Pak Aby ysh., Sori saya jawabnya cepet2an ya Pak...
Menghitung index primacy seingat saya ada beberapa metode, ada yg membandingkan dgn kota kedua, ada jg yg dgn 4 kota terbesar, tergantung kondisi negara tsb... masalahnya kurang tepat kalau hanya Paris yg dilihat, harus dilihat agglomerasi Paris, yakni Ile de France... kalau dibandingkan dgn Lyon sebagai kota terbesar kedua, dominasi Paris jelas masih sgt besar... Yg kedua, scholars di dunia terbagi antara mereka yg memandang primacy sebagai masalah, yg tidak mempermasalahkan, dan yg mendukung agglomerasi besar seperti Jane Jacobs... karenanya saya ingin tahu pendapat bapak... Yg ketiga, kalau masalahnya jarak pulau lain ke Jakarta yg jauh maka solusinya bukan memindahkan ibu kota ke Kalimantan, misalkan, karena sama saja jarak dari Aceh dan Papua ke Kalimantan juga jauh... permasalahan jarak ke ibu kota ini bisa dipecahkan dgn 2 cara: (1) perbaiki sistem transportasi antar pulau, atau (2) Republik Indonesia dibubarkan, sehingga setiap propinsi menjadi negara yg memiliki ibu kota masing2, jadi jaraknya dekat...:) yah kalau Paris, NY, Tokyo, Jakarta lebih menarik dr tempat lain bukankah ini wajar? bahwa pertumbuhan tdk terjadi di semua tempat... yg lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan di tempat2 tertentu tsb dapat dinikmati rakyat senegara yg tinggal di wilayah2 lain...:) salam.. --- On Tue, 12/22/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Tgp (2) Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ??? To: "referensi" <[email protected]> Date: Tuesday, December 22, 2009, 12:17 PM Rekan EkoBK ysh, Saya ingin terbalik menjawab pertanyaan no. 3 dulu…. Pertanyaan anda yg amat kritis sangatlah beralasan utk mengoreksi kesalahan saya…..maklum sudah tuwo... dari kepèkan saya, ketemu data sbb : “……Pada tahun 1990 jumlah penduduk kota Jakarta bertambah lagi menjadi 8.2 juta jiwa.Dengan jumlah penduduk sebesar 8.2 juta jiwa kota Jakarta memberikan kontribusi sebesar 17.99% dari total jumlah penduduk perkotaan di Indonesia, lebih tinggi dari kontribusi kota New York (8.7%). Los Angeles (6.4%) dan Paris (8.7%), tetapi masih tetap lebih rendah bila dibandingkan dengan kontribusi kota primate seperti Bangkok (56.8%). Metropolitan Manila (35.7%), Seoul (35.7%), Mexico City (31.4%) dan Buenos Aires (41.3%) 23)……..”.(Tjahjati dan Bulkin; Prisma, 1995)……….. Sementara ttg primacy kota Paris saat ini..…kalau berdasar data terakhir… dimana total penduduk Perancis pd Januari 2009 adlh 65.073.462 lalu sebanyak 62.448.977 tinggal di metropolitan France.. yg artinya tingkat urbanisasi Perancis adlh 96%.... sementara itu penduduk Paris pd 2009 adlh 2.203.000 (kembali membengkak stlh antara 1975-1999 menurun) atau kawasan metropolitannya kira2 11.6 juta…. Maka saya mengira primacy kota Paris saat ini adlh sekitar 15.18%...... dan itu saya kira bisa jadi ‘akibat’ dari (kata anda) dihentikannya strategi metropoles d’equilibrium (brkali ibarat tramtib di DKI berhenti patroli….. maka tak lama kakilima kembali menjamur)…….. Kalau indeks primacy jkt 50% itu sumbernya Asih Sriwinarti, Jurnal Ekon Pembangunan, Des 2005... sementara itu dari sumber diatas adlh Jkt (bukan jabodetabek? ) 17.99%.... Ttg (1) “apakah primacy menimbulkan masalah?”