Pak Risfan Munir ysh, Terima kasih infonya, saya sudah copy, ini gunanya milis kita bisa nambah referensi wawasan. Istilah 'barefoot architect' itu juga dari India, saya lupa siapa pelopornya yang sekitar tahun 1970-80an (?) telah berusaha meningkatkan keahlian para tukang bangunan dipelosok desa-desa tanpa melalui sekolah formal. Mengenai term 'jugaad' itu apa mungkin sama dengan 'keprigelan/kreativitas' para tukang-tukang kita (dari bangunan sampai bengkel motor/mobil yang otodidak bisa bongkar pasang dengan bahan lokal atau onderdil bekas) ? Untuk 'planner' apa bisa 'otodidak' tanpa sekolah formal ?
Wassalam, Onnos To: [email protected] From: [email protected] Date: Thu, 14 Jan 2010 19:41:53 -0800 Subject: [referensi] Re: vernacular settlements dan "jugaad" Rekans ysh, saya ikut belajar memahami diskusi "vernacular", kebetulan menemukan term "jugaad" yang masih senada dengan "small is beautiful"? “Vernacular” Vernacular architecture is a term used to categorise methods of construction which use locally available resources and traditions to address local needs. Vernacular architecture tends to evolve over time to reflect the environmental, cultural and historical context in which it exists. It has often been dismissed as crude and unrefined, but also has proponents who highlight its importance in current design. It can be contrasted against polite architecture which is characterised by stylistic elements of design intentionally incorporated for aesthetic purposes which go beyond a building's functional requirements.[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Vernacular_architecture “JUGAAD” Ada trend manajemen baru dari India yang menjadi pouler setelah Negara ini secara ekonomi diperhitungkan dunia, yaitu yang disebut pendekatan “jugaad”. Yang artinya gaya improvisasi dari inovasi yang didorong keterbatasan sumber daya dan perhatian pada kebutuhan pokok masyarakat (pelanggan). Misalnya: seorang warga desa merombak mesin pompa menjadi mesin penggerak alat angkut hasil pertanian atau kambing. Dan filosofi ini justrus banyak diterapkan perusahaan multi nasional yang bekerja disana untuk memenuhi kebutuhan dan sesuai keterjangkauan. (Business Week, 13-20 Januari 2010). Bagaimana dengan penerapan pada penataan lingkungan? Salam, Risfan Munir --- On Thu, 1/14/10, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: vernacular settlements To: [email protected] Date: Thursday, January 14, 2010, 3:47 PM Pak Risfan dan Pak Djarot ysh, saya sudah membayangkan kolaborasi dua energi ini pasti dahsyat. Mohon pak besok dibabarkan usai presentasinya Prof Deden. Berhubung ada menyebutkan fenomena 'lingkungan' vernakuler, saya teringat saran seorang teman tentang buku "Steps to an Ecology of Mind", kumpulan tulisan Gregory Bateson, orang gila lain lagi, bisa diunduh via google. Buku mantan suami Margaret Mead ini katanya menjadi 'buku wajib' pada masa pemerintahan Bill Clinton. Mudah-mudahan ada rekan yang sudah membacanya dan mau menjelaskan dan membahas. Terutama Pak Risfan yang sudah punya basis NLP, dan mau menyandingkan dengan Kaizen. Sementara demikian dulu, sampai nanti sore. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan Munir <risf...@...> wrote: > > Uda Ekadj dan rekans ysh, > > Lapor Pak, saya baru kopi darat berdua dgn Pak Djarot sarapan di warung gudeg > mBarek. Baru kali ini kami berdua tatap muka, diluar milist. > Diskusinya apakah gudeg, krecek, telor pindang, dan kompleks mBarek ini > termasuk bagian dari fenomena lingkungan vernakuler? > > Schumacher (small is beautiful?) bagian dr vernakuler? Saya lontarkan > filosofi "Kaizen" (continuous process improvement) yang sering kali lebih > efektif drpd "penataan ulang" (reformasi) yg sering "menakutkan" dan akhirnya > berhenti di tengah jalan. > > Mudah2an bisa ikut kopdar di Jakarta besok. > > Salam, > Risfan Munir > > > > > > -----Original Message----- > From: ffekadj 4ek...@... > Sent: Wednesday, January 13, 2010 11:55 PM > To: refere...@yahoogrou ps.com > Subject: [referensi] Re: vernacular settlements > > > > Pak Wawo ysh, terima kasih telah melanjutkan diskusi ini dan membuatnya > semakin jelas. Saya kira kita punya pandangan yang sama untuk masuk > secara terpilah atau pun masuk secara mendasar terhadap vernakularisme > ini. Pandangan bapak yang melihat dari sisi outside ataupun double > inversion saya kira tipikal pendekatan perencana, walau terilhami oleh > Shumacher (belum baca). Pertimbangan kompleks biasanya digunakan untuk > mendapatkan 'rasa' permasalahan permukiman. Namun kalau saya bandingkan > dengan pertimbangan arsitek, langsung masuk ke dalam simbol dan nuansa, > sehingga peran fenomenologi cukup penting. Saya kira kalau > diperbandingkan pendekatan inside dan outside ini akan menimbulkan suatu > kontras, yang menarik untuk dirumuskan. Perbandingannya sama dengan > permasalahan fenomena kerusuhan sosial, bisa dilihat secara psikologi, > antropologi, sosiologi, ilmu politik, dsb. Obyek telaahan sama namun > kesimpulannya pasti berbeda-beda. Sehingga kalau ada seorang 'New > Foucault' di Indonesia yang mau mendekonstruksi permasalahan permukiman, > kita akan sampai pada suatu sintesis yang kuat baik secara peristilahan > (baru) maupun pemaknaan. > > Namun istilah ini pun bisa berkembang atau berubah maknanya sejalan > perkembangan ilmu dan waktu. Contohnya istilah 'simbol', yang dirumuskan > oleh Victor Turner (1967) lebih kepada pemaknaan kongkrit dan komunal, > namun berubah oleh Clifford Geertz (1973) menjadi pemaknaan sinyal > timbal-balik dan individual. Dengan demikian ada relativitas terhadap > bangun pemikiran, yang kalau boleh kita sebut sebagai dinamika > perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai catatan, saya melihat persepsi > arsitek dan perencana terhadap simbol masih menggunakan pemaknaan > kongkrit dan komunal-individual. Apakah demikian? Kita perlu banyak > eksperimen, penjelajahan, dan diskusi untuk membangun > kesepakatan- kesepakatan. Seperti misalnya kita perlu mencermati > perkembangan pemikiran Pak Djarot yang sedang berjalan ke arah itu. > > Mengenai 'kopi darat', kalau Pak Wawo ada di Jakarta Jum'at sore ini > bisa bergabung. Memang biasanya kita langsungkan setiap ada Pak Wawo. > Namun kalau masih dalam suasana bulan madu, yah, kita adakan lagi pada > kesempatan berikutnya. Saya sebenarnya ingin menawarkan satu issue dalam > pertemuan besok tentang 'wajah sosial' dari Komunitas Referensi, yang > kalau dapat menggalang resources untuk membantu permasalahan yang ada di > masyarakat, walaupun sedikit, misalnya melalui kenclengan. Sementara > demikian dulu pak. Salam. > > -ekadj _________________________________________________________________ New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. http://windows.microsoft.com/shop

