Ya memang, saat saya menulis pendapat tsb 10 tahun lalu juga banyak yang tidak 
sependapat, ndak masalah. Yang saya percayai kalau kita tidak berbuat apa-apa 
maka tidak akan ada yang berubah.

Salam,

Wilmar

--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Cak Wilmar ysh,
> 
> Maaf kalau sekali lagi saya tidak sependapat apabila dikatakan bahwa 
> pemindahan ibu kota ini akan mengurangi kolusi-korupsi penguasa-pengusaha...
> 
> Bagi pengusaha tidaklah sulit utk turut pindah ke ibu kota baru tsb atau 
> bolak balik dgn helikopter pribadi...
> 
> Saya malah ingat Louis XIV yg memindahkan istana raja dari Paris ke 
> Versailles karena masyarakat Paris masa itu sudah gemar demonstrasi menentang 
> kebijakan2 raja... Yg pasti dg jauhnya ibu kota maka pemerintah pusat akan 
> kurang terganggu dari demo2 yg memenuhi jalanan Jakarta, seperti Louis 
> XIV...tidak akan ada lagi presiden diturunkan karena demonstrasi seperti Pak 
> Harto dan Gus Dur... dan dgn jauhnya rakyat dari ibu kota baru akan mendukung 
> terjadinya kolusi-korupsi yg lebih jauh juga...:)
> 
> salam..
> 
> 
> 
> --- On Wed, 12/30/09, ffekadj <4ek...@...> wrote:
> 
> From: ffekadj <4ek...@...>
> Subject: [referensi] Re: Ibukota baru dan Hijrah
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, December 30, 2009, 4:18 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
>   
> 
> 
>     
>       
>       
>       Pak Wilmar saya potong sebentar, saya kurang tahu kalau Hawaii itu 
> dekatan dengan Mekkah. Mengenai hijrah ini, kok solusinya sama dengan usulan 
> saya dulu? Mengenai saran lokasi, anda yang dalam posisi down atau bottom 
> boleh dong kasih pendapat. Salam.
> -ekadj
> 
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "wilmarsalim" <wilmar@> wrote:
> >
> > Pak Risfan yth,
> > 
> > Pada saat reformasi dimulai tahun 1998 saya melihat hal itu tidak akan 
> > berjalan kalau faktor kedekatan jarak yang mempermudah kolusi dan korupsi 
> > penguasa dan pengusaha tidak diputus terlebih dahulu. Makanya saat itu saya 
> > menganalogikan dengan peristiwa Hijrah, yang saya pahami sebagai fase untuk 
> > menarik diri, menjaga jarak dari praktek-praktek yang kurang benar, untuk 
> > menata masyarakat menjadi madani, lalu memberikan teladan pada seluruh 
> > bangsa. Ini bukan berarti meninggalkan seluruh jazirah dan bangs Arab dalam 
> > kegelapannya kan? Mekkah, di mana Kabah berada, tetap dijadikan pusat dunia 
> > Islam, yang beberapa tahun sesudah Hijrah 'terbebaskan' dari kebathilan. 
> > Saya jadi kurang mengerti dengan analogi burung onta yang bapak maksud. 
> > Mohon penjelasan.
> > 
> > Selanjutnya, saya sepakat dengan pendapat bapak bahwa sebuah ibukota tidak 
> > perlu besar ukurannya, lebih kompak lebih baik. Kita perlu memikirkan 
> > kriteria apa saja untuk dapat menjadi ibukota yang baik. Kalau masalah 
> > lokasinya, justru dalam era desentralisasi ini sebaiknya kita tidak 
> > menentukan secara top-down seperti itu. Skema yang saya bayangkan adalah 
> > secara bersama dibicarakan kriteria ibukota baru tersebut, kemudian 
> > ditawarkan kepada pemerintah daerah, siapa yang dapat menyediakan 
> > lokasinya, sesuai kriteria yang disepakati. Pembiayaan seminimal mungkin 
> > bisa menjadi salah satu kriterianya.
> > 
> > Salam,
> > 
> > Wilmar
> > 
> > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir risfano@ wrote:
> > >
> > > Pak Ekadj dan rekans ysh,
> > > 
> > > Mohon maaf kalau saya punya pendapat lain soal pemindahan ibukota ini.
> > > Perasaan saya ide ini, juga jembatan Selat-Sunda tak lepas dari eforia 
> > > setelah kemenangan pada Pemilu kemarin.
> > > 
> > > Logikanya dengan dukungan politik yang ada, saatnya membangun dalam skala 
> > > besar, untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja 
> > > dalam jumlah besar. New Deal lah. Sesuatu yang rasional, karena dari 
> > > sebelumnya dipercaya bhw pembangunan infrastruktur skala besar sbg salah 
> > > satu jalan keluar persoalan ekonomi.
> > > 
> > > Yang dirasakan a.l. Kelancaran administrasi pemerintahan terganggu karena 
> > > "ibu kota" ada di Jakarta yang selalu macet dan banjir. Jadi sebaiknya 
> > > dipindah supaya "ibukota berfungsi lancar". Tidak terkendala masalah 
> > > Jakarta.
> > > 
> > > Teman-teman planner asyik "membaca yang ingin dibacanya": Pemindahan 
> > > untuk atasi masalah Jakarta. Pemindahan sebagai peluang bikin 
> > > counter-magnet.
> > > Tidak! Tujuannya untuk kelancaran ibukota itu sendiri.
> > > Menyelesaikan masalah Jakarta itu soal lain.
> > > 
> > > Kedua, kepada rekan Wilmar. Mohon maaf justifikasi pemindahan ibukotanya 
> > > kok spt "burung onta". Kalau kepalanya diamankan, aman pula badannya. 
> > > Ibukotanya "hijrah" ke suasana baru, era baru. Lha rakyatnya kan tetap di 
> > > tempat yang sama. Jangan-jangan malah membuat pemimpin negeri ini jauh 
> > > dari yang dirasakan rakyatnya.
> > > 
> > > Sebagian besar pendapat juga masih pada paradigma lama. Pemerintah pusat, 
> > > pemerintah pusat, dan pemerintah pusat. Padahal dengan otonomi daerah 
> > > ketergantungan pada pusat mungkin lambat laun akan beda. Kita juga belum 
> > > tahu kalau "departemen jadi kementerian" semua, barangkali fungsi Ibukota 
> > > juga lebih terbatas pada "kawasan perkantoran" kepala negara, para 
> > > menteri, duta besar dan sedikit para penasihat dan asistennya. Selebihnya 
> > > yang operasional, lokasinya tidak harus di tempat yang sama. Sehingga 
> > > ibukota ini bisa cukup sebagai "kawasan pemerintahan" di antara Balaraja 
> > > dengan Serang sana, kalau akses ke bandara jadi pegangan.
> > > 
> > > Tapi sekali lagi, kembali ke asumsi eforia. Apakah niat itu masih akan 
> > > konsisten sepanjang waktu. 
> > > Kalau saya boleh berpendapat, dana yang ada lebih baik untuk memperbaiki 
> > > sektor energi khususnya tenaga listrik. Rasa ketimpangan antar daerah 
> > > sekarang nyata pd ketimpangan ketersediaan listrik.
> > > Kedua, bangun full armada perkapalan di kawasan timur Indonesia. Sehingga 
> > > tidak ada kendala hubungan antar pulau.
> > > Dari kedua pembangunan itu juga tenaga kerja tercipta banyak, pertumbuhan 
> > > ekonomi dipacu. Pemerataan lebih jelas.
> > > Ketiga, siapkan diri menghadapi FTA China-Asean yang implikasinya sangat 
> > > besar bagi nasib industri kita, kalau mereka terpukul akhirnya membanjir 
> > > ke kota-kota besar lagi.
> > > 
> > > Salam,
> > > Risfan Munir
> > >
> >
>


Kirim email ke