Pak Eko ysb, saya mengerti anda sekarang sedang mengembangkan hobi
memancing untuk mengisi leisure time.

Mengenai isu terakhir ini seharusnya diajarkan di kelas anda, tapi tak
apalah saya coba jelaskan lagi dari sudut pandang S2, untuk membuat anda
lebih pede menghadapi pembimbing anda. Subyek relativisme sebenarnya
muncul dari etika penelitian: bahwa satu sistem pemikiran tidak dapat
di-judge dengan sistem pemikiran yang lain. Relativisme pemikiran
dikembangkan untuk mencegah upaya-upaya pemaksaan pendapat di dalam
suatu komunitas peneliti. Karena itu Geertz membuat maxim analogi
laba-laba: buat jaring-jaring rajut sendiri dan terikat di dalamnya.

Relativisme ini kemudian berkembang ke dalam dua hal, pertama adalah
realisme, yaitu senantiasa mengandalkan fakta dan informasi yang dapat
dipahami bersama. Kedua adalah generalisme atau universalisme, yaitu
mengangkat satu selubung yang diharapkan dapat disepakati bersama
sebagai dasar pijak analisis. Dalam disiplin humaniora kita mengenal
munculnya istilah2 hak azasi manusia, demokrasi, transparansi, dll untuk
mengangkat sistem nilai bersama dari kondisi faktual kemasyarakatan.
Walau sungguh dapat dirasakan sistem nilai ini tidak tepat diterapkan
pada locus-focus yang berbeda. Untuk kajian keruangan kita juga sangat
banyak mengangkat simbol-simbol universalisme, seperti kesenjangan,
kemiskinan, kelayakan hidup, dll. Saya hanya mengingatkan, walaupun pada
akhirnya kita 'terpaksa' terjebak dalam relativisme, hendaknya dengan
modal yang betul dan baik (bukan benar, karena the truth is out of
there).

Dalam pandangan lebih lanjut Habermas mengatakan, posmo adalah godaan
terhadap alasan universalitas melalui pembentukan idiom apa alasan
parsialnya secara sejarah dan kultural. Salah satu caranya adalah
melalui komunikasi timbal-balik yang membentuk potensi relasi.

Sementara demikian dulu ya pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Eka ysh.
>
> Saya tdk mengerti apa maksud "kajian keruangan menjadi tanpa nilai"...
> knowledge itu tidak harus berupa pemecahan masalah... pengetahuan ttg
gravitasi atau teori evolusi tidak memecahkan masalah apapun... tapi
bisa membantu memecahkan masalah... sama juga, pengetahuan ttg
kesenjangan wilayah tidak memecahkan masalah apapun, tapi bisa membantu
pengambilan kebijakan pengentasan kemiskinan...
>
>
>
>
> --- On Thu, 12/17/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> Pak Eko, Pak BTS, dan Pak Risfan ysh.
>
>
>
> Hal ini jadi perhatian saya juga, khususnya untuk lingkup penelitian
dan
>
> perumusan kebijakan. Ada kata kunci dari Pak Djarot dari disertasinya
>
> yaitu "tatanan spatial" (spatial order), yang seharusnya ini
menjadikan
>
> domain kajian keruangan tidak masuk ke dalam relativisme. Kalau
>
> dibablaskan dalam penelitian/pemikira n murni maka kajian keruangan
akan
>
> menjadi relatif atau tanpa nilai, seperti hasil observasi singkat Pak
>
> Risfan kemarin di Bandung.
>
>
>
> Ada beberapa tipikal yang saya peroleh selama ini dari pengajaran
>
> guru-guru, seperti: fatsoen planning adalah mengikuti proses evolusi,
>
> dengan ciri-ciri: perubahan yang konsisten dan hanya satu arah, secara
>
> berkesinambungan semakin kompleks, transformasi yang tetap dari kecil
ke
>
> besar, dst. Tetapi juga ada varian ortogenesis, yaitu kesalahpahaman
>
> dasar tentang evolusi yang mengasumsikan ada kekuatan yang dapat
>
> mengarahkan perubahan, menjadi lebih baik, menjadi lebih cerdas,
menjadi
>
> lebih sempurna. Padahal dalam khazanah evolusi biologi juga ditemukan
>
> perubahan ke lebih kecil dan lebih sederhana. Tetapi secara umum
>
> perencana berpemikiran evolusi.
