Dari sebuah sumber yg tidak bisa saya ungkapkan di sini, saya mendapat kabar 
Pak Djarot dgn sangat sukses telah melalui sidang doktorat nya, selamat Pak!

salam..

--- On Mon, 12/21/09, Eko B K <[email protected]> wrote:

From: Eko B K <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
To: [email protected]
Date: Monday, December 21, 2009, 1:29 PM







 



  


    
      
      
      Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eka ysh

Terimakasih atas masukannya.. . bukan survey Pak Eka, saya hanya ingin 
mendapatkan masukan saja, barangkali ada pandangan yg berbeda...:)

salam..

--- On Sat, 12/19/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:

From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, December 19, 2009, 4:56 PM







 



    
      
      
      Pak Risfan, Pak Eka dan Pak Eko,

Saya juga memilih yang ketiga, sebab sehalus apapun jika masih terkait dengan 
manusia (peneliti) maka selalu saja ada unsur dirinya yang terkait dalam 
penelitian kualitatif ataupun kuantitatif. Ada yang bilang, toh bisa diturunkan 
kadar subyektivitasnya sampai mencapai pengetahuan inter-subyektif. Mungkin ya 
bisa begitu, saya belum mencoba, sebab dalam konteks lain isinya bisa menjadi 
negatif.

Tentang penelitian induktif bersifat mewah, saya kok belum memahami Pak Risfan, 
mohon penjelasan. 

Jika saya punya skenario pemelitian ingin memetakan jaringan penjual mi jowo di 
Yogyakarta dengan langkah santai,
 maksudnya dikerjakan sedikit-demi- sedikit dengan target pencapaian dalam 
waktu yang panjang, cara pengerjaannya bisa sangat menarik dan murah (tidak 
mewah). Saya bisa santai mewawancara penjual mi di perumahan
 saya sebagai awal (entry point) (lihat di http://eloknogotirt o,wordpress. com 
tentang Agus Mie atau di http://penghunikota .wordpress. com tentang Kang 
Parjono), kemudian satu per satu seminggu dua kali jajan mie yang dituntun 
informasi sebelumnya mewawancara penjual mie yang lain, maka lama-lama jaringan 
dan sebaran spasial penjual mi jowo di Yogyakarta bisa terlihat dengan jelas 
dan mendalam. 

Jika saya yang mengerjakan, santai sekali dan murah karena harga makanan tidak 
mahal di kios mie. Paling-paling kita bisa menghabiskan 3 - 4 gelas air jeruk 
yang panas (sengaja minta yang panas, biar lama wawancaranya, menjadi jam 
seperti jam pasir). Memang satu penjual mie bisa kita datangi lebih dari sekali 
(skenario grand-tour dan mini-tour) untuk melakukan validasi dsb. Akhirnya 
informasi akan terkumpul secara induktif. Pengamatan awal saya masih memperkuat 
tesis sebelumnya, bahwa kekerabatan ada kaitan dengan jaringan dan sebaran 
spasial penjual mie
 jowo di Jogjakarta. 

Nah, jika kita akan meneliti secara deduktif, kita gunakan teori kekerabatan 
sebagai basis hipotesisnya, kiranya lebih mudah lagi sebab indikasi dapat 
diturunkan dari hipotesis ini dan segera bisa dibuat kuesionernya. ..mungkin 
bisa lebih cepat dikerjakan.. ..waktunya pendek (beayanya sedikit; saya ke 
Kaenbaun hanya dua kali, jadi beayanya juga nggak sampai ratusan juta untuk 
kerja lapangan sebuah disertasi). Sekali lagi, saya belum mengerti mewahnya 
dimana Pak ?

Persoalannya, apakah dengan substansi seperti itu kita sedang menulis disertasi 
atau sekedar latihan riset....disini peran pembimbing menentukan, bagaimana 
sebuah proposal mengarah kepada penulisan disertasi ataukah tidak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Sat, 12/19/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote:

From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Saturday, December 19, 2009, 6:37 PM







 



    
      
      
      Pak Eko dan temans ysh,



Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif induktif. 
Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset kualitatif. 

Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang 
terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif.



Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya bisa 
menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk. Kan 
bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan ekonomi 
spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau intervensi 
pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan lingkungan, 
kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana.

Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin peraturan 
jelas selama ini gak efektif.



Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset induktif itu 
sesuatu yg "mewah" ya. 



Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik lho. 
Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis analisis 
kualitatif.



Pendapat yang agak campur-campur ya.



Salam,

Risfan Munir





    
     



 





      

    
     



 





      

    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke