Pak Eko,

Ya, saya juga akan pilih ketiga. Karena saat peneliti deduktif memilih 
hipotesis, jelas pilihannya didasari prefeensi dia juga. Kalau dia kumpulkan 
referensi teori, ya nyari yang sreg untuk dia.

Tentang apakah induktif mesti kualitatif, kebetulan saya baca buku metode 
penelitian "kuantitatif vs kualitatif" yang mengkategorikan fenomenologi dan 
etnografi pada kolom kualitatif.

Tapi soal pemanfaatan/ penulisan selanjutnya, spt trilogi "Mojokuto, Penjaja & 
Raja, Involusi Pertanian", kelihatannya dlm penulisan 3 buku itu Geertz tdk 
semata menulis hasil risetnya ya, tapi melakukan perbandingan dgn budaya lain. 
Misal dia compare etika Santri-Dagang dgn etika kewira usahaan Protestan. Juga 
di Involusi Pertanian dia membandingkan ekologi budaya P Jawa dgn Jepang. 

Salam,
Risfan Munir


Pada Sab, 19 Des 2009 06:01 CST Eko B K menulis:

>Pak Risfan ysh.,
>
>Mungkin bapak kurang tepat menangkap apa yg saya maksud, sebetulnya yg ingin 
>sy ketahui bukan apakah bapak lebih suka penelitian berbasis kuantitatif atau 
>kualitatif, tapi apakah bapak setuju dgn pendapat 1. bahwa kualitatif pasti 
>subyektif, atau 2. bahwa kualitatif bisa relatif obyektif karena teori akan 
>terus diuji, atau 3. bahwa keduanya, kuantitatif dan kualitatif tidak bisa 
>terlepas dari subyektivitas...
>
>Saya sendiri condong pada pendapat yg ketiga...
>
>hal yg lain adalah: baik deduksi maupun induksi keduanya bisa kuantitatif 
>maupun kualitatif, walaupun memang kalau deduksi lebih dekat ke kuantitatif 
>dan induksi ke kualitatif...
>
>sy sepakat dgn bapak bahwa deduksi bisa relatif lebih murah dan cepat dr pd 
>induksi...utk fieldwork juga kita bisa lebih memanage waktu dan tentu dana... 
>walaupun kalau sudah berpengalaman pasti dgn induksi juga bisa lebih 
>termanage...
>
>salam..
>
>--- On Sat, 12/19/09, Risfan M <[email protected]> wrote:
>
>From: Risfan M <[email protected]>
>Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
>To: [email protected]
>Date: Saturday, December 19, 2009, 12:37 PM
>
>
>
>
>
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>    
>      
>      
>      Pak Eko dan temans ysh,
>
>
>
>Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif induktif. 
>Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset kualitatif. 
>
>Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang 
>terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif.
>
>
>
>Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya 
>bisa menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk. 
>Kan bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan 
>ekonomi spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau 
>intervensi pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan 
>lingkungan, kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana.
>
>Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin 
>peraturan jelas selama ini gak efektif.
>
>
>
>Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset induktif 
>itu sesuatu yg "mewah" ya. 
>
>
>
>Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik lho. 
>Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis analisis 
>kualitatif.
>
>
>
>Pendapat yang agak campur-campur ya.
>
>
>
>Salam,
>
>Risfan Munir
>
>
>
>
>
>    
>     
>
>    
>    
>
>
> 
>
>
>
>  
>
>
>
>
>
>
>      


      

Kirim email ke