Eka, terima kasih untuk tanggapan atau pelanjutan hal vernakuler, wah kalau 
saya lagi di Jakarta sih pasti pengen kopi darat, tapi sekarang saya memamng 
terbatas dengan lingkungan sulawesi utara saja, memang saya ingin menyusun 
suatu studi tentang lingkungan teluk Tomini, itu kurang lebih suatu wilayah 
yang dikaji oleh David Henley dalam bukunya Fertlity Food and Fever, suatu 
studi demografis historis dari Sulut Sulteng termasuk Gorontalo, well saya mau 
coba secara 'barefoot' tapi pakai kasut dengan menggunakan DAMRI other public 
seatransportation malahan sampai ke ojeg, well scopenya bisa juga food atau 
kuliner dari pasar sampai rumah makan dan dapur, ini kaya a Cooks Tournya  
Anthony Bourdain. Nanti kalau saya sudah kembali saya sampaikan a barefoot 
planner interpretation.nya. Nanti ngopi lagi, sayang Gudang Kopi anno 1700 dari 
Remboken sudah hilang. But I might get a Minahasa Starbuck version. Cheers, Pak 
Wawo  PS kalau bulan atau tahun madu sudah
 lewat jadi sudah perlu ke Madiun lagi. WJW




________________________________
From: ffekadj <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, January 15, 2010 5:47:34 AM
Subject: [referensi] Re: vernacular settlements

  
Pak Risfan dan Pak Djarot ysh, saya sudah membayangkan kolaborasi dua energi 
ini pasti dahsyat. Mohon pak besok dibabarkan usai presentasinya Prof Deden.
Berhubung ada menyebutkan fenomena 'lingkungan' vernakuler, saya teringat saran 
seorang teman tentang buku "Steps to an Ecology of Mind", kumpulan tulisan 
Gregory Bateson, orang gila lain lagi, bisa diunduh via google. Buku mantan 
suami Margaret Mead  ini katanya menjadi 'buku wajib' pada masa pemerintahan 
Bill Clinton. Mudah-mudahan ada rekan yang sudah membacanya dan mau menjelaskan 
dan membahas. Terutama Pak Risfan yang sudah punya basis NLP, dan mau 
menyandingkan dengan Kaizen. Sementara demikian dulu, sampai nanti sore. Salam.
-ekadj

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan rekans ysh,
> 
> Lapor Pak, saya baru kopi darat berdua dgn Pak Djarot sarapan di warung gudeg 
> mBarek. Baru kali ini kami berdua tatap muka, diluar milist. 
> Diskusinya apakah gudeg, krecek, telor pindang, dan kompleks mBarek ini 
> termasuk bagian dari fenomena lingkungan vernakuler?
> 
> Schumacher (small is beautiful?) bagian dr vernakuler? Saya lontarkan 
> filosofi "Kaizen" (continuous process improvement) yang sering kali lebih 
> efektif drpd "penataan ulang" (reformasi) yg sering "menakutkan" dan akhirnya 
> berhenti di tengah jalan.
> 
> Mudah2an bisa ikut kopdar di Jakarta besok.
> 
> Salam,
> Risfan Munir
> 
> 
> 
> 
> 
> -----Original Message-----
> From: ffekadj 4ek...@...
> Sent: Wednesday, January 13, 2010 11:55 PM
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: [referensi] Re: vernacular settlements
> 
> 
> 
> Pak Wawo ysh, terima kasih telah melanjutkan diskusi ini dan membuatnya
> semakin jelas. Saya kira kita punya pandangan yang sama untuk masuk
> secara terpilah atau pun masuk secara mendasar terhadap vernakularisme
> ini. Pandangan bapak yang melihat dari sisi outside ataupun double
> inversion saya kira tipikal pendekatan perencana, walau terilhami oleh
> Shumacher (belum baca). Pertimbangan kompleks biasanya digunakan untuk
> mendapatkan 'rasa' permasalahan permukiman. Namun kalau saya bandingkan
> dengan pertimbangan arsitek, langsung masuk ke dalam simbol dan nuansa,
> sehingga peran fenomenologi cukup penting. Saya kira kalau
> diperbandingkan pendekatan inside dan outside ini akan menimbulkan suatu
> kontras, yang menarik untuk dirumuskan. Perbandingannya sama dengan
> permasalahan fenomena kerusuhan sosial, bisa dilihat secara psikologi,
> antropologi, sosiologi, ilmu politik, dsb. Obyek telaahan sama namun
> kesimpulannya pasti berbeda-beda. Sehingga kalau ada seorang 'New
> Foucault' di Indonesia yang mau mendekonstruksi permasalahan permukiman,
> kita akan sampai pada suatu sintesis yang kuat baik secara peristilahan
> (baru) maupun pemaknaan.
> 
> Namun istilah ini pun bisa berkembang atau berubah maknanya sejalan
> perkembangan ilmu dan waktu. Contohnya istilah 'simbol', yang dirumuskan
> oleh Victor Turner (1967) lebih kepada pemaknaan kongkrit dan komunal,
> namun berubah oleh Clifford Geertz (1973) menjadi pemaknaan sinyal
> timbal-balik dan individual. Dengan demikian ada relativitas terhadap
> bangun pemikiran, yang kalau boleh kita sebut sebagai dinamika
> perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai catatan, saya melihat persepsi
> arsitek dan perencana terhadap simbol masih menggunakan pemaknaan
> kongkrit dan komunal-individual. Apakah demikian? Kita perlu banyak
> eksperimen, penjelajahan, dan diskusi untuk membangun
> kesepakatan- kesepakatan. Seperti misalnya kita perlu mencermati
> perkembangan pemikiran Pak Djarot yang sedang berjalan ke arah itu.
> 
> Mengenai 'kopi darat', kalau Pak Wawo ada di Jakarta Jum'at sore ini
> bisa bergabung. Memang biasanya kita langsungkan setiap ada Pak Wawo.
> Namun kalau masih dalam suasana bulan madu, yah, kita adakan lagi pada
> kesempatan berikutnya. Saya sebenarnya ingin menawarkan satu issue dalam
> pertemuan besok tentang 'wajah sosial' dari Komunitas Referensi, yang
> kalau dapat menggalang resources untuk membantu permasalahan yang ada di
> masyarakat, walaupun sedikit, misalnya melalui kenclengan. Sementara
> demikian dulu pak. Salam.
> 
> -ekadj




      

Kirim email ke