Rekans ysh, Mengenai "back office"....saya jadi teringat fungsi FEUI sebagai "think-tank" para menteri ekonomi tahun 1970-an....
Mengenai "konstruksi vs konstruksi, "anti konstruksi" dll ...saya jadi teringat "dekonstruksi" ...mendestruksi yang mapan dan merekonstruksi dengan nyawa baru.... Wass, ATA 2010/1/19 R Maris <[email protected]> > > > Yth Pak Mod, teman-teman, > Mendukung penuh fungsi back-office, penggiatan produksi hardcopy, annuals > maupun accidentals; mungkin dengan gaya gurita cikeas, saya akan borong > beberapa puluh copies terlebih dahulu, mana nomor rekening Pak Moris? > Katalog dari terbitan yang sudah tersedia? > Selanjutnya mengenai tiga komentar Pak Mod. > Setuju baru ada 'sense' revolusi. Agaknya saya terpengaruh sentimentalitas > kalangan gaek saja yang rata-rata mengalami gencetan otak selama 32 tahun > dengan klimaksnya harus hidup di 'Indonesian Dark Ages' > [dasawarsa1990-2000]. Jadi merasa sangat terkejut dan terpana ketika > tiba-tiba bangsa besar ini memutuskan berpaling kepada Habibie (ratusan > perundangan dalam 2 tahun; transparansi demokrasi barat) dan Abdurrachman > Wahid (paradigma baru kekuasaan; tindakan-tindakan seorang > commander-in-chief sejati). Mulai 2004 semakin tertanam reformasi kultural > itu. Orang gaek melihatnya sesuatu yang terjadi secepat kilat. Pak Mod > menjelaskan, tata caranya lebih canggih, justru konstruksi lawan konstruksi. > Konstruksi Hasta Brata dilawan gigih dengan konstruksi Pancasila. > Kiranya dari dunia penataan ruangpun selama 2000-2010 terjadi an all-out > effort mengemukakan sesuatu konstruksi. Menghasilkan pengamatan, bahwa pada > 2010 ini penggarapan perlu lebih terfokus pada konstruksi hak dan kewajiban > rieel Bupati/Walikota; sementara langkah-langkah sektoral disinkronkan > melalui optimasi rencana maupun penetapan kriteria pencapaian Tujuan dan > spesifikasi Sasaran. > Menangkap point no 5, Koperasi, kiranya akan terlihat semakin tegaknya > "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, di depan Hukum" di persada Pertiwi. > Begitulah kira-kira tata membaca 15 tonggak dari peta-lintasan (roadmap) > yang dikonstruksi melalui Abdunnomics ini: tantangannya adalah bagaimana > mengungkap, jauh di dasar kultur, norma berbangsa yang membentuk jaringan > kuat kesatuan ummah dari seluruh pemukim di Indonesia. > Jika sudah kenal Tujuan, lebih mudahlah menjabarkan Tindakan. > Jika bertindak dalam suasana revolusioner, jangan hitung-hitung untung > rugi. > > Wassalam, > Risman Maris > > On Jan 17, 2010, at 8:56 AM, ffekadj wrote: > > > > Pak Risman ysh, sayang sekali kemarin tidak sempat hadir. Padahal saya > ingin mengembangkan diskusi tentang satu istilah yang bapak lemparkan Kamis > sore itu, yaitu 'back office'. Ketika rekan-rekan mendiskusikan beberapa > program seperti jejaring dan annual book itu, saya sudah merasakan kalau > milis dan komunitas Referensi ini sudah diperlakukan sebagai 'a back > office'. Saya ingin tanggapi tiga hal dari wejangan bapak sbb. > > Mengenai 'suasana revolusioner' pada kondisi saat ini, saya kira baru > 'sense' saja pak. Namun memang ada hal yang baru dalam kondisi perpolitikan > yaitu 'tindakan terkonstruksi' sekarang sudah dihadapi juga dengan 'tindakan > terkonstruksi' lainnya. Jadi konstruksi vs konstruksi. Sangat rentan > berlangsung pada fenomena hukum; namun sebenarnya juga rawan akan menjalar > pada berbagai kegiatan yang mengandalkan 'konstruksi' lainnya, terutama > legal drafting, planning, designing, dst. Malah yang dikhawatirkan utilizing > dan controlling juga terbangun dan berjalan secara konstruktif juga. Jadi > hal ini menjadi perhatian bagi kita, agar hati-hati bermain konstruksi, > selain akan ada reaksi anti-konstruksi juga kemungkinan akan dilawan dengan > 'tindakan konstruksi' lainnya. Demikian kira-kira kata Dunia. > > Kedua mengenai evaluasi 10 tahun terakhir dan pemrograman jangka paling > pendek (2010). Harus diakui kita hanya bergerak di tataran kebijakan saja, > dan belum menstimulus sektor riil. Dengan kata lain ini sebenarnya merupakan > pukulan (bukan lagi tantangan) bagi dua pemegang 'menara kebenaran' (menurut > persepsi Harya <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/10726>): > menara emas dan menara gading. Bila Pak Risman menawarkan titik 2010 sebagai > titik perubahan, maka sudah saatnya tidak bergenit-ria, dan sungguh berat > beban itu ditanggung oleh generasi sekarang ini. > > Ketiga, dari 15 subyek yang bapak tawarkan, terus terang saya hanya mampu > menangkap point nomor 5, yaitu sesuatu yang bapak lambangkan sebagai > 'koperasi'. Sungguh betul, begitulah keadaannya sekarang ini pak. > > Sementara demikian dulu pak. Salam. > > -ekadj > > > --- In [email protected], R Maris <par...@...> wrote: > > > > Yth Pak Mod, cucuku Panpan, teman-teman, > > Bertepatan ingin kopi darat, gigi sakit sehingga batal ikut, harap > dimaafkan. > > Membuka tahun baru 2010, sangat penting menyadari apa yang sebenarnya > tengah terjadi, di arena politik-perekonomian dan politik-sosial > kemasyarakatan. Tidak kurang, suatu suasana revolusioner! > > Jalannya dibuka terutama oleh berbagai tindakan dan alam pikiran Gus Dur > semasa menjabat Presiden RI. Saat itu saya sadur bebas saja ke dalam > "Abdunnomics", yang lengkapnya dapat dibaca di Files milis ini. > > Pada tahun 2000 itu kiprah Gus Dur membangkitkan kembali berbagai harapan > dan semangat pada suatu bangsa yang baru saja sadar betapa terpuruk > martabatnya. Harapan-harapan itu jika disarikan akan berbentuk berbagai > perubahan drastis aturan main, antara lain pada 15 subjek berikut: > > ……………………………………………………………………………… > > Langkah-langkah Jangka Pendek dan Menengah > > > > "Abdunnomics", Jakarta 5 Agustus 2000 > > > > 1. Pejabat Negara (MPR, Eksekutip, DPR, MA): didukung dengan kecukupan > yang pantas bagi datuk-datuk negara dan bangsa > > >