>
>
>
> Selanjutnya dengan pendekatan komprehensif dan memikirkan banyak
>
> variabel, perencana sebenarnya dituntut berpikir struktur. Jadi
>
> perencana sebenarnya adalah strukturalist.
>
>
>
> Selanjutnya yang terpenting adalah pemikiran konstruktif dan
>
> berorientasi tujuan, ini sungguh sangat tipikal. Kemampuan pemikiran
>
> konstruktif sebenarnya tidak ada duanya dalam profesi; walau sekarang
>
> sudah terkalahkan oleh ahli dan praktisi politik, dan hukum.
>
>
>
> Kita perlu bergiat mengembangkan sebanyak mungkin teori dan landasan
>
> ilmiah, supaya tidak terjebak dalam relativisme, sebagaimana saran Pak
>
> ATA dan Pak Djarot.
>
>
>
> Salam,
>
>
>
> -ekadj
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K ekobudik@ .> wrote:
>
> >
>
> > Pak BTS,
>
> >
>
> > memecahkan masalah pembangunan wilayah bukan masalah riset, tapi
>
> masalah kebijakan (walau bisa jg masalah riset terbatas pd applied
>
> science)... mengetahui bagaimana wilayah bisa terbangun/tumbuh, dan
>
> penyebabnya lah yg menjadi masalah riset...
>
> >
>
> > analisis kesenjangan wilayah jg tdk terbatas pd pattern dan level,
>
> dianalisis juga relationship antara faktor2 pnyebabnya dan
causality...
>
> menjawab pertanyaan: mengapa ada wilayah yg tumbuh cepat dan ada yg
>
> tidak... kalau kita mengetahui jawabannya, akan jadi masukan yg
>
> bermanfaat utk pengambilan kebijakan...
>
> >
>
> > Bapak kurang tepat menyimpulkan tulisan saya... saya tidak
mengatakan
>
> bahwa HDI yg rendah disebabkan oleh kesenjangan wilayah... tapi
>
> kesenjangan wilayah adalah perwujudan dari adanya wilayah2 yg rata2
HDI
>
> penduduknya rendah dan tinggi... nah manfaat dari studi kesenjangan
>
> wilayah antara lain mengidentifikasi di mana saja wilayah yg HDI nya
>
> rendah, dan mengapa bisa rendah... bukankah ini juga masukan utk
>
> kebijakan?
>
> >
>
> > Jadi mohon kalimat "kesenjangan wilayah terkait dgn masalah
>
> kemiskinan" tidak sekedar diterjemahkan sebagai "kesenjangan wilayah
>
> menyebabkan kemiskinan". .. tapi bahwa kemiskinan di beberapa
>
> wilayah yg lebih tinggi dr wil lain adalah bentuk kesenjangan
wilayah...
>
> >
>
> > tapi mari kita bahas juga apakah "kesenjangan wilayah menyebabkan
>
> kemiskinan"? Bisa jadi ya. Ini masalah dominasi, masalah hubungan
antara
>
> wil maju dan wil miskin... hubungan tdk hanya dlm konteks hub dagang
>
> atau input-output, tapi juga power struggle...dominasi power yg
>
> bermain... Jakarta bukan wilayah kaya SDA, tapi kaya, karena di
sanalah
>
> berlokasi kelas pemegang power tertinggi di republik ini.. ketika
>
> pemegang power mengatakan tidak ada desentralisasi maka daerah miskin
>
> akan tetap miskin walaupun kaya minyak sekalipun...
>
> >
>
> > kesenjangan wilayah bisa juga berarti perbedaan antara kawasan urban
>
> yg makmur dan kawasan perdesaan... ini sebentuk dominasi juga,
dominasi
>
> kapital... sudah diketahui sejak lama bahwa urban menghisap desa,
>
> menjadikan desa bisa tetap miskin...
>
> >
>
> > salam..
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > --- On Thu, 12/17/09, Bambang Tata Samiadji btsamiadji@ .. wrote:
>
> >
>
> > From: Bambang Tata Samiadji btsamiadji@ ..
>
> > Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism
>
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > Date: Thursday, December 17, 2009, 9:17 AM
>
> >
>
> > Terima kasih Pak Eko,....cuma sepertinya analisis kesenjangan antar
>
> wilayah hanya sekedar tahu, sekedar pembandingan, sekedar gambaran,...
