Halo..

kalao keterlibatan itu divaluasi dalam satuan Mata uang per man-month,
mungkin bisa diukur secara lebih seksama.
Mewah dalam hal ini memang saya pahami sebagai 'berapa banyak sumber daya
terbatas (scarce resources) yg terpakai dalam penelitian'
scarce resources tsb antara lain ya ongkos, tenaga kerja manusia peneliti
dan waktu penelitian..
semuanya terbatas tho.. (terbatas = langka  >< tak terbatas, melimpah)

sebagai analogy, kita bisa katakan seseorang hidup mewah karena kita
membandingkan berapa banyak sumberdaya terbatas yg dia habisi untuk hidup..


Kalau semua sumberdaya divaluasi dengan satuan mata uang, maka bisa
dibandingkan mana yg lebih 'mewah' : penelitian induktif mie jowo di Jogja
atau penelitian deduktif Kenbaun..
keeping in mind bahwa; di kenbaun tenaga kerja peneliti lebih terbatas..


Btw, sepertinya Kenbaun bisa mandiri antara lain karena terisolasi secara
geografis, sehingga 'terpacu' untuk self-sustaining.
Dalam skala global: mungkin bisa menjelaskan bagaimana negara-2 yg diembargo
oleh USA ternyata tidak malah jatuh miskin seperti negara-2 Afrika yg jusrtu
banyak campur-tangan bule nya..

Tapi ada pula kasus Yahukimo.. sama-2 terisolasi, tapi nasibnya tidak
seindah Kenbaun. (saya pun baru dengar Yahukimo dan lalu Kenbaun dari
informasi sekunder).

Salam,
-K-





2009/12/19 Djarot Purbadi <[email protected]>

>
>
> Pak Risfan dan Pak Harya, terima kasih atas tanggapannya.
>
> Fenomena di sekitar saya barangkali ada kaitan dengan: mengapa peneliti
> Jogja meneliti di Kaenbaun (Timor). Selain alasan keilmuan, mengangkat
> arsitektur vernakular skala lingkungan permukiman, ada alasan yang pernah
> saya sadari dan menjadi guyonan bagi saya tetapi tidak dicerna dengan baik
> oleh teman-teman saya.
>
> Jika di lingkungan Pak Eko teman-teman beliau sekolah di luar negeri dan
> meneliti di luar negeri, maka di lingkungan saya sekolah di luar negeri dan
> menelitinya di rumah sendiri. Lha saya, kayaknya ingin tampil beda: sekolah
> di rumah sendiri tetapi menelitinya di luar pulau, yang jika dihitung jarak
> sudah melebihi luar negeri (Jogja-Singapor lebih dekat daripada
> Jogja-Kaenbaun), bahkan nyaris di tapal batas dengan Timor Leste. Itu
> konteksnya yang saya ingat.
>
> Jadi sekolahnya sederhana, penelitiannya "mewah" ngiras plesiran ke Timor,
> padahal di Timor adanya bukan toko-toko barang mewah seperti di Paris
> (cerita Pak Eko), yang mudah mendapatkan sepatu-sepatu mahal. Jika kita ke
> Kaenbaun, yang ditemui adalah ritual adat dengan berdoa mengelilingi batu,
> menyembelih babi, memakan dagingnya dan darahnya (sop darah babi), juga
> mabuk sopi hehehe... ini soal pilihan, tetapi di dalamnya barangkali
> terkandung kemewahan juga ya.
>
> Tidak ada salahnya sekolah di luar negeri kemudian meneliti di Jogja,
> ngiras pulang kampung. Bukan menelitinya yang sinambi piknik, melainkan
> sekolahnya yang sinambi piknik. Keuntungannya banyak, minimal bahasa Inggris
> jadi lancar dan fenomena negeri sendiri terangkat ke permukaan sehingga bisa
> tampil di cakrawala ilmu pengetahuan. Tetapi, kayaknya saya memang ingin
> tampil beda dibandingkan teman-teman. Memang ada juga yang seperti saya,
> rekan fakultas hukum sangat terikat tempat: sekolah di Jogja meneliti di
> Jogja juga, atau paling jauh sekolah di Surabaya meneliti di Jogja.
>
> Jika dilihat dari "penghayatan" memahami fenomena, saya merasa kok tidak
> ada kemewahannya ya Pak Risfan ? Bagaimana nih ? Kalau penghayatan memang
> menjadi syarat pokoknya, supaya pemahaman (understand, verstehen) terhadap
> fenomena bisa "mentog".
>
> Soal kesan riset induktif adalah "riset untuk riset", ada sedikit benarnya,
> sebab yang saya ceritakan sangat terkait dengan penelitian untuk disertasi,
> yang ujungnya memang berusaha mengungkapkan teori baru. Tetapi sebenarnya,
> tidak selalu demikian. Beberapa "proyek perancangan" saya kerjakan dengan
> proses induksi di bagian awal (menemukan model of) kemudian seterusnya ke
> arah rancangannya (merumuskan model for).
>
> Jadi gagasan Pak Risfan tentang kaitan riset induktif dengan penerapan
> sangat tepat, dan ini sama dengan riset-riset yang lain juga demikian,
> selalu ada kaitan dengan dunia praksis. Jika kita diskusi tentang riset
> induksi ya artinya "naik gunung" dan itu memang sedang menjalani proses
> "riset untuk riset", maka perlu ada langkah lanjutan untuk mengaitkannya
> dengan dunia nyata yang tujuannya memecahkan masalah.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On *Sun, 12/20/09, Risfan M <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: Risfan M <[email protected]>
> Subject: Bls: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
> To: [email protected]
> Date: Sunday, December 20, 2009, 12:57 AM
>
>
>
> Pak Djarot, Koko,
>
> Mewah bukan hanya dalam arti ongkos, tapi juga keterlibatan. Bukan cuma
> uang, waktu, tapi juga soal pengahayatan itu kan lama. Jangan bayangkan kita
> sendiri saja. Itu hoby namanya. Tapi harus dibayangkan kalau melibatkan
> orang lain, yang ada biayanya.
>
> Contoh tukang mie depan rumah terlalu ekstrem karena selama ini cerita desa
> Kaenbuen di NTT, sedang penelitinya dari Jogja.
>
> Kalau ada grant yang yang targetnya open ya bagus. Tapi itu kan langka.
> Penyandang dana, pemberi kerja umumnya ya minta TOR yang jelas target,
> waktu, orang, transpor, meeting, yang semua jelas biayanya toh. Ini soal
> logis-logis saja.
>
> Sekali lagi itu terbawa gambaran penelitian induktif Pak Djarot. Yang
> sifatnya hampir "riset untuk riset."
>
> Kalau buku bisnis yang saya baca, etnografi dipakai untuk menganalisis:
> preferensi konsumen thd "minuman mineral", "pertimbangan konsumen memilih
> merek motor", dst. Dalam kasus seperti ini tentu tak beda soal "biaya"
> antara kuantitatif atau kualitatif. Apalagi kalau itu dilakukan oleh lembaga
> riset pasar yang profesional, sudah pengalaman.
>
> Tapi diluar kesan "kesakralan" yang saya tangkap dari dialog Djarot-Eko ttg
> riset induktif ini, menurut saya aplikasi riset induktif ini penting.
>
> Sebagai misal: walau pengambilan keputusan dalam perencanaan, pemanfaatan
> atau pengendalian itu ada prosedurnya (deduktif). Kiranya akan menarik kalau
> diteliti juga, bagaimana proses "yang sesungguhnya terjadi" (induktif).
> Ambil kasus Bopunjur. Siapa saja aktor yang terlibat, resmi tak resmi
> (riil), bagaimana prosesnya, pertimbangan / interest tiap aktor, dst hingga
> ganti 5 pemerintahan kok gak ada kemajuan berarti.
> Sehingga Planning tidak terjebak dalam siklus: survai - rencana - perda/pp
> - sulit dilaksanakan - revisi - perda/pp - sulit laksanakan - revisi - dst.
> Kalau kita tahu fenomena sesungguhnya yang terjadi, mungkin intervensinya
> tidak mengulang itu-itu lagi yang terbukti tidak efektif.
>
> D.p.l mungkin kian banyak riset induktif bisa mengurangi dominasi pemikiran
> yang normatif. Karena makin disadari pengaruh aspek kelembagaan dan relasi
> aktor ternyata yang pengaruhnya besar atas efektifitas rencana, bukan hanya
> kualitas rencananya.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
> Pada Sab, 19 Des 2009 10:13 CST Harya Setyaka menulis:
>
> >
> >CMIIW;
> >Mungkin lama nya waktu penelitian itu yg 'mewah'.
> >Kalau penelitian tsb bersifat proyek, maka 'mewah' sekali kalau jangka
> waktu pengerjaannya lama dan para penelitinya melakukan penelitian dengan
> santai, bahkan semi-plesir seperti pada contoh kasus Mie Jowo.
> >Kalau sudah terbiasa jadi konsultan kan artinya sudah sehari-2 jadi
> peneliti proyekan; mengerjakan penelitian dgn berbasis proyek.
> >
> >Salam,
> >-K-
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >Pedal Powered BikeBerry
> >
> >
> >-----Original Message-----
> >From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. 
> >com<http://mc/compose?to=dpurbadi%40yahoo.com>
> >
> >Date: Sat, 19 Dec 2009 07:56:22
> >To: <refere...@yahoogrou 
> >ps.com<http://mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>
> >
> >Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
> >
> >Pak Risfan, Pak Eka dan Pak Eko,
> >
> >Saya juga memilih yang ketiga, sebab sehalus apapun jika masih terkait
> dengan manusia (peneliti) maka selalu saja ada unsur dirinya yang terkait
> dalam penelitian kualitatif ataupun kuantitatif. Ada yang bilang, toh bisa
> diturunkan kadar subyektivitasnya sampai mencapai pengetahuan
> inter-subyektif. Mungkin ya bisa begitu, saya belum mencoba, sebab dalam
> konteks lain isinya bisa menjadi negatif.
> >
> >Tentang penelitian induktif bersifat mewah, saya kok belum memahami Pak
> Risfan, mohon penjelasan.
> >
> >Jika saya punya skenario pemelitian ingin memetakan jaringan penjual mi
> jowo di Yogyakarta dengan langkah santai, maksudnya dikerjakan sedikit-demi-
> sedikit dengan target pencapaian dalam waktu yang panjang, cara
> pengerjaannya bisa sangat menarik dan murah (tidak mewah). Saya bisa santai
> mewawancara penjual mi di perumahan saya sebagai awal (entry point) (lihat
> di http://eloknogotirt o,wordpress. 
> com<http://eloknogotirto,wordpress.com>tentang Agus Mie atau di 
> http://penghunikota
> .wordpress. com <http://penghunikota.wordpress.com> tentang Kang Parjono),
> kemudian satu per satu seminggu dua kali jajan mie yang dituntun informasi
> sebelumnya mewawancara penjual mie yang lain, maka lama-lama jaringan dan
> sebaran spasial penjual mi jowo di Yogyakarta bisa terlihat dengan jelas dan
> mendalam.
> >
> >Jika saya yang mengerjakan, santai sekali dan murah karena harga makanan
> tidak mahal di kios mie. Paling-paling kita bisa menghabiskan 3 - 4 gelas
> air jeruk yang panas (sengaja minta yang panas, biar lama wawancaranya,
> menjadi jam seperti jam pasir). Memang satu penjual mie bisa kita datangi
> lebih dari sekali (skenario grand-tour dan mini-tour) untuk melakukan
> validasi dsb. Akhirnya informasi akan terkumpul secara induktif. Pengamatan
> awal saya masih memperkuat tesis sebelumnya, bahwa kekerabatan ada kaitan
> dengan jaringan dan sebaran spasial penjual mie jowo di Jogjakarta.
> >
> >Nah, jika kita akan meneliti secara deduktif, kita gunakan teori
> kekerabatan sebagai basis hipotesisnya, kiranya lebih mudah lagi sebab
> indikasi dapat diturunkan dari hipotesis ini dan segera bisa dibuat
> kuesionernya. ..mungkin bisa lebih cepat dikerjakan.. ..waktunya pendek
> (beayanya sedikit; saya ke Kaenbaun hanya dua kali, jadi beayanya juga nggak
> sampai ratusan juta untuk kerja lapangan sebuah disertasi). Sekali lagi,
> saya belum mengerti mewahnya dimana Pak ?
> >
> >Persoalannya, apakah dengan substansi seperti itu kita sedang menulis
> disertasi atau sekedar latihan riset....disini peran pembimbing menentukan,
> bagaimana sebuah proposal mengarah kepada penulisan disertasi ataukah tidak.
> >
> >Salam,
> >
> >
> >
> >Djarot Purbadi
> >
> >
> >
> >http://realmwk. wordpress. com <http://realmwk.wordpress.com> [Blog Resmi
> MWK]
> >
> >http://forumriset. wordpress. com <http://forumriset.wordpress.com> [Blog
> Resmi APRF]
> >
> >http://fenomenologi arsitektur. wordpress. 
> >com<http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com>
>
> >
> >--- On Sat, 12/19/09, Risfan M <risf...@yahoo. 
> >com<http://mc/compose?to=risfano%40yahoo.com>>
> wrote:
> >
> >From: Risfan M <risf...@yahoo. com<http://mc/compose?to=risfano%40yahoo.com>
> >
> >Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
> >To: refere...@yahoogrou 
> >ps.com<http://mc/compose?to=referensi%40yahoogroups.com>
>
> >Date: Saturday, December 19, 2009, 6:37 PM
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Pak Eko dan temans ysh,
> >
> >
> >
> >Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif
> induktif. Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset
> kualitatif.
> >
> >Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang
> terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif.
> >
> >
> >
> >Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya
> bisa menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk.
> Kan bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan
> ekonomi spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau
> intervensi pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan
> lingkungan, kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari
> mana.
> >
> >Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin
> peraturan jelas selama ini gak efektif.
> >
> >
> >
> >Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset
> induktif itu sesuatu yg "mewah" ya.
> >
> >
> >
> >Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik
> lho. Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis
> analisis kualitatif.
> >
> >
> >
> >Pendapat yang agak campur-campur ya.
> >
> >
> >
> >Salam,
> >
> >Risfan Munir
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
>  
>

Kirim email ke