Pak, barangkali memang perlu mulai dgn melakukan apa yg kita bisa kita lakukan "in our little corner of the world and hope that we can make a small difference". Mis ngajak temen2 se rt/rw membuang sampah ditempatnya, mbantuin ibu2 pemulung dgn ngumpulin botol2/gelas2 plastik diwadah2 terpisah agar mereka tak perlu mengaduk2 sampah2 yg sudah kita pisah2kan antara yg basah dan kering. Dibbrp komunitas ini sdh dilakukan.Sudahkah dikomunitas kita masing2? Bisakah kita mulai jadi "agent of change" dikomunitas kita? Kita selalu mengatakan perlu leader yg visioner, tapi tentunya kita2 juga cukup punya ide2 yg bagus kan tanpa hrs nunggu sang pemimpin. So lets do it! Nggak usah yg terlalu utopis,muluk2, tapi yg bisa kita lakukan saja.
On Feb 3, 2010, at 8:55 AM, Ibnu Taufan wrote:

Bu Yati, Kang Iman, Mas Risfan yg dirahmati Allah ..
Bisa memahami keprihatinan Kang Iman, apalagi jika kita selalu berhadapan dengan gambaran kondisi ideal yg dinikmati dari sekala 1:sejuta, atau 1:seratus ribu ...pdhal setiap hari seliweran berita yg menyajikan kondisi obyektif kota-kota (juga desa-desa) spt yang diratapi Kang Iman ...

Kalau teman2 lain yang mencemaskan degradasi lingkungan, tindakan aksinya ialah "datangi, lihat, dengarkan dan berbuat" di lokasi/ tapak yang terancam kerusakan .. Lantas apa ya yg bisa kita, planner bs lakukan, setidaknya komunitas referensi, apa bisa melakukan rencana aksi seperti dilakukan teman2 kita yang lain itu ...susahnya karena perspektif kita sering dlm sekala 1:seratus ribu, tidak detil dan kongkrit (spt diprihatinkan Kang Iman) atau memang kita cukup dgn diskusi disertai rasa cemas ...atau kmd menghimpun pikiran2 kritis utk mempengaruhi para pengambil keputusan, seperti dilakukan mas Risfan dkk ...

Semoga suatu hari, saya diajak Kang Iman "turun dr ketinggian 1:seratus ribu ke 1:seribu", lesehan bersama pak Kuwu dan wargadesa/ warga kelurahan ... sehingga mulai dr warga2, rumah2, kampung2, kelurahan2, desa2 membuat aksi kolektif ...mengurangi kecemasan dan keprihatinan Kang Iman .. Langkah kecil sering menghasilkan perubahan perilaku hidup di perkotaan seperti dilakukan oleh seorang nenek, ibu Bambang Harini di kampung banjaransari, cipete, juga seorang kakek di mampang perapatan .. inisiatif mereka menghijaukan halaman rumah, selasar bangunan, dan gang2 sempit menular ke RW, kampung dan kelurahan lain ...

Atau seperti disebut bu Yati, tindakan kreatif pak Basyir, walikota Pekalongan yg mencanangkan pd akhir jabatan semua rumah kumuh hrs jadi rumah sehat dan layak huni ..

Memang benar apakah perubahan perilaku bisa menyelesaikan persolan seperti Jakarta yg sudah kadung terlalu besar ... tapi menunggu tumbuhnya "kesadaran manajemen" --yg disinyalir mas Risfan makin kurang peduli thd persoalan warga-- jangan heran kalau kecemasan Kang Iman akan lebih dahsyat 5-10 th yad dan boleh tiba lebih cepat dr proyeksi angka statistik ..

Nah, kapan Kang Iman kapan kita diajak "turba" ... Kang Iman menggores kanvas lukisan, saya tafakur mendengarkan keluhan warga ..dan mas Risfan beraksi dari laptom menyusun "rpjm partisipatif" ..

Ditunggu ya Kang ..upaya melahirkan "barefoot planner" atau "community planner" ..atau apalah yg bisa melahirkan "local champion" ...

Salam dari pinggiran Bintaro ..


IBNU TAUFAN,
PNPM Mandiri Perkotaan
Jakarta Selatan, Indonesia
from Mobile BlackBerry®INDOSAT

From: [email protected]
Date: Tue, 2 Feb 2010 06:06:44 +0000
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia


Uda Iben, BTS, Mas Giono, EkoBK dan sohib lainnya.
Posting saya sebenarnya hanya ingin menyampaikan keprihatinan kita terhadap kota kota di Indonesia, pengamatan terutama pd kota2 besar dan menengah semua terdegradasi, mudah2an tdk dikota kota kecil. Degradasi ini akan terus berlanjut, Saya katakan pd saat ini, atau entah mulai kapan kita sdh mencapai kondisi perkotaan yg kritis (urban crisis). Sebenarnya sdh banyak upaya upaya yg telah dilakukan, tidak juga membuahkan hasil. Banyak yg mendasar yang perlu diselesaikan tapi tdk dilakukan (pembiaran, kata Mardiansyah).

