Rekan-rekan yang baik, Terimakasih diskusinya yang menarik dan memberi banyak inspirasi.Jadi tertarik dengan artikulasi dari "degradasi" dan "perencanaan" itu sendiri.Jangan-jangan paradigmanya adalah artikulasi "degradasi" dan "perencanaan" itu bukandipahami karena pemahaman "warga kota" itu sendiri, tapi karena artikulasi dari "kota lain".Di sini mungkin perlu "mendefinisikan" persoalan kota oleh "elemen(warga) kota tersebut",bahwa kemudian prosesnya disebut partisipasi atau inklusi atau politik, saya kira substansinyayang penting. Paradigma kedua yang mungkin perlu dielaborasi mungkin adalah: apakah kota fungsi dari manusianyaatau manusia fungsi dari kotanya. Saya kira beberapa perkembangan yang cukup baru dalam ranahilmu pengetahuan kita telah sampai pada titik di mana sistem kota bisa dipandang sebagai sebuahsistem sosial-ekologis yang berkembang dan dinamis, sehingga persoalannya tidak hanya kota sebagaiartefak, tetapi kota sebagai fungsi dari interaksi-interaksi komponen kota (manusia dan elemen lainnya) yangterejawantahkan dalam bentuk interaksi sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Menurut hemat saya, perkembanganwacana ilmu pengetahuan saat ini sudah mampu untuk dijadikan dasar sebagai alat pendukung pengambilan keputusan.Elinor Ostrom, pemenang Nobel Ekonomi 2009 lalu merupakan salah satu pengusung wacana sistem sosial-ekologis dan"common governance", saya kira, kota merupakan sebuah "common". Kota sebagai sistem kompleks, kompleks karena interaksi-interaksi manusia di dalamnya. Menyambung premis sebelumnya, menurut hemat saya, salah satu persoalan di kota dan dalam perencanaan kota adalahpersoalan "skala", di mana persoalan-persoalan kota tidak bisa semua diselesaikan dalam "skala" kota, ada yang harus diselesaikandalam skala "komunitas dalam sub-kota" dan kemudian usaha-usaha tersebut berjejaring dan bersinergi. Menurut hemat saya,mempertahankan keanekaragaman (baik itu hayati, budaya, sosial, politik, dsb) merupakan prasyarat untuk membangun kotayang baik, termasuk keanekaragaman pengetahuan dan kemauan untuk bertukar pengetahuan tersebut antara masyarakat dan perencanakota. Terimakasih dan mohon diskusinyaselamat bekerja, berjuang, belajar dan berkarya, Radja "Hasta La Victoria Siempre"
To: [email protected] From: [email protected] Date: Tue, 2 Feb 2010 06:06:44 +0000 Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia Uda Iben, BTS, Mas Giono, EkoBK dan sohib lainnya. Posting saya sebenarnya hanya ingin menyampaikan keprihatinan kita terhadap kota kota di Indonesia, pengamatan terutama pd kota2 besar dan menengah semua terdegradasi, mudah2an tdk dikota kota kecil. Degradasi ini akan terus berlanjut, Saya katakan pd saat ini, atau entah mulai kapan kita sdh mencapai kondisi perkotaan yg kritis (urban crisis). Sebenarnya sdh banyak upaya upaya yg telah dilakukan, tidak juga membuahkan hasil. Banyak yg mendasar yang perlu diselesaikan tapi tdk dilakukan (pembiaran, kata Mardiansyah). Powered by Telkomsel BlackBerry® From: Ibnu Taufan <[email protected]> Date: Mon, 1 Feb 2010 22:09:20 +0700To: <[email protected]>Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia Kalau demikian ... ada baiknya IAP mengambil inisiatif untuk mengmpulkan anggota seniornya untuk menuliskan dan menghimpun pengalaman terbaiknya, bahkan bisa juga menyusun 'knowledge management' dipelopori Pak Risfan ... boleh khan IAP menyiapkan 'pedoman atau panduan penjabaran RTRW' ...mumpung pak Risfan masih giat menulis, kalau lima tahun lagi ya mesti beli buku2nya pak Risfan (sekarang memang baru satu, tunggu beikutnya!) .. kumaha kang Iman ? Wassalam, IBNU TAUFAN APPMI I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I 0816-940978 I Planner & Community Development 2010/2/1 Risfan M <[email protected]> pak Ibn ysh, Kebetulan saya pernah terlibat penyusunan Panduan Penyusunan RPJMD, juga Renstra SKPD, pada Tata Cara keduanya mengacu kepada RTRW, dan jelas tergambar pada Bagan Alir utamanya. Di Prov Jawa Barat mrk menyusun Perda Sistem Perencanaan Daerah, jelas RTRW jadi acuan. Status kota PKN dst juga jadi dasar menentukan prioritas program/ kegiatan. Salam, Risfan Munir Pada Sen, 01 Feb 2010 04:36 CST Ibnu Taufan menulis: >mBangTS, >SETUJU sekali .. RTRW itu memang harus di breakdown agar bisa "lebih >operasional" setidaknya SKPD bisa menyusun RKPD-nya ..dan pemangku >kepentingan "lain" juga merasa punya kepentingan untuk mewujudkan >tujuan/sasaran RTRW .. > >Pada era UUPR 1992, seingat saya BKTRN pernah menugaskan Ditjen Bangda >bersama Bappenas untuk mengelobarasikan RTRW Kabupaten menjadi RPJM >melengkapi Repelitada (yg waktu itu hampir sekarat juga, atau juga pengganti >Poldas-nya) .... kenapa usaha bagus seperti itu kok berhenti dan tidak >pernah kedengaran lagi ... > >Jangan sampai sudah banyak RTR malah hutan produksi dilibas, kantor bupati >ada di dalam kawasan hutan lindung, KP dikeluarkan bupati di kawasan >lindung.... hayaaa .. > >Wassalam, > >IBNU TAUFAN >APPMI I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I >0816-940978 I Planner & Community Development > > > > >2010/2/1 Bambang Tata Samiadji <[email protected]> > >> >> >> He--he-he..betul juga sih. Ngeri ya... Itu bisa terjadi kalau manusia tidak >> mau belajar, tidak mau kerja sama, maunya sendiri, dan tidak ngikuti aturan. >> >> Sebetulnya ada RTR yang bisa mengelola untuk menghindarkan hal demikian. >> Tapi karena RTR itu berjangka panjang, tidak di "break down" ke jangka >> menengah, sehingga pemangku kepentingan merasa kurang andil...kalaupun punya >> andil...toh tidak bisa menikmati karena keburu mati. Usul saya perlu dibuat >> RTRJM (Rencana Tata Ruang Menengah). Yang dimaksud dengan jangka menegah >> adalah lebih 1 tahun dan tidak melebihi masa jabatan kepala daerah. >> >> Thanks. CU. BTS. >> >> >> >> --- On *Mon, 2/1/10, [email protected] <[email protected]>* wrote: >> >> >> From: [email protected] <[email protected]> >> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia >> To: [email protected] >> Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM >> >> >> Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa >> Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota. >> Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah >> macet. >> Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson. >> Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang >> Isya. >> Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan >> Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip >> orang. >> Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana >> mana. >> Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum >> mewangi. >> Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah. >> Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua. >> Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake >> Dialek Roma Irama) >> Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda hargenye. >> Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar. >> Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua.. >> Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM >> busway, eh Suramadu bisa deng. >> >> Iman tea. >> Powered by Telkomsel BlackBerry® >> >> ------------------------------------ >> >> Komunitas Referensi >> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links >> >> >> >> >> >> _________________________________________________________________ New Windows 7: Find the right PC for you. Learn more. http://windows.microsoft.com/shop

