Pak Eka ysh.

Saya tdk mengerti apa maksud "kajian keruangan menjadi tanpa nilai"...
knowledge itu tidak harus berupa pemecahan masalah... pengetahuan ttg gravitasi 
atau teori evolusi tidak memecahkan masalah apapun... tapi bisa membantu 
memecahkan masalah... sama juga, pengetahuan ttg kesenjangan wilayah tidak 
memecahkan masalah apapun, tapi bisa membantu pengambilan kebijakan pengentasan 
kemiskinan...




--- On Thu, 12/17/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: regional inequality & capitalism
To: [email protected]
Date: Thursday, December 17, 2009, 7:39 PM







 



  


    
      
      
      

Pak Eko, Pak BTS, dan Pak Risfan ysh.



Hal ini jadi perhatian saya juga, khususnya untuk lingkup penelitian dan

perumusan kebijakan. Ada kata kunci dari Pak Djarot dari disertasinya

yaitu "tatanan spatial" (spatial order), yang seharusnya ini menjadikan

domain kajian keruangan tidak masuk ke dalam relativisme. Kalau

dibablaskan dalam penelitian/pemikira n murni maka kajian keruangan akan

menjadi relatif atau tanpa nilai, seperti hasil observasi singkat Pak

Risfan kemarin di Bandung.



Ada beberapa tipikal yang saya peroleh selama ini dari pengajaran

guru-guru, seperti: fatsoen planning adalah mengikuti proses evolusi,

dengan ciri-ciri: perubahan yang konsisten dan hanya satu arah, secara

berkesinambungan semakin kompleks, transformasi yang tetap dari kecil ke

besar, dst. Tetapi juga ada varian ortogenesis, yaitu kesalahpahaman

dasar tentang evolusi yang mengasumsikan ada kekuatan yang dapat

mengarahkan perubahan, menjadi lebih baik, menjadi lebih cerdas, menjadi

lebih sempurna. Padahal dalam khazanah evolusi biologi juga ditemukan

perubahan ke lebih kecil dan lebih sederhana. Tetapi secara umum

perencana berpemikiran evolusi.



Selanjutnya dengan pendekatan komprehensif dan memikirkan banyak

variabel, perencana sebenarnya dituntut berpikir struktur. Jadi

perencana sebenarnya adalah strukturalist.



Selanjutnya yang terpenting adalah pemikiran konstruktif dan

berorientasi tujuan, ini sungguh sangat tipikal. Kemampuan pemikiran

konstruktif sebenarnya tidak ada duanya dalam profesi; walau sekarang

sudah terkalahkan oleh ahli dan praktisi politik, dan hukum.



Kita perlu bergiat mengembangkan sebanyak mungkin teori dan landasan

ilmiah, supaya tidak terjebak dalam relativisme, sebagaimana saran Pak

ATA dan Pak Djarot.



Salam,



-ekadj



--- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@.. .> wrote:

>

> Pak BTS,

>

> memecahkan masalah pembangunan wilayah bukan masalah riset, tapi

masalah kebijakan (walau bisa jg masalah riset terbatas pd applied

science)... mengetahui bagaimana wilayah bisa terbangun/tumbuh, dan

penyebabnya lah yg menjadi masalah riset...

>

> analisis kesenjangan wilayah jg tdk terbatas pd pattern dan level,

dianalisis juga relationship antara faktor2 pnyebabnya dan causality...

menjawab pertanyaan: mengapa ada wilayah yg tumbuh cepat dan ada yg

tidak... kalau kita mengetahui jawabannya, akan jadi masukan yg

bermanfaat utk pengambilan kebijakan...

>

> Bapak kurang tepat menyimpulkan tulisan saya... saya tidak mengatakan

bahwa HDI yg rendah disebabkan oleh kesenjangan wilayah... tapi

kesenjangan wilayah adalah perwujudan dari adanya wilayah2 yg rata2 HDI

penduduknya rendah dan tinggi... nah manfaat dari studi kesenjangan

wilayah antara lain mengidentifikasi di mana saja wilayah yg HDI nya

rendah, dan mengapa bisa rendah... bukankah ini juga masukan utk

kebijakan?

>

> Jadi mohon kalimat "kesenjangan wilayah terkait dgn masalah

kemiskinan" tidak sekedar diterjemahkan sebagai "kesenjangan wilayah

menyebabkan kemiskinan". ..  tapi bahwa kemiskinan di beberapa

wilayah yg lebih tinggi dr wil lain adalah bentuk kesenjangan wilayah...