Powered by Telkomsel BlackBerry®

From: Ibnu Taufan <[email protected]>
Date: Mon, 1 Feb 2010 22:09:20 +0700
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Wajah Kota Indonesia


Kalau demikian ... ada baiknya IAP mengambil inisiatif untuk mengmpulkan anggota seniornya untuk menuliskan dan menghimpun pengalaman terbaiknya, bahkan bisa juga menyusun 'knowledge management' dipelopori Pak Risfan ...

boleh khan IAP menyiapkan 'pedoman atau panduan penjabaran RTRW' ...mumpung pak Risfan masih giat menulis, kalau lima tahun lagi ya mesti beli buku2nya pak Risfan (sekarang memang baru satu, tunggu beikutnya!) ..

kumaha kang Iman ?

Wassalam,

IBNU TAUFAN
APPMI  I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I
0816-940978  I Planner & Community Development





2010/2/1 Risfan M <[email protected]>

pak Ibn ysh,

Kebetulan saya pernah terlibat penyusunan Panduan Penyusunan RPJMD, juga Renstra SKPD, pada Tata Cara keduanya mengacu kepada RTRW, dan jelas tergambar pada Bagan Alir utamanya.

Di Prov Jawa Barat mrk menyusun Perda Sistem Perencanaan Daerah, jelas RTRW jadi acuan. Status kota PKN dst juga jadi dasar menentukan prioritas program/ kegiatan.

Salam,
Risfan Munir

Pada Sen, 01 Feb 2010 04:36 CST Ibnu Taufan menulis:



>mBangTS,
>SETUJU sekali .. RTRW itu memang harus di breakdown agar bisa "lebih
>operasional" setidaknya SKPD bisa menyusun RKPD-nya ..dan pemangku
>kepentingan "lain" juga merasa punya kepentingan untuk mewujudkan
>tujuan/sasaran RTRW ..
>
>Pada era UUPR 1992, seingat saya BKTRN pernah menugaskan Ditjen Bangda
>bersama Bappenas untuk mengelobarasikan RTRW Kabupaten menjadi RPJM
>melengkapi Repelitada (yg waktu itu hampir sekarat juga, atau juga pengganti >Poldas-nya) .... kenapa usaha bagus seperti itu kok berhenti dan tidak
>pernah kedengaran lagi ...
>
>Jangan sampai sudah banyak RTR malah hutan produksi dilibas, kantor bupati
>ada di dalam kawasan hutan lindung, KP dikeluarkan bupati di kawasan
>lindung.... hayaaa ..
>
>Wassalam,
>
>IBNU TAUFAN
>APPMI I Asosiasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia I
>0816-940978 I Planner & Community Development
>
>
>
>
>2010/2/1 Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
>
>>
>>
>> He--he-he..betul juga sih. Ngeri ya... Itu bisa terjadi kalau manusia tidak >> mau belajar, tidak mau kerja sama, maunya sendiri, dan tidak ngikuti aturan.
>>
>> Sebetulnya ada RTR yang bisa mengelola untuk menghindarkan hal demikian. >> Tapi karena RTR itu berjangka panjang, tidak di "break down" ke jangka >> menengah, sehingga pemangku kepentingan merasa kurang andil...kalaupun punya >> andil...toh tidak bisa menikmati karena keburu mati. Usul saya perlu dibuat >> RTRJM (Rencana Tata Ruang Menengah). Yang dimaksud dengan jangka menegah
>> adalah lebih 1 tahun dan tidak melebihi masa jabatan kepala daerah.
>>
>> Thanks. CU. BTS.
>>
>>
>>
>> --- On *Mon, 2/1/10, [email protected] <[email protected]>* wrote:
>>
>>
>> From: [email protected] <[email protected]>
>> Subject: [referensi] Wajah Kota Indonesia
>> To: [email protected]
>> Date: Monday, February 1, 2010, 12:51 AM
>>
>>
>> Sekarang penduduk Indonesia, separo di kota separo di desa
>> Nanti, 20 tahun lagi, 3/4nya atawa 200 juta tinggal di kota.
>> Dulu ngga macet, sekarang macet, apalagi nanti, baru keluar rumah udah
>> macet.
>> Dulu naik motor bisa sambil indehoy, sekarang baru pegangan udah diklakson. >> Dulu orang tua bisa tidur siang, sekarang boro boro. Pergi Subuh, pulang
>> Isya.
>> Dulu main dilapangan, sekarang di jalanan
>> Dulu kriminil cuma ada maling, sekarang mutilasi, sodomi, PIN diintip
>> orang.
>> Dulu kota yg banjir ke itung ama jari, sekarang susah deh banjir dimana
>> mana.
>> Dulu sungai msh bisa dipake buat sikat gigi, sekarang semerbak harum
>> mewangi.
>> Dulu tempat sampah sedikit, sekarang dimana mana tempat sampah.
>> Dulu rumah kumuh cuma ada di Balubur, sekarang sekota kumuh semua.
>> Sabtu dan Minggu, Dago, Gasibu, Punclut amit2 deh. Terlalu (baca pake
>> Dialek Roma Irama)
>> Dulu kencing gratis, sekarang pake tarip, BAK, BAB dan Mandi beda hargenye.
>> Dulu masih banyak Burung Gereja, sekarang jarang terdengar.
>> Dulu sedikit orang Kampungan, sekarang Kampungan semua..
>> Dulu bisa bikin Gelora, Monas dan Taman Mini, sekarang cuma bisa bikin PNPM
>> busway, eh Suramadu bisa deng.
>>
>> Iman tea.
>> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>>
>> ------------------------------------
>>
>> Komunitas Referensi
>> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>>
>>
>>
>>
>>
>>







Kirim email ke