……. mungkin ia tidak selalu menjadi masalah bagi setiap/ semua negara….. namun khususnya bagi negara Indonesia… dimana selain terdiri bbrp belasan ribu pulau.. jarak2 antar pulau yg naudzubilah jauhnya dan resiko perjalanan yg berat …Jawa-Kalimantan 750km… Jawa-Sulawesi lbh dari 1000km… belum lagi Jawa-Maluku, Jawa-NTT dan Jawa-Papua yg lbh jauh lagi yg itu merupakan hambatan mobilitas yg berat, berbahaya dan mahal…. Lalu kawasan2 periferi selalu tertinggal kemajuannya dari Jawa yg hanya 6.7% wilayah dengan penduduk 51% lbh dari 235 juta …. Keadaan yg stagnan dan timpang itu akan terus memicu braindrain SDM terbaik dari kawasan2 tertinggal utk bermigrasi menuju Jawa dan Jkt… dan bhw daerah2 terdiri dari suku2 bangsa dan agama dan bukan suku Jawa…. itu rawan memicu kecemburuan kawasan/ rawan memicu separatisme…… selain bahwa secara nasional kemajuan antar wilayah kita akan terus menerus timpang dan jelas tidak sehat…. Kota2 ibarat sebagai pistons dari “mesin ekonomi” lalu tidak merata kinerjanya… lalu pemerataan kemajuan ekonomi dan sosial kita terus saja timpang…. Pdhal “ruang”.. apakah ia akan menjadi strategis dan mahal atau tidak strategis dan tak bernilai…… apakah ia akan menjadi cantik dan menyenangkan atau tidak.. semuanya banyak dipengaruhi oleh tangan2 manusia……. Manhattan, Tokyo, Paris, pulau2 Bali dan Hawaii banyak menarik minat orang utk datang melihatnya krn faktor itu…. Sebaliknya Morotai, Talaud, Palangkaraya atau Natuna, Yamdena, tidak demikian halnya…… Geografik kita yg beda dgn Brazil, Jepang atau Denmark menyebabkan makna dominansi kota primat kita beda dgn Tokyo, SaoPaulo/ Rio de Janeiro atau apalagi hanya sekedar Kopenhagen……….sekian dulu sisanya dilanjut esok, salam, aby Monday, December 21, 2009 4:47 AM From: "Eko B K" <ekobu...@yahoo. com> Pak Aby ysh., menyusul 2 pertanyaan sebelumnya, pertanyaan ke 3: 3. apakah saya boleh tahu bagaimana Pak Aby menghitung angka index primacy Paris kok ketemu hanya 10%? salam. --- On Mon, 12/21/09, Eko B K <ekobu...@yahoo. com> wrote: Pak Aby ysh., 1. Apakah primacy menimbulkan masalah? 2. Lalu kenapa kalau diplomat pindah ke Kuala Pembuang? munculnya hotel2 di sana? Apa yg hendak dicapai? salam. --- On Mon, 12/21/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote: From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> Subject: [referensi] Tgp (2) Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ??? To: "referensi" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Monday, December 21, 2009, 4:12 AM Rekan Wicak, EkoBK dan milisters ysh, Msh kpd rekan Wicak.. kalau mendiskusikan ttg ‘pembiayaan’?..... saya kira secara sederhana saja…. Salah satunya bisa dilakukan dgn cara ‘tukar guling’ atas bbrp properti departemen dan lembaga negara (tak usah semuanya sampai ke istana2 merdekanya segala)……tukar dgn lahan, desain kota dn bangunan disana… Kalau soal politikel wil….. ya tentu saja presiden yg berinisiatip kencenglah yg akan mengkomandaninya dan lainnya pastilah akan ngikut2 bebek saja dibelakangnya………. Nah kalau soal apa benefit utk negara selain benefit utk jabodetabek…. Tgp ini saya tujukan sekalian ke berdua rekan EkoBK……… Pertama …. Scr obyektip… dampak utama yg muncul dari setiap upaya membuat a large scale new urban dvlpmnt ditempat lain (entah pindah ibukota/ apa lainnya) adlh bukan utk tujuan mengurangi angka nominal jumlah jiwa penduduk jabodetabek… tetapi adlh utk mengurangi persentase (%) dari indeks primacy kota primatnya (NY jumlah penduduknya tak pernah menyusut…… tapi perkembangan megapolitan serta banyak kota metropolitan lain dampaknya adlh menurunkan angka indeks primacy NY sampai dibawah 10%... juga Paris dgn metropoles d’equilibrium angka indeks primacynya turun menjadi dibawah 10% (bandingkan dgn Bangkok yg 58.8%, atau Jkt 50% dsb.)