Pak Risfan ysh. Saya belum nonton filmnya sehingga belum bisa turut menikmati apa yg bapak diskusikan..
Tapi saya jadi ingat buku guns, germs and steel... yg salah satu bagiannya menceritakan teori mengapa Pizarro hanya dgn 180 orang mampu menaklukan 80 ribu pasukan Atahualpa... pd akhirnya bangsa2 yg hidup harmoni dgn nature terusik, dijajah, dimusnahkan oleh bangsa lain yg menguasai mesiu, kapitalisme... ada juga teori yg mencoba melihat kaitan antara kehancuran alam dgn kepercayaan dan agama... penganut2 agama monotheisme dianggap menghancurkan alam lebih dahsyat dr pd polytheisme yg menghargai alam dlm bentuk simbol2 ketuhanan... ini saya hanya menginformasikan adanya teori lho, bukan berarti saya polytheist hehe... jangan sampai seperti dulu ketika saya menginformasikan adanya ilmuwan2 yg berteori bahwa Borobudur bisa jadi dibangun oleh orang India Selatan saya langsung dituduh durhaka ala Malin Kundang...kan repot kalau begitu...hehe... salam.. --- On Fri, 12/25/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif dan AVATAR To: [email protected] Date: Friday, December 25, 2009, 2:06 AM Pak Djarot, Pak Eko dan rekans ysh, Mengisi liburan dengan nonton film AVATAR, tiba-tiba ingat desa Kaenbuen serta kontras “deduktif vs induktif”nya Djarot dan Eko. Film ini menggambarkan kontras dan konflik antara “kesombongan kedigdayaan angkara murka” terhadap “komunitas asli suku Na’vi beserta lingkungannya.” Film campuran animasi serta 3-D ini dengan cantik menggambarkan kearifan suku asli yang hidup “menyatu dengan lingkungan”, betapa tiap gerakan pohon, binatang dan manusia akan seimbang kalau menyatu dengan spirit alam, yang tak lain adalah kearifan naluri dan instink yang sesuai petunjuk Tuhan. Semua digambarkan dengan tali (kuncir, tali di leher hewan, tali-tali menjulur dari pepohonan, serta bunga-bunga kecil yang beterbangan tanda komunikasi). Kuda liar mau dikendarai kalau manusia bisa “menyelaraskan” detak jantung dan irama nafasnya dengan si kuda. Bagitu pula pepohonan akan memberikan kehidupan. Bahkan secara simbolis digambarkan betapa penerangan api di waktu malam tak diperlukan, karena banyak pepohonan yang mengelurkan fosfor. Kunci semua kekuatan dalam keselarasan itu adalah NETWORK spirit dan energy antar jenis mahluk hidup dan lingkungan/habitatn ya. Kontras dengan semua itu adalah kekuatan angkara murka, yang mengandalkan nafsu menguasai, mengandalkan teknologi besi (robot, mesin terbang, bulldozer) yang niatnya adalah menguasai wilayah untuk menyedot sumber energy dan SDA lainnya. Sama sekali impersonal, tidak ada empathy kepada komunitas setempat. Mereka dianggap sebagai monyet, dan menganggap perlawanannya sebagai terorisme yang layak dibasmi dengan terror kedigdayaan teknologi. Akhir kisah, terserah bagaimana kita menginterpretasikan dan menghubungkan romantisme film itu dengan kenyataan dunia sesungguhnya (ini posmo). Tapi simblolisme yang ditampilkannya, bahwa KEMENANGAN yang dicapai oleh suku asli adalah dari kekuatan NETWORK social antar individu, juga dengan mahluk hidup lainnya, tanaman, binatang, dan alam (morfologi, geologi) lingkungan. Serta KESELARASAN hidup dengan lingkungan, termasuk tidak mengonsumsi melebihi kebutuhan hidup. Itu semua yang menjadikan suku asli Na’vi ini mampu bertahan dari angkara murka. I wish you all Happy Holidays, may God bless us! Salam, Risfan Munir Penulis buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" (Gramedia, Nov'' 2009) --- On Mon, 12/21/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote: From: Eko B K <ekobu...