>

> tapi mari kita bahas juga apakah "kesenjangan wilayah menyebabkan

kemiskinan"? Bisa jadi ya. Ini masalah dominasi, masalah hubungan antara

wil maju dan wil miskin... hubungan tdk hanya dlm konteks hub dagang

atau input-output, tapi juga power struggle...dominasi power yg

bermain... Jakarta bukan wilayah kaya SDA, tapi kaya, karena di sanalah

berlokasi kelas pemegang power tertinggi di republik ini.. ketika

pemegang power mengatakan tidak ada desentralisasi maka daerah miskin

akan tetap miskin walaupun kaya minyak sekalipun...

>

> kesenjangan wilayah bisa juga berarti perbedaan antara kawasan urban

yg makmur dan kawasan perdesaan... ini sebentuk dominasi juga, dominasi

kapital... sudah diketahui sejak lama bahwa urban menghisap desa,

menjadikan desa bisa tetap miskin...

>

> salam..

>

>

>

>

>

>

> --- On Thu, 12/17/09, Bambang Tata Samiadji btsamia...@. .. wrote:

>

> From: Bambang Tata Samiadji btsamia...@. ..

> Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Thursday, December 17, 2009, 9:17 AM

>

> Terima kasih Pak Eko,....cuma sepertinya analisis kesenjangan antar

wilayah hanya sekedar tahu, sekedar pembandingan, sekedar gambaran,...

tapi tidak effect ke sasaran pengembangan wilayah.

> Â

> HDI yang rendah, tingginya kematian ibu dan anak, kurang gizi,

rendahnya pelayanan umum dsb,.... apakah itu disebabkan oleh kesenjangan

wilayah? Bukankah itu disebabkan oleh keterbelakangan. .. bukan

kesenjangannya .... kecuali bila interdependensi antar wilayah di

Indonesia itu sangat tinggi... Tapi Indonesia yang kepualauan

ini...interdependen si antar wilayah itu tidak tinggi.

> Â

> Mungkin Pak Eko punya data bahwa interdependensi antar wilayah di In

doensia itu sangat tinggi.

> Â

> Thanks Pak atas pencerahannyta.

> Â

> CU. BTS

> Â

> --- On Thu, 12/17/09, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote:

>

>

> From: Eko B K ekobu...@yahoo. com>

> Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Thursday, December 17, 2009, 7:53 AM

>

>

> Â

>

>

>

>

>

> Pak BTS,

>

> Terimakasih pak. Kesenjangan wilayah dpt diukur dgn beberapa variabel,

tentu yg menunjukan tingkat kesejahteraan bisa menggunakan HDI, bukan

hanya income/capita. .. kesenjangan wilayah juga tdk sekedar dilihat

levelnya dgn Gini misalkan, tapi juga dilihat pattern nya, mana saja

kawasan2 yg memiliki HDI rendah...dari sini analisis kesenjangan wilayah

bisa menjadi petunjuk awal di lokasi mana sajakah yg memiliki HDI

rendah...

>

> Sekali lagi, hanya petunjuk awal, karena di setiap tempat yg dihuni

sekelompok masyarakat selalu ada kelas sosial, di NTT yg HDI nya rendah

pasti ada kelas sosial atas yg HDI nya tinggi...

>

> Tapi petunjuk awal ini bisa berguna utk pengambilan kebijakan,

misalnya bila HDI nya rendah akibat tingkat kematian yg tinggi, perlu

diselidiki kenapa. Apabila penyebabnya kematian ibu dan bayi akibat

fasilitas kesehatan dan transportasi desa yg kurang (seperti cerita mas

Dwiagus utk NTB/NTT) tentu perlu

> dicarikan jalan keluarnya... tentu definisi kemiskinan yg saya gunakan

adalah definisi yg luas, bukan sekedar berpenghasilan di bawah 1 atau 2

USD per hari...:)

>

> mekanisme transfer antar wilayah juga memerlukan studi kesenjangan

wilayah, bagaimana kita bisa tau mana wilayah yg maju dan tidak maju,

seberapa besar perbedaannya, dan apa saja yg berbeda, kalau kita tidak

melakukan studi kesenjangan wilayah? :)

>

> semoga bisa menjawab pertanyaan bapak..