…. Tentu saja mindahin ibukota/ pusat pmrthn bukanlah satu2nya cara yg manjur…. Atau malah ia tak akan menghasilkan penurunan angka indeks primacy jabodetabek yg signifikan (dibanding bila dipakai cara spt memainkan faktor industri memimpin sbg pemain utama )….. tapi bbrp hasil dampak positip yg akan muncul dan dpt patut dicatat dari upaya pemindahan ibukota dari jkt ketempat baru yg jauhnya 750km menyeberang lautan itu… dan yg berlokasi hanya sekedar disebuah desa Kuala Pembuang ditepi sungai Kumai di Kalimantan… suatu lokasi yg amat jauh dari hiruk pikuk kegiatan kota kecuali hanya ada plantations disekitarnya dan taman nasional Tj. Puting serta sktr 45km dari kota PangkalanBun atau sekitar 30an km dari bandara Iskandar…. Pastilah banyak sekali dampak positip yg akan muncul drpadanya….. Pertama…. pastilah itu suatu tindakan konkrit pecah telor dari berbagai keraguan ttg upaya memulai tindakan nyata mengurangi angka indeks primacy kota primat Jakarta yg 50% itu (Plgkraya nggak, Jonggolpun nggak)……. Kedua, itu adlh tindak nyata pioneering ttg upaya utk tak takut berpaling dari pemikiran2 jawasentrisme dan jabodetabek sentrisme……. Ketiga…. Sudahlah pasti akan muncul kegiatan konstruksi dan perburuhan skala raksasa di Kuala Pembuang dansekitarnya…… Keempat pastilah Bandara Iskandar (d/h Sabah Uyah) yg dithn 2008 dirncang akan diperpanjang landasannya dari semula 1850m menjadi 2200m bisa dirubah lagi menjadi bandara internasional dgn berbagai standar kebutuhannya……… Kelima… kalau kabinet dan kantornya pindah kekota Merdeka di Kuala Pembuang..… masak iya para diplomat juga tak akan memindahkan kedubes2nya kesana….. masak iya para industrialis perhotelan tak akan membangun hotel2 barunya disana….. masak iya berbagai jasa rumah sakit internasional, mal, jasa2 servis stasion, sekolah2, pasar, stadion olah raga dsb. tak akan pada dibangun disana?..... ..salam, aby >From Eko B K <ekobu...@yahoo. com> Subject: Re: [referensi] Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ??? Date: Thursday, December 17, 2009, 9:25 PM Pak Wicak, masalah ini juga sudah berulang kali dibahas di milis ini dgn sebagian pro dan kontra... saya setuju dgn pertanyaan Pak Wicak, benefit buat negara apa? saya bahkan yg termasuk ragu juga dgn benefit utk jabotabek, jabotabek akan tetap besar dan semakin membesar seiring dgn agglomerasi ekonomi... new york toh tdk berhenti membesar dg dipindahkannya ibu kota ke washington.. . birokrat yg anak2nya sudah terlanjur sekolah di al azhar, sman 8, tarki, ui, trisakti, dan istri2nya sudah biasa belanja di pi mall, plaza senayan, dst. apakah mau memboyong keluarganya ke pedalaman kalimantan? paling2 kost di sana... lha wong yg pindah ke medan, pekan baru, dst aja milih kost kok...:) salam.. From: Wicak Soegijoko <iwic...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] Fwd: Ibukota INdoneSia PIndaH ??? Date: Friday, December 18, 2009, 2:48 AM kayaknya ini adalah wacana yg kerap di sembul2kan. selain palangkaraya dan jonggol. realisasi? pembiayaan? political will? benefit buat negara apa? (selain benefit utk jabodetabek) kota merdeka sudah ada atau masih tanah saja? salam, wicak. 2009/12/17 Harya Setyaka <[email protected]> FYI, benarkah?

