Pak Aby ysh, ada beberapa hal yang perlu saya tambahkan: 1 Demand penerbangan di Indonesia Timur, khususnya di pedalaman, sangat tinggi. Tarifnya juga sangat mahal. Tapi saya jarang melihat ada bangku kosong. Dengan demand seperti ini banyak oknum dalam maskapai yang berlaku curang, tidak perlu saya jelaskan lebih lanjut.
2 Mengenai istilah 'bandara internasional', saya belum menemukan rujukan dan kriterianya. Saya kira sejak ramai pembangunan bandara baru, mulai Batam, Palembang, Padang, dst. Namun jangan diharap yang mendarat adalah pesawat2 internasional sekelas B747. Di Batam saja tidak ada penerbangan internasional reguler, di Padang LionAir yang menghubungkan KL sudah menghentikan jadwalnya. Mungkin ada penerbangan seminggu sekali Palembang - Singapura pakai B737. Jadi inisial 'internasional' sepertinya merujuk pada pernah adanya penerbangan lintas negara yang mungkin tidak rutin. Dulu sekali ada penerbangan Kupang-Darwin, namun sekarang semuanya harus lewat Bali <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7426> , termasuk kalau harus ke Dili. Jadi beralasan bila Pak Dwiagus menawarkan bandara internasional 'kelas nyamuk' di sekitar Atambua. Termasuk juga seharusnya di berbagai kawasan perbatasan kita. Seandainya Morotainya Pak Aby itu bisa dibuka untuk 'bandara internasional', sekurangnya bisa meng-extend kunjungan wisatawan via Palau yang lumayan besar itu. Saat ini peluang itu ditangkap oleh Davao. Sementara demikian pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote: > > Milisters ysh, > > Berawal dr kebutuhan mutlak  akan alat transport lewat udara yg praktis dan cepatâ¦.⦠ lalu muncul kebutuhan sarana pesawat2  berbadan  lebar utk kenyamanan penerbangan ⦠lalu muncul berikutnya âkebutuhan sarana airport2  internasional disana-siniâ mengingat perlunya kelengkapan dan kenyamanan  berbagai  fasilitas naval aids maupun fasilitas utk passengers spt restoran, lounge maupun emergency services, hotel, kota transit/ emergency yg menyenangkan (lho pdhal katanya teknologi dn ekonomisasi transportasi dpt atasi masalah jarak!?) â¦â¦. Semuanya  itu pd dasarnya menyiratkan suara hati spontan dan stngh sadar  bhw setiap penduduk kelas menengah pd tiap negeri dan bangsa  itu pada dasarnya mendambakan adanya  idealisme konstelasi âsistem kota2 secara nasionalâ  beserta prinsip2  jarak2nya yg fungsionalâ¦. yg selain perlu âintegratedâ namun juga perlu  âsistematikâ maupun jg perlu  âcerdasââ¦.â¦â¦ > Lalu pd saat yg sama muncullah pula nalar  âtapi ya nggak mungkinlah bhw disini-sana  (itu artinya lalu pakai âprinsip  jarakâ) dpt dgn mudahnya didirikan bandara apalagi bertaraf internasional â¦.. yg pemakaiannya a.l. sekedar ditujukan utk jaga2 melayani pendaratan pesawat yg alami gangguan, atau kesulitan isi BBM atau nyasar macam alm Adam Air ketika dlm perjalanan Jkt-Mks alat navigasinya rusak dan mendarat di bandara Tambolaka Sumba bbrp waktu laluâ¦â¦. > Sebenarnya pemikiran demikian sih bebas2 saja bukannya ga bolehâ¦. Namun yg agak naif adlh bila itu krg dikaitkan dgn proyeksi pengembangn kota besar pd lokasi bandara intl yg dimaksudâ¦â¦. Krn bandara internasional dan kota kecil dgn total jmlh  penduduk dan struktur SDM setara kecamatanâ¦...wahâ¦. pdhal bandara El Tari Kupang sbg bandara ibukota propinsi yg notabene juga melayani flight ke dan dari Australia gitu saja jg sampai kini msh disubsidi oleh Angkasa Pura Denpasar dan Surabaya â¦â¦krn merugi maka tak kunjung bisa meningkatkan mutu fisiknya (lha wong bayar airport tax hanya 10rb saja masih pd pengin lolos atau mending perang mulut) â¦. Dan lalu dgn ringan dan tak terlampau serius kini muncul kebutuhan baru-beda intl airprt ditempat lain lagi di NTTâ¦â¦ dan tak dikaitkan dgn proyeksi pengembangan kota besar dilokasi yg sama?.......