>

> salam..

>

>

>

> --- On Thu, 12/17/09, Bambang Tata Samiadji btsamia...@yahoo. com>

wrote:

>

>

> From: Bambang Tata Samiadji btsamia...@yahoo. com>

> Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Thursday, December 17, 2009, 8:29 AM

>

> Pak Eko wrote :

> "...utk dunia ketiga, saya kira problem kesenjangan wilayah ini sgt

terkait dgn pengentasan kemiskinan, karena umumnya penduduk di wilayah

miskin mendapatkan public services yg kurang... "

> ............ ......... .

> Pak Eko mengatakan adanya keterkaitan antara kesenjangan dan

pengentasan kemiskinan, dalam hal ini adalah public services. Menurut

saya, statement ini hanya perbandingan bahwa wilayah terbelakang itu

public service-nya kurang sementara wilayah maju public service-nya

lebih baik. Tapi keterkaitannya tidak ada... kecuali kalau memang ada

mekanisme transfer  kesejahteraan dari wilayah maju ke wilayah

terbelakang sehingga kesenjangan itu berkurang. Padahal mekanisme ini

tak pernah ada kecuali melalui mekanisme fiskal. Jadi apa manfaat

analisis  kesenjangan kalau hanya sekedar pembandingan ....

nggak terkait dengan sasaran kesejahteraan?

> Â

> Mohon pencerahan.. ...

> Â

> Thanks. CU. BTS

> Â

>

>

> --- On Thu, 12/17/09, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote:

>

>

> From: Eko B K ekobu...@yahoo. com>

> Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur

sepeda, leisure time & kapitalisme)

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Thursday, December 17, 2009, 6:33 AM

>

> Betul pak Risfan, sebetulnya dependency theory tsb yg saya kaitkan dgn

kelompok Marxist (Paul Baran, Wallerstein, Andre Gunder Frank) yg

propose social revolution atau menutup/memutus diri dr dunia

kapitalis...

>

> Bapak juga betul, bahwa konteks poverty reduction sudah lama

berkembang.. . yg saya maksud, ketika kita mengatakan bahwa poverty

reduction itu "lebih penting" dari regional inequality maka kita

memasuki wilayah ethics... karena utk problem riset ya keduanya sama2

penting utk diinvestigasi. .. utk dunia ketiga, saya kira problem

kesenjangan wilayah ini sgt terkait dgn pengentasan kemiskinan, karena

umumnya penduduk di wilayah miskin mendapatkan public services yg

kurang... ini berbeda dgn konteks negara maju di mana standar minimum

public services sudah cukup maju bahkan di wilayah paling miskin...

>

> salam..

>

> --- On Wed, 12/16/09, Risfan Munir risf...@yahoo. com> wrote:

>

>

> From: Risfan Munir risf...@yahoo. com>

> Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur

sepeda, leisure time & kapitalisme)

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Wednesday, December 16, 2009, 11:34 PM

>

>

> Â

>

> Pak Eko, BTS, rekans ysh,

>

> Terima kasih diingatkan beda tentang ketidak merataan penyebaran

kegiatan ekonomi (secara geografis) vs ketidak-merataan income

distribution.

>

> Diakitkan degan latar ideologi, barangkali dependency theory yang

populer awal 70an juga menguatkan dugaan bahwa distribusi (lokasi)

kegiatan ekonomi, selaras dengan ketimpangan income, di negara

'kapitalis pinggiran' yang selalu jadi sapi perah bagi induknya di pusat

kapital sana.

>

> Namun yang disebut 'murtadin' dalam debat/peta teori pembangunan era

70an kan sudah berkembang juga. Poverty alleviation, juga "Basic Need".

Dan keduanya banyak digunakan sebagai dasar kebijakan hingga saat ini.

Sehingga walau ada policy desentralisasi yang memberikan keleluasaan

pada tiap daerah, tapi soal Kemiskinan, Pelayanan Pendidikan, Kesehatan

masih dijaga terus oleh Pemerintah.

> Penyebaran kegiatan,

> pemerataan pendapatan boleh gagal, tapi kemiskinan harus diatasi,

pelayanan minimal kesehatan, pendidikan harus terpenuhi. Ini yang

dipegang penganut jalus ini. Yang saat ini juga sering berhadapan dengan

penganut desentralisasi penuh. Begitukah?

>

> Salam,

> Risfan Munir





    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke