Yth Pak Mod, teman-teman,
        Mendukung penuh fungsi back-office, penggiatan produksi hardcopy, 
annuals maupun accidentals; mungkin dengan gaya gurita cikeas, saya akan borong 
beberapa puluh copies terlebih dahulu, mana nomor rekening Pak Moris? Katalog 
dari terbitan yang sudah tersedia?
        Selanjutnya mengenai tiga komentar Pak Mod.
        Setuju baru ada 'sense' revolusi. Agaknya saya terpengaruh 
sentimentalitas kalangan gaek saja yang rata-rata mengalami gencetan otak 
selama 32 tahun dengan klimaksnya harus  hidup di 'Indonesian Dark Ages' 
[dasawarsa1990-2000]. Jadi merasa sangat terkejut dan terpana ketika tiba-tiba 
bangsa besar ini memutuskan berpaling kepada Habibie (ratusan perundangan dalam 
2 tahun; transparansi demokrasi barat) dan Abdurrachman Wahid (paradigma baru 
kekuasaan; tindakan-tindakan seorang commander-in-chief sejati). Mulai 2004 
semakin tertanam reformasi kultural itu. Orang gaek melihatnya sesuatu yang 
terjadi secepat kilat. Pak Mod menjelaskan, tata caranya lebih canggih, justru 
konstruksi lawan konstruksi. Konstruksi Hasta Brata dilawan gigih dengan 
konstruksi Pancasila.
        Kiranya dari dunia penataan ruangpun selama 2000-2010 terjadi an 
all-out effort mengemukakan sesuatu konstruksi. Menghasilkan pengamatan, bahwa 
pada 2010 ini penggarapan perlu lebih terfokus pada konstruksi hak dan 
kewajiban rieel Bupati/Walikota; sementara langkah-langkah sektoral 
disinkronkan melalui optimasi rencana maupun penetapan kriteria pencapaian 
Tujuan dan spesifikasi Sasaran.
        Menangkap point no 5, Koperasi, kiranya akan terlihat semakin tegaknya 
"duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, di depan Hukum" di persada Pertiwi. 
Begitulah kira-kira tata membaca 15 tonggak dari peta-lintasan (roadmap) yang 
dikonstruksi melalui Abdunnomics ini: tantangannya adalah bagaimana mengungkap, 
jauh di dasar kultur, norma berbangsa yang membentuk jaringan kuat kesatuan 
ummah dari seluruh pemukim di Indonesia.
        Jika sudah kenal Tujuan, lebih mudahlah menjabarkan Tindakan.
        Jika bertindak dalam suasana revolusioner, jangan hitung-hitung untung 
rugi. 

Wassalam,
Risman Maris  
          
On Jan 17, 2010, at 8:56 AM, ffekadj wrote:

> 
> Pak Risman ysh, sayang sekali kemarin tidak sempat hadir. Padahal saya ingin 
> mengembangkan diskusi tentang satu istilah yang bapak lemparkan Kamis sore 
> itu, yaitu 'back office'. Ketika rekan-rekan mendiskusikan beberapa program 
> seperti jejaring dan annual book itu, saya sudah merasakan kalau milis dan 
> komunitas Referensi ini sudah diperlakukan sebagai 'a back office'. Saya 
> ingin tanggapi tiga hal dari wejangan bapak sbb.
> 
> Mengenai 'suasana revolusioner' pada kondisi saat ini, saya kira baru 'sense' 
> saja pak. Namun memang ada hal yang baru dalam kondisi perpolitikan yaitu 
> 'tindakan terkonstruksi' sekarang sudah dihadapi juga dengan 'tindakan 
> terkonstruksi' lainnya. Jadi konstruksi vs konstruksi. Sangat rentan 
> berlangsung pada fenomena hukum; namun sebenarnya juga rawan akan menjalar 
> pada berbagai kegiatan yang mengandalkan 'konstruksi' lainnya, terutama legal 
> drafting, planning, designing, dst. Malah yang dikhawatirkan utilizing dan 
> controlling juga terbangun dan berjalan secara konstruktif juga. Jadi hal ini 
> menjadi perhatian bagi kita, agar hati-hati bermain konstruksi, selain akan 
> ada reaksi anti-konstruksi juga kemungkinan akan dilawan dengan 'tindakan 
> konstruksi' lainnya. Demikian kira-kira kata Dunia.
> 
> Kedua mengenai evaluasi 10 tahun terakhir dan pemrograman jangka paling 
> pendek (2010). Harus diakui kita hanya bergerak di tataran kebijakan saja, 
> dan belum menstimulus sektor riil. Dengan kata lain ini sebenarnya merupakan 
> pukulan (bukan lagi tantangan) bagi dua pemegang 'menara kebenaran' (menurut 
> persepsi Harya): menara emas dan menara gading. Bila Pak Risman menawarkan 
> titik 2010 sebagai titik perubahan, maka sudah saatnya tidak bergenit-ria, 
> dan sungguh berat beban itu ditanggung oleh generasi sekarang ini.
> 
> Ketiga, dari 15 subyek yang bapak tawarkan, terus terang saya hanya mampu 
> menangkap point nomor 5, yaitu sesuatu yang bapak lambangkan sebagai 
> 'koperasi'. Sungguh betul, begitulah keadaannya sekarang ini pak.
> 
> Sementara demikian dulu pak. Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], R Maris <par...@...> wrote:
> >
> > Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman,
> > Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap 
> > dimaafkan. 
> > Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang sebenarnya 
> > tengah terjadi, di arena politik-perekonomian dan politik-sosial 
> > kemasyarakatan. Tidak kurang, suatu suasana revolusioner!
> > Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam pikiran Gus Dur 
> > semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke dalam 
> > "Abdunnomics", yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini.
> > Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai harapan 
> > dan semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk 
> > martabatnya. Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai 
> > perubahan drastis aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut:
> > ………………………………………………………………………………
> > Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah
> > 
> > "Abdunnomics", Jakarta 5 Agustus 2000
> > 
> > 1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan yang 
> > pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa 

Kirim email ke