Yth Pak Mod, Pak ATA, Pak Risfan, teman-teman,
        Komentar Pak Risfan memlanning bukan semata menyusun 'dokumen 
teknokratis' dan 'naskah akademis'  tetapi juga 'proses politik' sehubungan 
dengan klimaksnya nanti pada pengesahan rencana dan kebijakan sehari-hari 
bermasyarakat; mengingatkan saya akan definisi planner (wilayah dan kota) dari 
milis ini lima tahun lalu "... ahli yang TERLARANG bertanda-tangan nama pribadi 
di pojok kanan bawah gambar Rencana." Sangat bertolak-belakang dengan etik 
profesional arsitek dan engineers dan dokter; dapat diperkirakan betapa hebat 
kontras-kontras alam pikiran, tingkah-laku, metodologi, jenis peralatan, 
piranti komunikasi, etc etc antar kelompok profesi mandiri itu. Namun dengan 
sendirinya, pembedaaan membawa pengenalan. UU No 26 Th 2007 tentang Penataan 
Ruang merupakan salah satu upaya bangsa di dekade 2000-2010 meracik tata 
interaksi dalam kompleksitas masyarakat alam Indonesia modern.
        Pak ATA, saking tercengangnya pernah nekad saya patok saja kecepatan 
perkembangan pandangan hidup orang Indonesia pada dasawarsa terakhir ini 100:1 
berbanding evolusi kebudayaan Eropa, maka (saya posting): '... 1988-1998 (10 
tahun) Dark Ages Indonesia; 1999-2004 (5 tahun) Lahir Kembali/renesans; 
2005-2006 (1 Tahun) ’Pencerahan/enlightenment; 2007-2008 (1 tahun) ’Revolusi’; 
dan mulai 2009 dst era Modern, Perang Dingin (partai pemerintah vs partai 
oposisi), Pascamodern, gabung galemak-peak jadi satu, atau baiknya sekuensial, 
hingga mengkristal jadi buah (the fruit of) jatidiri anak bangsa yaitu 
Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang sejati..." Maka 2010 ini, analog dengan 
keambrukan totalitarianisme 1989 di dunia, mungkin kita akan mengalami 
menyurut-selesainya goro-goro, perang persepsi tak jelas, 
konstruksi-dekonstruksi ngawur, menjebol dan membangun a la preman. Berganti 
dengan rasa mendalam Bebas Pendapat dan Tegak Hukum. Datuk-datuk dan 
Pendekar-pendekar bidang hukum dan pers mulai sangat didengar dan dituruti. 
(Catatan: Pak Mahfud M D memprediksi perlu 2 tahun termasuk 2011 pembersihan 
makelar kasus).
        Pasti ada terdapat filsafat INDONESIA, yaitu konsisten berpandangan 
hidup berlandaskan Kebersamaan, Kemerdekaan, Ketropikaan di bawah Ketuhanan 
yang Maha Esa, yang sepanjang sejarah telah selalu menyatukan Nusantara. 
Berkulminasi pada saat-saat Revolusi Pancasila 1945 (Negara --- bahkan 
Kemerdekaan itu sendiri --- berTuhan), pandangan hidup itu bolehlah dianggap 
menyempurnakan karya Revolusi Perancis 1789 (liberte, egalite, fraternite) dan 
Revolusi Amerika 1776 (freedom ... pursuit of happiness). Detil-detil masih 
sedang bergolak dalam penggarapan bangsa, Pak ATA, Pak Mod.
        Yth Pak Mod, filsafat INDONESIA boleh digolongkan Arkipelagik --- agar 
terbedakan dengan pragmatisme Amerika Serikat yang tumbuh di daratan massif, 
kontinen. Analog juga dengan pembagian filsafat Barat ke Anglo-Saxon dan 
Kontinental. Filsafat India,  Filsafat Cina, dan Filsafat Moor/Andalusia, di 
samping yang dari Barat itu, sangat dalam berkontribusi, seiring penaklukan 
lautan luas oleh teknologi pelayaran. Kini kita sudah boleh menandai yang 
keDAERAHan seperti filsafat Jawa Pasundan, Jawa Jogja, Jawa Solo, Batak, Papua, 
Wajo, , Bugis, Madura, Minang dan sebagainya itu sebagai semata-mata local 
wisdom, pandangan hidupnya orang islander, inlander, kampung-teratak. 
Vernakuler? Tentu nantinya kekerdilan masing-masing akan segera terterjang oleh 
perletakan infrastruktur komunikasi digital dan transportasi antar pulau; 
berlandaskan program nasional pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, dan 
kebebasan bermukim di koordinat manapun selama masih WNI.
        Perjalanan setahun 2010 ini gelagatnya akan dipenuhi 
peristiwa-peristiwa exciting menuju pewujudan negara-bangsa modern bermartabat 
yang dicita-citakan Revolusi Pancasila. Pak Mod, bagaimana kalau seluruh 
komunitas mengawal bersama; 'kan sudah ada usulan15 tonggak perjalanan sebagai 
referensi urutan dan lokasi.
 
Wassalam,
Risman Maris                 

P.S.
Pak ATA, barangkali yang saya maksud justru 'think tank' adalah front office 
(terhadap direct user) sedangkan back office adalah para mahasiswanya yang 
jungkir balik lari kiri kanan mengumpul-mengolah data. Back office jarang 
sekali terlihat oleh umum sehingga tak terhargai sewajarnya.
         

On Jan 19, 2010, at 3:51 PM, abimanyu takdir alamsyah wrote:

> Rekans ysh,
> 
> Mengenai "back office"....saya jadi teringat fungsi FEUI sebagai "think-tank" 
> para menteri ekonomi tahun 1970-an.... 
> 
> Mengenai "konstruksi vs konstruksi, "anti konstruksi" dll ...saya jadi 
> teringat "dekonstruksi" ...mendestruksi yang mapan dan merekonstruksi dengan 
> nyawa baru.... 
> 
> Wass,
> ATA
> 
> 
> 
> 2010/1/19 R Maris <[email protected]>
>  
> 
> Yth Pak Mod, teman-teman,
>       Mendukung penuh fungsi back-office, penggiatan produksi hardcopy, 
> annuals maupun accidentals; mungkin dengan gaya gurita cikeas, saya akan 
> borong beberapa puluh copies terlebih dahulu, mana nomor rekening Pak Moris? 
> Katalog dari terbitan yang sudah tersedia?
>       Selanjutnya mengenai tiga komentar Pak Mod.
>       Setuju baru ada 'sense' revolusi. Agaknya saya terpengaruh 
> sentimentalitas kalangan gaek saja yang rata-rata mengalami gencetan otak 
> selama 32 tahun dengan klimaksnya harus  hidup di 'Indonesian Dark Ages' 
> [dasawarsa1990-2000]. Jadi merasa sangat terkejut dan terpana ketika 
> tiba-tiba bangsa besar ini memutuskan berpaling kepada Habibie (ratusan 
> perundangan dalam 2 tahun; transparansi demokrasi barat) dan Abdurrachman 
> Wahid (paradigma baru kekuasaan; tindakan-tindakan seorang commander-in-chief 
> sejati). Mulai 2004 semakin tertanam reformasi kultural itu. Orang gaek 
> melihatnya sesuatu yang terjadi secepat kilat. Pak Mod menjelaskan, tata 
> caranya lebih canggih, justru konstruksi lawan konstruksi. Konstruksi Hasta 
> Brata dilawan gigih dengan konstruksi Pancasila.
>       Kiranya dari dunia penataan ruangpun selama 2000-2010 terjadi an 
> all-out effort mengemukakan sesuatu konstruksi. Menghasilkan pengamatan, 
> bahwa pada 2010 ini penggarapan perlu lebih terfokus pada konstruksi hak dan 
> kewajiban rieel Bupati/Walikota; sementara langkah-langkah sektoral 
> disinkronkan melalui optimasi rencana maupun penetapan kriteria pencapaian 
> Tujuan dan spesifikasi Sasaran.
>       Menangkap point no 5, Koperasi, kiranya akan terlihat semakin tegaknya 
> "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, di depan Hukum" di persada Pertiwi. 
> Begitulah kira-kira tata membaca 15 tonggak dari peta-lintasan (roadmap) yang 
> dikonstruksi melalui Abdunnomics ini: tantangannya adalah bagaimana 
> mengungkap, jauh di dasar kultur, norma berbangsa yang membentuk jaringan 
> kuat kesatuan ummah dari seluruh pemukim di Indonesia.
>       Jika sudah kenal Tujuan, lebih mudahlah menjabarkan Tindakan.
>       Jika bertindak dalam suasana revolusioner, jangan hitung-hitung untung 
> rugi. 
> 
> Wassalam,
> Risman Maris  
>         
> On Jan 17, 2010, at 8:56 AM, ffekadj wrote:
> 
>>  
>> 
>> Pak Risman ysh, sayang sekali kemarin tidak sempat hadir. Padahal saya ingin 
>> mengembangkan diskusi tentang satu istilah yang bapak lemparkan Kamis sore 
