
>
From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
> Subject: [referensi] Re: jalur sepeda, leisure time & kapitalisme
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, December 16, 2009, 4:40 AM
>
>
>
>
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Eko,
>  
> Begitu ya. Jadi ingat bukunya Friedman jaman belajar Regional Planning
> dulu, "Territory and Function." Dia menampilkan dua pilihan orientasi pada
> Fuction yang bertolak dari pengalaman mengembangkan wilayah pasca Great
> Depression, dan mungkin proyek Venezuela dia. Yang mana di USA pun tak
> bebas dari soal
 kesenjangan antar wilayah yang cukup berarti. Artinya
> penjalaran pertumbuhan via sistem perwilayahan dan sistem pusat juga harus
> mengahadapi perilaku "capital." Apalagi Dunia Ketiga.
>  
> Lalu dia coba gali kemungkinan "territory closure", model isolasi dari
> kapital, mungkin mirip idealnya Kaenbeun nya Pak Djarot. Yang jelas
> Friedman mencoba mengeksplorasi dari ide desa idealnya Mao. Tapi kita
> tidak tahu setelah China sendiri sekarang memilih jalan kapitalisme juga.
>  
> Jadi masih adakah lagi pilihan?
>  
> Salam,
> Risfan Munir
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>
>
> --- On Tue, 12/15/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote:
>
>
>
From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
> Subject: RE: [referensi] Re: jalur
 sepeda? leisure time
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 8:22 PM
>
>
>  
>
>
>
>
>
> Pak Risfan ysh.,
>
> Menurut hemat saya jawabannya terletak pada "kapitalisme" ..
>
> Kapital yg terus terakumulasi menciptakan kesenjangan antara pemilik modal
> dan buruh, dan antara bangsa yg mengenal kapitalisme dan yg belum...
>
> salam..
>
>
>
> --- On Tue, 12/15/09, Risfan Munir <risf...@yahoo. com> wrote:
>
>
>
From: Risfan Munir <risf...@yahoo. com>
> Subject: RE: [referensi] Re: jalur sepeda? leisure time
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 8:36 PM
>
>
>  
>
> Pak Eko ysh,
>
> Mengapa ekonomi/bangsa yang lebih modern mendominasi ekonomi yang less.
> Dalam
 istilah lain Daya Saing Ekonomi nya (?).
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
>
>
>
From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com>
> Sent: Tuesday, December 15, 2009 11:42 PM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: Re: [referensi] Re: jalur sepeda? leisure time
>
>  
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Eka,
>
> Siapa yg menikmati kualitas kehidupan terbaik?
>
> Orang Perancis bangga dgn notion mereka yg dikutip negara2 barat lainnya:
> l'art de vivre... seni menjalani kehidupan: makanan enak, leisure time yg
> panjang, fashion, dst...
>
> Beberapa tahun hal ini juga dijadikan senjata oleh mereka, sebuah media
> Perancis mengeluarkan hasil analisis bahwa walaupun GDP/cap US lebih
> tinggi dr Prancis, tapi kalau faktor lama bekerja dimasukan dlm
>
 perhitungan maka tampak bahwa GDP/cap/jam Perancis lebih tinggi, artinya
> orang Perancis bekerja lebih produktif dan memiliki leisure time lebih
> panjang...
>
> Tapi ada yg dilupakan, yakni faktor dominasi... Dgn GDP/cap yg tinggi dan
> jumlah penduduk yg jauh lebih besar (4 kalinya), tentu kekayaan total US
> lebih besar dr Perancis, dan kekayaan ini dapat diterjemahkan dlm
> kemampuan investasi, kekuatan militer,
> dsb... pd akhirnya negara yg lebih kaya (sama juga dgn manusia)
> mendominasi mereka yg lebih miskin... dan dgn dominasi tsb mereka menarik
> kekayaan yg lebih besar lagi...
>
> Dlm konteks cerita Pak Eka, tentu saja masyarakat less modernized memiliki
> leisure time lebih banyak, dan mungkin kualitas hidup yg lebih tinggi,
> tapi ini juga debatable... kebebasan bergerak masyarakat modern jelas
> lebih tinggi, manusia modern sekrg bisa ke negara
 manapun dlm hitungan jam
> atau hari, misalkan, belum lagi fasilitas kesehatan dan kemudahan2
> lainnya, sehingga waktu leisure saja sebetulnya ukuran kuantitas, bukan
> kualitas hidup, bisa saja yg leisure timenya lebih sedikit memiliki
> kualitas menikmati leisure tsb lebih besar... jadi tergantung kriteria yg
> disepakati bersama ttg apa itu kualitas hidup... nah apalagi kalau kita
> bicara faktor dominasi tadi... tentu saja masyarakat less modernized akan
> selalu struggle menghadapi dominasi masyarakat
> modern...
>
> salam...
>
>
>
>
> --- On Tue, 12/15/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:
>
>
>
From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
> Subject: [referensi] Re: jalur sepeda? leisure time
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Tuesday, December 15, 2009, 5:05 PM
>
>
>
  
>
>
> Pak Eko ysb, saya teringat dengan kajian Richard B. Lee tentang 'siapa
> yang menikmati kualitas kehidupan terbaik?' Asumsi selama ini: masyarakat
> industri Eropah: leisure time merupakan salah satu ciri utama masyarakat
> beradab dan modern. Lee membandingkan alokasi waktu bekerja pada 3
> peradaban: untuk pekerjaan subsisten (jam/minggu) : !Kung
> San (pemburu-peramu) : 21,6; Machikuenga (hortikultur) : 41,3; kelas
> menengah Perancis (industri) : 52,5. Total waktu kerja dengan pekerjaan di
> rumah : !Kung San : 44,5; Machikuenga : 54,6; dan Perancis : 67,9.
> Kesimpulannya: leisure time bukan ciri masyarakat beradab atau modern.
> Salam.
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>>
>> ..... yg kaya2 biasanya liburan di Bali di hotel2 khusus yg terpencil
>> isolated atau
 pulau2 pribadi di Pacific yg eksotik atau kabin2 pribadi
>> di Gstaad Swiss dan kalau belanja biasanya di butik2 khusus di NY, Paris
>> atau Milan...
>>
>> Saya tahu perdebatan kita sudah keluar dr rel topik jalur sepeda, tapi
>> saya menikmati... terus terang saya ke Lijnbaan cuma lewat aja, biasanya
>> sih ke Blaak, cari barang second, boro2 nyari yg mewah...:)
>>
>> salam..
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>












      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke