Pak Aby, Boleh tahu darimana informasi sbb:
"..bandara El Tari Kupang sbg bandara ibukota propinsi yg notabene juga melayani flight ke dan dari Australia gitu saja jg sampai kini msh disubsidi oleh Angkasa Pura Denpasar dan Surabaya ……krn merugi maka tak kunjung bisa meningkatkan mutu fisiknya.." Saya punya catatan tersendiri mengenai hal ini. Itulah mengapa seharusnya Airport tax itu masuk saja dalam komponen tiket.. ngapain di-kutip secara tunai. Akhirnya ada potensi kebocoran lah sana sini.. Angkasa Pura juga sudah terlalu lama menikmati monopoli.. tanpa persaingan usaha yg sehat, konsumen hanya bisa pasrah. Salam, -K- > > Milisters ysh, > > Berawal dr kebutuhan mutlak akan alat transport lewat udara yg praktis > dan cepat….… lalu muncul kebutuhan sarana pesawat2 berbadan lebar utk > kenyamanan penerbangan … lalu muncul berikutnya “kebutuhan sarana airport2 > internasional *disana-sini”* mengingat perlunya kelengkapan dan > kenyamanan berbagai fasilitas naval aids maupun fasilitas utk passengers > spt restoran, lounge maupun emergency services, hotel, kota transit/ > emergency yg menyenangkan (lho pdhal katanya teknologi dn ekonomisasi > transportasi dpt atasi masalah jarak!?) ……. Semuanya itu pd dasarnya > menyiratkan suara hati spontan dan stngh sadar bhw setiap penduduk kelas > menengah pd tiap negeri dan bangsa itu pada dasarnya mendambakan adanya > idealisme > konstelasi “sistem kota2 secara nasional” beserta* prinsip2 jarak2nya yg > fungsional*…. yg selain perlu “integrated” namun juga perlu “sistematik” > maupun jg perlu “cerdas”….…… > > Lalu pd saat yg sama muncullah pula nalar “tapi ya nggak mungkinlah bhw > disini-sana (itu artinya lalu pakai “prinsip jarak”) dpt dgn mudahnya > didirikan bandara apalagi bertaraf internasional ….. yg pemakaiannya a.l. > sekedar ditujukan utk jaga2 melayani pendaratan pesawat yg alami gangguan, > atau kesulitan isi BBM atau nyasar macam alm Adam Air ketika dlm perjalanan > Jkt-Mks alat navigasinya rusak dan mendarat di bandara Tambolaka Sumba bbrp > waktu lalu……. > > Sebenarnya pemikiran demikian sih bebas2 saja bukannya ga boleh…. Namun yg > agak naif adlh bila itu krg dikaitkan dgn proyeksi pengembangn kota besar pd > lokasi bandara intl yg dimaksud……. Krn bandara internasional dan kota kecil > dgn total jmlh penduduk dan struktur SDM setara kecamatan…...wah…. pdhal > bandara El Tari Kupang sbg bandara ibukota propinsi yg notabene juga > melayani flight ke dan dari Australia gitu saja jg sampai kini msh disubsidi > oleh Angkasa Pura Denpasar dan Surabaya ……krn merugi maka tak kunjung bisa > meningkatkan mutu fisiknya (lha wong bayar airport tax hanya 10rb saja masih > pd pengin lolos atau mending perang mulut) …. Dan lalu dgn ringan dan tak > terlampau serius kini muncul kebutuhan baru-beda intl airprt ditempat lain > lagi di NTT…… dan tak dikaitkan dgn proyeksi pengembangan kota besar > dilokasi yg sama?....... > > > > > > > > > > >