>
> tapi tidak effect ke sasaran pengembangan wilayah.
>
> > Â
>
> > HDI yang rendah, tingginya kematian ibu dan anak, kurang gizi,
>
> rendahnya pelayanan umum dsb,.... apakah itu disebabkan oleh
kesenjangan
>
> wilayah? Bukankah itu disebabkan oleh keterbelakangan. .. bukan
>
> kesenjangannya .... kecuali bila interdependensi antar wilayah di
>
> Indonesia itu sangat tinggi... Tapi Indonesia yang kepualauan
>
> ini...interdependen si antar wilayah itu tidak tinggi.
>
> > Â
>
> > Mungkin Pak Eko punya data bahwa interdependensi antar wilayah di In
>
> doensia itu sangat tinggi.
>
> > Â
>
> > Thanks Pak atas pencerahannyta.
>
> > Â
>
> > CU. BTS
>
> > Â
>
> > --- On Thu, 12/17/09, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote:
>
> >
>
> >
>
> > From: Eko B K ekobu...@yahoo. com>
>
> > Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism
>
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > Date: Thursday, December 17, 2009, 7:53 AM
>
> >
>
> >
>
> > Â
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Pak BTS,
>
> >
>
> > Terimakasih pak. Kesenjangan wilayah dpt diukur dgn beberapa
variabel,
>
> tentu yg menunjukan tingkat kesejahteraan bisa menggunakan HDI, bukan
>
> hanya income/capita. .. kesenjangan wilayah juga tdk sekedar dilihat
>
> levelnya dgn Gini misalkan, tapi juga dilihat pattern nya, mana saja
>
> kawasan2 yg memiliki HDI rendah...dari sini analisis kesenjangan
wilayah
>
> bisa menjadi petunjuk awal di lokasi mana sajakah yg memiliki HDI
>
> rendah...
>
> >
>
> > Sekali lagi, hanya petunjuk awal, karena di setiap tempat yg dihuni
>
> sekelompok masyarakat selalu ada kelas sosial, di NTT yg HDI nya
rendah
>
> pasti ada kelas sosial atas yg HDI nya tinggi...
>
> >
>
> > Tapi petunjuk awal ini bisa berguna utk pengambilan kebijakan,
>
> misalnya bila HDI nya rendah akibat tingkat kematian yg tinggi, perlu
>
> diselidiki kenapa. Apabila penyebabnya kematian ibu dan bayi akibat
>
> fasilitas kesehatan dan transportasi desa yg kurang (seperti cerita
mas
>
> Dwiagus utk NTB/NTT) tentu perlu
>
> > dicarikan jalan keluarnya... tentu definisi kemiskinan yg saya
gunakan
>
> adalah definisi yg luas, bukan sekedar berpenghasilan di bawah 1 atau
2
>
> USD per hari...:)
>
> >
>
> > mekanisme transfer antar wilayah juga memerlukan studi kesenjangan
>
> wilayah, bagaimana kita bisa tau mana wilayah yg maju dan tidak maju,
>
> seberapa besar perbedaannya, dan apa saja yg berbeda, kalau kita tidak
>
> melakukan studi kesenjangan wilayah? :)
>
> >
>
> > semoga bisa menjawab pertanyaan bapak..
>
> >
>
> > salam..
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > --- On Thu, 12/17/09, Bambang Tata Samiadji btsamia...@yahoo. com>
>
> wrote:
>
> >
>
> >
>
> > From: Bambang Tata Samiadji btsamia...@yahoo. com>
>
> > Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism
>
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > Date: Thursday, December 17, 2009, 8:29 AM
>
> >
>
> > Pak Eko wrote :
>
> > "...utk dunia ketiga, saya kira problem kesenjangan wilayah ini sgt
>
> terkait dgn pengentasan kemiskinan, karena umumnya penduduk di wilayah
>
> miskin mendapatkan public services yg kurang... "
>
> > ............ ......... .
