Pak Risfan dan Pak Djarot ysh, saya sudah membayangkan kolaborasi dua
energi ini pasti dahsyat. Mohon pak besok dibabarkan usai presentasinya
Prof Deden.

Berhubung ada menyebutkan fenomena 'lingkungan' vernakuler, saya
teringat saran seorang teman tentang buku "Steps to an Ecology of Mind",
kumpulan tulisan Gregory Bateson, orang gila lain lagi, bisa diunduh via
google. Buku mantan suami Margaret Mead
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3558>   ini katanya
menjadi 'buku wajib' pada masa pemerintahan Bill Clinton. Mudah-mudahan
ada rekan yang sudah membacanya dan mau menjelaskan dan membahas.
Terutama Pak Risfan yang sudah punya basis NLP, dan mau menyandingkan
dengan Kaizen. Sementara demikian dulu, sampai nanti sore. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan rekans ysh,
>
> Lapor Pak, saya baru kopi darat berdua dgn Pak Djarot sarapan di
warung gudeg mBarek. Baru kali ini kami berdua tatap muka, diluar
milist.
> Diskusinya apakah gudeg, krecek, telor pindang, dan kompleks mBarek
ini termasuk bagian dari fenomena lingkungan vernakuler?
>
> Schumacher (small is beautiful?) bagian dr vernakuler? Saya lontarkan
filosofi "Kaizen" (continuous process improvement) yang sering kali
lebih efektif drpd "penataan ulang" (reformasi) yg sering "menakutkan"
dan akhirnya berhenti di tengah jalan.
>
> Mudah2an bisa ikut kopdar di Jakarta besok.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: ffekadj 4ek...@...
> Sent: Wednesday, January 13, 2010 11:55 PM
> To: [email protected]
> Subject: [referensi] Re: vernacular settlements
>
>
>
> Pak Wawo ysh, terima kasih telah melanjutkan diskusi ini dan
membuatnya
> semakin jelas. Saya kira kita punya pandangan yang sama untuk masuk
> secara terpilah atau pun masuk secara mendasar terhadap vernakularisme
> ini. Pandangan bapak yang melihat dari sisi outside ataupun double
> inversion saya kira tipikal pendekatan perencana, walau terilhami oleh
> Shumacher (belum baca). Pertimbangan kompleks biasanya digunakan untuk
> mendapatkan 'rasa' permasalahan permukiman. Namun kalau saya
bandingkan
> dengan pertimbangan arsitek, langsung masuk ke dalam simbol dan
nuansa,
> sehingga peran fenomenologi cukup penting. Saya kira kalau
> diperbandingkan pendekatan inside dan outside ini akan menimbulkan
suatu
> kontras, yang menarik untuk dirumuskan. Perbandingannya sama dengan
> permasalahan fenomena kerusuhan sosial, bisa dilihat secara psikologi,
> antropologi, sosiologi, ilmu politik, dsb. Obyek telaahan sama namun
> kesimpulannya pasti berbeda-beda. Sehingga kalau ada seorang 'New
> Foucault' di Indonesia yang mau mendekonstruksi permasalahan
permukiman,
> kita akan sampai pada suatu sintesis yang kuat baik secara
peristilahan
> (baru) maupun pemaknaan.
>
> Namun istilah ini pun bisa berkembang atau berubah maknanya sejalan
> perkembangan ilmu dan waktu. Contohnya istilah 'simbol', yang
dirumuskan
> oleh Victor Turner (1967) lebih kepada pemaknaan kongkrit dan komunal,
> namun berubah oleh Clifford Geertz (1973) menjadi pemaknaan sinyal
> timbal-balik dan individual. Dengan demikian ada relativitas terhadap
> bangun pemikiran, yang kalau boleh kita sebut sebagai dinamika
> perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai catatan, saya melihat persepsi
> arsitek dan perencana terhadap simbol masih menggunakan pemaknaan
> kongkrit dan komunal-individual. Apakah demikian? Kita perlu banyak
> eksperimen, penjelajahan, dan diskusi untuk membangun
> kesepakatan-kesepakatan. Seperti misalnya kita perlu mencermati
> perkembangan pemikiran Pak Djarot yang sedang berjalan ke arah itu.
>
> Mengenai 'kopi darat', kalau Pak Wawo ada di Jakarta Jum'at sore ini
> bisa bergabung. Memang biasanya kita langsungkan setiap ada Pak Wawo.
> Namun kalau masih dalam suasana bulan madu, yah, kita adakan lagi pada
> kesempatan berikutnya. Saya sebenarnya ingin menawarkan satu issue
dalam
> pertemuan besok tentang 'wajah sosial' dari Komunitas Referensi, yang
> kalau dapat menggalang resources untuk membantu permasalahan yang ada
di
> masyarakat, walaupun sedikit, misalnya melalui kenclengan. Sementara
> demikian dulu pak. Salam.
>
> -ekadj


Kirim email ke