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, December 21, 2009, 6:29 AM Pak Risfan, Pak Djarot, Pak Eka ysh Terimakasih atas masukannya.. . bukan survey Pak Eka, saya hanya ingin mendapatkan masukan saja, barangkali ada pandangan yg berbeda...:) salam.. --- On Sat, 12/19/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote: From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday, December 19, 2009, 4:56 PM Pak Risfan, Pak Eka dan Pak Eko, Saya juga memilih yang ketiga, sebab sehalus apapun jika masih terkait dengan manusia (peneliti) maka selalu saja ada unsur dirinya yang terkait dalam penelitian kualitatif ataupun kuantitatif. Ada yang bilang, toh bisa diturunkan kadar subyektivitasnya sampai mencapai pengetahuan inter-subyektif. Mungkin ya bisa begitu, saya belum mencoba, sebab dalam konteks lain isinya bisa menjadi negatif. Tentang penelitian induktif bersifat mewah, saya kok belum memahami Pak Risfan, mohon penjelasan. Jika saya punya skenario pemelitian ingin memetakan jaringan penjual mi jowo di Yogyakarta dengan langkah santai, maksudnya dikerjakan sedikit-demi- sedikit dengan target pencapaian dalam waktu yang panjang, cara pengerjaannya bisa sangat menarik dan murah (tidak mewah). Saya bisa santai mewawancara penjual mi di perumahan saya sebagai awal (entry point) (lihat di http://eloknogotirt o,wordpress. com tentang Agus Mie atau di http://penghunikota .wordpress. com tentang Kang Parjono), kemudian satu per satu seminggu dua kali jajan mie yang dituntun informasi sebelumnya mewawancara penjual mie yang lain, maka lama-lama jaringan dan sebaran spasial penjual mi jowo di Yogyakarta bisa terlihat dengan jelas dan mendalam. Jika saya yang mengerjakan, santai sekali dan murah karena harga makanan tidak mahal di kios mie. Paling-paling kita bisa menghabiskan 3 - 4 gelas air jeruk yang panas (sengaja minta yang panas, biar lama wawancaranya, menjadi jam seperti jam pasir). Memang satu penjual mie bisa kita datangi lebih dari sekali (skenario grand-tour dan mini-tour) untuk melakukan validasi dsb. Akhirnya informasi akan terkumpul secara induktif. Pengamatan awal saya masih memperkuat tesis sebelumnya, bahwa kekerabatan ada kaitan dengan jaringan dan sebaran spasial penjual mie jowo di Jogjakarta. Nah, jika kita akan meneliti secara deduktif, kita gunakan teori kekerabatan sebagai basis hipotesisnya, kiranya lebih mudah lagi sebab indikasi dapat diturunkan dari hipotesis ini dan segera bisa dibuat kuesionernya. ..mungkin bisa lebih cepat dikerjakan.. ..waktunya pendek (beayanya sedikit; saya ke Kaenbaun hanya dua kali, jadi beayanya juga nggak sampai ratusan juta untuk kerja lapangan sebuah disertasi). Sekali lagi, saya belum mengerti mewahnya dimana Pak ? Persoalannya, apakah dengan substansi seperti itu kita sedang menulis disertasi atau sekedar latihan riset....disini peran pembimbing menentukan, bagaimana sebuah proposal mengarah kepada penulisan disertasi ataukah tidak. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF] http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Sat, 12/19/09, Risfan M <risf...@yahoo. com> wrote: From: Risfan M <risf...@yahoo. com> Subject: [referensi] Re: posmo, induktif vs deduktif Pak Djarot To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Saturday, December 19, 2009, 6:37 PM Pak Eko dan temans ysh, Kalau saya ditanya pilih mana: kuantitatif/ deduktif atau kualitatif induktif. Dalam hal riset, saya mengidamkan banyaknya hasil riset kualitatif. Tapi kalau dalam hal perumusan kebijakan, terkait pekerjaan konsultan yang terikat waktu, biaya, maka milih kuantitatif. Saya dari dulu terkesan trilogi nya Geertz ttg Mojokuto. Yang menurut saya bisa menjelaskan bagaimana pola ruang, sosial-ekonomi, budaya itu terbentuk. Kan bagus kalau bisa diterapkan untuk meneliti fenomena aglomerasi kegiatan ekonomi spt Jepara, Kemang atau Cihapelas/ Dago/ Riau. Sehingga kalau mau intervensi pengembangan UMKM, ekonomi lokal, penataan ruang atau perbaikan lingkungan, kita bisa lebih tepat pendekatannya bagaimana, mualinya dari mana. Karena pendekatan yang deduktif, seragam, apalagi top-down, ngandelin peraturan jelas selama ini gak efektif. Namun, kecuali kita lagi sekolah, atau ada sponsor, kayaknya riset induktif itu sesuatu yg "mewah" ya. Tapi saya baca buku aplikasi ethnography dalam bisnis itu juga menarik lho. Walau tak se"ideal" riset S-3, tapi menunjukkan kegunaan praktis analisis kualitatif. Pendapat yang agak campur-campur ya. Salam, Risfan Munir