>
> > Pak Eko mengatakan adanya keterkaitan antara kesenjangan dan
>
> pengentasan kemiskinan, dalam hal ini adalah public services. Menurut
>
> saya, statement ini hanya perbandingan bahwa wilayah terbelakang
itu
>
> public service-nya kurang sementara wilayah maju public service-nya
>
> lebih baik. Tapi keterkaitannya tidak ada... kecuali kalau memang ada
>
> mekanisme transfer kesejahteraan dari wilayah maju ke wilayah
>
> terbelakang sehingga kesenjangan itu berkurang. Padahal mekanisme ini
>
> tak pernah ada kecuali melalui mekanisme fiskal. Jadi apaÂ
manfaat
>
> analisis  kesenjangan kalau hanya sekedar pembandinganÂ
....
>
> nggak terkait dengan sasaran kesejahteraan?
>
> > Â
>
> > Mohon pencerahan.. ...
>
> > Â
>
> > Thanks. CU. BTS
>
> > Â
>
> >
>
> >
>
> > --- On Thu, 12/17/09, Eko B K ekobu...@yahoo. com> wrote:
>
> >
>
> >
>
> > From: Eko B K ekobu...@yahoo. com>
>
> > Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur
>
> sepeda, leisure time & kapitalisme)
>
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > Date: Thursday, December 17, 2009, 6:33 AM
>
> >
>
> > Betul pak Risfan, sebetulnya dependency theory tsb yg saya kaitkan
dgn
>
> kelompok Marxist (Paul Baran, Wallerstein, Andre Gunder Frank) yg
>
> propose social revolution atau menutup/memutus diri dr dunia
>
> kapitalis...
>
> >
>
> > Bapak juga betul, bahwa konteks poverty reduction sudah lama
>
> berkembang.. . yg saya maksud, ketika kita mengatakan bahwa poverty
>
> reduction itu "lebih penting" dari regional inequality maka kita
>
> memasuki wilayah ethics... karena utk problem riset ya keduanya sama2
>
> penting utk diinvestigasi. .. utk dunia ketiga, saya kira problem
>
> kesenjangan wilayah ini sgt terkait dgn pengentasan kemiskinan, karena
>
> umumnya penduduk di wilayah miskin mendapatkan public services yg
>
> kurang... ini berbeda dgn konteks negara maju di mana standar minimum
>
> public services sudah cukup maju bahkan di wilayah paling miskin...
>
> >
>
> > salam..
>
> >
>
> > --- On Wed, 12/16/09, Risfan Munir risf...@yahoo. com> wrote:
>
> >
>
> >
>
> > From: Risfan Munir risf...@yahoo. com>
>
> > Subject: RE: [referensi] regional inequality & capitalism (was jalur
>
> sepeda, leisure time & kapitalisme)
>
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
>
> > Date: Wednesday, December 16, 2009, 11:34 PM
>
> >
>
> >
>
> > Â
>
> >
>
> > Pak Eko, BTS, rekans ysh,
>
> >
>
> > Terima kasih diingatkan beda tentang ketidak merataan penyebaran
>
> kegiatan ekonomi (secara geografis) vs ketidak-merataan income
>
> distribution.
>
> >
>
> > Diakitkan degan latar ideologi, barangkali dependency theory yang
>
> populer awal 70an juga menguatkan dugaan bahwa distribusi (lokasi)
>
> kegiatan ekonomi, selaras dengan ketimpangan income, di negara
>
> 'kapitalis pinggiran' yang selalu jadi sapi perah bagi induknya di
pusat
>
> kapital sana.
>
> >
>
> > Namun yang disebut 'murtadin' dalam debat/peta teori pembangunan era
>
> 70an kan sudah berkembang juga. Poverty alleviation, juga "Basic
Need".
>
> Dan keduanya banyak digunakan sebagai dasar kebijakan hingga saat ini.
>
> Sehingga walau ada policy desentralisasi yang memberikan keleluasaan
>
> pada tiap daerah, tapi soal Kemiskinan, Pelayanan Pendidikan,
Kesehatan
>
> masih dijaga terus oleh Pemerintah.
>
> > Penyebaran kegiatan,
>
> > pemerataan pendapatan boleh gagal, tapi kemiskinan harus diatasi,
>
> pelayanan minimal kesehatan, pendidikan harus terpenuhi. Ini yang
>
> dipegang penganut jalus ini. Yang saat ini juga sering berhadapan
dengan
>
> penganut desentralisasi penuh. Begitukah?
>
> >
>
> > Salam,
>
> > Risfan Munir
>



Kirim email ke