Pak Wilmar, saya kurang tahu kebijakan industri dirgantaranya.
Mudah-mudahan ada rekan di sini yang mengetahui. Hanya saya dengar
teknologinya lebih sulit dan resiko landingnya lebih besar, karena butuh
perairan tenang. Namun rasanya landasan pacu di daratan lebih mudah dan
murah, apalagi kalau nebeng di jalan negara. Salam.

-ekadj

--- In [email protected], "wilmarsalim" <wil...@...> wrote:
>
> Pak Eka dan rekan-rekan ysh,
>
> Ada pertanyaan yang menggelitik saya dari dulu, sudah tahu kalau
Indonesia sebagian besar wilayahnya perairan dan punya ribuan pulau,
kenapa fokus pembangunan transportasi udara tidak ke arah penggunaan
pesawat amfibi ya? Kenapa ya pak Habibie dulu tidak mengarahkan IPTN
untuk mengembangkan pesawat amfibi? Apakah terlalu mahal untuk dibuat?
>
> Kalau saya baca saat ini di dunia memang penggunaannya terbatas, tapi
bermanfaat sebagai alat angkut penumpang di wilayah yang badan airnya
banyak, seperti Alaska, Kanada dan kepulauan Karibia/Bahama. Saat ini
Yunani katanya juga menggunakan pesawat amfibi untuk menghubungkan
pulau-pulau kecilnya dengan daratan utama. Selain itu juga ada yang
berfungsi sbg pesawat pemadam kebakaran.
>
> Andaikan kita bisa produksi sendiri pesawat amfibi untuk pembangunan
KTI kita kan ngga perlu terlalu banyak membangun landasan, yang perlu
dibangun adalah terminalnya. Kalau mau bangun bandara air internasional
di KTI ya terminalnya yang kelas I. Atau barangkali sudah ada di Maluku
atau Papua?
>
> Salam,
>
> Wilmar
>
> --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote:
> >
> >
> > Pak Aby ysh, ada beberapa hal yang perlu saya tambahkan:
> >
> > 1 Demand penerbangan di Indonesia Timur, khususnya di pedalaman,
sangat
> > tinggi. Tarifnya juga sangat mahal. Tapi saya jarang melihat ada
bangku
> > kosong. Dengan demand seperti ini banyak oknum dalam maskapai yang
> > berlaku curang, tidak perlu saya jelaskan lebih lanjut.
> >
> > 2 Mengenai istilah 'bandara internasional', saya belum menemukan
rujukan
> > dan kriterianya. Saya kira sejak ramai pembangunan bandara baru,
mulai
> > Batam, Palembang, Padang, dst. Namun jangan diharap yang mendarat
adalah
> > pesawat2 internasional sekelas B747. Di Batam saja tidak ada
penerbangan
> > internasional reguler, di Padang LionAir yang menghubungkan KL sudah
> > menghentikan jadwalnya. Mungkin ada penerbangan seminggu sekali
> > Palembang - Singapura pakai B737. Jadi inisial 'internasional'
> > sepertinya merujuk pada pernah adanya penerbangan lintas negara yang
> > mungkin tidak rutin. Dulu sekali ada penerbangan Kupang-Darwin,
namun
> > sekarang semuanya harus lewat Bali
> > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/7426> , termasuk
kalau
> > harus ke Dili. Jadi beralasan bila Pak Dwiagus menawarkan bandara
> > internasional 'kelas nyamuk' di sekitar Atambua. Termasuk juga
> > seharusnya di berbagai kawasan perbatasan kita. Seandainya
Morotainya
> > Pak Aby itu bisa dibuka untuk 'bandara internasional', sekurangnya
bisa
> > meng-extend kunjungan wisatawan via Palau yang lumayan besar itu.
Saat
> > ini peluang itu ditangkap oleh Davao.
> >
> > Sementara demikian pak. Salam.
> >
> > -ekadj
> >
> >
>



Kirim email ke