>> itu, yaitu 'back office'. Ketika rekan-rekan mendiskusikan beberapa program 
>> seperti jejaring dan annual book itu, saya sudah merasakan kalau milis dan 
>> komunitas Referensi ini sudah diperlakukan sebagai 'a back office'. Saya 
>> ingin tanggapi tiga hal dari wejangan bapak sbb.
>> 
>> Mengenai 'suasana revolusioner' pada kondisi saat ini, saya kira baru 
>> 'sense' saja pak. Namun memang ada hal yang baru dalam kondisi perpolitikan 
>> yaitu 'tindakan terkonstruksi' sekarang sudah dihadapi juga dengan 'tindakan 
>> terkonstruksi' lainnya. Jadi konstruksi vs konstruksi. Sangat rentan 
>> berlangsung pada fenomena hukum; namun sebenarnya juga rawan akan menjalar 
>> pada berbagai kegiatan yang mengandalkan 'konstruksi' lainnya, terutama 
>> legal drafting, planning, designing, dst. Malah yang dikhawatirkan utilizing 
>> dan controlling juga terbangun dan berjalan secara konstruktif juga. Jadi 
>> hal ini menjadi perhatian bagi kita, agar hati-hati bermain konstruksi, 
>> selain akan ada reaksi anti-konstruksi juga kemungkinan akan dilawan dengan 
>> 'tindakan konstruksi' lainnya. Demikian kira-kira kata Dunia.
>> 
>> Kedua mengenai evaluasi 10 tahun terakhir dan pemrograman jangka paling 
>> pendek (2010). Harus diakui kita hanya bergerak di tataran kebijakan saja, 
>> dan belum menstimulus sektor riil. Dengan kata lain ini sebenarnya merupakan 
>> pukulan (bukan lagi tantangan) bagi dua pemegang 'menara kebenaran' (menurut 
>> persepsi Harya): menara emas dan menara gading. Bila Pak Risman menawarkan 
>> titik 2010 sebagai titik perubahan, maka sudah saatnya tidak bergenit-ria, 
>> dan sungguh berat beban itu ditanggung oleh generasi sekarang ini.
>> 
>> Ketiga, dari 15 subyek yang bapak tawarkan, terus terang saya hanya mampu 
>> menangkap point nomor 5, yaitu sesuatu yang bapak lambangkan sebagai 
>> 'koperasi'. Sungguh betul, begitulah keadaannya sekarang ini pak.
>> 
>> Sementara demikian dulu pak. Salam.
>> 
>> -ekadj
>> 
>> 
>> --- In [email protected], R Maris <par...@...> wrote:
>> >
>> > Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman,
>> > Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap 
>> > dimaafkan. 
>> > Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang sebenarnya 
>> > tengah terjadi, di arena politik-perekonomian dan politik-sosial 
>> > kemasyarakatan. Tidak kurang, suatu suasana revolusioner!
>> > Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam pikiran Gus Dur 
>> > semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke dalam 
>> > "Abdunnomics", yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini.
>> > Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai harapan 
>> > dan semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk 
>> > martabatnya. Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai 
>> > perubahan drastis aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut:
>> > ………………………………………………………………………………
>> > Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah
>> > 
>> > "Abdunnomics", Jakarta 5 Agustus 2000
>> > 
>> > 1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan 
>> > yang pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa 
>> 
> 
> 
> 
> 

Kirim email ke